Riuh Malam
Karya Nur Farah Aisya
Suara sumbang mengepakkan telinga
Bergantian dengan jeritan-jeritan
Yang memenuhi gendang telinga
Cahaya gelap memenuhi kornea
Sesaat berganti dengan api yang
membara
Sesaat lagi berganti dengan ruang
sunyi
yang tak ada seorang-pun di sana
Lelaki itu meringkuk
Meringkuk sedalam-dalamnya
Tangannya bergetar
seirama dengan peluh di kulitnya
Jiwanya berteriak
Melawan ketakutan dan suara yang
mengganggunya
"Kau cacat jiwa!" suara
itu menyentak
Menyeruak ruang hatinya
Namun malam terus berjalan
Dan mentari esok akan datang
Meski riuh tak kunjung reda
Masih dipeluknya secercah asa
Perlahan ia berdiri
Melepas cengkraman eratnya
Menutup mata dan telinga
dari apa yang telah mengusiknya
Ia tak sendirian
Hembusan angin selalu menemaninya
Memeluk tubuhnya yang letih
Mengusap rambutnya, seakan berusaha
menenangkannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar