Selasa, 18 Juli 2023

SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | Pulang Yang Tertunda oleh Mariati

 Pulang Yang Tertunda

Sebuah puisi oleh Mariati     

 

Terkadang malam mengingatkanku pada rumah

orang-orang yang membuat hati rindu untuk pulang

sebenarnya aku sangat ingin,

hanya saja keadaan membuatku tidak bisa pulang

 

Mesin waktu Doraemon hanyalah sebuah rekayasa,

hanya hitungan waktu

tiket pesawat yang melonjak mahal 

menjadikan peraturan yang membuat pulangku tertunda

SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | Setangkai Mawar di Kue Pernikahanmu oleh Just Ancii

Setangkai Mawar di Kue Pernikahanmu

Sebuah puisi oleh Just Ancii

 

Setangkai mawar di puncak kue itu
Rangkaian Alba yang dulu kau janjikan akan ada di pucuk gaun impianku
Kini bahkan khayalan soal itu merapuh dan pecah
Menjadi butiran hiasan tabur di atas kue pernikahanmu

Malam ini menatap bulan terasa begitu jauh

Namun sejauhnya rembulan,
Dirimu yang berdiri di gerbang kehidupan baru itu
Terasa jauh lebih mustahil untuk kurengkuh

Perbincangan di hadapan ampas kopi
Candaan mengenai dunia yang gila atau kita
Sebelum sebulan kemudian
Layang putih bertorehkan namamu dan puteri surgawi mendarat di pintu rumahku
Lalu kusadari, rupanya kini aku yang gila

Lantas untuk apa tawa itu?
Untuk apa puja-pujimu atas diriku?
Kemudian untuk apa pandanganmu soal masa depan kita?
Jika kini,
Di masa depan itu
Hanya tinggal aku sendiri mengabadikanmu
Ditemani Alba putih yang layu
Serupa untaian bait-bait ini yang akan segera usai ditelan waktu

SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | Melepas oleh Halimatuz Zahro

 Melepas

Sebuah puisi oleh Halimatuz Zahro


Ketakutan ini berdentum keras di kepalaku

Seakan berusaha menyapu tekadku

Tetapi genggaman hampa membatu

Ledakan di dada menjadi pemacu

Hitungan mundur terucap

Dengan angin aku bersua

Bayangan kaca gedung, langit, serta pohon melewatiku secepat kilat

Tetapi ingatanku terasa lambat

Hal yang rutin seketika menjadi penting

Berputar mengikis sisa pedih yang kumiliki

Di saat euforia sibuk memanjakanku

Kusadari muka aspal telah di depan mataku

 

SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | Behind the Rainbow oleh Friscela Yona Nagifea

 Behind the Rainbow

Sebuah cerbung oleh Friscela Yona Nagifea

Ada saatnya terlintas dalam pikiran untuk mempelajari bahasa burung. Bukan semata untuk saling bercakap mengeluarkan aksara, akan tetapi saling bertaut untuk menyampaikan pesan kepada awan tentang mengapa ia begitu muram. Warnanya kelabu, tidak lagi ditemani oleh langit biru. 

Pagi itu merupakan satu dari ribuan pagi yang mampu membuat tubuh menggigil. Semerbak bau khas tanah yang lembap, juga ikut turun tangan meramaikan indra penciuman. Udara di Desa Pronojiwo selalu saja sejuk sehabis hujan. Embun yang tertampung dalam bendungan daun selalu menetes ke tanah. Desa yang dipenuhi warna hijau ini masih belum terjamah oleh gedung-gedung pencakar langit. Yang ada hanyalah berhektar-hektar tanah berisi jajaran padi bersama pepohonan di kanan kiri serta atap coklat dari rumah sederhana jika dilihat dari atas.

Di temani sebuah sketchbook dan pensil berwarna biru, seorang pemuda terduduk mematung memandangi objek yang ada di depannya. Tak berselang lama kemudian bibir pemuda itu menarik sebuah senyum puas.

“Sial, kenapa baru sekarang,” gumamnya seraya membuka lembar demi lembar sketchbooknya. 

Seolah mengetahui apa yang juga ingin dilihat oleh pepohonan di sekitarnya, angin sepakat untuk berembus kencang menyebabkan anak rambut hitam legam pemuda itu berlambai-lambai. Beberapa kali kepala itu mendongak lalu menunduk untuk mencoba mengcopy paste apa yang ditangkap oleh mata cokelatnya ke dalam sketchbook yang ia pegang. 

Tak sadar dengan waktu yang ia habiskan, pria itu merasa harus kembali pada benda yang ia sebut sebagai rumah. Kaki jenjangnya melangkah dengan hati-hati menuruni bebatuan berlumut yang menjadikannya licin. Sekilas ia melihat seorang gadis berparas cantik yang sedang mendongakkan kepalanya. Rambut yang sengaja dibiarkan terurai itu pun menari-nari tertiup angin. 

Tunggu! Ada yang aneh. Mengapa gadis itu mendongak mantap awan yang masih enggan menampakan blue sky. Heran? Tentu saja. Namun, ia mencoba acuh kembali dan membawa kakinya untuk meinggalkan tempat yang beberapa hari terakhir ini menjadi tujuannya. 

Sebenarnya, entah mengapa ia menjadi salah satu fenomena paling indah sehabis hujan. Warna yang beragam, mampu membuat siapa saja terpaku atas keindahannya. Terkagum-kagum atas ciptaan Tuhan. Pelangi. Pelangi sendiri tercipta karena pembiasan cahaya yang dilakukannya bersama tetesan air bernama hujan. Yang kemudian cahaya itu akan di belokkan dan menyebar menghasilkan warna yang beragam. Dari proses itu tidak menutup kemungkinan banyak orang yang menyukai pelangi tetapi membenci hujan. Jika memang membenci hujan, mengapa harus menanti pelangi?

***

“Dari mana Al, kok enggak bilang kalau keluar?” kejut ibu.

“Ya Allah, Bu. Untung enggak jantungan aku, Bu,” sahut Alfan dan tak ada yang menimpali.

“Ibu, enggak bercanda Alfan Maulana. Bisa-bisa ibu sama ayahmu yang kena serangan jantung kalau kamu belum pulang!” tegur ibu tampak sedikit marah karena perilaku putranya.

Muhammad Alfan Maulana, remaja berambut hitam legam yang sedang menenteng tas berisi alat gambarnya memasang muka cemberut karena diberi sedikit ceramah.

“Padahal aku hanya pergi sebentar, kenapa kalian selalu saja berlebihan. Di mana nenek?” tanya Alfan mengganti topik pembicaraan.

Kedua orang tua Alfan hanya mampu mengembuskan napas berat. Sebenarnya mereka tidak bermaksud terlalu mengekang Alfan mengingat anak itu juga sudah memasuki usia remaja. Akan tetapi, ada sesuatu yang harus mereka jaga dengan baik setiap detiknya jika tidak ingin menangis tersedu-sedu di kemudian hari. 

Di sisi lain, sepelan langkah kaki harimau yang ingin memangsa kelinci, Alfan berusaha mengejutkan pasutri tua yang sedang menikmati hawa dingin ditemani kepulan asap panas dari teh yang telah mereka buat. 

“Kakek sudah tau, Al!” ucap kakek.

Kaki kanan Alfan mengapung di udara. Untuk ukuran seorang kakek yang sudah melewati masa jayanya, menurut Alfan kakeknya itu terlalu peka.

“Ah. Enggak seru,” gerutu Alfan.

Mendengar nada bicara cucunya yang sedikit merajuk, pria berkepala tujuh itu menengok ke belakang. “Kamu kira Kakek ini siapa, dulu Kakek itu tentara Indonesia yang mencoba melawan penjajah Belanda, tentu saja insting Kakek tajam.”

Senyum Alfan mengembang, “Kek, tolong bujuk ayah dan ibu,”

“Apa lagi yang mau kau minta? Coba katakan pada kakek!” tanya kakek.

“Kek, aku ingin tinggal di sini. Aku suka pemandangannya. Tolong bujuk Ayah dan Ibu ya Kek, Nek.” Alfan menyengir kuda. Ia menggosok hidungnya dengan jari telunjuk dan melanjutkan.

“Nanti aku akan membantu kalian, aku janji. Akh akh Nek, jangan tarik telingaku,” nenek menjewer telinga Alfan.

Setelah melayangkan beribu-ribu rayuan, akhirnya Alfan mendapatkan izin untuk tinggal bersama dengan kakek neneknya. Bukan hanya Alfan, Alfin saudara kembarnya juga turut ikut tinggal untuk menemani Alfan katanya. 

Waktu yang seperti roda berputar membawa penumpangnya menyusuri hari demi hari yang panjang. Tak terasa sudah satu bulan lebih 4 hari Alfan hidup di desa ini. Orang tua Alfan kembali ke Jember untuk melanjutkan pekerjaan. Meskipun demikian, setiap 2 minggu sekali mereka akan berkunjung untuk membawa Alfan ke Jember untuk melakukan transfusi darah dan kembali setelahnya.

Jika Alfan boleh berbicara, sebenarnya ia ingin merasakan masa muda seperti remaja-remaja lainnya. Membahagiakan kedua orang tua, dan kemudian merasakan jatuh cinta. Selama 20 tahun masa hidupnya, tidak pernah Alfan merasakan jatuh cinta. Kegiatannya sehari-hari sangat sibuk untuk membuat kenangan bersama orang-orang kesayangannya. Akan tetapi, pada saat berkunjung ke desa kelahiran ayahnya ini ia seperti menemukan sesuatu yang janggal dalam hatinya. Denyutnya akan terasa sangat kencang bila mengingat gadis yang sempat ia jumpai kala itu di Air Terjun Kapas Biru.

Di sela-sela lamunan, secara tiba-tiba perhatian Alfan teralihkan pada ketukan pintu. Yang secara tidak sengaja juga menarik perhatian orang seisi rumah.

“Al, coba bukakan pintunya!” perintah Nenek.

“Selamat pagi. Apakah ada yang bisa kuban--” ucapan Alfan tergantung saat mengetahui siapa yang berkunjung. Mata cokelatnya menatap lurus mata hitam legam dari gadis yang saat ini ada di hadapannya, alhasil hal tersebut membuat Alfan salah tingkah tak karuan.

“Oh maaf. Sepertinya aku salah rumah.” suaranya lembut.

“Apa ada yang bisa kubantu?” tanya Alfan sekali lagi mengulang pertanyaannya dengan benar.

“Aku ingin pergi ke rumah Bu Qom. Sepertinya aku salah rumah. Maaf, aku permisi pergi dulu.” jawab gadis tersebut.

Alfan sedikit mengerutkan keningnya tak mengerti. Mata yang ia tatap dengan berseri-seri itu ternyata kosong, menghadap lurus ke depan. Sepertinya kini Alfan paham bahwa gadis yang ada di hadapannya saat ini tunanetra alias tidak bisa melihat. Jangan lupakan tongkat instisblind yang terkalung manis di tangan kiri gadis itu. 

“Siapa yang datang, Al? Oh Lily!” sebelum Alfan menjawab, neneknya usdah tahu siapa yang datang.

“Bu Qom?” gadis itu membalikkan badannya lagi. “Ah ternyata benar?”

“Kamu benar Nak. Ayo masuk dulu. Al, kenapa diam saja. Bantu Lily masuk, bukan malah melamun,” ujar sang nenek, menyuruh cucunya yang malah terdiam di ambang pintu.

Jadi namanya Lily? Cantik seperti bunga lily.

 

Bersambung …

SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | KELOPAK LILI DI HATI LITA oleh Evita Wijayanti

KELOPAK LILI DI HATI LITA

Sebuah cerpen oleh Evita Wijayanti

Di balik teriknya pancaran sinar mentari, aku duduk santai menghirup udara sejuk di bawah pohon rindang. Sedikit demi sedikit kuminum es doger segar hingga tandas menanti kedatangan para sohibku yang lamanya bagai siput pergi ke China. Setelah aku menunggu sekitar tiga puluh menit, muncullah Dinaya bersama Riska dari arah rusun putri. Apabila ditelaah dengan teliti, jarak rusun putri dengan tempat berkumpulnya kami berlima hanya berkisar tak sampai seratus meter tetapi mengapa mereka baru datang setelah tiga puluh menit lewat dari kesepakatan? Begitulah wanita. Antara ucapan dengan tindakan hanya selisih sepuluh persen persamaannya.

Kini kami berlima duduk pada deretan nomor dua dari belakang. Setelah lima belas menit kedatangan Dinaya bersama Riska, Rea dan Silfa datang menyusul. Kisaran 45 menit secara keseluruhan aku menanti kedatangan mereka dan kami berangkat bersama untuk mengikuti mata kuliah umum pertama di semester kedua perkuliahan. Ketika lima belas menit dosen mengajar, dari arah pintu terdengar suara gebrakan yang sangat keras mengejutkan seisi penghuni kelas. Dari balik pintu, muncul seorang perempuan dengan wajah penuh keringat seperti usai berlari maraton tiga ratus kilometer. Setelah mengucapkan permohonan maaf dan mengungkapkan alasan keterlambatannya kepada sang dosen, perempuan tersebut diizinkan untuk duduk dan mengikuti perkuliahan. Aku akui sedikit terkejut begitu melihat wajah perempuan tersebut dan kulihat ia juga sedikit terkejut pula melihat keberadaan diriku yang duduk tepat di belakangnya. Melihat responsku padanya yang tampak aneh, Rea yang duduk tepat di sebelahku lantas menyikut lenganku dan melirik pelan. Aku hanya menggelengkan kepala padanya sebagai tanda bahwa tidak ada apa-apa.

            Sebuah notifikasi muncul dari aplikasi berwarna hijau dengan gambar ikon telepon milikku. Kubaca pesan tersebut yang datang dari Rea. Rupanya anak ini tidak bisa untuk di bohongi. Dia akan terus bertanya hingga mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

“Nanti aku ceritakan setelah kelas ini selesai!” begitu balasku padanya. Rea benar-benar menanyakan kembali setelah kelas selesai. Rea tahu bahwa ini merupakan cerita panjang sehingga ia mengajak aku dan kami berempat ke kos Silfa sebagai tempat markas yang sudah kita nobatkan berlima.

“Aku tidak tahu harus cerita dari mana. Intinya perempuan yang datang terlambat tadi pernah menjadi orang terdekatku di masa sekolah dulu,” awal ceritaku kepada mereka berempat. Mereka tampak serius menyimak, tidak ada yang menyela sedikit pun. Aku memang terlihat paling brutal di antara mereka berempat, tetapi melihat perubahan sikapku yang berbeda membuat mereka mengerti bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. 

            “Sekarang aku tidak tahu harus menyebutnya apa? Sahabat? Teman? Atau lawan?” lanjutku kemudian. Dinaya mengacungkan tangan sebagai pertanda hendak bertanya “Maksudnya kalian dulu pernah bersahabat kemudian karena ada masalah tertentu menyebabkan kalian jadi musuhan? Atau dulu kau mempunyai sahabat karib dan sahabatmu itu mempunyai kawan lain yaitu perempuan tadi sehingga si perempuan tadi merasa cemburu akibat kedekatanmu dengan sohibmu sehingga ia merusak persahabatanmu?” Aku menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Dinaya yang tentu menyebabkan rasa penasaran bagi Rea, Silfa, Riska, dan Dinaya sendiri.

            “Dugaanmu yang pertama benar Din, aku dulu bersahabat dengannya. Ke mana-mana kita selalu berdua, makan bersama, bermain bersama, semuanya kami lakukan hanya berdua. Hingga suatu ketika ada seorang laki-laki menghampiri kami berdua dan dengan tiba-tiba ia menyatakan perasaannya pada Ayu, kawanku itu. Awalnya aku terkejut melihat laki-laki tersebut datang menghampiri kami dan dengan beraninya mengungkapkan rasa suka. Dia mengajak pacaran Ayu yang notabenenya ia adalah anak pak ustaz terkenal di daerahku pada masa itu. Jawaban yang Ayu berikan pada lelaki itu yang membuatku sangat terkejut. Ayu dengan berani menerima cinta laki-laki tak jelas itu dan mereka berdua pergi meninggalkanku sendiri. Aku bingung harus bagaimana. Antara melapor kepada ayah Ayu apa tidak, tetapi melihat pancaran  kebahagiaan dari kedua mata Ayu membuatku tak tega. Dengan berat hati aku menerima keputusan Ayu. Menjadi suatu pertanyaan besar yang muncul dari lubuk hatiku, sejak kapan Ayu menyukai lelaki bernama Davi itu? Mengapa Ayu tidak pernah bercerita mengenai perasaannya? Kusampingkan dulu alasan itu dari hatiku dan menganggapnya sebagai angin lalu. Mungkin saja Ayu membutuhkan privasi mengenai perasaannya. Begitulah anggapanku,” ceritaku.

            “Hingga suatu hari Ayu datang padaku dan menuduh diriku melakukan pemalsuan jawaban Ujian Semester Pertama yang membuatnya mendapat nilai begitu jelek. Awalnya aku terkejut begitu Ayu menanyakan jawaban ujian padaku. Biasanya kami hanya bertukar pikiran pada saat kegiatan belajar mengajar saja dan pada saat ujian, kami akan bersaing secara sehat. Dengan penuh tanda tanya aku tetap memberikan jawaban ujianku padanya yang tentu saja jawaban itu sama persis denganku tanpa ada perubahan sedikit pun. Ayu tetap menuduhku berbuat curang atas masalah itu dan saat itulah hubungan persahabatan kami renggang. Untuk memperbaiki hubungan kami berdua, aku berusaha meminta maaf padanya walau sebenarnya aku tak tahu di mana letak kesalahanku. Bukan penerimaan maaf yang aku dapatkan, malah cacian dan makian yang aku terima dari mulut Ayu. Seumur hidup, baru kali ini Ayu memperlakukan hal itu padaku. Kian hari teman-teman lain tidak ada yang mau berkawan denganku. Posisi Ayu sebagai pacar Davi menjadi alasan utama mereka tidak mau berkawan denganku. Davi yang menjadi ketua geng anak-anak nakal tak segan untuk membully siapa saja yang berteman denganku,” sambungku. Mereka masih serius mendengarkan.

            “Saat hari kelulusan tiba, aku berharap Ayu datang dan meminta maaf setelah apa yang telah ia lakukan padaku. Namun hasilnya nihil. Ia tak datang dan karena itu pula membuat tekad bulat pada diriku untuk melupakannya. Kejadian itu membuatku sedikit trauma dalam hal pertemanan. Namun, setelah aku mengenal kawan lain selain ia dan mengenal kalian berempat. Hal ini membuatku sadar bahwa di balik cobaan pasti ada hikmahnya,” aku tersenyum mengakhiri ceritaku. Sebuah pelukan hangat datang dari Silfa kemudian disusul oleh Riska, Dinaya, dan Rea.

“Kami akan selalu bersamamu Lit,” ucap Riska disela tangisnya. Aku tak tahu mengapa mereka menangis begitu mendengar cerita yang sudah enam tahun aku kubur dalam-dalam. Namun, aku percaya pada mereka untuk menceritakannya. Karena, kunci dari pertemanan adalah rasa saling percaya, bukan?

            Tak terasa Ujian Akhir Semester datang juga. Sebagai tugas UAS, dibentuklah beberapa kelompok yang terdiri dari masing-masing enam orang untuk melakukan penelitian. Awalnya kami berlima hendak mengajak Adi si ketua kelas untuk bergabung, tetapi secara tiba-tiba Ayu datang menghampiriku dan disambut dengan lirikan tajam oleh mereka berempat.

“Boleh aku bergabung dengan kelompokmu, Lit?’ tanyanya padaku. Aku menoleh kepada mereka berempat dan dibalas dengan gelengan keras.

“Kami hanya menerima teman yang mau diajak bekerja sama bukan teman yang suka berfitnah,” sindir Dinaya.

“Masuk kelompok lain saja,” tambahnya.

            Terlihat raut kecewa dari wajah Ayu mendengar perkataan Dinaya. Segeralah Ayu pergi dari hadapan kami tetapi dengan cepat ia mendapat cekalan tangan dariku. Begitu ia menoleh, aku tersenyum mengangguk padanya dan membuat sudut bibir Ayu ikut tersenyum. Selama proses pengerjaan tugas, semua beban tugas seperti mengetik, mencari narasumber, hingga membuat laporan dikerjakan pribadi oleh Ayu atas inisiatif dari dirinya sendiri. Awalnya aku hendak menentang tindakannya tapi dihentikan oleh Rea.

“Anggap saja ini hukumannya dulu yang sudah menyepelekan kawan baik seperti kamu, Lit,” ucap Rea di kala itu. 

            Setelah pemaparan presentasi dari pembuatan tugas UAS berakhir, kami berempat hendak beranjak pergi dari kelas. Aku mendengar seseorang memanggil diriku yang menyebabkan aku menghentikan langkah kaki. “Lita, bisa kita bicara?” aku menyanggupi permintaan Ayu dan kini kami berada di kantin perpustakaan kampus dan duduk di bangku paling pojok. Spontan Ayu menggenggam tanganku dan menangis tersedu-sedu menimbulkan tanda tanya besar di pikiranku.

“Ada apa, Yu?” tanyaku khawatir.

            “Aku minta maaf padamu, Lit. setelah acara perpisahan SD kita dulu, aku akui tidak ada teman sebaik dirimu. Aku sadar telah melakukan kesalahan besar padamu. Aku lebih mempercayai hasutan orang lain daripada jawaban sahabat aku sendiri. Waktu kita bertemu kembali di kelas MKU, aku senang bercampur malu. Senang akhirnya ada kesempatan bagiku untuk meminta maaf padamu, tapi aku malu untuk bertemu apalagi teringat dengan kejadian dulu saat aku menghina dan mencemooh dirimu. Rasa bersalah terus menghantui diriku, senyuman dan ketulusan yang kau berikan dulu masih terngiang menambah kebersalahan dari lubuk hatiku. Aku mohon yang sebesar-besarnya, maafkan aku Lit … hikss” ungkap Ayu sambil menangis tersedu. Kuulurkan tanganku mengusap air matanya membuat dia menoleh padaku.

“Perbuatanmu sudah aku maafkan, Yu,” jawabku sembari tersenyum tulus padanya. Ayu sontak memeluk erat diriku dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi. Tak jauh dari tempatku duduk, dapat aku lihat sahabat-sahabatku tersenyum bahagia melihat kedekatanku dan Ayu kembali. Tampaklah senyuman lega dan terlihat suatu tekad yang bulat dari pancaran mata mereka berempat untuk selalu menghargai sahabat, memercayainya, serta memberikan support terbesar dalam hidupku. Mereka tidak akan pernah menyia-nyiakan sahabat yang sudah mau menjalani suka duka bersama.

TAMAT

SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | Balada Tumbal Penguasa oleh Dpangestu

Balada Tumbal Penguasa

Sebuah puisi oleh Dpangestu


Tangan-tangan panjang mencengkeram ke seluruh pelosok

negeri

Lepas tak terbatas mengikuti dawuh yang di atas

Sorak teriak menyebut-nyebut yang dijuluki sebagai penguasa

Tanpa disadari satu persatu terkurung terperangkap pada aturan

yang membelenggu

Terus berjalan sampai di titik sadar bahwa aturan selamanya

tidak membawa kebaikan

Layaknya dua mata sisi yang beroposisi kadang mengarah

kebaikan dan kadang membawa kesengsaraan



Dpangestu

Minggu, 25 Juni 2023

SEKAR Edisi Bulan Mei-Juni 2023 | Tapi Ini Bukan tentang Matahari Terbenam oleh Ade Darma

 Tapi Ini Bukan tentang Matahari Terbenam

Sebuah puisi oleh Ade Darma


Rintihan angin liar dengan secercah binar datang di saat waktu yang sudah ditentukan oleh alam

Begitu pula dengan seseorang yang datang di saat waktu yang sudah ditentukan oleh Tuhan

Senja menatap sendu

Rindu yang pulang

kembali menemukanmu

Sore yang indah pun perlu waktu

untuk kembali padamu

Perihal tentang seseorang yang sekadar hadir sesaat

Semata-mata hanya bisa melihat dari kejauhan untuk sebatas mengagumi bukan untuk memiliki

Akan tetapi terkadang suatu hal jauh lebih baik ketika dipandang

daripada berusaha untuk menggapai tetapi dapat menimbulkan kegundahan dalam diri

Keindahan langit yang temaram di waktu matahari terbenam hadir menyiratkan keelokannya

Tak hanya sebatas sekadar hadir

Namun ia berjanji untuk kembali

Tapi ini bukan tentang Matahari Terbenam

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...