Jumat, 26 Juni 2026

SEKAR Edisi Juni 2026 | Janji Mentari Karya Saffanah Salsabila

 Janji Mentari

Karya Saffanah Salsabila

Huh... huh... huh...

   Nafasnya mulai menderu bersamaan dengan redupnya sinar mentari. Tangisannya meluap memenuhi seluruh wajahnya. Hari sudah mulai gelap, begitu juga hatinya. Ia berlari tak tentu arah dengan langkah lunglai akibat luka di lututnya. Namun, luka ini tak sebanding dengan luka di hatinya. Sedari dulu cara kerja dunia tak pernah berubah terhadapnya, cemoohan dan cacian menemani hari-harinya. 

   Namanya Eva. Gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup dengan semua ketidakberuntungan yang ada di dunia ini. Soal penampilan? Siapa yang tertarik dengan gadis dekil rambut keriting. Soal gaya hidup? Siapa yang tertarik dengan gadis yang satu baju dipakai untuk satu minggu. Soal orang tua? Siapa yang tertarik dengan orang tua yang hanya mampu memberi nafkah sepuluh ribu untuk tiga hari. Soal otak? Siapa yang tertarik dengan gadis yang sedari dulu hanya hafal perkalian 5 dikali 5 sama dengan 25. Tidak ada yang menarik dalam hidupnya, hanya soal hidup ia menang dari manusia yang sudah meninggal dengan cepat.

   Eva menyadari bahwa yang ia punya hanyalah kesempatan untuk membuka mata tanpa diberikan izin untuk berteman dengan dunia. Maka dari itu untuk apa ia hidup jika hidup saja tidak memberikan makna untuknya. Seekor kucing yang nampak kelaparan mendekati Eva yang tengah kelelahan berlari, Eva berhenti sejenak untuk memberikan kucing tersebut roti. 

   Setelah itu, Eva berlari kembali, berteriak dan menangis tanpa arah. Disinilah dia sekarang, di sebuah tebing yang curam dengan latar belakang senja dan pemandangan kota yang membuatnya semakin yakin untuk meninggalkan dunia ini.

“Selamat tinggal.” Dengan pasrah Eva menjatuhkan tubuh mungilnya ke dasar tebing. Lama sekali ia menutup mata, tapi yang ia rasakan hanya angin berhembus kencang di sekitar tubuhnya. Tak lama kemudian angin berhenti berhembus menyisakan dirinya dan senja namun, anehnya ia terbaring di atas tebing yang sama tanpa luka sedikitpun bahkan luka karena goresan pisau di lututnya tadi sudah hilang. Berkali-kali ia mencoba untuk meninggalkan dunia namun, ia tetap berakhir hanya terbaring di atas tebing.

“Kalau kamu ingin aku tetap hidup tolong beri tahu aku cara bahagia!” teriaknya lantang kepada sang senja. Eva memeluk lututnya sembari menangis tersedu-sedu.

“Dunia memiliki cara tersendiri untuk membuatmu bahagia dan kamu harus melihatnya, Eva,” ucap seseorang di depannya. Eva sangat terkejut, ia merasa seperti tidak memiliki jantung. 

“Si-siapa kamu?” tanya Eva. 

“Aku? Hmmmm, aku tau cara kamu bahagia, Eva.”

“Pergi kamu dari sini! Aku ngga butuh kamu!” Eva berlari dengan sigap meninggalkan pria misterius yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Eva berlari dengan cepat hingga ia merasa berada di jarak yang cukup jauh dari tebing tadi. 

   Pria itu berdehem, “Besok ada ujian matematika, buku ini bisa membantu kamu untuk mendapatkan nilai plus, Eva,” ucap pria itu sembari menyodorkan buku kepada Eva. Sekali lagi Eva dibuat terkejut oleh pria tersebut, ia berlari dan terus lari menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, dengan segera ia membanting pintu kamarnya dan membaringkan tubuhnya ke atas kasur.

            “Siapa cowok itu?” Pertanyaan itu terus memenuhi kepala Eva hingga malam tiba. Alhasil, ia memutuskan untuk membuat dirinya segar kembali dengan guyuran air dingin. Setelah itu, ia memeriksa jadwal sekolah untuk besok dan benar sekali bahwa besok pada pukul tujuh pagi matematika akan melahapnya. Ia merasa sangat putus asa karena berapa kali pun ia belajar berkali-kali pula rasanya ia ingin meninggal tanpa terjun ke bawah tebing. 

   Terdengar pintu kamar Eva diketuk, “Nak, di luar ada teman kamu,” ucap ibunya. Bukan main, Eva semakin terkejut, lebih terkejut daripada saat ia bertemu dengan pria tidak dikenal. Karena sedari kecil hingga detik ini tercatat nol persen jumlah pertemanan Eva yang terekam pada data Dinas Pertemanan. 

“Tapi, Bu. Aku ngga punya temen deket, kenapa ibu biarin masuk? Keknya mereka cuma mau macem-macem sama aku.”

“Sepertinya dia orang baik, Nak. Dia mau belajar katanya, sampe bawa buku sekoper lho.” Eva semakin terkejut dan sepertinya dia tahu siapa ‘teman‘ itu.

” Ibu… tolong bilang Eva sudah tidur yaa… Eva takut.”

“Permisi, Ibu… maaf saya langsung masuk tanpa izin, saya ingin memberitahu bahwa suami Ibu terjatuh dari tangga-” ucap pria misterius yang Eva temui di atas tebing.

“YA TUHAN,” seru ibu Eva.

“AYAH-” teriak Eva. Pria itu menahan tangannya.

“Kamu jangan khawatir, ayah kamu sudah aku obati, Eva. Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah belajar.” Eva tidak menghiraukan pria itu dan langsung berlari menuju ke depan rumahnya. Disana ia melihat ayahnya telah duduk tenang dengan perban di kakinya sembari tersenyum ke arahnya. 

“Ayah tidak apa-apa, Sayang, bersyukur sekali ada teman kamu tadi jadi Ayah langsung diberi penanganan.” Hati Eva sangat tenang dan damai saat melihat senyum ayahnya. Orang tua Eva membalas budi pria itu dengan sepiring singkong goreng untuk menemani  waktu belajarnya bersama Eva.

“Siapa kamu?” tanya Eva sekali lagi.

“Itu tidak penting, kerjakan soal selanjutnya maka besok kamu akan disukai oleh temanmu, Eva.”

“Aku tidak membutuhkan teman,” ucap Eva.

“Kamu berbohong, Eva,” balas pria itu.

“AKU TIDAK MAU.” 

   Cetas! Pria itu menjentikkan jarinya kemudian semuanya tampak gelap.

            “Kamu ingin semua cuplikan mimpi buruk ini terus terjadi dalam hidupmu, Eva?” Sekujur tubuh Eva bergetar hebat, ia merasa sangat ketakutan melihat semua memori itu. Mulai dari dirinya yang dicemooh, dilempari kotoran, hingga mendapatkan perlakuan yang tidak pantas sebagai seorang wanita. 

“Kalau kamu tidak mau merubah hidupmu sekarang maka jangan berharap kamu bahagia, Eva,” ucapnya, “Aku disini bukan untuk membuatmu sengsara, kamu sendiri yang ingin mengetahui bagaimana cara untuk bahagia, ya kan, Eva?”

“Kamu jangan khawatir ya, sekarang kamu aman, Eva,” ucap pria itu sembari memeluk tubuh Eva yang bergetar. Malam itu, Eva sedikit bahagia meskipun masih sedikit tidak percaya pada sosok pria tidak dikenal ini. Pria ini sangat misterius, perawakannya yang gagah, tegap dan memiliki wajah yang tegas membuat Eva terkadang takut berada di dekatnya. Namun, sikapnya yang lembut membuat Eva tenang berada di sampingnya. 

“Ini makanan apa, Eva?” tanya pria itu sembari menggoyang-goyangkan singkong goreng.

“Itu enak, makan saja.”

“Apa makanan ini membuatmu bahagia?” Eva mengangguk sambil tersenyum. Dasar pria aneh, pikirnya. 

   Malam itu, pria itu mengajarkan banyak hal kepada Eva mulai dari hal serius seperti prediksi galaksi andromeda dan bima sakti yang akan bertabrakan sekitar 4 miliar tahun lagi hingga hal konyol seperti kucing menatap tembok seperti melihat hantu. 

   Esok hari telah tiba, mentari seakan memberikan sinar yang berbeda kepada Eva. Sinar harapan. Pagi itu ia sangat optimis dan bersemangat untuk menghadapi ujian, ia berjalan kaki dengan senyuman. Di persimpangan jalan tepat dimana ia biasa melihat matahari terbit, pria itu muncul secara tiba-tiba disampingnya.

“Apakah kamu tidak lelah berjalan kaki, Eva?”

            Eva terkejut, “Bisa ngga ya kamu jangan muncul tiba-tiba, aku kaget.”

            “Maaf, akan aku coba untuk membuatmu tidak kaget lain kali, Eva. Omong-omong apa kamu tidak berniat untuk membeli sepeda seperti teman kamu itu?” ucapnya sembari menunjuk teman sekolah Eva di seberang.

            “Beli sepeda ya? Hm… mungkin aku bisa membelinya saat galaksi andromeda dan bima sakti bertabrakan.” Eva tertawa, berlari dan berkata, “Terima kasih sudah membantuku, siapapun kamu semoga kamu bahagia selalu, doakan aku berhasil.” Eva berlari dengan penuh semangat, pria itu tersenyum lebar melihat kepergian Eva, bagian kecil lengannya mulai pudar tertiup angin.

   Bel berdering menandakan kelas hendak dimulai, jantung Eva berdegup kencang. Meski ia bersikap optimis, tapi ia tetap takut membuat kesalahan. Ujian berjalan dengan lancar, Eva sudah melakukan yang terbaik dan ia percaya bahwa semua soal telah dijawabnya dengan benar karena semua yang ia pelajari bersama pria itu muncul dalam soal ujian. 

   Seharian Eva diam di dalam kelas karena takut akan hasil ujiannya. Mentari semakin terik dan pikiran Eva pun semakin kacau. 

            “Hai, Eva. Tenang saja, kamu sudah melakukan yang terbaik,” ucap pria itu tiba-tiba di depan kursi Eva. 

            “Bagaimana kamu bisa sampai disini?”

            “Aku punya singkong goreng, berbahagia ya,” ucapnya sembari menyodorkan sebungkus singkong goreng kepada Eva. Menurut Eva hal itu sangat lucu hingga membuatnya tertawa terbahak-bahak. 

            “BAGAIMANA BISA? SINGKONG?” Eva masih tertawa terbahak-bahak.

            “Eh, aku meminta kepada ibumu tadi pagi.”

            “Ya tuhan… kamu lucu sekali,“ ucap Eva. 

   Bel masuk berbunyi, pada jam inilah penentuan takdir Eva. 

            “Setelah pulang sekolah, mari kita cari cara untuk bahagia lagi ya, Eva,” ucap pria itu yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh Eva. 

   Semua doa telah Eva panjatkan, semua harapan telah Eva rapalkan. Akhirnya, namanya dipanggil diikuti oleh nilai sempurnanya, 80. Di mata orang mungkin tidak sempurna, tapi Eva senang sekali karena ia memiliki kesempatan untuk bahagia. 

   Senja menjemputnya, di depan gerbang sekolah ia melihat pria itu sedang tersenyum ke arahnya. 

            “Bagaimana hasilnya, Eva?” tanya pria itu.

            “Aku… DAPAT NILAI 80!” Eva senang sembari melompat kegirangan, bagian kecil lengan pria itu mulai pudar tertiup angin.

            “Terima kasih,” Eva tersenyum, sepertinya ini adalah senyum terindahnya sepanjang hidup. 

            “Ayo kita merayakan keberhasilanmu dengan pergi ke suatu tempat,” ucap pria itu. Eva mengangguk dengan malu sembari mengikuti langkah pria itu. Tak lama kemudian, sampailah mereka di toko yang menjual segala macam kue cantik dan enak. 

            “Apa kue bikin kamu bahagia?”

   Eva terkekeh, “Iyaaa, sangat. Terima kasih.” Mereka berdua menghabiskan waktu sore bersama di sebuah taman bermain sembari menikmati kue dan es krim. 

            “Apa aku boleh memanggilmu Jingga?”

            “Wow, jingga itu nama warna ya, Eva? Kenapa?”

   Eva tersipu, “Karena kamu itu suka bangkitin semangat orang.” Pria itu tersenyum dan menyetujui permintaan Eva. 

   Tak lama kemudian sebuah kertas tertiup angin hingga menutup seluruh wajah Eva, Jingga tertawa melihatnya. 

            “Oh, jadi kamu juga bisa jahat ya?” ucap Eva. 

            “Lihat sisi positifnya, Eva. Itu selebaran lowongan kerja supir, mungkin itu cocok untuk ayah kamu, daripada ayah kamu terusan bekerja sebagai kuli bangunan, beresiko sekali.”

            “Terima kasihh, akan aku sampaikan ke Ayah!”

   Eva berlari sembari menunjukkan kepada dunia bahwa harapan kini memenuhi hidupnya. Sejak saat itu, Eva memiliki cara untuk bahagia. Ini semua terjadi semenjak ia dipertemukan oleh pria misterius yang Eva panggil Jingga. 

   Jingga benar-benar memberikan Eva dunia baru, ia berhasil membangkitkan semangat bersekolah Eva, ia juga berhasil membuat Eva mau bersosialisasi dengan teman-temannya meskipun pada bagian ini sangat susah dan berkali-kali mereka beradu mulut seperti ini:

            “AKU TIDAK PEDULI DENGAN TEMAN! AKU TIDAK PERLU MEREKA DALAM HIDUPKU! Aku bisa jadi apapun tanpa mereka!”

            “Oh ya? Hebat banget kamu? Siapa yang kemaren nolong kamu jatuh?”

            “Karina...,” jawabnya.

   Hidup Eva berubah total, bukan hanya hidupnya yang indah tapi penampilannya juga semakin indah karena ia saat ini bisa menghidupi dirinya sendiri dengan uang hasil jerih payahnya bekerja paruh waktu di toko kue tempat dimana ia dan Jingga biasa menghabiskan waktu. 

   Hari kelulusan pun tiba, Eva berhasil meraih peringkat pertama di sekolahnya. Foto kelulusannya mengakhiri kisah putih abu-abunya. Ia menggenggam erat foto yang berisi dia, kedua orang tuanya, dan Jingga. 

            “Terima kasih, Jingga.”

            “Aku tidak melakukan apapun, Eva. Ini semua berkat usaha kamu,” Jingga tersenyum.

            “Ngga, ini semua karena kamu, terima kasih,” ucap Eva sembari memeluk erat tubuh tegap Jingga. 

            “Hei, kamu tidak boleh menangis, Eva. Nanti pelanggan kuemu lari.” Eva mencubit lengan Jingga. 

   Hari setelah kelulusan bukanlah akhir, melainkan titik awal langkah Eva dimulai. Maka dari itu, ia lebih giat belajar demi berhasil meraih gelar di universitas impiannya. Eva juga giat bekerja demi membantu perekonomian keluarganya. Berhari-hari berlalu Eva tidak melihat kehadiran Jingga, ia mulai merindukannya. Biasanya Jingga muncul secara tiba-tiba melalui angin dan matahari, namun saat ini sama sekali tidak ada tanda akan kemunculannya. 

   Kini pertanyaan, “Jingga kemana?” merupakan pertanyaan yang selalu menghantuinya setiap malam. Ia mencari keberadaannya ditemani oleh seekor kucing dengan lonceng emas di lehernya, Eva tidak tahu mengapa kucing ini mau menemaninya, mungkin ia ingin membalas budi pada Eva atas sepiring makanan setiap paginya. 

   Eva terus mencari keberadaan Jingga, biasanya ia muncul di saat matahari terbit, matahari terik dan matahari terbenam namun, ia belum juga memperlihatkan kehadirannya. Eva semakin khawatir.

   Tiga bulan berlalu Eva hidup tanpa kehadiran Jingga dan itu membuatnya hampir menyerah. Akhirnya, ia memutuskan untuk menikmati senja di atas tebing sembari melihat pemandangan kota di bawahnya.

   Ia berpikir, “Dulu, aku ingin mati disini, tapi ternyata disinilah hidupku dimulai.” Eva berdiri selama berjam-jam hingga suara adzan maghrib berkumandang, jauh di dalam lubuk hatinya ia berharap Jingga muncul secara tiba-tiba di hadapannya namun, dunia tidak mengizinkannya. Eva melangkahkan kaki hendak pulang kerumah dengan langkah lesu.

            “Kamu belum melihat bagian ini, jangan pergi dulu, Eva,” ucap seseorang di belakangnya. Dengan sigap, Eva membalikkan badan dan memeluk erat tubuh Jingga seakan-akan tidak ingin melepaskannya.

            “Kamu darimana saja, Jingga…?” tanya Eva.

            “Aku ngga kemana-mana, Eva. Aku selalu menemani langkahmu. Bagaimana kabar kamu?”

            “JAHAT! Tolong jangan tinggalin aku.”

            “Kamu keren dan kamu bisa mengandalkan diri kamu sendiri, Eva.”

            “Apa maksud kamu, Jingga?!”

   Jingga mengajak Eva untuk duduk di tepi tebing. 

            “Kamu bahagia sekarang?” tanya Jingga.

            “Tidak kalau tidak dengan kamu.”

            “Itu bukan jawaban, Eva. Buktinya kamu bisa meraih nilai sempurna untuk perkuliahan kamu tanpa aku. Kamu yang sekarang sudah sangat keren, dan itu berarti tugasku sudah selesai.”

            “MAKSUD KAMU APA?!”

            “Kamu selalu bertanya-tanya tentang siapa aku, bukan? Aku juga sebenarnya tidak tahu kenapa aku ada, mungkin aku diciptakan oleh hati kamu yang lembut dan rapuh sehingga muncul keinginan untuk membuat kamu bahagia di dunia ini, Eva. Karena kamu berhak bahagia. Saat kamu mengatakan bahwa dunia tidak memberitahu kamu tentang bagaimana cara merasakan kebahagiaan, disitulah aku mulai tercipta.”

   Eva hendak bergegas pergi meninggalkan Jingga, “Eva, tolong jangan marah padaku.” Jingga menahan tangan Eva. Eva terkejut ketika melihat kini kaki Jingga telah pudar terbawa angin. 

            “Jingga, apa yang terjadi padamu?!” 

            “Sepertinya kamu sudah bahagia, Eva. Angin ingin membawaku pergi.”

            “INI BENERAN NGGA ADIL.”

            “Hei, jangan berpikir seperti itu. Dunia ini ada karena kamu ada. Maka berbahagialah selalu, Eva. Terima kasih karena tetap menjadi diri kamu dan bertahan hingga sejauh ini, aku bangga sekali padamu, dan terima kasih atas namanya, Jingga. Aku sangat menyukainya.” Itulah kalimat terakhir Jingga setelah tubuhnya hilang tersapu oleh angin meninggalkan lonceng kecil berwarna emas. 

   Eva diam terpaku sembari memeluk tubuh Jingga yang kini hilang tertiup angin. 

            “Terima kasih….” Eva menangis. 

 

SINOPSIS 

Hari buruk selalu menghantui Eva. Dunia tidak berpihak padanya. Apalagi setelah kehilangan seseorang yang membuat dunianya lebih baik bahkan sangat baik, Jingga. Setelah ia mendapatkan dunianya, ia menghabiskan hari untuk mencari Jingga ditemani seekor kucing dengan lonceng emas di lehernya. 

“Kamu darimana saja, Jingga…?” tanya Eva.

            “Aku ngga kemana-mana, Eva. Aku selalu menemani langkahmu. Bagaimana kabar kamu?“ 

Eva ingin mengetahui cara dunia memberinya kebahagiaan, maka jawabannya ada pada Jingga. 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...