Jumat, 13 September 2024

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Teknologi: Penggerak Revolusi Zaman Karya Nadinda Jelita Salsabilah

 

Teknologi: Penggerak Revolusi Zaman

Karya Nadinda Jelita Salsabilah

 

Dalam beberapa dekade terakhir, teknologi telah menjadi salah satu pilar utama yang mengubah cara manusia hidup, bekerja, dan berinteraksi. Dari internet yang menghubungkan dunia hingga kecerdasan buatan yang merevolusi industri, kecanggihan teknologi telah membuka peluang yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun, seiring dengan manfaat yang diberikan, kecanggihan teknologi juga menimbulkan tantangan dan pertanyaan etis yang harus kita jawab bersama.

Teknologi telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Di bidang komunikasi, misalnya, perkembangan teknologi internet dan perangkat pintar telah menghilangkan batasan geografis. Informasi dapat diakses secara real-time, dan interaksi sosial tidak lagi terikat oleh jarak. Media sosial memungkinkan orang untuk berbagi pikiran, pengalaman, dan berita secara instan. Teknologi juga telah mengubah cara kita bekerja; konsep bekerja dari jarak jauh (remote working) menjadi mungkin berkat alat kolaborasi digital, memungkinkan efisiensi dan fleksibilitas yang lebih besar.

Di sektor industri, kecanggihan teknologi telah mendorong revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan otomatisasi, data besar, dan kecerdasan buatan (AI). Robot dan mesin pintar kini dapat melakukan tugas yang sebelumnya membutuhkan keterampilan manusia, mulai dari produksi massal hingga analisis data kompleks. AI khususnya, telah memberikan kemampuan pada mesin untuk belajar dan beradaptasi, membuka jalan bagi inovasi di bidang kesehatan, keuangan, transportasi, dan banyak lagi. Teknologi medis, seperti pencitraan medis canggih dan telemedis, telah meningkatkan kemampuan diagnosis dan perawatan, memperpanjang harapan hidup dan meningkatkan kualitas hidup banyak orang.

Namun di balik segala manfaatnya, kecanggihan teknologi juga memunculkan tantangan yang harus dihadapi dengan bijak. Salah satunya adalah masalah privasi dan keamanan data. Di era digital ini, data pribadi menjadi komoditas yang sangat berharga dan ancaman terhadap privasi semakin meningkat. Serangan siber, pencurian identitas, dan penyalahgunaan data menjadi risiko yang harus dihadapi dan penting bagi perusahaan serta individu untuk mengembangkan sistem keamanan yang andal.

Selain itu, kemajuan teknologi juga menimbulkan pertanyaan etis yang kompleks. Penggunaan AI misalnya, menimbulkan kekhawatiran tentang pengangguran massal akibat otomatisasi, serta potensi bias dalam algoritma yang dapat memperparah ketidakadilan sosial. Ada juga perdebatan tentang penggunaan teknologi dalam pengawasan massal yang dapat mengancam kebebasan individu. Di bidang bioteknologi, pengembangan teknologi rekayasa genetika juga menghadirkan dilema etis terkait dengan manipulasi kehidupan. Kecanggihan teknologi juga membawa perubahan dalam pola pikir dan budaya masyarakat. Di satu sisi, teknologi telah menciptakan masyarakat yang lebih terhubung dan berpengetahuan luas, tetapi di sisi lain terdapat kekhawatiran tentang dampaknya terhadap kesehatan mental, seperti ketergantungan pada perangkat digital dan penyebaran informasi yang tidak akurat.

Di tengah segala dinamika ini, penting bagi kita untuk memandang teknologi sebagai alat yang harus digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab. Pendidikan dan literasi digital menjadi kunci dalam mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh teknologi. Pemerintah, akademisi, dan sektor swasta harus bekerja sama untuk merumuskan kebijakan yang memastikan bahwa teknologi digunakan untuk kebaikan bersama, tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan etika.

Pada akhirnya, kecanggihan teknologi adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia memiliki potensi untuk mendorong kemajuan dan kesejahteraan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, ia juga dapat menjadi sumber masalah baru jika tidak dikelola dengan benar. Oleh karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa teknologi digunakan sebagai kekuatan positif yang mendukung perkembangan manusia dan lingkungan, bukan sebaliknya. Dengan cara ini, kita dapat mengarungi era kecanggihan teknologi dengan penuh optimisme dan kehati-hatian.

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Di Balik Gelombang: Pesan dari Dewi Laut Karya Farah Nabila Aina

 

Di Balik Gelombang: Pesan dari Dewi Laut

Karya Farah Nabila Aina

 

Di sebuah kota yang terletak di tepi lautan biru, di mana angin laut berhembus lembut dan riak ombak menari dengan lembut, terdapat sebuah kuil megah yang didedikasikan untuk Furina, dewi laut. Furina dikenal sebagai Focalors, dewi yang memerintah atas kekuatan dan keindahan lautan.

Furina adalah sosok yang anggun dan misterius. Dalam wujud dewi, dia memiliki kulit berwarna biru kehijauan, dengan mata yang bersinar seperti mutiara yang tersimpan dalam kedalaman laut. Rambutnya panjang dan berombak, seperti gelombang yang bergerak dengan lembut di permukaan air.

Legenda mengisahkan bahwa pada zaman dahulu, manusia seringkali melupakan kekuatan dan keagungan laut, dan mereka kerap mencemari perairan yang memberi kehidupan. Untuk melindungi lautan dan segala makhluk hidup di dalamnya, Furina turun dari kediamannya di bawah laut yang dalam. Dia datang dengan kehadiran yang menenangkan namun tegas, melawan para perusak dengan kekuatan air yang tidak bisa dilawan.

Suatu hari, sebuah kapal besar melintasi perairan suci yang dianggap sebagai batas kekuasaan Furina. Kapal tersebut terbuat dari kayu terbaik dan dipenuhi dengan barang-barang mahal yang ingin diperdagangkan ke negeri jauh. Namun, tanpa sepengetahuan awak kapal, mereka telah melintasi zona yang dilindungi oleh Furina. 

Saat kapal itu melanjutkan perjalanan, badai besar tiba-tiba muncul di tengah laut. Gelombang yang tinggi dan angin yang kencang mengguncang kapal, seakan-akan lautan marah. Di tengah-tengah kekacauan itu, Furina muncul dari kedalaman laut, menjulang tinggi dengan aura yang menakutkan namun juga megah. 

Melihat kapal dalam bahaya, seorang awak kapal bernama Lian, yang dikenal sebagai seorang pelaut bijaksana dan penyayang laut, berdoa dengan sungguh-sungguh. Dia memohon ampun dan meminta agar mereka diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan mereka. Lian menggenggam sebuah amulet laut yang diwariskan oleh leluhurnya, yang diyakini dapat memohon kepada dewi laut.

Furina merasa tergerak oleh doa tulus Lian dan melihat ketulusan hatinya, akhirnya ia memutuskan untuk meredakan badai. Gelombang yang dahsyat mulai mereda, angin yang menderu mulai tenang, dan kapal perlahan-lahan kembali ke jalur yang aman. Furina, sebelum menghilang kembali ke kedalaman lautan, menyisakan pesan bagi awak kapal, mengingatkan mereka untuk selalu menghormati laut dan menjaga kebersihan perairan.

Lian dan para awak kapal, dengan penuh rasa syukur, berjanji untuk tidak hanya menghormati laut tetapi juga membagikan kisah tentang kebaikan dan kekuatan Furina kepada seluruh dunia. Mereka kembali ke daratan dengan penuh rasa hormat terhadap dewi laut dan pengetahuan baru tentang pentingnya menjaga ekosistem laut.

Furina kembali ke kedalaman laut, menjaga dan melindungi lautan dengan penuh kebijaksanaan. Dia menjadi simbol kekuatan dan keindahan laut, serta pengingat bagi semua orang bahwa kekuatan alam harus dihormati dan dilindungi.

 

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Negeri Kecil Yang Berapi Karya Zaskia Dwi Arefa

 

Negeri Kecil Yang Berapi

Karya Zaskia Dwi Arefa

 

Hari itu matahari sudah hampir terbenam saat Laras mendatangi istana, ini bukan yang pertama kali. Kemarin raja baru naik tahta, Laras berharap raja baru itu bisa menolongnya.

Di depan pintu megah istana yang tertutup dan dijaga prajurit Laras bercerita "Yang Mulia, anak saya masih hilang, belum kembali sudah 10 bulan lamanya. Mungkin dia sudah dibunuh, tapi tak apa saya sudah rela hanya saja saya ingin pembunuhnya ditemukan dan dihukum. Yang mulia, saya meminta pertolongan."

Sudah lama rasanya Laras meminta bantuan pada semesta, pada yang maha kuasa, dan pada yang mulia raja. Laras tak ingin putus asa walau belum ada yang mendengarnya. Anak yang dicintainya tak kunjung pulang, pun tak kunjung mendapat keadilan. Para prajurit yang menjaga pintu istana mentertawakan Laras untuk kesekian kalinya, mungkin sudah bosan melihat seorang Ibu yang perlahan rapuh itu masih penuh dengan semangat untuk mencari keadilan. 

Malam mulai datang pintu istana tak kunjung terbuka. Laras akhirnya pulang dengan luka lama yang belum berhasil disembuhkan, pulang tanpa mendapat keadilan. Di jalan pulang Laras mendengar omongan warga lainnya "Tanah ini telah rusak, terkutuk. Lihatlah ibu Laras, bertahun-tahun mencari keadilan tapi tidak didengarkan. Raja lama telah mati, raja baru jadi pengganti, tapi tanah subur ini seperti telah gagal menjadi negeri yang berempati." Suara seorang warga terdengar oleh Laras, senyum simpul muncul di wajahnya, miris, Laras bertanya pada dirinya sendiri: di sini apa hanya rakyat biasa yang punya hati?

"Benar itu, Pak. Di negeri ini, rakyat kecil harus mengemis untuk keadilan."

Malam sepenuhnya menyelimuti negeri kecil itu saat Laras sampai di rumah. Dengan wajah lemas dia duduk di kursi reyot di pojok ruang tamu. Tetes demi tetes air mata membasahi pipi Laras, hari ini dia gagal lagi "Oh Tuhan, aku hanyalah seorang Ibu. Tolonglah aku." Sebuah doa yang sama terlontar berulang kali.

Malam itu, Laras tidak tidur. Ia duduk di kursinya, menatap ke luar jendela kecil yang menghadap ke arah istana, yang meskipun jauh, bisa dilihat bayangannya dari kejauhan. Laras berpikir kira-kira apa yang sedang di lakukan Yang Mulia di istana, mungkinkah besok Yang Mulia bersedia menemuinya? 10 bulan terakhir tidak ada malam yang Laras lewati dengan tenang.

Di hari berikutnya, pagi-pagi sekali rumah Laras didatangi banyak warga. Setelah pintu rumahnya terbuka seorang Ibu-Ibu sebaya memeluk Laras, "Bu Laras, hari ini kami ingin membantu dan menemani Ibu pergi ke Istana. Mungkin saja kalau banyak warga yang datang Yang Mulia mau membuka pintunya." Tuturnya pada Laras. Laras tidak punya hati untuk menolak mereka, mereka pun berbondong-bondong pergi ke Istana.

Di depan gerbang Istana para warga memanggil sang raja, "Yang Mulia, Yang Mulia. Keluarlah untuk bicara pada rakyat yang telah lama engkau hiraukan keberadaannya." 

"Yang Mulia, jangan hanya duduk di singgasana."

"Yang Mulia, tolonglah seorang Ibu yang hampir putus asa." Para prajurit penjaga gerbang istana terlihat lebih kesal dari hari-hari sebelumnya. 

"Yang Mulia,—" Panggilan untuk sang raja tidak ada hentinya. Seiring waktu berjalan, banyak kalimat yang telah terlontar di depan gerbang istana sebelum akhirnya ada kereta kuda datang menyita perhatian semua orang termasuk para prajurit yang berjaga. 

Dua orang pria yang terlihat seperti ayah dan anak turun dari kereta maju mendekati pintu istana, "Saya dan anak saya ingin menemui Yang Mulia, kemarin uang anak saya dicuri oleh temannya, saya mau anak itu dihukum oleh istana!" Ucap sang ayah disana. Para prajurit dengan sigap membuka gerbang yang telah lama tertutup untuk Laras. 

Hati Laras seperti ingin meledak melihatnya, 10 bulan tanpa henti dia selalu datang tapi gerbang itu tidak sedikitpun terbuka untuknya. Sekarang gerbang itu terbuka lebar dengan mudahnya. 

"Siapa mereka?" Laras dengan ragu bertanya pada warga di sampingnya.

"Itu saudara dan keponakan Yang Mulia Raja, pantas saja pintunya langsung terbuka." Jawab seorang warga disampingnya. Hati Laras terasa semakin panas mendengarnya, hal itu sama saja seperti dia bilang "Mereka orang penting Laras, kalau orang kecil seperti kita masalahnya tidak akan didengar"

Tangan Laras yang kurus mulai gemetar, bukan karena ketakutan, tetapi karena kemarahan yang telah lama ia pendam. Hari ini Laras lihaf dengan mudahnya, gerbang itu terbuka lebar hanya karena yang datang adalah saudara dan keponakan raja. 

Laras memandang ke sekelilingnya. Wajah-wajah warga yang penuh dengan harapan kini berubah menjadi cermin dari kemarahan dan kekecewaan yang dirasakannya. Mereka semua menyadari satu hal yang sama—bahwa di negeri ini, hanya mereka yang punya kekuasaan yang akan didengar, sementara mereka, rakyat kecil, hanyalah bayangan yang tak pernah dipedulikan. 

Walau marah hari itu Laras dan para warga pulang tanpa mendapatkan apa-apa. Tapi satu hal yang pasti, ada tekad yang akan diwujudkan Laras di kemudian hari.

Keesokan hari, Laras dan warga tidak lagi datang ke istana. Hal tersebut meninggalkanperasaan heran di hati para prajurit. Laras dan warga baru datang di hari ketiga setelah hari itu. Kali ini ada lebih banyak lagi warga, Laras dan para warga membawa sesuatu di tangan mereka, sebuah obor. Obor yang sama panasnya seperti hati Laras. Obor yang sama membaranya seperti semangat para warga. Para prajurit mulai takut, mereka tidak mengira akan ada hal seperti ini, mereka tidak sempat menyiapkan apapun untuk melawan.

Laras memimpin mendekati gerbang yang masih tertutup. Ia tidak lagi peduli pada prajurit yang menatapnya dengan penuh ancaman, tidak peduli pada apa yang mungkin terjadi padanya. Di dalam hatinya hanya ada satu tujuan—mencari keadilan yang selama ini diabaikan.

Tanpa menunggu waktu lama, warga mulai bergerak. Mereka merobohkan gerbang istana dengan kekuatan massa. Prajurit yang bertugas berusaha menahan mereka, tapi jumlah warga terlalu banyak. Kemarahan yang telah lama terkumpul kini meledak menjadi aksi yang tak terhindarkan.

Laras berjalan di antara warga, matanya tajam menatap ke arah istana. Di tangannya, ia menggenggam obor itu masih menyala. Tanpa ragu, ia mendekati pintu utama istana yang megah, yang selama ini tertutup rapat baginya. Dengan tangan yang penuh dengan dendam dan luka, Laras melemparkan obor itu ke pintu kayu besar, membiarkan api mulai menjilat bangunan yang selama ini menjadi lambang ketidakadilan bagi dirinya dan rakyat.

“Ini untuk anak ku!” seru Laras dengan air mata yang mengalir deras di pipinya, dia bisa melihat penghuni istana lari ketakutan “Ini untuk semua anak yang hilang tanpa keadilan, untuk semua ibu yang menangis dalam kesepian!”

Api mulai menyebar dengan cepat, membakar kayu-kayu yang sudah lama kering. Warga lain mengikuti langkah Laras, melemparkan obor dan benda-benda yang bisa terbakar ke arah istana. Malam itu, api membesar, menjulang tinggi ke langit, seakan-akan seluruh negeri merespon panggilan terakhir dari mereka yang selama ini tak didengar.

Prajurit yang tersisa berlarian, mencoba menyelamatkan diri, sementara istana yang megah itu mulai runtuh sedikit demi sedikit, diiringi teriakan kemarahan dan tangisan yang telah lama tertahan. Figur yang telah lama didambakan akhirnya keluar menemui warga, yang mulia raja yang sudah hilang mulianya. Dia kini hanya bisa berlari mencoba menyelamatkan diri.

Wahai rakyat kecil tak berdaya. Yang Mulia telah mati rasa. Namun kini kita telah menghukumnya.

Di tengah api yang berkobar, Laras merasakan seberkas kedamaian yang selama ini hilang. Iatahu bahwa mungkin tidak ada yang bisa mengembalikan Raka padanya, tetapi setidaknya malam ini, ia berhasil mengirim pesan yang jelas—keadilan tidak akan selamanya dibungkam. Bagaimana membangun negeri ini lagi akan dipikirkan nanti karena negeri kecil ini sudah lama mendambakan revolusi.

 

17 Agustus, 2024

 

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Gladiola Agustus Karya Aura Virginia

 

Gladiola Agustus

Karya Aura Virginia 

 

Bakung pedang, malam yang kelam,

dan bulan yang bersinar.

 

Dengan akar yang subur dan 

bercahaya di senja hari. 

 

Umbi yang bersinar dan memancarkan 

keindahan ruas-ruasnya seperti bintang. 

 

Bakung pedang, malam yang kelam,

dan bulan yang bersinar.

 

Tidak ada lagi suara-suara melengking yang

meneriakkan kata “aku ingin pedang sesungguhnya!”

 

Sekarang belalang lah yang mengatakan “hidupkan yang layu di bulan Agustus!”

 

Air menetes menelan manisnya tunasnya.. 

 

Bakung pedang, malam yang kelam,

dan bulan yang bersinar.

 

Kelopaknya meledak dengan suara seperti 

sirup kental yang terendam. 

 

Udara malam itu masih hangat, dengan segera kelopaknya bersemi. 

 

Gladiola yang merekah.

 

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Payah Tak Hidup Karya Desy Aulia Faricha

 

Payah Tak Hidup

Karya Desy Aulia Faricha

 

Ingin sempurna selamanya 

Menjadi bidadari dalam setiap pandang manusia

Lalu adakah tujuan lain di dunia?

Bukankah ini hanya persinggahan sementara?

Untuk jalan yang abadi nantinya

 

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Membaca Sebagai Jendela Dunia Karya Diajeng Aditya Putri

 

Membaca Sebagai Jendela Dunia

Karya: Diajeng Aditya Putri

 

Dunia terhampar luas, 

laut membentang tak berujung. 

 

Bintang bertaburan di angkasa, 

hutan belantara tak tembus mata.

 

Semua terlihat sempit bak jendela tertutup

 

Namun denganmu, ku buka imajinasi bebas, 

mengembara melewati batas.

 

Engkaulah buku, kunci menuju keajaiban

 

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Teman Singkat Karya Halimatuz Zahro

 Teman Singkat

Karya Halimatuz Zahro

 

Perbedaan yang kita bawa

Tampak tak padu saat awal berjumpa

Aku tak menduga waktu begitu lekas

Dikala aku berbaring dengan foto di nakas

Cerita kita menggaung tanpa batas

Aku bisa apa?

Perpisahan ini tak mau menunda

Ketika amarah, tawa, dan tangis kita

Berkelebat dengan tidak sopannya

Aku hanya bisa berucap dalam angan

Mari bertemu nanti, Kawan.

 

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...