Jumat, 26 Juni 2026

SEKAR Edisi Juni 2026 | MERRY CHRISTMAS, PLEASE DON’T CALL Karya Hafidhotul Istnainiah

 MERRY CHRISTMAS, PLEASE DON’T CALL

Karya Hafidhotul Istnainiah

 

Malam selasa ini terasa seperti malam-malam sepi lainnya. Bukan hari spesial, apalagi tanggal cantik. Semangkuk mie yang siap ku santap dihadapanku sudah mulai mendingin, kalah menarik dari layar ponsel yang sejak tadi kunyalakan. Aku hanya ingin menenggelamkan diriku dalam linimasa media sosial untuk mengusir penat setelah seharian dihajar rutinitas kerja, berharap menemukan sedikit hiburan atau mungkin sebuah kejutan manis yang sering kali diibaratkan seperti menemukan harta karun di dasar lautan. Namun, semesta tampaknya punya selera humor yang berbeda malam ini.

Alih-alih hiburan, layar ponselku justru menampilkan sesuatu yang seketika menghentikan detak jantungku. Sebuah foto milik seseorang yang sangat kukenal baru saja lewat di beranda. Di sana, dia sedang tersenyum tulus ke arah kamera, bersanding dengan seseorang di sampingnya. Senyuman hangat yang tidak pernah kulihat sebelumnya, senyuman yang selalu kudambakan kehadirannya selama dua tahun terakhir. Dia tampak begitu bahagia, sangat bebas, tanpa paksaan, dan tidak ada ruang untuk rasa sesak yang kini justru berpindah ke dadaku.

Edward.

Pria yang memilih untuk mengakhiri hubungan yang sudah kami jalani selama hampir tiga tahun. Dia tampak begitu bahagia dengan senyumnya yang indah namun tidak ia tujukan padaku, melainkan pada wanita yang berada di sampingnya. Dia memeluk wanita itu dengan penuh perasaan kasih sayang yang dulu pernah menjadi milikku. Wanita itu berada dalam dekapan hangat Edward dan membawa buket bunga di genggamannya. Caption dari foto itu mengatakan,

Thank you for accepting my love, I’m so grateful that you’re my girl

you’ll always be my one and only love of my life, my darling

Aku meletakkan ponselku.

Kuambil lagi, kuletakkan lagi dan kuambil lagi.

Kulihat untuk memastikan bahwa orang yang berada di foto itu bukan Ed yang ku kenal, tapi ternyata harapan ku salah.

Ini nyata, bukan ilusi, bukan juga karena efek lelah.

Aku terdiam hingga tak sadar mie instan ku kini sudah terlampau dingin.

 

Edward namanya. Dia sama sekali tidak jahat, hanya saja dia punya cara sendiri yang kerap kali membuatku terluka. Hubungan kami kandas bukan karena suatu penghianatan yang besar, kami hanya lelah. Aku dapat melihat kehadirannya, tapi aku tidak bisa merasakannya. Bahkan ketika dia berada tepat disampingku, terasa seperti aku bersandar pada dinding yang dingin. 

Tanpa kami sadari, kami selalu menyakiti satu sama lain dengan cara yang halus. Bukan luka kasat mata yang dapat ku tunjukkan pada orang lain, tapi luka mendalam yang hanya dapat dirasakan oleh kami berdua.

Satu hal yang membuat hubungan ini tidak bisa dilanjutkan, selama dua tahun itu aku menunggu.

Bukan menunggu kehadiran atau kepergiannya, aku menunggu versi terbaik dalam dirinya yang aku tau itu ada di dalam sana. Versi yang kulihat secara sekilas, momen-momen kecil dimana ia tidak ragu membantu seorang nenek menyebrangi jalan tanpa diminta, menelepon ibunya di setiap Minggu pagi, dan menceritakan hal-hal yang menurutnya menarik dengan mata yang berbinar.

Aku tau dia ada. Ed yang itu.

Kurasa aku hanya tidak mampu memunculkan diri itu sepenuhnya, tidak untukku, tidak dalam hubungan kami. Kehadirannya hanya setengah, selalu terasa seperti ada sesuatu yang tertahan. Bagian dimana dia tidak ingin kusentuh atau bahkan tidak ingin aku tau. Dan bodohnya aku bertahun-tahun mencoba. Meminta dengan cara yang baik, atau bahkan dengan cara yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, hingga aku berdoa di setiap malam tanpa dia ketahui agar suatu hari dia memilih untuk hadir sepenuhnya.

Kenapa begitu sulit? Apa yang membuatnya tertahan?

Kenapa tidak denganku?

Pertanyaan yang tidak ada habisnya, pertanyaan yang tidak pernah berani kuucapkan dengan suara lantang karena aku takut dengan jawaban selanjutnya.

Namun ia buktikan malam ini, foto itu tidak ditujukan untukku, namun entah hidup seperti mempermainkanku dan mengujiku, kali ini aku berhasil menemukannya dengan mata kepalaku sendiri.

 

Ingatanku justru tertahan pada momen dua minggu sebelum semuanya menjadi serumit sekarang. Hari di mana ego kami berdua meledak hebat dalam satu ruangan. Itu bukan pertengkaran final yang menyudahi hubungan kami, tapi entah mengapa, di hari itulah situasinya mulai terasa asing. Seperti ada sesuatu yang mulai berubah, sebuah ketidakpastian apakah kami sedang berjalan menjauh, atau justru tersesat di jalan yang sama.

“Aku cuma mau kamu cerita. Apapun itu. Semua yang ada di pikiranmu.” – Merry

“Aku engga tau harus mulai dari mana.” – Edward

“Dari mana aja. Aku di sini.” – Merry

Hening.

Keheningan itu berlangsung cukup lama yang berhasil membuat dadaku sesak, membuatku tersadar kami sudah terlalu sering berada di titik ini. Dia berdiri di sisi pintu tanpa mengatakan apapun, dan aku di sisi sebaliknya masih menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya. Tidak ada yang berbicara, entah permasalahan itu dari bagaimana cara aku mengetuk pintu atau aku masuk ke dalam ruangan.

“Merry,” akhirnya dia berbicara dengan nada yang sangat pelan. “Aku bukan orang yang kamu butuhin.”

Marah, nafasku tercekat, dadaku terasa sesak. Kenapa dengan mudahnya dia mengatakan hal seperti itu sampai tak sadar aku melontarkan kalimat yang menyakitkan.

“Bukan itu alasannya, kamu cuma engga mau berusaha. Aku engga minta banyak hal dari kamu, aku cuma minta kamu buat cerita. Sesusah itu?”

Malam itu menjadi malam yang sangat berat bagi kami.

 

Sekarang aku bertemu dengan malam Natal, malam yang selalu ditunggu kehadirannya bahkan ketika aku tidak siap.

Kota ini memasang begitu banyak lampu warna-warni di mana-mana. Lagu khas natal yang diputar berulang kali di toko-toko, di kafe-kafe, dari speaker tetangga yang volumenya terlalu keras untuk jam delapan malam. Semua orang bergerak dengan tujuan, ada yang membawa kado, menikmati waktu berdua dalam dekapan dan genggaman tangan yang hangat, bersenda gurau dan tertawa di sudut jalan di bawah indahnya rembulan malam ini. Dan aku disini, menetap di rumah bersembunyi dibalik semua hiruk pikuk ramainya kota, terduduk diam diatas lantai yang dingin. Aku menyalakan lampu tidur karena lampu utama terasa terlalu terang untuk suasana hatiku.

Ponselku bergetar.

Edward.

Aku menatap namanya di layar dengan perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Bukan marah, bukan rindu, tapi sesuatu di antara keduanya yang terasa seperti luka lama yang belum sempat sembuh namun terluka lagi.

Dia menelepon. Aku tidak mengangkatnya.

Pesan masuk beberapa menit kemudian,

“Hei. Selamat Natal. Aku harap kamu baik-baik aja”

Kalimat terakhirnya membuatku ingin tertawa, merasa kasihan pada diriku sendiri. Orang yang sama yang dua bulan lalu tertawa lepas bersama wanita lain, yang tidak pernah benar-benar ada untukku disaat aku membutuhkannya, mengirim pesan di malam Natal dan berharap bahwa aku baik-baik saja.

Apakah dia tulus? Mungkin. Ed bukan orang yang jahat seperti yang ku katakan, dan aku akan selalu yakin akan hal itu. Dia membuatku kehilangan kata untuk melabelinya karena dia terlalu hangat untuk kusebut antagonis, namun terlalu banyak menorehkan luka untuk dipuja sebagai protagonis.

Tapi ucapan itu tak berarti apa-apa, karena pertanyaan dalam benakku masih belum benar-benar bisa terjawab.

Kenapa dengannya kamu bisa, Ed?

Kenapa dengannya kamu menjadi orang yang aku harapkan ada untukku?

Apa yang salah dariku sampai kamu tidak bisa?

 

Bagian paling sulit dalam situasi ini adalah,

Aku tidak bisa menyalahkan Ed sepenuhnya.

Aku menyalahkan diriku juga. Dari caraku menuntut dengan cara yang salah, caraku meminta perubahan tapi tidak pernah memberi ruang yang cukup untuknya berubah, caraku begitu keras menginginkan versi tertentu darinya sampai mungkin, mungkin aku justru mendorongnya ke arah sebaliknya.

Atau mungkin memang kita tidak cocok, karena tidak ada cara yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Mungkin aku juga bukan orang yang salah tapi juga bukan orang yang tepat. Perlu waktu bagiku untuk memahaminya.

Namun malam ini, dengan pencahayaan minim dari lampu tidur kecil dan nama yang masih tertampil di layar ponselku dan juga ingatan foto itu masih ada di dalam benakku, malam ini aku masih belum siap. Ada jarak yang melelahkan antara tahu dan menerima, aku mengerti kenyataannya tapi entah mengapa ragaku belum sanggup merasakannya.

Melelahkan, sangat melelahkan hingga terlalu sulit untukku menjelaskannya ke orang-orang yang belum pernah berada di posisi ini.

 

Jam menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh menit.

Pesan itu masih ada, tidak kuhapus ataupun kubalas.

Ada bagian dalam diriku yang ingin membalas pesan itu, banyak sekali yang ingin kukatakan, kata-kata yang sudah lama mengantri di suatu tempat dalam diriku tanpa pernah punya kesempatan untuk keluar.

Kenapa bersamanya kamu bisa dan aku tidak? Kenapa sekarang, kenapa di malam Natal, tidakkah kamu berpikir pesan ini menyakitkan? Apa kamu tau hal yang kulalui begitu sulit setelah kita berakhir? Apa kamu tau aku masih butuh waktu untuk menyadari kamu bukan siapapun bagiku?

Tapi aku tidak mengetik apapun, bukan karena aku sudah ikhlas, hanya belum.

Bukan karena aku sudah tidak sakit, tentu masih.

Ada satu hal yang aku pelan-pelan pelajari di bulan-bulan ini. Satu hal yang bukan menjadi pencerahan melainkan kelelahan yang akhirnya menemukan arahnya.

Beberapa percakapan tidak akan menyembuhkan apapun, jika kubalas pesan itu malam ini dengan apapun, baik itu dengan kata yang lembut ataupun kata yang menyakitkan, tidak akan ada yang berubah. Tidak akan ada jawaban darinya yang bisa membuatku merasa lebih baik. Tidak akan ada kata-kata yang bisa membuatnya mengerti. Kami hanya akan berputar di tempat yang sama lagi, dengan cara yang sudah sering kami lalui, dan esok pagi aku akan terbangun dengan dada yang lebih sesak dari sekarang.

Jadi aku memutuskan untuk tidak membalasnya.

Bukan aksi heroik, bukan keputusan besar yang terasa kuat dan bermakna. Hanya dengan meletakkan ponsel di samping kasur, menutup mata, dan mencoba mengatur napas yang dari tadi tidak mau teratur.

Di luar, orang-orang menyalakan kembang api. Warnanya muncul sebentar di balik tirai, merah, emas, lalu gelap lagi. Aku tidak menangis malam itu, tapi aku juga tidak baik-baik saja.

 

Banyak sekali hal yang tidak selesai di bulan Desember.

Ada orang yang pergi dan ternyata kembali lagi setelah meninggalkanmu dan kamu tidak tahu harus menaruh perasaan itu di mana, karena sudah tidak berarti, karena terlalu rumit untuk dijelaskan secara singkat, karena orang-orang selalu mengatakan ‘sudah move on saja’ seolah-olah semudah memilih menu kopi.

Aku belum move on, aku belum ikhlas. Masih kuingat jelas semua pertanyaan yang tidak memiliki jawaban itu.

Tapi malam ini aku memilih untuk tidak mengangkat teleponnya.

Bukan karena aku sudah rela.

Tapi karena aku sedang belajar bahwa memilih diam juga merupakan sesuatu. Bahwa tidak menjawab bukan selalu tentang kemarahan atau keikhlasan, kadang hanya tentang tahu bahwa dirimu sendiri perlu dijaga, bahkan ketika bagian lain darimu masih ingin berlari ke arah yang salah.

Sudah cukup untuk malam ini.

Besok, semuanya akan berbeda.

 

“In another life, Ed.

Merry Christmas, please don’t call” – Merry.

 

FIN.


SINOPSIS

Hubungan tiga tahun antara Merry dan Edward berakhir bukan karena pengkhianatan besar, melainkan rasa lelah akibat luka-luka halus yang terus berulang. Merry selalu menunggu Edward untuk menunjukkan versi terbaik dan terbuka kepadanya, namun Edward selalu menahan diri. Jawaban menyakitkan itu akhirnya datang dua bulan setelah putus, ketika Merry melihat Edward bisa memberikan senyuman tulus dan komitmen utuh kepada wanita lain. Konflik batin Merry memuncak di malam Natal saat ponselnya bergetar menampilkan nama Edward. Alih-alih larut dalam lingkaran setan argumen yang tidak akan mengubah apa pun, Merry memilih menutup mata dan melepaskannya lewat keheningan.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...