Kamis, 30 Juli 2026

SEKAR Edisi Juli 2026 | Arti Pulang Karya Bunga Maya Lestari

Arti Pulang 
Karya Bunga Maya Lestari

Aku Jay, anak bungsu dari dua bersaudara. Sejak lahir aku tinggal di sebuah desa kecil di kaki bukit, dikelilingi sawah yang luas dan pepohonan rindang. Desa sederhana, tempat aku tumbuh, belajar, dan mengenal banyak hal. Desa tempatku tinggal selalu punya aroma khas, tanah basah setelah hujan, suara jangkrik yang bersahut-sahutan di malam hari, dan cahaya senja yang jatuh di antara batang padi atau pepohonan.

Sejak kecil, aku dikenal sebagai anak yang keras kepala. Aku selalu ingin segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginanku. Jika orang lain berkata “A”, aku sering bersikeras mengatakan “B”. Kata orang, sifatku itu menurun dari Ibu. Dan mungkin benar, karena setiap kali aku membantah, Ibu hanya tersenyum kecil seolah sedang bercermin pada dirinya sendiri di masa muda.

Ibu adalah sosok yang sederhana. Tidak ada gelar besar yang melekat padanya, tidak ada penghargaan yang terpajang di dinding, tidak ada nama yang dikenal banyak orang. Tetapi bagiku, Ibu adalah orang paling hebat yang pernah aku kenal.

Aku masih ingat masa kecilku yang penuh dengan pertanyaan.

 “Bu, kenapa langit biru?” tanyaku. “

“Karena Tuhan ingin kamu melihat keindahan setiap hari,” jawabnya sambil menatap langit. 

“Terus, kenapa hujan turun?” tanyaku lagi. 

“Supaya tanah subur, padi tumbuh baik, biar kita bisa makan,” katanya sambil tersenyum.

Saat itu aku tidak sadar bahwa bukan hanya pertanyaan tentang dunia yang ia jawab. Ibu juga sedang mengajarkanku cara menghadapi dunia. Namun, sifat keras kepalaku sering membuat hubungan kami penuh pertengkaran kecil. Suatu sore, aku pulang dengan wajah masam. Aku baru saja gagal dalam lomba yang sangat kuinginkan. Aku merasa dunia tidak adil.

Ibu menyambutku di teras. “Anak Ibu kok mukanya cemberut begitu?” tanyanya. 

“Jangan ngajak ngobrol deh, bu. Jay malas, Jay gagal, kalah,” Bentakku.

“Gapapa sayang, besok kamu bisa coba lagi” kata Ibu, entah dirautnya tidak ada kekecewaan seperti yang ku bayangkan dijalan pulang tadi. 

“Aku gamau, aku harusnya menang, percuma belajarku kemarin!” kata Jay dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.

Ibu menatapku, “Kamu memang keras kepala kalau sudah mau sesuatu, Jay”

Aku semakin marah. “Kenapa Ibu selalu bilang aku keras kepala? Aku bukan seperti Ibu!”

Ibu tersenyum kecil, lalu berkata pelan, seolah menyanyikan bait lagu yang pernah kudengar: 

“Keras kepalaku sama denganmu, caraku marah, caraku tersenyum.”

Aku terdiam, kata-kata itu seperti cermin yang memantulkan wajahku sendiri. Aku sadar ternyata aku mewarisi cara Ibu marah dan tersenyum. Pertengkaran itu membuatku sadar bahwa keras kepalaku bukanlah kutukan. Ia adalah warisan. Namun malam itu, setelah aku masuk kamar, rasa bersalah mulai menghantam. Aku menatap langit-langit, mendengar suara jangkrik dari luar jendela. Aku tahu aku sudah melukai hati Ibu dengan kata-kataku. Aku ingin meminta maaf, tetapi naasnya, gengsi.

Keesokan harinya, aku melihat Ibu di dapur. Ia sedang menyiapkan sarapan. Aku berdiri di ambang pintu. Ragu? Tentu saja. 

“Bu…” panggilku pelan. 

Ibu menoleh sambil tersenyum. "Sarapan dulu, Jay."  

Aku menunduk. “Maaf, Bu. Kemarin aku marah-marah.” 

Ibu mendekat, menepuk bahuku. 

“Tidak apa-apa. Ibu tahu kamu sedang kecewa, tapi belajarlah mengatur emosi ya, Nak." 

Air mataku hampir jatuh. Aku sadar bahwa, meski keras kepala, Ibu selalu menjadi orang pertama yang memaafkanku. 

***

Hari-hari berikutnya, aku sudah beranjak dewasa, merantau keluar kota dengan status mahasiswa. Aku sering merasa dunia terlalu berat, nilai yang buruk, plan yang tidak tercapai, pertemanan yang hilang, dan rasa takut akan hari esok sering memenuhi pikiranku. Namun, setiap kali aku pulang, Ibu selalu ada.

“Jay, makan dulu. Kamu pasti capek habis perjalanan jauh,” katanya sambil meletakkan sepiring nasi hangat di meja. 

“Aku nggak lapar,” jawabku ketus. 

“Kalau begitu, makan sedikit saja, ya?” katanya lembut.

Aku yang keras kepala sering menolak, tetapi akhirnya selalu luluh. Ada sesuatu dalam suara Ibu yang membuatku merasa aman. Aku mulai memperhatikan wajah Ibu yang berubah. Rambutnya tidak lagi seluruhnya hitam. Tangannya yang dulu halus sekarang sudah ada kerutan. Langkahnya tidak secepat dulu. Ada rasa sedih ketika menyadari bahwa waktu tidak pernah berhenti untuk siapa pun.

Suatu malam, aku duduk di teras rumah. Angin desa membawa aroma tanah basah. Ibu duduk di sampingku. 

“Jay, kamu sering marah sama Ibu, tapi Ibu tahu itu karena kamu lagi capek, banyak pikiran, kan?” katanya pelan.  

Aku menunduk. “Aku cuma... ingin semua berjalan sesuai keinginanku.”

“Itu sifat keras kepala kamu. Sama seperti Ibu dulu. Tapi ingat, hidup tidak selalu mengikuti kemauan kita. Kadang kita harus belajar menerima.”

Aku ingin sekali membalas semua yang telah Ibu lakukan. Aku ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuknya. Aku ingin membuatnya merasakan kebahagiaan sebesar yang selama ini ia berikan kepadaku. Tetapi Ibu selalu berkata, 

“Ibu tidak butuh banyak hal, Sayang. Ibu cuma butuh kamu tumbuh jadi anak yang baik, tidak harus sempurna.”

Kalimat itu menjadi hantaman bagi hati kerasku. Aku mulai memahami bahwa menjadi orang baik jauh lebih penting daripada menjadi orang paling hebat atau sempurna. Kini, aku mengerti mengapa banyak orang mencari tempat untuk pulang setelah merasa lelah. Karena dunia sering kali meminta kita menjadi sempurna, sementara rumah adalah tempat yang mengizinkan kita untuk menjadi selayaknya. Dan rumah terbaik yang pernah aku miliki adalah Ibu, ia adalah saksi dari setiap perjalananku. Ia melihat masa-masa ketika aku hampir menyerah. Ia berdiri di sampingku ketika aku berhasil mencapai sesuatu. Ia tidak pernah pergi, bahkan ketika aku gagal.

Suatu hari nanti, mungkin aku akan memiliki rumah sendiri, jauh dari Ibu, menjalani kehidupanku sendiri. Tetapi aku tahu, sejauh apa pun aku pergi, akan selalu ada satu tempat yang ingin aku datangi ketika dunia terasa terlalu berat. Tempat itu adalah Ibu. Ibu bukan hanya seseorang yang melahirkan. Ia adalah doa yang berjalan, kekuatan yang diam-diam menjaga langkah kecilku, dan rumah yang selalu membuka pintunya. 

Aku memang keras kepala, tapi Ibu senantiasa menjadi alasan mengapa aku belajar untuk mendengar, untuk memahami, dan untuk menjadi lebih baik. Selama Ibu ada, aku tahu aku tidak pernah benar-benar sendirian dan di sanalah aku menemukan arti pulang yang sebenarnya. Pulang bukan sekadar kembali ke rumah dengan dinding dan atap. Pulang adalah kembali ke hati yang selalu menerima kita apa adanya. Pulang adalah kembali ke pelukan yang tidak pernah menuntut apa-apa. Pulang adalah kembali ke doa yang diam-diam menjaga langkah kita, bahkan ketika kita jauh.

SINOPSIS

Jay dikenal sebagai sosok yang keras kepala. Tegas, sulit mengalah, dan selalu ingin segala sesuatu berjalan sesuai keinginannya. Namun, sifat itu justru membuatnya sering berjarak dengan orang yang paling ia sayangi. Saat kegagalan menghantam dan gengsi menahan kata maaf, Jay memilih diam, seolah tembok yang ia bangun sendiri mampu melindunginya. Baginya, keras kepala adalah cara bertahan. Tetapi ketika hidup terasa semakin berat, benarkah ia benar-benar baik-baik saja? Di balik amarah dan keteguhannya, selalu ada Ibu yang menunggu tanpa lelah. Mampukah Jay menyadari bahwa arti pulang bukan sekadar kembali ke sebuah rumah, melainkan kembali kepada seseorang yang selalu menerimanya apa adanya? 

SEKAR Edisi Juli 2026 | Titip Harap Karya Aulia Nur Azizah

 Titip Harap 

Karya Aulia Nur Azizah

Tak semua jalan perlu kupahami ujungnya,

sebab langkah ini belajar percaya sebelum melihat.

Saat tangan tak lagi sanggup menggapai kemungkinan,

aku titipkan segala resah pada langit yang tak pernah lengah.

Karena sering kali, yang tak mampu diselesaikan manusia,

justru menemukan jawabannya di hadapan Sang Maha Kuasa.

 

Aku tak meminta hidup tanpa luka,

hanya hati yang tetap yakin di setiap jedanya.

Doa bukan sekadar rangkaian kata yang terucap,

melainkan tempat paling tenang untuk menitipkan harapan.

Sebab Tuhan tak pernah letih mendengar permohonan,

dan tak ada harapan yang sia-sia ketika disandarkan kepada-Nya.

 

SEKAR Edisi Juli 2026 | Kita Mulai dari Selesai Karya Fajar Wahyudi

Kita Mulai dari Selesai 

Karya Fajar Wahyudi

"Ini bukan hukuman," kata psikiaternya sambil menyodorkan sebuah buku bersampul hijau tua “Ini tugas untukmu.”

            Ia menjelaskan bahwa selama satu tahun ke depan Sangkar hanya perlu melakukan satu hal setiap minggu: berbicara selama lima menit dengan satu orang asing, lalu menuliskan satu kata yang menurutnya paling mewakili percakapan itu. Terdengar sederhana. Justru itu yang membuatnya terasa mustahil. Selama beberapa bulan terakhir, bahkan untuk berbicara kepada dirinya sendiri terasa melelahkan. Sangkar membuka buku itu, halaman pertama hingga seterusnya kosong. Lalu ia menutupnya kembali. Entah kenapa, beberapa lembar kertas kosong itu terasa lebih menyesakkan daripada ribuan baris kode yang  biasa ia susun berhari-hari untuk membuat sebuah web. 

            Orang asing pertama yang ia temui adalah seorang sopir angkot. Di dalamnya hanya ada seorang pelajar perempuan. Tangannya erat memeluk kotak plastik berisi donat yang barangkali belum habis terjual.

"Turun mana, Mas?"

"Depan, Pak."

Sopir itu mengangguk. 

Selama perjalanan jemarinya beberapa kali mengetuk setir mengikuti irama lagu yang nyaris tak terdengar. Sesekali ia menggerutu ketika lampu merah terlalu lama menyala. Sebelum Sangkar turun, sopir itu sempat berkata, "Kalau pulang jangan kemaleman, Mas."

Malamnya, Sangkar membuka buku hijau itu. Cukup lama ia membiarkan halaman itu kosong. Hingga akhirnya ia menulis satu kata.

Pulang.

 

            Minggu berikutnya, Sangkar berhenti di sebuah kios koran dekat lampu merah. Lelaki tua yang menjaganya sedang membaca koran pagi sambil sesekali mengipasi wajah dengan koran yang terlipat. Tumpukan koran di depannya masih rapi, seolah belum ada satupun yang berpindah tangan.

"Ada berita apa hari ini, Pak?"

Lelaki itu menurunkan korannya sebentar, lalu tersenyum kecil.

"Sama kayak kemarin mas," katanya. "Cuma ganti tanggal."

Ia terkekeh pelan, seperti baru saja melontarkan lelucon yang sudah terlalu sering ia ulangi.

Sangkar memandangi halaman depan koran itu. Besok pagi semuanya akan diganti. Berita baru datang, berita lama perlahan dilupakan. Malam itu, halaman berikutnya di buku terapinya  mulai terisi.

Besok.

 

            Minggu ketiga mempertemukannya dengan seorang penjahit di gang sempit. Mesin jahit di sudut ruangan berdetak pelan, sementara lelaki paruh baya itu merapikan lipatan kemeja yang belum selesai dijahit. Tangannya dipenuhi bekas tusukan jarum. Jari telunjuknya dibungkus plester yang mulai mengelupas, tetapi jemarinya tetap bergerak lincah seolah luka-luka kecil itu sudah menjadi bagian dari pekerjaannya.

"Bahannya bagus," katanya sambil meraba ujung kain. "Sayang kalau buru-buru, Mas."

"Saya nggak buru-buru kok pak."

Penjahit itu tersenyum tipis tanpa mengangkat kepala.

"Semua orang awalnya juga bilang gitu."

Sangkar tak menjawab. Malamnya, Sangkar membuka bukunya. Ia tidak membutuhkan waktu selama minggu sebelumnya.

Sabar.

Kata itu cocok untuk kali ini.

 

            Kini, giliran seorang ibu-ibu di terminal menjadi sosok yang ditemui Sangkar pada minggu keempatnya. Perempuan itu duduk sendirian di bangku besi yang mulai berkarat. Sebuah tas besar diletakkan di pangkuannya, sementara kedua tangannya saling menggenggam di atas resleting yang sudah kusam.

Sangkar duduk di sebelahnya.

"Sedang menunggu, Bu?"

"Iya, Mas."

"Siapa?"

"Anak saya." Perempuan itu tersenyum kecil.

"Katanya bus jam sepuluh. Sekarang sudah jam dua belas."

"Kenapa nggak ditelepon Bu?"

"Nanti dia pikir saya nggak percaya sama dia."

Setelah itu mereka sama-sama diam. Di kejauhan terdengar suara kondektur memanggil jurusan, disusul deru bus yang datang dan pergi silih berganti.

Malamnya, Sangkar membuka buku hijau itu.

Ia menulis satu kata.

Tunggu.

Ketika membuka kembali halaman-halaman sebelumnya, Sangkar menyadari sesuatu. Semua orang yang ia temui ternyata sedang menunggu sesuatu. Sedangkan ia sendiri tidak sedang menunggu apa pun.

            Minggu kelima, Sangkar membawa kamera analog peninggalan ayahnya ke sebuah toko barang bekas di ujung jalan. Papan namanya sudah memudar. Rak-rak kayu memenuhi hampir setiap sudut ruangan. Radio tua berdampingan dengan mesin tik, kamera analog, jam dinding yang berhenti di waktu berbeda, dan tumpukan cangkir enamel yang warnanya mulai pudar. Di balik meja kasir, seorang perempuan sedang berdiri di atas bangku pendek. Kedua tangannya sibuk menyusun tumpukan piring ke rak paling atas.

Bel kecil di atas pintu berdenting ketika Sangkar masuk.

“Sebentar ya, Mas”

Suara itu muncul bahkan sebelum Sangkar sempat melihat siapa yang berbicara. Suara seorang perempuan terdengar sangat sibuk dari balik meja kasir yang dipenuhi vas bunga antik.

“Ada yang bisa dibantu, Mas?” 

Sangkar pun meletakkan kameranya diatas meja 

“"Wah...kamera analog. Ini mau dititip jual, Mas?”

“Iya.”

Jemarinya bergerak lincah memutar cincin lensa, membuka penutup belakang, lalu meniup sedikit debu yang menempel di viewfinder.

“Masih bagus kameranya. Ini seri lama ya, Mas? Peninggalan siapa?”

“Ayah”

“Ohh..”

"Di sini juga ada kamera yang usianya lebih tua." Ia berjalan ke rak kaca dan mengambil sebuah kamera lipat berwarna hitam.

"Yang ini lucu ceritanya."

Sangkar belum sempat bertanya apapun, tetapi Rahara sudah mulai bercerita.

"Dulu ada bapak-bapak yang nitip jual kamera ini. Katanya ini kamera yang dipakai memotret istrinya waktu masih pacaran. Beberapa bulan kemudian beliau datang lagi." 

"Mau diambil lagi?" tanya Sangkar.

"Iya, ternyata istrinya marah, bukan karena kameranya dijual, tapi karena foto-foto waktu pacaran mereka masih ada di dalamnya." Rahara terkekeh pelan.

"Untung kameranya belum sempat laku. Kalau sudah, mungkin yang dicari bukan kameranya lagi."

Ia mengembalikan kamera itu ke meja. Matanya lalu berpindah ke rak sebelah.

"Mas suka ngopi?"

Sangkar mengangguk pelan.

"Pantes."

"Kenapa?"

"Biasanya yang datang bawa kamera ujung-ujungnya beli cangkir."

Ia mengambil salah satunya.

"Saya juga nggak ngerti hubungannya apa."

"Tapi hampir selalu begitu."

Rahara kemudian menarik formulir titipan dari bawah meja dan mulai mengisinya.

"Namanya, Mas?"

"Sangkar."

"Sangkar?" Ujung pulpennya berhenti bergerak. 

"Iya." 

"Lucu ya." Ia tertawa kecil

"Soalnya saya langsung kebayang kandang burung."

Sangkar sudah terbiasa mendengar komentar itu.

"Hampir semua orang bilang begitu."

"Iya sih..." Rahara mengangguk.

"Kalau ada yang namanya Burung baru aneh, hahaha." Rahara tertawa sendiri.

Sangkar hanya diam.

Humornya garing.

Tetapi memang begitulah Rahara.

"Eh maaf, saya Rahara, tetapi pelanggan saya biasanya manggil Rara"

Beberapa menit kemudian formulir itu selesai.

            Bel pintu kembali berdenting ketika Sangkar melangkah keluar. Langkahnya melambat setelah melewati etalase toko, ia menyadari satu hal yang terasa aneh. Selama hampir sepuluh menit, ia hampir tidak mengajukan satupun pertanyaan. Ia hanya mendengarkan. Malam itu, ia membuka buku terapinya untuk keenam kalinya. Namun kali ini ia lebih lama menatap halaman kosong. Bukan karena tidak tahu harus menulis apa. Justru karena terlalu banyak kata yang terlintas.

Akhirnya ia menulis satu di antaranya.

Kandang.

 

            Minggu berikutnya Sangkar kembali ke Lapak Lama. Bukan karena ingin membeli sesuatu. Ia hanya ingin memastikan apakah kameranya sudah terjual.

Bel pintu kembali berdenting. Rahara bahkan tidak menoleh.

"Tunggu sebentar ya, Mas. Radio ini lagi ngambek."

Di atas meja kasir tergeletak sebuah radio kayu berwarna cokelat. Tutup belakangnya terbuka. Rahara memegang obeng kecil sambil sesekali meniup debu di sela-sela komponennya. 

"Rusak?" tanya Sangkar.

"Iya. Padahal kemarin sempat bunyi. Barang tua memang gitu, suasana hatinya sulit ditebak."

Ia memutar tombolnya sekali lagi. Tetap tidak ada suara.

"Tapi saya tetap nyalain."

"Untuk apa?"

"Biar ada yang diajak ribut."

Sangkar mengernyit.

Rahara tertawa kecil melihat ekspresinya.

"Kalau toko lagi sepi, saya suka ngobrol sendiri. Nah, kalau radionya nyala, orang kira saya lagi dengerin siaran. Padahal mah lagi ngoceh."

Sangkar mengangguk pelan. Ia tidak tahu mana yang bercanda dan mana yang sungguhan.

           

            Ia datang lagi seminggu kemudian. Lalu seminggu setelahnya. Kadang hanya bertanya apakah kameranya sudah terjual. Kadang membeli kaset lama yang bahkan tidak memiliki pemutar di rumahnya. Pernah juga pulang membawa sebuah cangkir enamel hanya karena Rahara bersikeras mengatakan kopi akan terasa lebih enak diminum dari sana.

"Nggak ada bedanya, Ra" kata Sangkar.

"Mas sudah coba?"

"Belum."

"Nah, berarti jangan menyimpulkan dulu."

Percakapan mereka selalu dimulai dari barang-barang yang ada di toko, lalu berakhir di tempat yang berbeda. Sebuah mesin tik tua mengingatkan Rahara pada pamannya yang pernah bercita-cita menjadi penulis tetapi malah membuka bengkel. Jam dinding yang berhenti di angka tiga membuatnya bercerita tentang pelanggannya yang bersikeras meminta jam itu tidak diperbaiki karena jarumnya berhenti tepat ketika anaknya lahir. Bahkan sebuah kursi goyang yang salah satu kakinya lebih pendek menjadi cerita tentang nenek yang setiap sore duduk di teras sambil mengupas mangga. Rahara seolah memiliki cerita untuk hampir semua barang.

Atau mungkin sebaliknya.

Ia selalu menemukan barang untuk setiap cerita. Sangkar jarang membalas lebih dari beberapa kalimat. Anehnya, Rahara tidak pernah terlihat keberatan. Perempuan itu tak membutuhkan lawan bicara yang pandai berbicara. Ia hanya membutuhkan seseorang yang tidak buru-buru pergi.

Beberapa kali Sangkar membantu mengangkat lemari, menurunkan koper, atau merapikan buku yang hampir roboh, meski tak pernah diminta. Semuanya terasa begitu biasa hingga Sangkar tidak menyadari satu kebiasaan perlahan menghilang.

Tak lagi berbicara dengan orang asing.

 

            Akhir bulan, Sangkar kembali duduk di ruang praktik psikiaternya. Buku bersampul hijau itu kembali berpindah tangan. Psikiaternya membuka beberapa halaman pertama.

Pulang.

Besok.

Sabar.

Tunggu.

Kandang.

Ia mengangguk pelan, lalu membalik halaman berikutnya. Tangannya berhenti di halaman yang dipenuhi satu nama.

Rahara.

"Kamu berhenti menemui orang asing ya?"

Sangkar menggeleng.

"Lalu?"

“Bagaimana seorang lelaki bisa menghindari percakapan dengannya?” kata Sangkar dalam hati.

Ia ingin menyangkal. Mengatakan bahwa semua ini hanya bagian dari tugas. Bahwa Rahara masih ia anggap orang asing, karena Sangkar masih belum seutuhnya mengenal Rara.

 

            Seminggu kemudian, handphone Sangkar berdering. Nomor yang muncul tidak tersimpan, tetapi ia mengenali suara itu sebelum lawan bicaranya menyebut nama.

"Kameranya laku, Mas."

Rahara terdengar berusaha terdengar ceria, meski ada jeda kecil setelah kalimat itu.

"Selamat, ya."

Sore harinya Sangkar datang ke Lapak Lama. Rahara sudah menyiapkan amplop cokelat berisi hasil penjualan kamera. Ia menyodorkannya sambil tersenyum.

"Titipannya selesai."

Sangkar menerimanya, pandangannya berkeliling pelan. Rak-rak itu nyaris tidak berubah sejak pertama kali ia datang.

"Ada yang ketinggalan, Mas?" tanya Rahara.

Sangkar menggeleng.

"Radionya masih belum bunyi?"

"Ah itu.., masih."

"Kenapa nggak diganti?" Ia mengangkat bahu.

Rahara mengusap debu di atas radio itu dengan telapak tangannya.

"Kasihan."

"Kalau diganti, nanti dia ngambek."

Rahara terkekeh pelan sebelum melanjutkan,

"Lagian, kameranya Mas aja saya temenin berbulan-bulan sampai laku. Masa radionya ditinggal." Ia tertawa kecil, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang biasa. 

Entah kenapa, Sangkar ikut tersenyum.

Bel pintu kembali berdenting ketika Sangkar melangkah keluar. Rak kaca tempat kameranya dulu dititipkan kini kosong. Seharusnya tidak ada lagi alasan baginya untuk kembali. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan halaman toko itu, ia sudah lebih dulu bertanya dalam hati kapan bisa datang lagi.

            Minggu berikutnya, tanpa rencana, Sangkar kembali melewati jalan yang sama dan baru menyadarinya ketika bel pintu kembali berdenting.

"Oh," Rahara mendongak dari balik meja kasir. "Mau nitipin barang lagi, Mas?"

"Nggak."

"Berarti beli cangkir lagi?"

Sangkar menggeleng.

"Radio?"

"Nggak juga."

Rahara menyandarkan kedua sikunya di meja, lalu menatap Sangkar beberapa detik.

"Terus Mas kandang burung ini datang mau ngapain?"

Pertanyaan itu terdengar seperti candaan.

Anehnya, Sangkar benar-benar tidak punya jawaban.

Ia hanya berdiri di sana, memperhatikan Rahara yang kembali sibuk membungkus sebuah teko emas yang baru pelanggan beli.

            Mereka mengobrol seperti biasa. Tentang seorang bapak yang menawar terlalu rendah. Tentang jam dinding yang tiba-tiba kembali berdetak selama lima menit sebelum mati lagi. Tentang hujan yang selalu membuat toko lebih sepi. Ketika Sangkar pamit pulang, Rahara melambai sambil berkata,

"Hati-hati, Mas. Minggu depan jangan lupa mampir lagi."

Kalimat itu diucapkan begitu saja.

Seperti kebiasaan.

Namun sepanjang pulang, justru kalimat itulah yang paling lama tinggal di kepala Sangkar.

            Sore berikutnya Sangkar kembali lagi. Dan minggu sesudahnya. Tidak ada lagi yang dititipkan. Tidak ada lagi yang perlu diambil. Tetapi percakapan mereka tetap berlangsung, seolah selalu ada sesuatu yang belum selesai meski tidak pernah mereka rencanakan. Tanpa disadari, buku terapi itu ikut berubah. Halaman-halaman yang dulu hanya berisi satu kata kini semakin jarang menemukan kata yang baru. Sampai pada suatu malam, Sangkar membuka buku itu cukup lama. Namun yang ia tulis justru sebuah nama.

Rahara.

            Sejak hari itu, Sangkar tidak lagi menghitung sudah berapa kali ia datang ke Lapak Lama. Kadang sepulang bekerja. Kadang hanya karena hujan turun lebih cepat dari biasanya. Kadang tanpa alasan yang benar-benar bisa ia jelaskan. Bel kecil di atas pintu seolah mulai menghafal langkahnya.

"Sangkar."

Rahara selalu menyapa lebih dulu.

Entah sejak kapan ia berhenti memanggilnya "Mas".

Sangkar mulai hafal letak hampir semua barang di toko itu. Ia tahu radio tua selalu berada di sudut dekat jendela. Kamera-kamera analog tersusun di rak kaca sebelah kiri. Jam dinding yang tak lagi berdetak sengaja digantung memenuhi tembok belakang, seolah-olah memilih berhenti pada waktunya sendiri.

Sesekali ia membantu mengangkat kardus. Sesekali mengganti bohlam yang mati. Pernah juga memperbaiki engsel pintu yang berderit setiap kali dibuka.

"Aku curiga sebenarnya Mas Sangkar datang buat kerja di sini, deh."

Rahara tertawa kecil ketika melihat Sangkar sedang mengencangkan baut rak yang longgar.

"Gratis lagi."

Sangkar hanya mengangkat bahu.

"Nanti lama-lama aku kasih seragam."

"Warnanya hijau?"

"Bukan."

"Terus?"

"Warna apa aja asal jangan sama kayak tembok. Nanti aku susah nyari Mas."

Sangkar menggeleng pelan. Untuk pertama kalinya, ia tertawa tanpa memikirkan apakah tawanya perlu. Percakapan mereka selalu berawal dari hal-hal kecil, lalu melebar ke mana-mana. Rahara bisa bercerita tentang pelanggan yang datang mencari piring, tetapi pulang membawa mesin tik karena teringat kakeknya. Seorang nenek yang terus membeli cangkir yang sama karena selalu pecah sebelum dipakai, atau koper tua yang telah tiga kali berpindah pemilik, tetapi selalu kembali ke toko yang sama. 

"Kadang aku mikir," kata Rahara sambil membersihkan debu radio, "barang-barang ini sebenarnya bukan nggak laku."

Sangkar menoleh.

"Mereka cuma belum ketemu orang yang tepat."

Ia tidak langsung menanggapi.

Kalimat itu tinggal lebih lama daripada yang seharusnya. 

 

            Akhir rehabilitasi datang tanpa terasa. Sangkar kembali duduk di ruang praktik yang selama setahun terakhir selalu ia datangi. Buku hijau itu kembali berpindah tangan. Psikiater membukanya sebentar, lalu tersenyum kecil.

"Aku rasa kita tidak perlu membahas halaman-halaman sebelumnya."

Sangkar ikut melihat buku itu. Di sana masih ada kata-kata yang ia tulis sejak awal. Pulang, Besok, Sabar, Tunggu, Kandang. Lalu halaman-halaman setelahnya. Yang perlahan berubah menjadi satu nama. Rahara.

Psikiaternya menutup buku itu. 

"Hari ini tinggal satu halaman."

Ia menggeser buku itu kembali ke hadapan Sangkar.

"Kali ini tidak ada tugas."

Sangkar mengangkat kepala.

"Hanya satu pertanyaan."

Ruangan kembali sunyi.

"Apa satu kata yang ingin kamu tulis untuk dirimu sendiri?"

Sangkar tidak langsung menjawab. Ujung pena-nya hanya menggantung di atas halaman terakhir. Ia membalik beberapa halaman ke belakang.

Pulang. Ia teringat sopir angkot yang bahkan tidak pernah mengetahui bahwa satu kalimat sederhananya berhasil menetap di kepala seseorang.

Besok. Pedagang koran yang menganggap berita hanya berganti tanggal.

Sabar. Penjahit yang berkali-kali tertusuk jarum, tetapi tetap menyelesaikan setiap jahitan.

Tunggu. Seorang ibu yang memilih percaya kepada anaknya, meski bus yang ditunggu terlambat berjam-jam.

Lalu halaman berikutnya.

Kandang. Sangkar tersenyum tipis. Ia baru sadar, kata itu bukan lagi tentang namanya. Melainkan tentang dirinya sendiri. Ia pernah hidup di dalamnya. Kemudian halaman-halaman setelahnya. Tidak ada lagi kata. Hanya satu nama yang berulang.

Rahara. Ia memandangi nama itu cukup lama. Lucu juga, pikirnya. Selama ini ia mengira sedang mencatat orang lain. Padahal setiap halaman ternyata sedang mencatat dirinya. Ruangan menjadi hening. Psikiater itu tidak menyela. Seperti biasa, ia membiarkan Sangkar menemukan jawabannya sendiri.

"Aku dulu berpikir..." Sangkar akhirnya bersuara. "Kalau hidupku selesai."

"Makanya nama toko itu selalu terasa aneh buat saya."

"Lapak Lama?" tanya psikiater.

"Iya."

Sangkar tersenyum kecil.

"Orang-orang datang ke sana buat melepas barang yang menurut mereka sudah selesai." Ia berhenti sejenak.

"Padahal barangnya cuma pindah tangan."

Kalimat itu menggantung beberapa saat.

"Yang berubah bukan barangnya, tetapi pemiliknya." Untuk pertama kalinya sejak terapi dimulai, psikiater itu tersenyum lebih lebar.

"Begitu juga hidup?"

Sangkar mengangguk.

Ia melihat kembali halaman terakhir. Tangan yang dulu gemetar ketika menerima buku itu kini bergerak tenang. Penanya menyentuh kertas. Ia menulis perlahan.

Mulai.


Sinopsis:

“Bagaimana seorang lelaki bisa menghindari percakapan dengannya?” Setelah gagal mengakhiri hidupnya, Sangkar yang yang merasa hidupnya telah selesai harus menjalani rehabilitasi selama satu tahun dengan satu tugas sederhana: berbicara selama lima menit dengan orang asing, lalu menuliskan satu kata.

Bagi Sangkar, setiap percakapan hanyalah bagian dari tugas yang harus diselesaikan, di antara banyaknya wajah yang datang dan pergi, Rahara menjadi satu-satunya orang yang membuat lima menit terasa tak pernah cukup. Tanpa sadar, Sangkar berhenti mencari orang baru, dan mulai kembali ke tempat yang sama. Yang tidak pernah diketahui Rahara, setiap percakapan mereka selalu berakhir di buku terapi Sangkar.

Semakin lama, halaman-halaman buku terapinya tak lagi dipenuhi kata-kata, melainkan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia tulis.

Terang Benderang

Bak Mentari,

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...