Selasa, 19 November 2024
LITERAFILM: HOME SWEET LOAN (2024)
Jumat, 13 September 2024
SEKAR Edisi Agustus 2024 | Teknologi: Penggerak Revolusi Zaman Karya Nadinda Jelita Salsabilah
Teknologi:
Penggerak Revolusi Zaman
Karya Nadinda Jelita Salsabilah
Dalam beberapa dekade terakhir, teknologi telah menjadi salah satu pilar utama yang mengubah cara manusia hidup, bekerja, dan berinteraksi. Dari internet yang menghubungkan dunia hingga kecerdasan buatan yang merevolusi industri, kecanggihan teknologi telah membuka peluang yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun, seiring dengan manfaat yang diberikan, kecanggihan teknologi juga menimbulkan tantangan dan pertanyaan etis yang harus kita jawab bersama.
Teknologi telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Di bidang komunikasi, misalnya, perkembangan teknologi internet dan perangkat pintar telah menghilangkan batasan geografis. Informasi dapat diakses secara real-time, dan interaksi sosial tidak lagi terikat oleh jarak. Media sosial memungkinkan orang untuk berbagi pikiran, pengalaman, dan berita secara instan. Teknologi juga telah mengubah cara kita bekerja; konsep bekerja dari jarak jauh (remote working) menjadi mungkin berkat alat kolaborasi digital, memungkinkan efisiensi dan fleksibilitas yang lebih besar.
Di sektor industri, kecanggihan teknologi telah mendorong revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan otomatisasi, data besar, dan kecerdasan buatan (AI). Robot dan mesin pintar kini dapat melakukan tugas yang sebelumnya membutuhkan keterampilan manusia, mulai dari produksi massal hingga analisis data kompleks. AI khususnya, telah memberikan kemampuan pada mesin untuk belajar dan beradaptasi, membuka jalan bagi inovasi di bidang kesehatan, keuangan, transportasi, dan banyak lagi. Teknologi medis, seperti pencitraan medis canggih dan telemedis, telah meningkatkan kemampuan diagnosis dan perawatan, memperpanjang harapan hidup dan meningkatkan kualitas hidup banyak orang.
Namun di balik segala manfaatnya, kecanggihan teknologi juga memunculkan tantangan yang harus dihadapi dengan bijak. Salah satunya adalah masalah privasi dan keamanan data. Di era digital ini, data pribadi menjadi komoditas yang sangat berharga dan ancaman terhadap privasi semakin meningkat. Serangan siber, pencurian identitas, dan penyalahgunaan data menjadi risiko yang harus dihadapi dan penting bagi perusahaan serta individu untuk mengembangkan sistem keamanan yang
andal.
Selain itu, kemajuan teknologi juga menimbulkan pertanyaan etis yang kompleks. Penggunaan AI misalnya, menimbulkan kekhawatiran tentang pengangguran massal akibat otomatisasi, serta potensi bias dalam algoritma yang dapat memperparah ketidakadilan sosial. Ada juga perdebatan tentang penggunaan teknologi dalam pengawasan massal yang dapat mengancam kebebasan individu. Di bidang bioteknologi, pengembangan teknologi rekayasa genetika juga menghadirkan dilema etis terkait dengan manipulasi kehidupan. Kecanggihan teknologi juga membawa perubahan dalam pola pikir dan budaya masyarakat. Di satu sisi, teknologi telah menciptakan masyarakat yang lebih terhubung dan berpengetahuan luas, tetapi di sisi lain terdapat kekhawatiran tentang dampaknya terhadap kesehatan mental, seperti ketergantungan pada perangkat digital dan penyebaran informasi yang tidak akurat.
Di tengah segala dinamika ini, penting bagi kita untuk memandang teknologi sebagai alat yang harus digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab. Pendidikan dan literasi digital menjadi kunci dalam mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh teknologi. Pemerintah, akademisi, dan sektor swasta harus bekerja sama untuk merumuskan kebijakan yang memastikan bahwa teknologi digunakan untuk kebaikan bersama, tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan etika.
Pada akhirnya, kecanggihan teknologi adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia memiliki potensi untuk mendorong kemajuan dan kesejahteraan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, ia juga dapat menjadi sumber masalah baru jika tidak dikelola dengan benar. Oleh karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa teknologi digunakan sebagai kekuatan positif yang mendukung perkembangan manusia dan lingkungan, bukan sebaliknya. Dengan cara ini, kita dapat mengarungi era kecanggihan teknologi dengan penuh optimisme dan kehati-hatian.
SEKAR Edisi Agustus 2024 | Di Balik Gelombang: Pesan dari Dewi Laut Karya Farah Nabila Aina
Di
Balik Gelombang: Pesan dari Dewi Laut
Karya Farah
Nabila Aina
Di sebuah kota yang terletak di tepi lautan biru, di mana angin
laut berhembus lembut dan riak ombak menari dengan lembut, terdapat sebuah kuil
megah yang didedikasikan untuk Furina, dewi laut. Furina dikenal sebagai Focalors,
dewi yang memerintah atas kekuatan dan keindahan lautan.
Furina adalah sosok yang anggun dan misterius. Dalam wujud dewi,
dia memiliki kulit berwarna biru kehijauan, dengan mata yang bersinar seperti
mutiara yang tersimpan dalam kedalaman laut. Rambutnya panjang dan berombak,
seperti gelombang yang bergerak dengan lembut di permukaan air.
Legenda mengisahkan bahwa pada zaman dahulu, manusia seringkali
melupakan kekuatan dan keagungan laut, dan mereka kerap mencemari perairan yang
memberi kehidupan. Untuk melindungi lautan dan segala makhluk hidup di
dalamnya, Furina turun dari kediamannya di bawah laut yang dalam. Dia datang
dengan kehadiran yang menenangkan namun tegas, melawan para perusak dengan
kekuatan air yang tidak bisa dilawan.
Suatu hari, sebuah kapal besar melintasi perairan suci yang
dianggap sebagai batas kekuasaan Furina. Kapal tersebut terbuat dari kayu
terbaik dan dipenuhi dengan barang-barang mahal yang ingin diperdagangkan ke
negeri jauh. Namun, tanpa sepengetahuan awak kapal, mereka telah melintasi zona
yang dilindungi oleh Furina.
Saat kapal itu melanjutkan perjalanan, badai besar tiba-tiba
muncul di tengah laut. Gelombang yang tinggi dan angin yang kencang mengguncang
kapal, seakan-akan lautan marah. Di tengah-tengah kekacauan itu, Furina muncul
dari kedalaman laut, menjulang tinggi dengan aura yang menakutkan namun juga
megah.
Melihat kapal dalam bahaya, seorang awak kapal bernama Lian, yang
dikenal sebagai seorang pelaut bijaksana dan penyayang laut, berdoa dengan
sungguh-sungguh. Dia memohon ampun dan meminta agar mereka diberikan kesempatan
untuk memperbaiki kesalahan mereka. Lian menggenggam sebuah amulet laut yang
diwariskan oleh leluhurnya, yang diyakini dapat memohon kepada dewi laut.
Furina merasa tergerak oleh doa tulus Lian dan melihat ketulusan
hatinya, akhirnya ia memutuskan untuk
meredakan badai. Gelombang yang dahsyat mulai mereda, angin yang menderu mulai
tenang, dan kapal perlahan-lahan kembali ke jalur yang aman. Furina, sebelum
menghilang kembali ke kedalaman lautan, menyisakan pesan bagi awak kapal,
mengingatkan mereka untuk selalu menghormati laut dan menjaga kebersihan
perairan.
Lian dan para awak kapal, dengan penuh rasa syukur, berjanji untuk
tidak hanya menghormati laut tetapi juga membagikan kisah tentang kebaikan dan
kekuatan Furina kepada seluruh dunia. Mereka kembali ke daratan dengan penuh
rasa hormat terhadap dewi laut dan pengetahuan baru tentang pentingnya menjaga
ekosistem laut.
Furina kembali ke kedalaman laut, menjaga dan melindungi lautan
dengan penuh kebijaksanaan. Dia menjadi simbol kekuatan dan keindahan laut,
serta pengingat bagi semua orang bahwa kekuatan alam harus dihormati dan
dilindungi.
SEKAR Edisi Agustus 2024 | Negeri Kecil Yang Berapi Karya Zaskia Dwi Arefa
Negeri
Kecil Yang Berapi
Karya Zaskia Dwi Arefa
Hari itu matahari sudah hampir terbenam saat Laras mendatangi
istana, ini bukan yang pertama kali. Kemarin raja baru naik tahta, Laras
berharap raja baru itu bisa menolongnya.
Di depan pintu megah istana yang tertutup dan dijaga prajurit
Laras bercerita "Yang Mulia, anak saya masih hilang, belum kembali sudah
10 bulan lamanya. Mungkin dia sudah dibunuh, tapi tak apa saya sudah rela hanya
saja saya ingin pembunuhnya ditemukan dan dihukum. Yang mulia, saya meminta
pertolongan."
Sudah lama rasanya Laras meminta bantuan pada semesta, pada yang
maha kuasa, dan pada yang mulia raja. Laras tak ingin putus asa walau belum ada
yang mendengarnya. Anak yang dicintainya tak kunjung pulang, pun tak kunjung
mendapat keadilan. Para prajurit yang menjaga pintu istana mentertawakan Laras
untuk kesekian kalinya, mungkin sudah bosan melihat seorang Ibu yang perlahan
rapuh itu masih penuh dengan semangat untuk mencari keadilan.
Malam mulai datang pintu istana tak kunjung terbuka. Laras
akhirnya pulang dengan luka lama yang belum berhasil disembuhkan, pulang tanpa
mendapat keadilan. Di jalan pulang Laras mendengar omongan warga lainnya
"Tanah ini telah rusak, terkutuk. Lihatlah ibu Laras, bertahun-tahun
mencari keadilan tapi tidak didengarkan. Raja lama telah mati, raja baru jadi
pengganti, tapi tanah subur ini seperti telah gagal menjadi negeri yang
berempati." Suara seorang warga terdengar oleh Laras, senyum simpul muncul
di wajahnya, miris, Laras bertanya pada dirinya sendiri: di sini apa hanya
rakyat biasa yang punya hati?
"Benar itu, Pak. Di negeri ini, rakyat kecil harus mengemis
untuk keadilan."
Malam sepenuhnya menyelimuti negeri kecil itu saat Laras sampai di
rumah. Dengan wajah lemas dia duduk di kursi reyot di pojok ruang tamu. Tetes
demi tetes air mata membasahi pipi Laras, hari ini dia gagal lagi "Oh
Tuhan, aku hanyalah seorang Ibu. Tolonglah aku." Sebuah doa yang sama
terlontar berulang kali.
Malam itu, Laras tidak tidur. Ia duduk di kursinya, menatap ke
luar jendela kecil yang menghadap ke arah istana, yang meskipun jauh, bisa
dilihat bayangannya dari kejauhan. Laras berpikir kira-kira apa yang sedang di
lakukan Yang Mulia di istana, mungkinkah besok Yang Mulia bersedia menemuinya?
10 bulan terakhir tidak ada malam yang Laras lewati dengan tenang.
Di hari berikutnya, pagi-pagi sekali rumah Laras didatangi banyak
warga. Setelah pintu rumahnya terbuka seorang Ibu-Ibu sebaya memeluk Laras,
"Bu Laras, hari ini kami ingin membantu dan menemani Ibu pergi ke Istana.
Mungkin saja kalau banyak warga yang datang Yang Mulia mau membuka
pintunya." Tuturnya pada Laras. Laras tidak punya hati untuk menolak
mereka, mereka pun berbondong-bondong pergi ke Istana.
Di depan gerbang Istana para warga memanggil sang raja, "Yang
Mulia, Yang Mulia. Keluarlah untuk bicara pada rakyat yang telah lama engkau
hiraukan keberadaannya."
"Yang Mulia, jangan hanya duduk di singgasana."
"Yang Mulia, tolonglah seorang Ibu yang hampir putus
asa." Para prajurit penjaga gerbang istana terlihat lebih kesal dari
hari-hari sebelumnya.
"Yang Mulia,—" Panggilan untuk sang raja tidak ada
hentinya. Seiring waktu berjalan, banyak kalimat yang telah terlontar di depan
gerbang istana sebelum akhirnya ada kereta kuda datang menyita perhatian semua
orang termasuk para prajurit yang berjaga.
Dua orang pria yang terlihat seperti ayah dan anak turun dari
kereta maju mendekati pintu istana, "Saya dan anak saya ingin menemui Yang
Mulia, kemarin uang anak saya dicuri oleh temannya, saya mau anak itu dihukum
oleh istana!" Ucap sang ayah disana. Para prajurit dengan sigap membuka
gerbang yang telah lama tertutup untuk Laras.
Hati Laras seperti ingin meledak melihatnya, 10 bulan tanpa henti
dia selalu datang tapi gerbang itu tidak sedikitpun terbuka untuknya. Sekarang
gerbang itu terbuka lebar dengan mudahnya.
"Siapa mereka?" Laras dengan ragu bertanya pada warga di
sampingnya.
"Itu saudara dan keponakan Yang Mulia Raja, pantas saja
pintunya langsung terbuka." Jawab seorang warga disampingnya. Hati Laras
terasa semakin panas mendengarnya, hal itu sama saja seperti dia bilang "Mereka
orang penting Laras, kalau orang kecil seperti kita masalahnya tidak akan
didengar"
Tangan Laras yang kurus mulai gemetar, bukan karena ketakutan,
tetapi karena kemarahan yang telah lama ia pendam. Hari ini Laras lihaf dengan
mudahnya, gerbang itu terbuka lebar hanya karena yang datang adalah saudara dan
keponakan raja.
Laras memandang ke sekelilingnya. Wajah-wajah warga yang penuh
dengan harapan kini berubah menjadi cermin dari kemarahan dan kekecewaan yang
dirasakannya. Mereka semua menyadari satu hal yang sama—bahwa di negeri ini,
hanya mereka yang punya kekuasaan yang akan didengar, sementara mereka, rakyat
kecil, hanyalah bayangan yang tak pernah dipedulikan.
Walau marah hari itu Laras dan para warga pulang tanpa mendapatkan
apa-apa. Tapi satu hal yang pasti, ada tekad yang akan diwujudkan Laras di
kemudian hari.
Keesokan hari, Laras dan warga tidak lagi datang ke istana. Hal
tersebut meninggalkanperasaan heran di hati para prajurit. Laras dan warga baru
datang di hari ketiga setelah hari itu. Kali ini ada lebih banyak lagi warga,
Laras dan para warga membawa sesuatu di tangan mereka, sebuah obor. Obor yang
sama panasnya seperti hati Laras. Obor yang sama membaranya seperti semangat
para warga. Para prajurit mulai takut, mereka tidak mengira akan ada hal
seperti ini, mereka tidak sempat menyiapkan apapun untuk melawan.
Laras memimpin mendekati gerbang yang masih tertutup. Ia tidak
lagi peduli pada prajurit yang menatapnya dengan penuh ancaman, tidak peduli
pada apa yang mungkin terjadi padanya. Di dalam hatinya hanya ada satu
tujuan—mencari keadilan yang selama ini diabaikan.
Tanpa menunggu waktu lama, warga mulai bergerak. Mereka merobohkan
gerbang istana dengan kekuatan massa. Prajurit yang bertugas berusaha menahan
mereka, tapi jumlah warga terlalu banyak. Kemarahan yang telah lama terkumpul
kini meledak menjadi aksi yang tak terhindarkan.
Laras berjalan di antara warga, matanya tajam menatap ke arah
istana. Di tangannya, ia menggenggam obor itu masih menyala. Tanpa ragu, ia
mendekati pintu utama istana yang megah, yang selama ini tertutup rapat
baginya. Dengan tangan yang penuh dengan dendam dan luka, Laras melemparkan
obor itu ke pintu kayu besar, membiarkan api mulai menjilat bangunan yang
selama ini menjadi lambang ketidakadilan bagi dirinya dan rakyat.
“Ini untuk anak ku!” seru Laras dengan air mata yang mengalir
deras di pipinya, dia bisa melihat penghuni istana lari ketakutan “Ini untuk
semua anak yang hilang tanpa keadilan, untuk semua ibu yang menangis dalam
kesepian!”
Api mulai menyebar dengan cepat, membakar kayu-kayu yang sudah
lama kering. Warga lain mengikuti langkah Laras, melemparkan obor dan
benda-benda yang bisa terbakar ke arah istana. Malam itu, api membesar,
menjulang tinggi ke langit, seakan-akan seluruh negeri merespon panggilan
terakhir dari mereka yang selama ini tak didengar.
Prajurit yang tersisa berlarian, mencoba menyelamatkan diri,
sementara istana yang megah itu mulai runtuh sedikit demi sedikit, diiringi
teriakan kemarahan dan tangisan yang telah lama tertahan. Figur yang telah lama
didambakan akhirnya keluar menemui warga, yang mulia raja yang sudah hilang
mulianya. Dia kini hanya bisa berlari mencoba menyelamatkan diri.
Wahai rakyat kecil tak berdaya. Yang Mulia telah mati rasa. Namun
kini kita telah menghukumnya.
Di tengah api yang berkobar, Laras merasakan seberkas kedamaian
yang selama ini hilang. Iatahu bahwa mungkin tidak ada yang bisa mengembalikan
Raka padanya, tetapi setidaknya malam ini, ia berhasil mengirim pesan yang
jelas—keadilan tidak akan selamanya dibungkam. Bagaimana membangun negeri ini
lagi akan dipikirkan nanti karena negeri kecil ini sudah lama mendambakan
revolusi.
17 Agustus, 2024
SEKAR Edisi Agustus 2024 | Gladiola Agustus Karya Aura Virginia
Gladiola Agustus
Karya Aura Virginia
Bakung pedang, malam yang kelam,
dan bulan yang bersinar.
Dengan akar yang subur dan
bercahaya di senja hari.
Umbi yang bersinar dan memancarkan
keindahan ruas-ruasnya seperti bintang.
Bakung pedang, malam yang kelam,
dan bulan yang bersinar.
Tidak ada lagi suara-suara melengking yang
meneriakkan kata “aku ingin pedang
sesungguhnya!”
Sekarang belalang lah yang mengatakan “hidupkan
yang layu di bulan Agustus!”
Air menetes menelan manisnya tunasnya..
Bakung pedang, malam yang kelam,
dan bulan yang bersinar.
Kelopaknya meledak dengan suara seperti
sirup kental yang terendam.
Udara malam itu masih hangat, dengan segera
kelopaknya bersemi.
Gladiola yang merekah.
SEKAR Edisi Agustus 2024 | Payah Tak Hidup Karya Desy Aulia Faricha
Payah Tak Hidup
Karya Desy Aulia Faricha
Ingin sempurna selamanya
Menjadi bidadari dalam setiap pandang manusia
Lalu adakah tujuan lain di dunia?
Bukankah ini hanya persinggahan sementara?
Untuk jalan yang abadi nantinya
SEKAR Edisi Agustus 2024 | Membaca Sebagai Jendela Dunia Karya Diajeng Aditya Putri
Membaca Sebagai Jendela Dunia
Karya: Diajeng Aditya Putri
Dunia terhampar luas,
laut membentang tak berujung.
Bintang bertaburan di angkasa,
hutan belantara tak tembus mata.
Semua terlihat sempit bak jendela tertutup
Namun denganmu, ku buka imajinasi bebas,
mengembara melewati batas.
Engkaulah buku, kunci menuju keajaiban
PROFIL
TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...
-
TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...
-
Kamu Cukup, Selalu Karya Aura Alfisyahrani Sinopsis Ketika Bulan terbangun dalam tubuh Luna, ia menyadari satu kebenaran mengerikan. Kemat...
-
RESENSI BUKU BULAN JULI 2024 AYAHKU [BUKAN] PEMBOHONG – Tere Liye COVER Identitas buku Judul: Ayahku [Bukan] Pembohong Penulis: Tere Liye...
