Rabu, 26 Maret 2025

SEKAR Edisi Maret 2025 | Sendu Kala Rindu karya Fajriyanti Azizah

Sendu Kala Rindu

oleh Fajriyanti Azizah


Senja menghilang terganti rembulan

Sambut petang dengan ketulusan

Udara malam yang kian mengenang

Jiwa ini hanyut akan kenangan

 

Hampa menyeruak tiba-tiba

Terbayang engkau telah disana

Sedih mengalun dengan pilunya

Tanpa isyarat jatuh basahi rupa

Kini lara hati jadi tahta

 

Bintang fajar tampakkan siluetnya

Raga terjaga ratapi nestapa

Iktikad diri kunjungi rehatnya

Mungkinkah mampu hilangkan buncah?

 

Genggam erat setangkai krisan

Langkah pelan iringi ketabahan

Tatapku rindu penuh sayatan

Hadap peristirahatan yang memilukan

SEKAR Edisi Maret 2025 | Perudungan karya Atiya Num’atul Salsabila

 PERUNDUNGAN

karya Atiya Num’atul Salsabila


Mulutnya dikatupkan, bungkam

Matanya dipejamkan, tak terlihat

Telinganya disumbat menggunakan kedua tangannya 

 

Menunduk dan terus berdoa agar cepat-cepat pulang

Lari terus, kencang, menembus lautan manusia

Suara-suara itu buat dirinya selalu ketakutan 

 

Tiap-tiap malam dirinya berdoa, agar besok tidak ada lagi luka

Kamar mandi selalu menjadi tempat favoritnya untuk meluapkan amarahnya

Satu minggu, tiga bulan, dua tahun, dan seterusnya dirinya menghitung hari

Akhirnya dirinya bebas dari tempat itu

SEKAR Edisi Maret 2025 | Bisik Senja di Pucuk Cemara karya Anggi Indriyani

Bisik Senja di Pucuk Cemara 

karya Anggi Indriyani


Di pundakmu, senja berbisik pilu, Beban dunia, langkahmu membeku.

Senyummu pudar, di balik bayang semu, Menari sendiri, di atas luka membiru.

 

Keinginanmu terkurung dalam kalbu, Terjebak sunyi, di labirin waktu.

Setiap langkah, harapan kian layu,

Namun hatimu, tak pernah menyerah ragu.

 

Kau adalah mentari, di balik awan kelabu, Pancarkan hangat, meski jiwa merindu.

Kau adalah rembulan, di malam yang sendu, Terangi jalan, di tengah gelap yang membatu.

 

Gadis kecilku, dengarkan bisik senja ini,

Di setiap tetes air mata, ada kekuatan tersembunyi.

Badai pasti reda, mentari kan bersinar lagi, Dan di balik senja, kau temukan arti sejati

SEKAR Edisi Maret 2025 | Tuan, mimpi atau mati? karya Afifah Citra Pratama

 

Tuan, mimpi atau mati? 

karya Afifah Citra Pratama

 

Selamat petang, Tuan. 

Kaki telanjang saya sekali lagi melangkah ke hamparan pasir ini

Menyaksikan ombak datang dan pergi

Menyaksikan pusat semesta dipeluk laut, tenggelam, hilang

Hilang bersama pusat dunia saya; anda. 

 

Biru, kuning, hijau, jingga, putih, merah, brutal menyergap

Riuh-bising-senyap dunia menyerang

Mendorong tetes demi tetes mengaliri pipi, hingga

Asing, jari kaki tak lagi merasakan butir, tunggu

Saya akan menjemput Tuan.

Minggu, 15 Desember 2024

SEKAR Edisi September 2024 | Gunung, Sang Penjaga Langit Karya Efendi Sulistiyo Utomo

Gunung, Sang Penjaga Langit

Efendi Sulistiyo Utomo


Di ufuk Timur kau berdiri megah, 

Berselimut kabut di pagi yang ramah. 

Puncakmu menusuk birunya langit, 

Seakan menyapa awan yang melintas ringkih.


Hijau rindang membalut tubuhmu, 

Hutan dan lembah menyimpan rahasiamu. 

Suara gemericik sungai nan jernih, 

Melodi alam yang damai dan lirih.


Kau saksi bisu jejak langkah manusia, 

Yang datang mencari makna dan cita. 

Di setiap jalur yang curam berliku, 

Ada harapan yang hidup kembali di situ.


Namun kau juga pemarah yang garang, 

Murka datang dengan lahar membentang. 

Tapi itu caramu menjaga keseimbangan, 

Pelajaran sunyi untuk peradaban.


Gunung, engkau pelipur hati yang terluka, 

Penjaga bumi di hamparan semesta. 

Dalam keheninganmu aku temukan, 

Keabadian hidup dan harapan tak terbandingkan.

SEKAR Edisi September 2024 | “Di Balik Bayang Kursi Pemimpin” Karya Tera

 “Di Balik Bayang Kursi Pemimpin”

karya Tera


Di balik kursi tinggi, tak selalu tampak

Beban berat yang terdiam tanpa cakap

Sebuah kesalahan kecil, bagai awan gelap

Hujan kritik jatuh, tak henti menyergap


Namun saat keberhasilan singgah sebentar

Hening, sepi, bagai malam tanpa bintang berpendar

Jarang ada pujian, kata manis tersirat

Padahal di dalam, hati meradang hangat


Apakah kursi ini kutuk atau anugerah?

Ketika kerja keras terpendam dalam bara amarah

Di mana rasa terima kasih tersembunyi?

Ditelan sunyi, terlupakan dalam jejak hari


Atasan, mereka bilang, tak boleh salah

Namun siapa yang tahu pedih di balik senyumnya yang pasrah?

Dalam setiap prestasi yang jarang dipuji

Ada hati yang menunggu, berharap dihargai.

SEKAR Edisi September 2024 | Nyala di Jalan Kelam Karya Anggi Indriyani

Nyala di Jalan Kelam

karya Anggi Indriyani



Dalam kabut pagi yang menyimpan gelisah,

Ia melangkah—tanpa bayang, tanpa kisah.

Angin menghempas, mengejek sinarnya,

Tapi ia tegar, merajut asa di atas luka.


“Takkan mampu,” kata dunia dengan tawa,

Namun langkahnya bagai hujan yang tak reda.

Cacian jadi debu, terbang entah ke mana,

Hanya jadi saksi bisu, tergerus oleh nyata.


Setiap duri di jalan, ia susun jadi tangga,

Air mata jatuh, menyirami mimpi yang meronta.

Kuatkan diri dari tiap sengatan nista,

Menjadikan luka karang tempat harapan bertahta.


Kini ia berdiri, fajar tersenyum padanya,

Menghancurkan bayang kelam yang dulu mengepung jiwa.

Setiap jejak menantang, tak pernah goyah,

Ia, pemecah badai, menaklukkan gelap yang pudar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...