Sajak yang Terlupa
Karya Siti Sholekah
Di bawah langit yang mulanya
biru,
Bumi pernah bernapas dalam diam yang
syahdu.
Hutan-hutan bertasbih lewat gesekan
daun,
Mengalirkan kehidupan dari tahun ke
tahun.
Dulu, kita memanggilnya alam dengan
takzim,
Tempat riak air menari tanpa sedih
di urat nadi yang jernih.
Namun kini, di sudut jalan, pohon
tua itu mulai bicara,
Bukan dengan kata, tapi debu yang
menempel pada daun yang lelah.
Napas bumi mulai memburu,
Terganti asap hitam yang mengepul
kelabu.
Sekarang, kita memanggilnya sumber
daya yang siap diperas,
Pohon-pohon tumbang bersandarkan
serakah yang tak bertepi.
Plastik-plastik itu menari bebas di
sela akar,
Menjadi prasasti bisu dari kebiasaan
kita yang terlalu terburu-buru.
Kita memetik tanpa pernah
menanam,
Membiarkan masa depan perlahan
temaram di atas tanah yang merekah.
Bumi tidak minta disembah,
Dia hanya ingin sedikit napas yang
tak tercekat asap.
Dia hanya ingin kita berhenti
sejenak,
Menaruh telepon genggam, melihat ke
langit yang kian abu,
Dan sadar bahwa tanah yang kita
pijak,
Masih punya memori tentang hari-hari
ketika ia belum merasa terluka.
Tidak perlu pidato besar untuk
menyelamatkannya,
Belum terlambat untuk menyeka air
mata di wajahnya.
Mungkin cukup dengan satu langkah
kecil hari ini:
Membiarkan sisa makanan kembali
menjadi tanah,
Atau berhenti membuang harapan ke
dalam botol-botol sekali pakai.
Mari jadikan tangan kita
pelindung,
bukan perusak yang angkuh.
Sebab pada akhirnya,
Kita bukan sedang menjaga alam yang
jauh di sana,
Kita sedang menjaga rumah,
agar tidak runtuh di atas kepala
kita sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar