Satire Rupiah yang Lunglai dan
Jeritan di Pom Bensin
Karya Danur Imani Pratama
Nilai rupiah merosot tajam di bursa
dunia,
sementara dolar mendaki puncak
dengan jemawa.
Para pakar ekonomi mengekspresikan
rasa gundah,
saat mereka melihat grafik keuangan
semakin rendah.
Namun, masyarakat desa tidak
mengenal putus asa,
karena mereka tidak menggunakan
dolar dalam berniaga.
Para petani tidak membutuhkan mata
uang asing,
ketika mereka mengolah tanah sawah
yang bising.
"Untuk apa lembaran hijau dari
Amerika itu?" tanya warga,
sebab hasil bumi tidak dinilai
dengan kasta yang berharga.
Meskipun demikian, harga bahan
bakar minyak tiba-tiba melonjak,
membuat masyarakat kecil kehilangan
tempat untuk berpijak.
Pemerintah mencabut subsidi dengan
alasan keadilan ekonomi,
tetapi kantong rakyat yang terlebih
dahulu mengalami tsunami.
Para pengendara menatap angka di
meteran dengan sedih,
sebab simpanan modal mereka kini
telah bersih.
Kendaraan roda dua kini hanya
tersimpan di dalam garasi,
menjadi saksi bisu atas kebijakan
yang tidak memiliki hati.
Sementara itu, para kaki tangan
asing sibuk menebar pesona,
mereka menjual kekayaan bumi pertiwi
ke berbagai negara.
Mereka membungkuk takzim di hadapan
para pengusaha luar,
tetapi mengabaikan tangisan warga
yang terdengar samar.
Mereka sangat fasih merapalkan
mantra bernama investasi,
padahal mereka hanya mengincar
keuntungan dan komisi.
Para pejabat bangga menjadi pelayan
kepentingan dunia,
sementara pemilik negeri ini hanya
mendapatkan ampasnya.
Mari kita menyaksikan sandiwara
politik ini dengan saksama,
ketika para penguasa egois merayakan
keberhasilan bersama.
Biar rupiah melemah dan harga bensin
membakar sukma,
kita harus tetap menjaga kewarasan
dengan jiwa yang gembira
Tidak ada komentar:
Posting Komentar