MERRY CHRISTMAS, PLEASE DON’T CALL
Karya Hafidhotul Istnainiah
Malam selasa ini terasa seperti
malam-malam sepi lainnya. Bukan hari spesial, apalagi tanggal cantik. Semangkuk
mie yang siap ku santap dihadapanku sudah mulai mendingin, kalah menarik dari
layar ponsel yang sejak tadi kunyalakan. Aku hanya ingin menenggelamkan diriku
dalam linimasa media sosial untuk mengusir penat setelah seharian dihajar
rutinitas kerja, berharap menemukan sedikit hiburan atau mungkin sebuah kejutan
manis yang sering kali diibaratkan seperti menemukan harta karun di dasar
lautan. Namun, semesta tampaknya punya selera humor yang berbeda malam ini.
Alih-alih hiburan, layar ponselku
justru menampilkan sesuatu yang seketika menghentikan detak jantungku. Sebuah
foto milik seseorang yang sangat kukenal baru saja lewat di beranda. Di sana,
dia sedang tersenyum tulus ke arah kamera, bersanding dengan seseorang di
sampingnya. Senyuman hangat yang tidak pernah kulihat sebelumnya, senyuman yang
selalu kudambakan kehadirannya selama dua tahun terakhir. Dia tampak begitu
bahagia, sangat bebas, tanpa paksaan, dan tidak ada ruang untuk rasa sesak yang
kini justru berpindah ke dadaku.
Edward.
Pria yang memilih untuk mengakhiri
hubungan yang sudah kami jalani selama hampir tiga tahun. Dia tampak begitu
bahagia dengan senyumnya yang indah namun tidak ia tujukan padaku, melainkan
pada wanita yang berada di sampingnya. Dia memeluk wanita itu dengan penuh
perasaan kasih sayang yang dulu pernah menjadi milikku. Wanita itu berada dalam
dekapan hangat Edward dan membawa buket bunga di genggamannya. Caption dari
foto itu mengatakan,
Thank you for accepting my love, I’m
so grateful that you’re my girl
you’ll always be my one and only
love of my life, my darling
Aku meletakkan ponselku.
Kuambil lagi, kuletakkan lagi dan
kuambil lagi.
Kulihat untuk memastikan bahwa orang
yang berada di foto itu bukan Ed yang ku kenal, tapi ternyata harapan ku salah.
Ini nyata, bukan ilusi, bukan juga
karena efek lelah.
Aku terdiam hingga tak sadar mie
instan ku kini sudah terlampau dingin.
Edward namanya. Dia sama sekali
tidak jahat, hanya saja dia punya cara sendiri yang kerap kali membuatku
terluka. Hubungan kami kandas bukan karena suatu penghianatan yang besar, kami
hanya lelah. Aku dapat melihat kehadirannya, tapi aku tidak bisa merasakannya.
Bahkan ketika dia berada tepat disampingku, terasa seperti aku bersandar pada
dinding yang dingin.
Tanpa kami sadari, kami selalu
menyakiti satu sama lain dengan cara yang halus. Bukan luka kasat mata yang
dapat ku tunjukkan pada orang lain, tapi luka mendalam yang hanya dapat
dirasakan oleh kami berdua.
Satu hal yang membuat hubungan ini
tidak bisa dilanjutkan, selama dua tahun itu aku menunggu.
Bukan menunggu kehadiran atau
kepergiannya, aku menunggu versi terbaik dalam dirinya yang aku tau itu ada di
dalam sana. Versi yang kulihat secara sekilas, momen-momen kecil dimana ia
tidak ragu membantu seorang nenek menyebrangi jalan tanpa diminta, menelepon
ibunya di setiap Minggu pagi, dan menceritakan hal-hal yang menurutnya menarik
dengan mata yang berbinar.
Aku tau dia ada. Ed yang itu.
Kurasa aku hanya tidak mampu
memunculkan diri itu sepenuhnya, tidak untukku, tidak dalam hubungan kami.
Kehadirannya hanya setengah, selalu terasa seperti ada sesuatu yang tertahan.
Bagian dimana dia tidak ingin kusentuh atau bahkan tidak ingin aku tau. Dan
bodohnya aku bertahun-tahun mencoba. Meminta dengan cara yang baik, atau bahkan
dengan cara yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, hingga aku berdoa di
setiap malam tanpa dia ketahui agar suatu hari dia memilih untuk hadir
sepenuhnya.
Kenapa begitu sulit? Apa yang
membuatnya tertahan?
Kenapa tidak denganku?
Pertanyaan yang tidak ada habisnya,
pertanyaan yang tidak pernah berani kuucapkan dengan suara lantang karena aku
takut dengan jawaban selanjutnya.
Namun ia buktikan malam ini, foto
itu tidak ditujukan untukku, namun entah hidup seperti mempermainkanku dan
mengujiku, kali ini aku berhasil menemukannya dengan mata kepalaku sendiri.
Ingatanku justru tertahan pada momen
dua minggu sebelum semuanya menjadi serumit sekarang. Hari di mana ego kami
berdua meledak hebat dalam satu ruangan. Itu bukan pertengkaran final yang
menyudahi hubungan kami, tapi entah mengapa, di hari itulah situasinya mulai
terasa asing. Seperti ada sesuatu yang mulai berubah, sebuah ketidakpastian
apakah kami sedang berjalan menjauh, atau justru tersesat di jalan yang sama.
“Aku cuma mau kamu cerita. Apapun
itu. Semua yang ada di pikiranmu.” – Merry
“Aku engga tau harus mulai dari
mana.” – Edward
“Dari mana aja. Aku di sini.” – Merry
Hening.
Keheningan itu berlangsung cukup
lama yang berhasil membuat dadaku sesak, membuatku tersadar kami sudah terlalu
sering berada di titik ini. Dia berdiri di sisi pintu tanpa mengatakan apapun,
dan aku di sisi sebaliknya masih menunggu jawaban apa yang akan keluar dari
mulutnya. Tidak ada yang berbicara, entah permasalahan itu dari bagaimana cara
aku mengetuk pintu atau aku masuk ke dalam ruangan.
“Merry,” akhirnya dia berbicara dengan nada yang sangat pelan. “Aku bukan
orang yang kamu butuhin.”
Marah, nafasku tercekat, dadaku
terasa sesak. Kenapa dengan mudahnya dia mengatakan hal seperti itu sampai tak
sadar aku melontarkan kalimat yang menyakitkan.
“Bukan itu alasannya, kamu cuma
engga mau berusaha. Aku engga minta banyak hal dari kamu, aku cuma minta kamu
buat cerita. Sesusah itu?”
Malam itu menjadi malam yang sangat
berat bagi kami.
Sekarang aku bertemu dengan malam
Natal, malam yang selalu ditunggu kehadirannya bahkan ketika aku tidak siap.
Kota ini memasang begitu banyak
lampu warna-warni di mana-mana. Lagu khas natal yang diputar berulang kali di
toko-toko, di kafe-kafe, dari speaker tetangga yang volumenya terlalu keras
untuk jam delapan malam. Semua orang bergerak dengan tujuan, ada yang membawa
kado, menikmati waktu berdua dalam dekapan dan genggaman tangan yang hangat,
bersenda gurau dan tertawa di sudut jalan di bawah indahnya rembulan malam ini.
Dan aku disini, menetap di rumah bersembunyi dibalik semua hiruk pikuk ramainya
kota, terduduk diam diatas lantai yang dingin. Aku menyalakan lampu tidur
karena lampu utama terasa terlalu terang untuk suasana hatiku.
Ponselku bergetar.
Edward.
Aku menatap namanya di layar dengan
perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Bukan marah, bukan rindu, tapi sesuatu
di antara keduanya yang terasa seperti luka lama yang belum sempat sembuh namun
terluka lagi.
Dia menelepon. Aku tidak
mengangkatnya.
Pesan masuk beberapa menit kemudian,
“Hei. Selamat Natal. Aku harap kamu
baik-baik aja”
Kalimat terakhirnya membuatku ingin
tertawa, merasa kasihan pada diriku sendiri. Orang yang sama yang dua bulan
lalu tertawa lepas bersama wanita lain, yang tidak pernah benar-benar ada
untukku disaat aku membutuhkannya, mengirim pesan di malam Natal dan berharap
bahwa aku baik-baik saja.
Apakah dia tulus? Mungkin. Ed bukan
orang yang jahat seperti yang ku katakan, dan aku akan selalu yakin akan hal
itu. Dia membuatku kehilangan kata untuk melabelinya karena dia terlalu hangat
untuk kusebut antagonis, namun terlalu banyak menorehkan luka untuk dipuja
sebagai protagonis.
Tapi ucapan itu tak berarti apa-apa,
karena pertanyaan dalam benakku masih belum benar-benar bisa terjawab.
Kenapa dengannya kamu bisa, Ed?
Kenapa dengannya kamu menjadi orang
yang aku harapkan ada untukku?
Apa yang salah dariku sampai kamu
tidak bisa?
Bagian paling sulit dalam situasi
ini adalah,
Aku tidak bisa menyalahkan Ed
sepenuhnya.
Aku menyalahkan diriku juga. Dari
caraku menuntut dengan cara yang salah, caraku meminta perubahan tapi tidak
pernah memberi ruang yang cukup untuknya berubah, caraku begitu keras
menginginkan versi tertentu darinya sampai mungkin, mungkin aku justru mendorongnya
ke arah sebaliknya.
Atau mungkin memang kita tidak
cocok, karena tidak ada cara yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Mungkin
aku juga bukan orang yang salah tapi juga bukan orang yang tepat. Perlu waktu
bagiku untuk memahaminya.
Namun malam ini, dengan pencahayaan
minim dari lampu tidur kecil dan nama yang masih tertampil di layar ponselku
dan juga ingatan foto itu masih ada di dalam benakku, malam ini aku masih belum
siap. Ada jarak yang melelahkan antara tahu dan menerima, aku mengerti
kenyataannya tapi entah mengapa ragaku belum sanggup merasakannya.
Melelahkan, sangat melelahkan hingga
terlalu sulit untukku menjelaskannya ke orang-orang yang belum pernah berada di
posisi ini.
Jam menunjukkan pukul sembilan lewat
empat puluh menit.
Pesan itu masih ada, tidak kuhapus
ataupun kubalas.
Ada bagian dalam diriku yang ingin
membalas pesan itu, banyak sekali yang ingin kukatakan, kata-kata yang sudah
lama mengantri di suatu tempat dalam diriku tanpa pernah punya kesempatan untuk
keluar.
Kenapa bersamanya kamu bisa dan aku
tidak? Kenapa sekarang, kenapa di malam Natal, tidakkah kamu berpikir pesan ini
menyakitkan? Apa kamu tau hal yang kulalui begitu sulit setelah kita berakhir?
Apa kamu tau aku masih butuh waktu untuk menyadari kamu bukan siapapun bagiku?
Tapi aku tidak mengetik apapun,
bukan karena aku sudah ikhlas, hanya belum.
Bukan karena aku sudah tidak sakit,
tentu masih.
Ada satu hal yang aku pelan-pelan
pelajari di bulan-bulan ini. Satu hal yang bukan menjadi pencerahan melainkan
kelelahan yang akhirnya menemukan arahnya.
Beberapa percakapan tidak akan
menyembuhkan apapun, jika kubalas pesan itu malam ini dengan apapun, baik itu
dengan kata yang lembut ataupun kata yang menyakitkan, tidak akan ada yang
berubah. Tidak akan ada jawaban darinya yang bisa membuatku merasa lebih baik.
Tidak akan ada kata-kata yang bisa membuatnya mengerti. Kami hanya akan
berputar di tempat yang sama lagi, dengan cara yang sudah sering kami lalui,
dan esok pagi aku akan terbangun dengan dada yang lebih sesak dari sekarang.
Jadi aku memutuskan untuk tidak
membalasnya.
Bukan aksi heroik, bukan keputusan
besar yang terasa kuat dan bermakna. Hanya dengan meletakkan ponsel di samping
kasur, menutup mata, dan mencoba mengatur napas yang dari tadi tidak mau
teratur.
Di luar, orang-orang menyalakan
kembang api. Warnanya muncul sebentar di balik tirai, merah, emas, lalu gelap
lagi. Aku tidak menangis malam itu, tapi aku juga tidak baik-baik saja.
Banyak sekali hal yang tidak selesai
di bulan Desember.
Ada orang yang pergi dan ternyata
kembali lagi setelah meninggalkanmu dan kamu tidak tahu harus menaruh perasaan
itu di mana, karena sudah tidak berarti, karena terlalu rumit untuk dijelaskan
secara singkat, karena orang-orang selalu mengatakan ‘sudah move on saja’
seolah-olah semudah memilih menu kopi.
Aku belum move on, aku belum
ikhlas. Masih kuingat jelas semua pertanyaan yang tidak memiliki jawaban itu.
Tapi malam ini aku memilih untuk
tidak mengangkat teleponnya.
Bukan karena aku sudah rela.
Tapi karena aku sedang belajar bahwa
memilih diam juga merupakan sesuatu. Bahwa tidak menjawab bukan selalu tentang
kemarahan atau keikhlasan, kadang hanya tentang tahu bahwa dirimu sendiri perlu
dijaga, bahkan ketika bagian lain darimu masih ingin berlari ke arah yang
salah.
Sudah cukup untuk malam ini.
Besok, semuanya akan berbeda.
“In another life, Ed.
Merry Christmas, please don’t call” – Merry.
FIN.
SINOPSIS
Hubungan tiga tahun antara Merry dan
Edward berakhir bukan karena pengkhianatan besar, melainkan rasa lelah akibat
luka-luka halus yang terus berulang. Merry selalu menunggu Edward untuk
menunjukkan versi terbaik dan terbuka kepadanya, namun Edward selalu menahan
diri. Jawaban menyakitkan itu akhirnya datang dua bulan setelah putus, ketika
Merry melihat Edward bisa memberikan senyuman tulus dan komitmen utuh kepada
wanita lain. Konflik batin Merry memuncak di malam Natal saat ponselnya
bergetar menampilkan nama Edward. Alih-alih larut dalam lingkaran setan argumen
yang tidak akan mengubah apa pun, Merry memilih menutup mata dan melepaskannya
lewat keheningan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar