Jumat, 26 Juni 2026

SEKAR Edisi Juni 2026 | 404 Karya Sonya Esplanadeas Hadi

404

Karya Sonya Esplanadeas Hadi

 

Aku melangkahkan kaki dengan santai menuju sekolah. Hari ini adalah hari pertama masuk setelah libur kenaikan kelas selama dua minggu. Tidak ada yang terasa berbeda pagi itu. Sebuah lengan tiba-tiba melingkar di leherku.

"Jey! Pagi banget berangkatnya. Nggak sabar banget, ya, buat sekolah?"

Aku menepis lengan Arjun dari leherku, lalu memutar bola mata malas. "Nggak, sih. Biar bisa bebas pilih tempat duduk aja. Kan kelasnya diacak lagi."

"Lah, iya, ya, diacak. Yah, berarti aku nggak sekelas sama kamu lagi dong." Arjun memasang wajah sedih yang dibuat-buat. Aku menatapnya datar.

"Bagus, deh. Biar kamu nggak gangguin aku terus pas pelajaran," kataku sambil mempercepat langkah.

"Eh, jahat banget kamu, Jeyan! Heh, tungguin aku! Jangan cepet-cepet jalannya!" Aku hanya terkekeh pelan mendengar protesnya.

Sesampainya di sekolah, benar saja, suasana sudah ramai. Sebagian besar murid berkerumun di depan mading untuk melihat pembagian kelas baru. Aku ikut mendekat, meski harus sedikit berdesakan dengan murid lain. Mataku menyusuri daftar nama yang tertempel hingga akhirnya menemukan milikku. 11-C.

"Eh, Jey! Kita sekelas lagi!" Arjun menunjuk daftar nama dengan antusias.

Aku mengikuti arah telunjuknya. Nama Arjuna tertera jelas di nomor lima. Lalu pandanganku turun ke nomor urut paling bawah. Jayden. Nama itu terasa asing.

”Jayden itu siapa, ya, Jun? Aku baru denger,” tanyaku pada Arjun setelah keluar dari kerumunan di depan mading.

”Nggak kenal juga aku. Kenapa tiba-tiba nanyain?” Arjun balik bertanya dengan heran.

“Lah, tadi ada namanya di nomor urut 41. Makannya aku heran soalnya kelas lain jumlahnya cuma 40.”

Kami menaiki tangga di sebelah kelas 10-A untuk menuju ke kelas 11-C.

”Masa iya? Atau anak baru mungkin? Aku nggak lihat, sih, tadi. Fokus ke namaku sendiri taunya sekelas lagi sama kamu, hehe.”

Aku mendengus pelan sambil membuka pintu kelas. Kelas sudah cukup ramai saat kami masuk. Seperti biasa, aku dan Arjun memilih bangku paling belakang.

“Kamu depanku deh, Jun. Nggak mau aku kalau kamu yang belakang. Entar colek-colek mulu,” kataku pada Arjun.

Arjun hanya menyeringai lalu menurut. Aku duduk di bangku paling belakang sambil memperhatikan suasana kelas. Dari posisi ini, seluruh isi ruangan terlihat jelas. Saat itulah aku melihat seorang murid yang tidak kukenal duduk sendirian di bangku pojok belakang. Kepalanya terbenam di antara lipatan tangan yang bertumpu di meja. Aku memperhatikan dadanya yang naik turun perlahan. Dia tertidur.

Aku tidak berniat mengganggunya. Namun, seorang guru—yang kuyakini sebagai wali kelas—tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Aku melirik jam dinding. Pukul tujuh lewat lima menit. Seluruh murid yang tadi masih sibuk sendiri langsung berhamburan menuju bangku masing-masing.

Aku sedikit mencondongkan badan ke kiri lalu menepuk bahunya pelan. “Bangun, gurunya udah dateng,” ucapku.

Anak itu mengangkat wajahnya. Kulitnya pucat. Garis rahangnya tegas. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena tidur. Aku sempat terkesima sebelum akhirnya dia membuka suara.

“Eh, aku ketiduran, ya?” katanya sambil tersenyum tipis. “Makasih udah dibangunin.”

Aku sempat hendak mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri, tetapi urung kulakukan.

“Jeyan,” kataku akhirnya. “Aku baru lihat kamu, by the way. Murid pindahan?”

“Jayden. Jay for short. Dan iya, aku murid pindahan.”

Aku mengangguk pelan. Jadi dia murid nomor 41 itu. Pantas namanya tidak diurutkan secara alfabet.

"Eh, tapi kok kamu nggak dikenalin dulu sama wali kelas?" tanyaku penasaran. "Biasanya murid baru disuruh perkenalan dulu, kan?”

Jay hanya menyunggingkan senyum miring. “Nggak apa-apa. Ribet banget kudu perkenalan dulu. Aku lebih suka kalau nggak terlalu banyak yang memperhatikan keberadaanku.”

Aku menatapnya dengan bingung. Ya sudah, terserahnya.

Aku kembali duduk tegak dan memusatkan perhatian pada wali kelas di depan. Waktu berjalan cukup lambat dan monoton untukku. Bel istirahat berbunyi tak lama kemudian. Aku mengembuskan napas lega. Segera kukeluarkan kotak bekal buatan ibu untuk kumakan.

"Kamu mau nitip makanan atau minuman di kantin, nggak?" tanya Arjun.

"Nggak deh, Jun. Aku udah dibawain bekal sama Ibu, kayak biasa."

Arjun mengangguk lalu pergi bersama anak-anak lain menuju kantin.

Aku membuka kotak bekalku dan berniat langsung makan karena perutku sudah keroncongan sejak tadi. Namun, pandanganku tanpa sadar beralih ke arah Jay. Alih-alih beristirahat seperti murid lain, dia justru membuka buku Biologi.

"Rajin banget," komentarku. "Nggak mau istirahat dulu?"

Jay mengalihkan pandangannya dari buku. "Nggak lapar. Nggak capek juga."

"Oh."

Hanya itu responsku.

Aneh.

Tapi mungkin aku terlalu cepat menilai. Kami baru saling kenal beberapa jam, dan aku sudah mulai menganggapnya aneh. Aku meliriknya sekali lagi. Dia masih fokus membaca, sementara aku kembali memusatkan perhatian pada bekal makan siangku.

Tak ada hal yang menarik lagi sampai bel pulang sekolah. Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas. Ah, di luar sedang turun hujan, padahal aku ingin cepat pulang.

“Jey, aku bawa payung. Ayo pulang sekarang,” ajak Arjun.

Saat hendak keluar kelas, aku teringat sesuatu. Aku menoleh ke arah bangku pojok belakang sebelah kiri.

Kosong.

Jay sudah tidak ada di sana.

Aku sedikit mengernyit karena tidak menyadari kalau dia sudah keluar kelas duluan.

“Jeyan! Ayo, keburu makin deres!” Arjun memanggilku dari pintu kelas.

Aku berusaha tidak memikirkannya lagi. Yang kuinginkan sekarang hanya sampai rumah, mandi air hangat, lalu minum teh buatan ibu. Namun, tepat sebelum melangkah keluar gerbang sekolah, mataku menangkap sosok yang terasa familiar.

Jay. Dia sedang berjalan sendirian ke arah belakang sekolah.


Keesokan paginya, seperti biasa, aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Begitu membuka pintu kelas, aku langsung menemukan Jay. Persis seperti kemarin. Kepalanya tertelungkup di atas meja. Tertidur. Aku sempat berpikir mungkin dia bekerja paruh waktu sehingga kurang tidur. Dan seperti kemarin pula, akulah yang membangunkannya saat guru masuk ke kelas.

"Kamu kerja part-time?" tanyaku pelan setelah dia membuka mata.

Jay menggeleng.

"Nggak."

"Lah, terus kenapa tidur terus?"

"Daripada gabut nunggu guru, mending tidur."

Aku terkekeh kecil. "Lalu kenapa nggak ngobrol sama anak-anak yang lain?"

"Males."

Jawaban singkat itu langsung mengakhiri percakapan.

Bel istirahat kembali berbunyi. Dan lagi-lagi, Jay tidak pergi ke kantin. Dia bahkan tidak mengeluarkan makanan sedikit pun. Sebaliknya, dia kembali membuka buku Biologinya. Aku sebenarnya ingin bertanya soal itu, tetapi niatku terpotong saat ketua kelas menghampiri.

"Jeyan, dipanggil Bu Elis ke ruang guru."

Aku mengangguk lalu segera pergi.

Ternyata Bu Elis memintaku mencari satu anggota untuk lomba karya tulis ilmiah. Mustahil mengajak Arjun. Dia memang pintar, tetapi menulis bukan bidangnya. Aku masih memikirkan siapa yang cocok saat kembali ke kelas.

Begitu membuka pintu, aku mendapati ruangan sudah kosong. Semua murid masih berada di kantin. Semua kecuali satu orang. Jay. Dia masih duduk di tempatnya, tenggelam dalam buku yang sama. Aku menarik kursi dan menggesernya mendekat.

"Makan bareng, yuk."

Aku menyodorkan kotak bekalku yang berisi beberapa potong roti.

Jay tersenyum kecil. "Aku ennak lapar."

"Lagi?"

"Bukan nolak, ya," lanjutnya. "Aku memang nggak bisa makan kalau nggak lapar."

Aku mengangguk pelan. "Kamu ternyata bisa banyak bicara juga."

Jay tertawa kecil. "Memangnya aku kelihatan pendiem banget?"

"Banget." Aku menjawab tanpa ragu.

"Kamu juga jarang berbaur sama anak-anak lain."

"Ya?"

"Iya. Kalau mau, besok ikut ke kantin bareng aku dan Arjun."

Jay menggeleng. "Nggak usah. Aku lebih suka di kelas."

Aku mengangguk. Lalu teringat sesuatu.

"Oh iya. Waktu pulang kemarin aku lihat kamu jalan ke belakang sekolah."

Ekspresinya nyaris tidak berubah.

"Oh."

"Ngapain?"

"Kamar mandi."

Aku mengernyit.

"Kenapa nggak pakai kamar mandi lobi?"

Jay menutup bukunya perlahan. "Entahlah. Aku lebih suka yang di belakang."

Jawaban itu sama sekali tidak membantu rasa penasaranku. Tak ada obrolan lagi setelah itu. Aku kembali menghabiskan bekalku, sementara Jay sibuk dengan buku biologinya. Lalu aku teringat sesuatu.

"Oh iya, Jay. Tadi Bu Elis minta aku cari satu anggota buat lomba karya tulis ilmiah. Kalau aku ajak kamu, kamu mau?"

Aku akui keputusan itu cukup impulsif. Namun melihat kebiasaannya yang selalu belajar saat istirahat, aku merasa dia mungkin cocok.

"Boleh," jawabnya singkat. "Kapan mulainya?"

"Bulan depan. Masih tahap nyusun ide sama abstrak."

Jay mengangguk pelan.

"Oke."

Bel masuk berbunyi tak lama kemudian. Aku kembali ke bangkuku, sementara Jay menutup bukunya dan mulai memperhatikan pelajaran.

Sepulang sekolah, Arjun kembali mengajakku pulang bersama. Kami memang selalu pulang bersama sejak SMP, meskipun rumah kami berbeda arah. Saat hendak meninggalkan kelas, aku sempat melirik ke arah bangku Jay.

Kosong.

Lagi.

Aku bahkan tidak melihat kapan dia pergi.

"Nungguin siapa sih?" tanya Arjun.

Aku menggeleng.

"Nggak ada."

Kami berjalan keluar sekolah. Namun, sebelum melewati gerbang, aku kembali melihat sosok yang sudah mulai terasa familiar. Jay. Dia berjalan sendirian menuju area belakang sekolah. Lagi. Aku mengerutkan dahi. Kalau memang hanya ke kamar mandi, kenapa harus setiap hari?


Hari-hari berikutnya berjalan hampir sama. Jay selalu datang paling pagi. Tidur sebelum pelajaran dimulai. Tidak pernah makan saat istirahat. Dan selalu menghilang lebih dulu ketika sekolah usai. Anehnya, aku mulai terbiasa dengan semua itu. Bahkan saat istirahat, aku lebih sering mengobrol dengannya daripada pergi ke kantin. Meski sebenarnya sebagian besar percakapan kami hanya diisi jawabannya yang singkat-singkat.

Suatu hari, aku mengajaknya ke rooftop sekolah saat jam istirahat.

"Di sini lebih enak daripada di kelas," kataku sambil duduk di salah satu bangku. "Kalau lagi penat, aku biasanya ke sini."

Kami duduk dalam diam di sana selama beberapa menit.

"Kamu nggak makan?" tanyanya tiba-tiba.

Aku menggeleng. "Lagi nggak lapar."

Untuk pertama kalinya, aku melihat senyum tipis muncul di wajahnya.

"Sekarang nggak cuma aku yang nggak makan."

Aku mendengus pelan. Mungkin itu lelucon versinya.

Bel pulang berbunyi lebih cepat dari yang kukira. Aku membereskan buku-bukuku lalu menoleh ke arah bangku Jay.

Kosong.

Lagi.

Aku bahkan mulai bertanya-tanya apakah dia memang sengaja menghindari pulang bersama murid lain. Saat berjalan menuju gerbang bersama Arjun, tiba-tiba dia membuka suara.

"Kamu akhir-akhir ini aneh, Jey. Beberapa kali aku lihat kamu ngobrol sendiri di kelas."

Aku mengernyit.

"Maksudnya?"

"Ya ngobrol sendiri. Kayak lagi ngomong sama seseorang."

Aku langsung memutar bola mata.

"Ya emang lagi ngobrol sama seseorang. Sama Jay."

Arjun diam.

Aku menunjuk ke arah belakang sekolah.

"Itu tuh orangnya. Lagi jalan ke belakang lagi."

Arjun mengikuti arah yang kutunjuk. Lalu menatapku dengan ekspresi bingung.

"Jey."

"Hm?"

"Nggak ada siapa-siapa."


Aku mulai menganggap semua keanehan itu sebagai hal yang biasa. Setidaknya sampai Bu Elis memanggilku saat jam istirahat.

"Kamu bilang anggota timmu namanya siapa?"

"Jayden, Bu." Bu Elis mengernyit.

"Ibu sudah cek daftar murid berkali-kali. Nggak ada yang bernama Jayden."

Aku ikut mengernyit. "Ibu juga sudah cek data murid pindahan semester ini."

Beliau menggeleng pelan. "Tetap nggak ada."

Aku menatap layar komputer di depanku. Benar. Kolom pencarian hanya menampilkan tulisan: Data tidak ditemukan.

"Mungkin saya salah dengar namanya, Bu."

"Kalau begitu coba tanyakan lagi. Ibu butuh data lengkapnya untuk pendaftaran lomba."

Aku mengangguk pelan. Namun saat keluar dari ruang guru, perasaanku mulai tidak nyaman. Alih-alih kembali ke kelas, aku justru berjalan ke rooftop. Begitu membuka pintunya, aku sedikit terkejut melihat Jay duduk di salah satu bangku kosong.

"Kamu di sini, Jay?"

Berbeda denganku, dia tampak tidak terlalu terkejut dengan kedatanganku.

"Benar katamu, Jey. Di sini lebih enak daripada di kelas."

Seketika perkataan Arjun dan Bu Elis terlintas di benakku.

"Jay, aku mau tanya sesuatu. Kalau menurutmu ini terlalu personal, nggak perlu dijawab."

Jay hanya menatapku diam.

"Kamu pindahan dari mana?"

"SMA Nararya." Aku mengangguk pelan. Nama itu terasa asing, tapi juga familiar.

"Kalau nama lengkapmu?"

"Kamu dulu. Kamu juga belum pernah bilang nama lengkapmu."

Aku tersenyum kecil.

"Jeyan Ardikara."

Kini giliranku menunggu jawaban.

"Kalau kamu?"

Jay mengalihkan pandangan ke langit. "Jayden. Cuma Jayden."

Bel masuk berbunyi sebelum aku sempat bertanya lagi. Aku langsung berdiri.

"Ayo balik."

Belum sempat tanganku menyentuh kenop pintu, bahuku sudah ditepuk lebih dulu oleh Jay. Aku sedikit terkejut. Baru kali ini kami bersentuhan secara langsung.

"Kamu kenapa, Jey?" tanyanya.

Aku menggeleng cepat lalu menyingkirkan tangannya. "Nggak apa-apa."

Namun saat itu juga aku merinding. Tangannya dingin. Terlalu dingin untuk ukuran siang yang panas. 

Sepulang sekolah, aku menceritakan semuanya kepada Arjun. Mulai dari Bu Elis yang tidak menemukan nama Jay hingga jawaban-jawaban aneh yang diberikan Jay. Arjun mendengarkan tanpa menyela. Baru setelah aku selesai, dia mengembuskan napas panjang.

"Jey. Kalau aku ngomong sesuatu, kamu jangan marah."

Aku mulai tidak suka arah pembicaraan ini.

"Apa?"

"Menurutku nggak ada Jayden."

Aku tertawa hambar. "Lucu."

"Aku serius."

"Ya terus yang tiap hari duduk di sebelahku siapa?"

Arjun terdiam beberapa saat. Lalu menjawab pelan.

"Itu masalahnya."

Aku tidak langsung menjawab. Karena untuk pertama kalinya, aku mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa Arjun memang tidak sedang bercanda. Dan itu jauh lebih menakutkan daripada yang ingin kuakui.


Keesokan harinya, aku berangkat sekolah dengan perasaan tidak nyaman. Begitu membuka pintu kelas, seperti biasa, Jay sudah ada di sana. Kepalanya terbenam di antara lipatan tangan. Tertidur. Aku memutuskan tidak membangunkannya. Arjun bilang guru pertama hari ini berhalangan hadir. Aku baru saja hendak merebahkan kepala di atas meja ketika Jay tiba-tiba mengangkat wajahnya.

"Nggak dibangunin?"

Aku sedikit terkejut.

"Mapel pertama kosong."

Jay mengangguk lalu kembali membuka buku biologinya. Aku ikut merebahkan kepala di atas meja. Tak lama kemudian, sesuatu menyentuh pipiku. Selembar kertas. Aku menoleh ke arah Jay. Dia hanya menunjuk kertas itu dengan ujung pulpennya. Dengan penasaran, aku membukanya.

Ada dua stickman yang sedang bergandengan tangan. Di samping masing-masing stickman tertulis dua nama: Jay dan Jey.

Aku tertawa kecil. Ya ampun, kenapa banyak orang menganggap Jay aneh, sih? Padahal dia baik. Dia juga ramah padaku. Harusnya orang lain melihat hal yang sama. Harusnya. Namun sebelum sempat mengatakan apa pun, suara Arjun tiba-tiba terdengar dari depan bangkuku.

"Jey!"

Aku menoleh.

"Kamu kenapa sih?"

"Hah?"

"Beberapa hari lalu ngomong sendiri. Sekarang ketawa sendiri."

Senyumku perlahan memudar.

"Aku nggak ketawa sendiri."

Arjun mengernyit. "Lah, terus?"

Aku langsung menunjuk ke arah Jay.

"Ini. Aku lagi ngobrol sama Jay."

Hening. Aku menoleh ke samping.

Kosong. Bangku di sebelahku kosong.

Tidak ada Jay.

Tidak ada tasnya.

Tidak ada apa pun.

Jantungku mendadak berdegup lebih cepat.

Tanganku gemetar saat kembali melihat kertas yang masih kupegang.

Napas seolah tertahan di tenggorokan.

Di atas kertas itu hanya ada satu stickman.

Dan satu nama.

Jey.

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

"Jey?" Suara Arjun terdengar pelan.

Aku mengangkat kepala. "Jay bilang dia pindahan dari SMA Nararya."

Arjun tampak bingung.

"SMA Nararya?" Aku mengangguk.

"Itu nama sekolah kita puluhan tahun yang lalu."

Darahku seperti berhenti mengalir sesaat.

Aku kembali menoleh ke arah bangku kosong di sebelahku. Lalu baru menyadari sesuatu.

Ada sebuah buku biologi di kolong meja. Buku yang selama ini selalu dibaca Jay saat jam istirahat. Aku buru-buru mengambilnya.

"Jey, mau ke mana?" tanya Arjun.

Aku tidak menjawab. Kubuka buku itu dengan tangan gemetar.

Tak ada nama pemilik.

Tak ada catatan.

Tak ada apa pun.

Hanya ada sebuah tulisan di halaman paling terakhir yang sebelumnya tidak pernah kulihat.

Ruang arsip.

Aku tidak menuju rooftop.

Aku menuju ruang arsip sekolah.

Ruangan itu jarang dibuka. Bahkan aku tidak yakin masih ada yang menggunakannya. Di sana aku menemukan buku tahunan tahun 1998, saat sekolah ini masih bernama SMA Nararya. Tanganku gemetar saat membalik halaman demi halaman. Lalu aku menemukannya. Foto kelas.

Di barisan paling belakang. Seorang siswa yang wajahnya terasa sangat familiar.

Di bawah foto itu tertulis:

Jayden.

Tanpa nama belakang. Hanya Jayden.

Aku buru-buru membalik ke halaman berikutnya. Ada sebuah artikel kecil. Tentang seorang siswa yang dinyatakan hilang dan tidak pernah ditemukan. Namanya disamarkan karena permintaan keluarga. Namun foto yang digunakan adalah foto yang sama. Foto Jay. Aku menatap halaman itu lama. Lalu sesuatu terjatuh dari sela-sela buku. Selembar kertas tua. Di atasnya hanya ada dua kata.

Not Found.

 

SINOPSIS:

404 Not Found.

Pesan sederhana yang menandakan bahwa sesuatu tidak dapat ditemukan.

Kita terbiasa menganggap yang hilang sebagai sesuatu yang telah pergi. Padahal, mungkin sebagian darinya masih ada. Terselip di sudut ingatan, tertinggal dalam jejak yang terlupakan, atau tersembunyi di tempat yang tidak lagi dicari. 

Karena yang tidak dapat ditemukan bukan berarti tidak pernah ada.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...