Janji Mentari
Karya Saffanah Salsabila
Huh... huh... huh...
Nafasnya mulai
menderu bersamaan dengan redupnya sinar mentari. Tangisannya meluap memenuhi
seluruh wajahnya. Hari sudah mulai gelap, begitu juga hatinya. Ia berlari tak
tentu arah dengan langkah lunglai akibat luka di lututnya. Namun, luka ini tak
sebanding dengan luka di hatinya. Sedari dulu cara kerja dunia tak pernah
berubah terhadapnya, cemoohan dan cacian menemani hari-harinya.
Namanya Eva. Gadis
remaja berusia 18 tahun yang hidup dengan semua ketidakberuntungan yang ada di
dunia ini. Soal penampilan? Siapa yang tertarik dengan gadis dekil rambut
keriting. Soal gaya hidup? Siapa yang tertarik dengan gadis yang satu baju
dipakai untuk satu minggu. Soal orang tua? Siapa yang tertarik dengan orang tua
yang hanya mampu memberi nafkah sepuluh ribu untuk tiga hari. Soal otak? Siapa
yang tertarik dengan gadis yang sedari dulu hanya hafal perkalian 5 dikali 5
sama dengan 25. Tidak ada yang menarik dalam hidupnya, hanya soal hidup ia
menang dari manusia yang sudah meninggal dengan cepat.
Eva menyadari
bahwa yang ia punya hanyalah kesempatan untuk membuka mata tanpa diberikan izin
untuk berteman dengan dunia. Maka dari itu untuk apa ia hidup jika hidup saja
tidak memberikan makna untuknya. Seekor kucing yang nampak kelaparan mendekati
Eva yang tengah kelelahan berlari, Eva berhenti sejenak untuk memberikan kucing
tersebut roti.
Setelah itu, Eva
berlari kembali, berteriak dan menangis tanpa arah. Disinilah dia sekarang, di
sebuah tebing yang curam dengan latar belakang senja dan pemandangan kota yang
membuatnya semakin yakin untuk meninggalkan dunia ini.
“Selamat tinggal.” Dengan pasrah Eva
menjatuhkan tubuh mungilnya ke dasar tebing. Lama sekali ia menutup mata, tapi
yang ia rasakan hanya angin berhembus kencang di sekitar tubuhnya. Tak lama
kemudian angin berhenti berhembus menyisakan dirinya dan senja namun, anehnya
ia terbaring di atas tebing yang sama tanpa luka sedikitpun bahkan luka karena
goresan pisau di lututnya tadi sudah hilang. Berkali-kali ia mencoba untuk
meninggalkan dunia namun, ia tetap berakhir hanya terbaring di atas tebing.
“Kalau kamu ingin aku tetap hidup
tolong beri tahu aku cara bahagia!” teriaknya lantang kepada sang senja. Eva
memeluk lututnya sembari menangis tersedu-sedu.
“Dunia memiliki cara tersendiri
untuk membuatmu bahagia dan kamu harus melihatnya, Eva,” ucap seseorang di
depannya. Eva sangat terkejut, ia merasa seperti tidak memiliki jantung.
“Si-siapa kamu?” tanya Eva.
“Aku? Hmmmm, aku tau cara kamu
bahagia, Eva.”
“Pergi kamu dari sini! Aku ngga
butuh kamu!” Eva berlari dengan sigap meninggalkan pria misterius yang
tiba-tiba muncul di hadapannya. Eva berlari dengan cepat hingga ia merasa
berada di jarak yang cukup jauh dari tebing tadi.
Pria itu berdehem,
“Besok ada ujian matematika, buku ini bisa membantu kamu untuk mendapatkan
nilai plus, Eva,” ucap pria itu sembari menyodorkan buku kepada Eva. Sekali
lagi Eva dibuat terkejut oleh pria tersebut, ia berlari dan terus lari menuju
rumahnya. Sesampainya di rumah, dengan segera ia membanting pintu kamarnya dan
membaringkan tubuhnya ke atas kasur.
“Siapa
cowok itu?” Pertanyaan itu terus memenuhi kepala Eva hingga malam tiba.
Alhasil, ia memutuskan untuk membuat dirinya segar kembali dengan guyuran air
dingin. Setelah itu, ia memeriksa jadwal sekolah untuk besok dan benar sekali
bahwa besok pada pukul tujuh pagi matematika akan melahapnya. Ia merasa sangat
putus asa karena berapa kali pun ia belajar berkali-kali pula rasanya ia ingin
meninggal tanpa terjun ke bawah tebing.
Terdengar pintu
kamar Eva diketuk, “Nak, di luar ada teman kamu,” ucap ibunya. Bukan main, Eva
semakin terkejut, lebih terkejut daripada saat ia bertemu dengan pria tidak
dikenal. Karena sedari kecil hingga detik ini tercatat nol persen jumlah
pertemanan Eva yang terekam pada data Dinas Pertemanan.
“Tapi, Bu. Aku ngga punya temen
deket, kenapa ibu biarin masuk? Keknya mereka cuma mau macem-macem sama aku.”
“Sepertinya dia orang baik, Nak. Dia
mau belajar katanya, sampe bawa buku sekoper lho.” Eva semakin terkejut dan
sepertinya dia tahu siapa ‘teman‘ itu.
” Ibu… tolong bilang Eva sudah tidur
yaa… Eva takut.”
“Permisi, Ibu… maaf saya langsung
masuk tanpa izin, saya ingin memberitahu bahwa suami Ibu terjatuh dari tangga-”
ucap pria misterius yang Eva temui di atas tebing.
“YA TUHAN,” seru ibu Eva.
“AYAH-” teriak Eva. Pria itu menahan
tangannya.
“Kamu jangan khawatir, ayah kamu
sudah aku obati, Eva. Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah belajar.” Eva
tidak menghiraukan pria itu dan langsung berlari menuju ke depan rumahnya.
Disana ia melihat ayahnya telah duduk tenang dengan perban di kakinya sembari
tersenyum ke arahnya.
“Ayah tidak apa-apa, Sayang,
bersyukur sekali ada teman kamu tadi jadi Ayah langsung diberi penanganan.”
Hati Eva sangat tenang dan damai saat melihat senyum ayahnya. Orang tua Eva
membalas budi pria itu dengan sepiring singkong goreng untuk menemani
waktu belajarnya bersama Eva.
“Siapa kamu?” tanya Eva sekali lagi.
“Itu tidak penting, kerjakan soal
selanjutnya maka besok kamu akan disukai oleh temanmu, Eva.”
“Aku tidak membutuhkan teman,” ucap
Eva.
“Kamu berbohong, Eva,” balas pria
itu.
“AKU TIDAK MAU.”
Cetas! Pria itu menjentikkan jarinya kemudian semuanya tampak gelap.
“Kamu
ingin semua cuplikan mimpi buruk ini terus terjadi dalam hidupmu, Eva?” Sekujur
tubuh Eva bergetar hebat, ia merasa sangat ketakutan melihat semua memori itu.
Mulai dari dirinya yang dicemooh, dilempari kotoran, hingga mendapatkan
perlakuan yang tidak pantas sebagai seorang wanita.
“Kalau kamu tidak mau merubah
hidupmu sekarang maka jangan berharap kamu bahagia, Eva,” ucapnya, “Aku disini
bukan untuk membuatmu sengsara, kamu sendiri yang ingin mengetahui bagaimana
cara untuk bahagia, ya kan, Eva?”
“Kamu jangan khawatir ya, sekarang
kamu aman, Eva,” ucap pria itu sembari memeluk tubuh Eva yang bergetar. Malam
itu, Eva sedikit bahagia meskipun masih sedikit tidak percaya pada sosok pria
tidak dikenal ini. Pria ini sangat misterius, perawakannya yang gagah, tegap
dan memiliki wajah yang tegas membuat Eva terkadang takut berada di dekatnya.
Namun, sikapnya yang lembut membuat Eva tenang berada di sampingnya.
“Ini makanan apa, Eva?” tanya pria
itu sembari menggoyang-goyangkan singkong goreng.
“Itu enak, makan saja.”
“Apa makanan ini membuatmu bahagia?”
Eva mengangguk sambil tersenyum. Dasar pria aneh, pikirnya.
Malam itu, pria
itu mengajarkan banyak hal kepada Eva mulai dari hal serius seperti prediksi
galaksi andromeda dan bima sakti yang akan bertabrakan sekitar 4 miliar tahun
lagi hingga hal konyol seperti kucing menatap tembok seperti melihat
hantu.
Esok hari telah
tiba, mentari seakan memberikan sinar yang berbeda kepada Eva. Sinar harapan.
Pagi itu ia sangat optimis dan bersemangat untuk menghadapi ujian, ia berjalan
kaki dengan senyuman. Di persimpangan jalan tepat dimana ia biasa melihat
matahari terbit, pria itu muncul secara tiba-tiba disampingnya.
“Apakah kamu tidak lelah berjalan
kaki, Eva?”
Eva
terkejut, “Bisa ngga ya kamu jangan muncul tiba-tiba, aku kaget.”
“Maaf,
akan aku coba untuk membuatmu tidak kaget lain kali, Eva. Omong-omong apa kamu
tidak berniat untuk membeli sepeda seperti teman kamu itu?” ucapnya sembari
menunjuk teman sekolah Eva di seberang.
“Beli
sepeda ya? Hm… mungkin aku bisa membelinya saat galaksi andromeda dan bima
sakti bertabrakan.” Eva tertawa, berlari dan berkata, “Terima kasih sudah
membantuku, siapapun kamu semoga kamu bahagia selalu, doakan aku berhasil.” Eva
berlari dengan penuh semangat, pria itu tersenyum lebar melihat kepergian Eva,
bagian kecil lengannya mulai pudar tertiup angin.
Bel berdering
menandakan kelas hendak dimulai, jantung Eva berdegup kencang. Meski ia
bersikap optimis, tapi ia tetap takut membuat kesalahan. Ujian berjalan dengan
lancar, Eva sudah melakukan yang terbaik dan ia percaya bahwa semua soal telah
dijawabnya dengan benar karena semua yang ia pelajari bersama pria itu muncul
dalam soal ujian.
Seharian Eva diam
di dalam kelas karena takut akan hasil ujiannya. Mentari semakin terik dan
pikiran Eva pun semakin kacau.
“Hai,
Eva. Tenang saja, kamu sudah melakukan yang terbaik,” ucap pria itu tiba-tiba
di depan kursi Eva.
“Bagaimana
kamu bisa sampai disini?”
“Aku
punya singkong goreng, berbahagia ya,” ucapnya sembari menyodorkan sebungkus
singkong goreng kepada Eva. Menurut Eva hal itu sangat lucu hingga membuatnya
tertawa terbahak-bahak.
“BAGAIMANA
BISA? SINGKONG?” Eva masih tertawa terbahak-bahak.
“Eh,
aku meminta kepada ibumu tadi pagi.”
“Ya
tuhan… kamu lucu sekali,“ ucap Eva.
Bel masuk
berbunyi, pada jam inilah penentuan takdir Eva.
“Setelah
pulang sekolah, mari kita cari cara untuk bahagia lagi ya, Eva,” ucap pria itu
yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh Eva.
Semua doa telah
Eva panjatkan, semua harapan telah Eva rapalkan. Akhirnya, namanya dipanggil
diikuti oleh nilai sempurnanya, 80. Di mata orang mungkin tidak sempurna, tapi
Eva senang sekali karena ia memiliki kesempatan untuk bahagia.
Senja
menjemputnya, di depan gerbang sekolah ia melihat pria itu sedang tersenyum ke
arahnya.
“Bagaimana
hasilnya, Eva?” tanya pria itu.
“Aku…
DAPAT NILAI 80!” Eva senang sembari melompat kegirangan, bagian kecil lengan
pria itu mulai pudar tertiup angin.
“Terima
kasih,” Eva tersenyum, sepertinya ini adalah senyum terindahnya sepanjang
hidup.
“Ayo
kita merayakan keberhasilanmu dengan pergi ke suatu tempat,” ucap pria itu. Eva
mengangguk dengan malu sembari mengikuti langkah pria itu. Tak lama kemudian,
sampailah mereka di toko yang menjual segala macam kue cantik dan enak.
“Apa
kue bikin kamu bahagia?”
Eva terkekeh,
“Iyaaa, sangat. Terima kasih.” Mereka berdua menghabiskan waktu sore bersama di
sebuah taman bermain sembari menikmati kue dan es krim.
“Apa
aku boleh memanggilmu Jingga?”
“Wow,
jingga itu nama warna ya, Eva? Kenapa?”
Eva tersipu,
“Karena kamu itu suka bangkitin semangat orang.” Pria itu tersenyum dan
menyetujui permintaan Eva.
Tak lama kemudian
sebuah kertas tertiup angin hingga menutup seluruh wajah Eva, Jingga tertawa
melihatnya.
“Oh,
jadi kamu juga bisa jahat ya?” ucap Eva.
“Lihat
sisi positifnya, Eva. Itu selebaran lowongan kerja supir, mungkin itu cocok
untuk ayah kamu, daripada ayah kamu terusan bekerja sebagai kuli bangunan,
beresiko sekali.”
“Terima
kasihh, akan aku sampaikan ke Ayah!”
Eva berlari
sembari menunjukkan kepada dunia bahwa harapan kini memenuhi hidupnya. Sejak
saat itu, Eva memiliki cara untuk bahagia. Ini semua terjadi semenjak ia
dipertemukan oleh pria misterius yang Eva panggil Jingga.
Jingga benar-benar
memberikan Eva dunia baru, ia berhasil membangkitkan semangat bersekolah Eva,
ia juga berhasil membuat Eva mau bersosialisasi dengan teman-temannya meskipun
pada bagian ini sangat susah dan berkali-kali mereka beradu mulut seperti ini:
“AKU
TIDAK PEDULI DENGAN TEMAN! AKU TIDAK PERLU MEREKA DALAM HIDUPKU! Aku bisa jadi
apapun tanpa mereka!”
“Oh
ya? Hebat banget kamu? Siapa yang kemaren nolong kamu jatuh?”
“Karina...,”
jawabnya.
Hidup Eva berubah
total, bukan hanya hidupnya yang indah tapi penampilannya juga semakin indah
karena ia saat ini bisa menghidupi dirinya sendiri dengan uang hasil jerih
payahnya bekerja paruh waktu di toko kue tempat dimana ia dan Jingga biasa
menghabiskan waktu.
Hari kelulusan pun
tiba, Eva berhasil meraih peringkat pertama di sekolahnya. Foto kelulusannya
mengakhiri kisah putih abu-abunya. Ia menggenggam erat foto yang berisi dia,
kedua orang tuanya, dan Jingga.
“Terima
kasih, Jingga.”
“Aku
tidak melakukan apapun, Eva. Ini semua berkat usaha kamu,” Jingga tersenyum.
“Ngga,
ini semua karena kamu, terima kasih,” ucap Eva sembari memeluk erat tubuh tegap
Jingga.
“Hei,
kamu tidak boleh menangis, Eva. Nanti pelanggan kuemu lari.” Eva mencubit
lengan Jingga.
Hari setelah
kelulusan bukanlah akhir, melainkan titik awal langkah Eva dimulai. Maka dari
itu, ia lebih giat belajar demi berhasil meraih gelar di universitas impiannya.
Eva juga giat bekerja demi membantu perekonomian keluarganya. Berhari-hari
berlalu Eva tidak melihat kehadiran Jingga, ia mulai merindukannya. Biasanya
Jingga muncul secara tiba-tiba melalui angin dan matahari, namun saat ini sama
sekali tidak ada tanda akan kemunculannya.
Kini pertanyaan,
“Jingga kemana?” merupakan pertanyaan yang selalu menghantuinya setiap malam.
Ia mencari keberadaannya ditemani oleh seekor kucing dengan lonceng emas di
lehernya, Eva tidak tahu mengapa kucing ini mau menemaninya, mungkin ia ingin
membalas budi pada Eva atas sepiring makanan setiap paginya.
Eva terus mencari
keberadaan Jingga, biasanya ia muncul di saat matahari terbit, matahari terik
dan matahari terbenam namun, ia belum juga memperlihatkan kehadirannya. Eva
semakin khawatir.
Tiga bulan berlalu
Eva hidup tanpa kehadiran Jingga dan itu membuatnya hampir menyerah. Akhirnya,
ia memutuskan untuk menikmati senja di atas tebing sembari melihat pemandangan
kota di bawahnya.
Ia berpikir,
“Dulu, aku ingin mati disini, tapi ternyata disinilah hidupku dimulai.” Eva
berdiri selama berjam-jam hingga suara adzan maghrib berkumandang, jauh di
dalam lubuk hatinya ia berharap Jingga muncul secara tiba-tiba di hadapannya
namun, dunia tidak mengizinkannya. Eva melangkahkan kaki hendak pulang kerumah
dengan langkah lesu.
“Kamu
belum melihat bagian ini, jangan pergi dulu, Eva,” ucap seseorang di
belakangnya. Dengan sigap, Eva membalikkan badan dan memeluk erat tubuh Jingga
seakan-akan tidak ingin melepaskannya.
“Kamu
darimana saja, Jingga…?” tanya Eva.
“Aku
ngga kemana-mana, Eva. Aku selalu menemani langkahmu. Bagaimana kabar kamu?”
“JAHAT!
Tolong jangan tinggalin aku.”
“Kamu
keren dan kamu bisa mengandalkan diri kamu sendiri, Eva.”
“Apa
maksud kamu, Jingga?!”
Jingga mengajak
Eva untuk duduk di tepi tebing.
“Kamu
bahagia sekarang?” tanya Jingga.
“Tidak
kalau tidak dengan kamu.”
“Itu
bukan jawaban, Eva. Buktinya kamu bisa meraih nilai sempurna untuk perkuliahan
kamu tanpa aku. Kamu yang sekarang sudah sangat keren, dan itu berarti tugasku
sudah selesai.”
“MAKSUD
KAMU APA?!”
“Kamu
selalu bertanya-tanya tentang siapa aku, bukan? Aku juga sebenarnya tidak tahu
kenapa aku ada, mungkin aku diciptakan oleh hati kamu yang lembut dan rapuh
sehingga muncul keinginan untuk membuat kamu bahagia di dunia ini, Eva. Karena
kamu berhak bahagia. Saat kamu mengatakan bahwa dunia tidak memberitahu kamu
tentang bagaimana cara merasakan kebahagiaan, disitulah aku mulai tercipta.”
Eva hendak
bergegas pergi meninggalkan Jingga, “Eva, tolong jangan marah padaku.” Jingga
menahan tangan Eva. Eva terkejut ketika melihat kini kaki Jingga telah pudar
terbawa angin.
“Jingga,
apa yang terjadi padamu?!”
“Sepertinya
kamu sudah bahagia, Eva. Angin ingin membawaku pergi.”
“INI
BENERAN NGGA ADIL.”
“Hei,
jangan berpikir seperti itu. Dunia ini ada karena kamu ada. Maka berbahagialah
selalu, Eva. Terima kasih karena tetap menjadi diri kamu dan bertahan hingga
sejauh ini, aku bangga sekali padamu, dan terima kasih atas namanya, Jingga.
Aku sangat menyukainya.” Itulah kalimat terakhir Jingga setelah tubuhnya hilang
tersapu oleh angin meninggalkan lonceng kecil berwarna emas.
Eva diam terpaku
sembari memeluk tubuh Jingga yang kini hilang tertiup angin.
“Terima
kasih….” Eva menangis.
SINOPSIS
Hari buruk selalu menghantui Eva.
Dunia tidak berpihak padanya. Apalagi setelah kehilangan seseorang yang membuat
dunianya lebih baik bahkan sangat baik, Jingga. Setelah ia mendapatkan
dunianya, ia menghabiskan hari untuk mencari Jingga ditemani seekor kucing
dengan lonceng emas di lehernya.
“Kamu darimana saja, Jingga…?” tanya
Eva.
“Aku
ngga kemana-mana, Eva. Aku selalu menemani langkahmu. Bagaimana kabar
kamu?“
Eva ingin mengetahui cara dunia
memberinya kebahagiaan, maka jawabannya ada pada Jingga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar