Jumat, 04 November 2022

Kasih Ibu I Nindi Kristanti Rahmadani

 IDENTITAS PENULIS

Nama : Nindi Kristanti Rahmadani

Divisi : Humas

Jenis   : Cerita Pendek

 

KASIH IBU

 

Malam itu berbeda dari malam biasanya karena kedua kakak ku tidak bisa pulang cepat hari ini. Hanya ada aku di rumah ini. Sendirian. Malam itu rasanya sunyi sekali bahkan aku bisa mendengar langkah kakiku sendiri. Berjalan tanpa arah yang pasti hanya mengelilingi seisi rumah.

Menjadi anak terakhir memang membosankan dan menyedihkan. Dengan gontai aku berjalan menuju kamarku di lantai atas. Berjalan ke pojok ruangan dan mematikan lampu, berharap aku bisa cepat tertidur. Aku tidak ingin melewatkan malam-malam yang membosankan ini sendirian, Lagi. Kutarik selimutku dan bersiap untuk tidur. Namun, rasanya mata ini tak kunjung meraih gelapnya mimpi.

Kuraih laptop di sampingku yang sudah menampilkan deretan film horor. Aku jadi semakin kesal mengingat fakta bahwa hari ini seharusnya aku dan kedua kakakku menonton film bersama. Itulah hal biasa yang kami lakukan setiap malam minggu, duduk berdempetan sambil berpegangan tangan menonton film horor di depan layar laptop.

Tanpa sadar aku sudah memutar satu film yang seharusnya kami tonton hari ini, Pengabdi Setan. Menonton sendirian dalam kamar dengan lampu yang temaram cukup membuat bulu kuduk berdiri. Setelah layar laptopku menampilkan barisan nama pemain dan kru film. Aku menguap merasakan kantuk mulai datang. Namun,  terasa kering, dengan langkah berat aku turun ke lantai bawah menuju dapur untuk mengambil air minum.

Air perlahan memenuhi gelas minumku. Aku berjalan dengan hati-hati menuju kamar sambil membawa air minumku. Saat melewati ruang tamu langkahku terhenti tanpa sengaja menumpahkan sedikit air minumku. Rasanya tubuhku tidak bisa bergerak beberapa saat sebelum sendi-sendi tubuhku mulai melemas dan menyebabkan badanku meluruh jatuh ke lantai.

Ruang tamuku memiliki jendela kaca besar yang langsung menghadap halaman depan rumahku. Saat aku menuju dapur, aku memang tidak menyalakan lampu ruang tamu, hanya cahaya temaram dari lampu-lampu pojok ruangan yang menghiasi ruang tamu. Namun, aku bisa melihat dengan jelas siluet seseorang sedang berdiri di halaman depan rumahku dari jendela ruang tamu yang hanya tertutup tirai putih transparan itu.

Aku tidak berani untuk sekedar bergerak melihat keluar rumah. Bahkan aku masih terduduk di lantai berusaha mengumpulkan kekuatan untuk berdiri. Tanganku meraih handphone ku dari saku baju tidurku. Lega rasanya aku tidak meninggalkan handphone ku di kamar. Dengan tangan gemetar dan mata yang terus terpaku pada siluet itu, aku berhasil menekan 3 digit nomor panggilan darurat, 911.

 

Tut...Tut...Tut...

 

Tak pernah terbayang nada tunggu panggilan terasa sungguh menyiksa. Tanganku mulai basah oleh keringat karena panggilanku belum kunjung diterima. "911, Apa keadaan darurat Anda?" Aku bernafas lega setelah mendengar suara dibalik telepon.

"Bisakah kalian mengirimkan petugas polisi kerumahku?" Dengan nafas yang sedikit tercekat, aku meminta mereka mengirimkan seseorang ke rumahku.

"Baik, tolong berikan alamat Anda" Mintanya padaku.

"284 Green St, Enfield EN3 7LR”

"Bisakah kamu menjelaskan apa yang terjadi?" Petugas itu bertanya padaku. Aku yakin dia ingin memastikan keadaan darurat apa yang sedang aku alami.

"Ya, aku melihat ada seseorang di depan rumahku. Aku menduga dia seorang wanita, tapi aku juga tidak terlalu yakin karena aku takut untuk sekedar memastikannya" Dengan perasaan yang semakin tidak karuan aku hanya mampu menjelaskan apa yang aku lihat dari balik tirai transparan itu.

Petugas itu kembali bertanya padaku apa yang orang itu lakukan di depan rumahku. "Aku tidak tahu pasti apa yang dia lakukan, tetapi mungkin dia hanya tersesat atau mabuk yang jelas dia hanya diam dan tidak bergerak sedikit pun"

Ada jeda sebentar sebelum petugas itu kembali bertanya padaku yang membuat badanku kembali mematung mendengar perintahnya. "Kami sudah mengirim petugas ke rumah Anda. Namun saya ingin meminta Anda kembali memastikan bahwa pintu depan rumah Anda sudah terkunci"

"A-aku rasa aku yakin aku telah mengunci pintu depanku. Namun, sepertinya aku harus mengecek pintu belakang rumahku" Dengan terbata-bata aku mengatakan bahwa aku tidak yakin apa aku sudah mengunci semua akses di rumah ini atau belum karena biasanya kedua kakakku  yang selalu memastikan semua pintu rumah terkunci sebelum tidur.

Rasanya aku semakin merutuki nasib menjadi anak terakhir. Aku benci situasi ini. Dengan langkah berat aku berjalan ke arah pintu belakang rumahku. Pintu itu tepat ada di area dapur. Aku bernafas lega setelah memastikan bahwa pintu itu sudah terkunci.

Saat aku kembali ke ruang tamu, begitu terkejutnya aku hingga menjatuhkan handphone dari genggaman tanganku. Tanpa sadar aku sudah menjerit ketakutan karena melihat tirai putih transparan yang sebelumnya menutupi jendela kaca besar tersingkap. Dengan sekuat tenaga aku memberanikan diri mendekati gagang pintu depan rumahku untuk memastikan pintu itu terkunci.

"Halo..."

"Apa yang terjadi?"

"Tolong aku, aku sungguh ketakutan sekarang. Tolong cepat kirimkan seseorang ke sini" Aku berkata dengan nada panik campur ketakutan.

"Tolong tetap tenang, bisa ceritakan apa yang wanita itu lakukan?"

"A-aku kembali ke ruang tamu setelah mengecek pintu dapur dan aku melihat tirai jendela di ruang tamu sudah tersingkap dan aku berani bersumpah bahwa pintu depanku  juga sudah terkunci"

"Bantuan Anda akan segera datang, tolong tetap tenang dan kami ingin Anda menjelaskan apa yang wanita itu lakukan sekarang?"

Brak! Brak! Brak!

Belum sempat aku menjawab pertanyaan petugas itu, aku mendengar suara benturan keras yang menabrak kaca jendala ruang tamu. Tepat di depan mataku aku melihat wanita itu menabrakkan dirinya berkali-kali, berulang kali. Rasanya aku bisa mendengar suara retakan tengkorak kepalanya yang perlahan mulai mengeluarkan darah.

Aku menjerit begitu keras dengan tubuh membeku dan mata yang terus menatap ke arah wanita itu. Aku bisa melihat sorot matanya yang lurus tajam menatapku dengan mulut yang menyeringai lebar. Aku tahu dia tersenyum padaku.

"To-tolong aku...wa-wanita itu membenturkan dirinya ke jendela. TOLONG AKU!!" Aku menangis ketakutan dan sekuat tenaga meminta pertolongan. Aku tidak mampu untuk berdiri lagi. Tanganku gemetar, air mataku mulai memburamkan pandanganku. Suaraku tercekat tak mampu berteriak untuk sekedar menjerit ketakutan.

"Bantuan akan sampai 15 menit lagi. Apa dia mencoba masuk?"

"Halo?"

"Hiks...Hiks...wanita itu mencoba masuk. Dia memutar kenop pintu dan-"

...

"Halo? Tolong jangan tutup teleponnya.

...

"Halo?...Halo?"

"TOLONG AKU!!!"

...

Tut...Tut...Tut...

Panggilan terputus.

   

Aku merasakan tepukan ringan pada pipiku yang berusaha membangunkanku dari tidurku. Bukan dari tidurku, tapi mimpi burukku. Perlahan aku bisa melihat siluet samar-samar kedua kakakku yang berada di samping kasurku dengan wajah cemas. Tanpa sadar aku langsung menangis dan meminta pelukan pada keduanya. Aku mulai merasa sesak karena tangisanku yang tak kunjung berhenti. Tangisan lega karena aku bisa bangun dari mimpi burukku.

"Kakak...hiks...pokoknya aku gamau ditinggal lagi sendirian. Aku gamau mimpi buruk lagi sendirian" Kataku pada kedua kakakku.

“Iya, kita enggak bakal ninggalin kamu sendirian lagi, tapi sebelum itu kamu harus nemuin petugas polisi di depan. Mereka sudah nunggu kamu buat minta keterangan lebih lanjut soal kejadian semalem” kata kakakku menenangkanku.

Dahiku berkerut bingung mendengar apa yang dikatakan kakakku. Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku. Mengapa polisi itu ingin menemuiku? Bahkan aku tidak menghubungi mereka. Semua kejadian itu hanyalah mimpi buruk yang aku alami. Sampai aku sadar bahwa aku sudah dihadapan para polisi itu, duduk di ruang tamu menghadap jendela kaca besar yang berlumuran darah yang sudah mengering.

Tubuhku melemas dan kakiku tak mampu berdiri menopang berat badanku sendiri. Kakakku menuntun tubuhku untuk duduk di sofa ruang tamu. Mataku masih terpaku menatap jendela itu, tersadar bahwa semua hal aneh yang aku alami semalam bukanlah mimpi buruk membuat tubuhku gemetar ketakutan.

“kak...itu bukan mimpi” aku bertanya dengan nada ketakutan sambil menatap kakakku.

“selamat pagi, saya polisi yang ditugaskan untuk mendatangi rumah Anda, bisa dijelaskan kronologinya?” polisi itu mulai meminta keterangan tentang kejadian semalam. Dengan suara yang terbata-bata aku mulai menjelaskan bahwa wanita awalnya hanya berdiri di depan rumahku sebelum ia membenturkan kepalanya ke kaca jendela rumahku.

“Lalu saat wanita itu berhasil masuk ke dalam rumah apa yang ia lakukan? Kami sudah mengecek CCTV namun anehnya kami hanya melihat Anda sedang sendirian sejak Anda menghubungi kami sampai kami sampai ke rumah Anda. Kami hanya melihat bekas darah dan pintu yang terbuka dan Anda yang sudah tergeletak pingsan di ruang tamu”

Tubuhku semakin bergetar ketakutan saat tahu apa yang dikatakan polisi itu, bahkan aku hanya bisa menangis sambil mencengkeram kedua tangan kakakku. “Aku tidak sendirian malam itu, dia benar-benar mendatangiku, menatapku, dan membisikkan sesuatu...” kataku berusaha menjelaskan pada mereka.

“Apa yang wanita itu katakan?”

“Dia berkata...Dia akan menjemputku”

“Menjemput? Apa Anda kenal dengan wanita tersebut?” Aku menganggukkan kepalaku tanda bahwa aku memang mengenal wanita itu. Wanita yang mendatangiku semalam.

“Dia mama...mama yang mau menjemputku” Aku berkata dengan keadaan yang bergetar hebat sampai aku terus ditenangkan oleh kakakku.

“Maksud Anda? Anda ingin dijemput oleh Ibu Anda? Lalu mengapa Anda menghubungi kami? Apa Ibu Anda berbuat buruk terhadap Anda?

Sungguh tenagaku sudah terkuras habis oleh rasa takut akan kejadian semalam, bayangan bagaimana mata tajam itu menatapku dengan senyum seringai yang menyeramkan membuat aku tidak mampu untuk berbicara lagi.

“Dia mama kami...”

“Mama kami yang sudah meninggal satu tahun yang lalu” kata kakakku sambil menunjuk foto mamaku yang terpajang rapi di dalam lemari kaca.


 

Takdir I Farah Dwi Nurmala

IDENTITAS PENULIS

Nama : Farah Dwi Nurmala

Divisi : BPH

Jenis   : Cerita Pendek

 

TAKDIR

Beberapa hal memang berjalan tidak sesuai harapan. ketika itu terjadi, maka tidak ada yang dapat kita lakukan selain ikhlas. Mengikhlaskan sesuatu yang telah lama bersama kita memang tidak mudah, itu kata Papa. Papa pernah bilang, jika kita harus merelakan sesuatu yang berharga untuk kebaikan, maka itu takdir.

 

Kala itu usiaku 7 tahun, belum sepenuhnya mengerti apa yang Papa katakan kepadaku bahkan, lebih tepatnya tidak mengerti sama sekali karena aku hanya sibuk memakan es krim yang sudah meleleh sampai menetes jatuh mengotori rok merah seragam sekolahku. Masih aku ingat betul hari itu, hari dimana untuk pertama kalinya aku merasakan kehilangan. Kehilangan gantungan kunci boneka kelinci hadiah dari tante siwi, adik dari mama yang baru pulang dari manado. Aku menangis di depan sekolah sembari menunggu Papa datang menjemput. Sekian banyaknya orang yang berlalu lalang di depan sekolah, terutama para orang tua yang menjemput anak mereka atau teman-teman sekelasku yang keluar dari gerbang, tidak ada seorangpun yang bertanya kenapa aku menangis, miris.

 

Tidak butuh waktu lama, Papa datang. Saat itu Papa telat 7 menit. Bagaimana aku tahu? bukan aku yang menghitung, aku lemah dalam hal berhitung bahkan saat itu aku tidak melihat jam karena tidak memiliki jam tangan berwarna putih dengan lampu kelap-kelip jika tombolnya dipencet yang sedang tren saat itu dan semua temanku memilikinya, hanya aku yang tidak. Papa yang akan memberi tahu berapa menit Papa telat menjemputku seperti, “maaf ya Papa telat 3 menit” atau “nunggu lama ya? telat 5 menit soalnya, maaf ya”. Lucu sekali jika diingat. Kata Mama, Papa adalah manusia paling on time di dunia, dan aku setuju.

“Kamu nangis gara-gara papa telat 7 menit?, maaf ya cantik” kata Papa sambil menyeka air mataku dengan tangan kekarnya. Aku cemberut, pertanda Papa salah menebak, tapi saat Papa bertanya kenapa, aku tidak menjawab. Aku menunjukkan gantungan kunci di tas menghilang, Papa diam. Dalam hatiku, bukan reaksi seperti itu yang aku inginkan. Aku ingin Papa bereaksi khawatir, kaget atau panik seperti aku yang meluapkan kepanikanku dengan menangis.

“Oh... es krim siang-siang gini pasti enak.” aku menoleh ke Papa. Hebat, kata ‘es krim’ mampu membuatku berhenti menangis. Papa membelikanku es krim rasa vanilla, lalu kita pulang.

 

Bukan gantungan kunci boneka kelinci hilang yang ingin aku ceritakan, gantungan kunci itu hanya prolog yang pernah membuatku mengerti rasa kehilangan untuk pertama kalinya dan melewati rasa kehilangan itu bersama Papa yang selalu ada dengan kata bijaknya,

“Jika kita harus merelakan sesuatu yang berharga untuk kebaikan, maka itu takdir.” 

 

Seperti waktu itu juga, kelas berapa ya tepatnya? oh kelas 5 SD. Aku kehilangan komik serial kesukaanku. Sebelum berangkat sekolah, aku selalu memasukkan komik itu ke dalam tas. Tapi hari itu, komik itu hilang.

“Mungkin kamu pinjamin ke temanmu, terus kamu lupa”

“Aku ingat Ma, tadi malam masih ada”

Papa keluar dari kamar setelah mengambil kunci sepeda motor, “tandanya emang harus hilang”.

“Kok harus hilang sih, Pa?” tanyaku tidak setuju. “Selama ini kamu cuma baca komik, Papa liat buku pelajaranmu masih mulus seperti tidak pernah disentuh,” Mama menahan tawa karena perkataan Papa benar. Aku hanya bisa menunduk dan diam, apa yang Papa katakan memang benar.

“Jika kita harus merelakan sesuatu yang berharga untuk kebaikan, maka itu takdir.”  Lanjut Papa.

 

Papa adalah sosok yang sederhana dan irit bicara. Bicara seperlunya tapi mampu menyihir semuanya. Jika bukan karena Papa, tidak akan ada dokter di keluarga ini.

“Kamu mau gak jadi dokter? kalau Papa sakit kan tidak usah keluar uang buat bayar dokter” Celetuk Papa saat makan malam keluarga, usiaku 13 tahun waktu itu.

Mulai hari itu, setiap orang yang bertanya apa cita-citaku, aku jawab dengan tegas dan lantang,

“Dokter”.

 

Kelas 2 SMA, aku merasakan cinta pertama untuk pertama kalinya dan juga patah hati kepada orang yang sama.

“Ternyata sudah punya pacar, Pa”. 

“Wah… maaf anda belum beruntung” canda Papa.

Melihat aku yang sedih, mungkin itu menjadi pertama kalinya bagi Papa. Anak perempuan pertamanya menjadi korban atas rasa asmara yang datang dan pergi dengan menyakiti.

“Jika kita harus merelakan sesuatu yang berharga untuk kebaikan, maka itu takdir,” kepalaku semakin menunduk berusaha menyembunyikan air mata yang mulai menggenang di mata.

“Lagi pula, itu pertanda baik, supaya kamu lebih fokus belajar dulu, katanya mau jadi dokter. Kalau sudah jadi dokter, laki-laki mana yang mau nolak?” Lanjut Papa. Aku tersenyum memeluknya, aku menyadari sesuatu, bukan laki-laki itu cinta pertamaku tapi Papa.

 

Hari kelulusan dimana aku menyelesaikan kuliah kedokteran, “Mama lagi gak sakit apa-apa gitu?, biar diperiksa sama bu dokter cantik nih,” goda Papa. Aku tersenyum lebar, kita bertiga berfoto di taman kampus. Betapa bahagianya hari itu, Papa memelukku bangga.

 

Orang kampung rumah semuanya tahu, aku dokter. Setiap ada kerja bakti, ronda malam, pulang hajatan, dengan topik yang sama, “oh, anakku dokter. Belajarnya dari pagi sampai malam, bukunya banyak, sekarang sibuk sekali banyak pasien di rumah sakit, tidak bisa ditinggal”.

 

Sudah 2 tahun aku tidak pulang ke rumah. Dipindah tugaskan ke luar provinsi rasanya begitu berat. Meninggalkan Papa dan Mama jauh dari kampung halaman. Awalnya Papa selalu telfon setiap minggu, sering tidak aku angkat karena sibuk, lalu papa telfon sebulan sekali. Jawaban yang sama 2 tahun terakhir, “maaf ya Pa, kayaknya gak bisa pulang dulu”.

 

Sampai tiba hari itu, pasien rumah sakit sangat banyak. Kecelakaan baru saja terjadi, dua orang harus di operasi segera. Di lain tempat, telfonku bergetar, 4 panggilan tidak terjawab dari Mama. Aku ingin mengangkatnya, “Dokter Rara, ruang operasi sudah siap”, tidak jadi ku angkat telefon Mama, aku berlalu pergi menuju ruang operasi. Setelah 2 jam operasi selesai, aku segera membersihkan diri dan menuju kantor, telefon Mama.

24 panggilan tidak terjawab. Tidak seperti biasanya.

“Ma, maaf tadi aku ada operasi dadakan, jadi…”

“Papa nunggu kamu Ra dari tadi. Tapi sekarang sudah pergi”

“Kemana?”, Mama diam. “kemana Ma?” tanyaku lagi.

Hanya terdengar suara Mama menangis. Suara tangis Mama seakan sudah menjelaskan semuanya.

Hari itu, seakan duniaku runtuh. Papa yang selalu ada untukku. Papa yang menyeka air mataku, Papa yang selalu menasihatiku, Papa yang selalu menyemangatiku. Kini, sosok itu pergi, tanpa pamit. Bukan. Lebih tepatnya, aku yang tidak ada saat Papaku meminta pamit. Aku yang tidak ada saat Papaku sakit. “Dokter macam apa aku ini?!”.

 

Aku merasakan kehilangan mendalam. Kepedihan tiada terelakan. Andai saja aku tahu, telfon Papa kemarin adalah telfon terakhirnya, aku mau pulang. Andai saja aku tahu, telfon Mama adalah pesan terakhir Papa, aku mau mengangkatnya walau sebentar. Apa yang aku kejar? bukankah menjadi dokter sebenarnya juga dari Papa. Aku bisa jadi sekarang ini karena Papa. Setelah Papa pergi, bisa apa aku?

 

Aku menangis di telefon, “aku menyesal Ma, maaf. Ma…maaf”

“Jangan tinggalin Rara Pa, maaf Pa, aku telat… telat 2 tahun”.

 

Kehilangan Papa adalah mimpi terburuk untukku.

 

Sebulan berlalu tapi aku masih dalam kepedihan tak berujung. Aku tuliskan kisahku disini, mungkin hanya sepenggal kisah antara aku dengan             Papa yang mengajarkanku arti kehilangan, kepedihan dan takdir. Dengan jari-jari yang asyik menari-nari di papan ketik laptop, aku teringat kata bijak Papa,

“Jika kita harus merelakan sesuatu yang berharga untuk kebaikan, maka itu takdir.” 

Dari dulu aku tidak pernah meragukan perkataan Papa yang itu, tapi sekarang hanya satu pertanyaan terbesit di kepalaku,

“Kebaikan seperti apa yang tersisa ketika aku harus merelakan Papa?”.


 

Literasi I Fani Indra Saputra

 

IDENTITAS PENULIS

Nama : Fani Indra Saputra

Divisi : Literasi

Jenis   : Pantun

 

LITERASI

 

Jalan-jalan ke Medan

Tidak lupa membeli leci

Bersama Sahabat Pustakaan

Mari berkreasi

 

Sarapan pagi lauknya teri

Malam hari minumnya susu

Mari budayakan literasi

Karena literasi bertambahnya ilmu

 

Jalan-jalan ke Ciamis

Ke Ciamis membeli Dendeng sapi

Jika ingin wawasan luas

Perbanyaklah dengan literasi

Sabtu, 24 September 2022

Malaikat Tak Bersayap I Latifa Nur Natasyabila

 IDENTITAS PENULIS

Nama : Latifa Nur Natasyabila

Divisi : Kominfo

Jenis   : Puisi

 

MALAIKAT TAK BERSAYAP

 

Engkaulah pelita dalam hidupku

Menemaniku di kala aku kecil hingga dewasa

Mencurahkan kasihmu yang tak lekang oleh waktu

Membawaku ke dalam peliknya dunia

 

Tak jarang ku lukis guratan sedih di wajahmu

Tak jarang engkau terluka karena sikapku

Juga karena ucapanku

Beribu kata maaf tak kan bisa menghapus sedihmu

 

Memilikimu adalah suatu anugerah

Dikasihi olehmu adalah impian setiap manusia

Kehilanganmu adalah bencana

Aku tak kan sanggup membayangkannya

 

Engkau adalah satu-satunya yang bertahan

Ketika aku ditinggalkan

Ketika aku tak dihiraukan

Ketika aku diasingkan oleh manusia

 

Pintaku pada Tuhan

Aku ingin selalu bersamamu

Aku ingin mengukir senyuman di bibirmu

Aku ingin tertawa bersamamu selalu ibu

Kenangan yang Menjadi Lara I Muhyi Aditya Supratman

IDENTITAS PENULIS

Nama : Muhyi Aditya Supratman

Divisi : Literasi

Jenis   : Puisi

 

KENANGAN YANG MENJADI LARA

Pada setiap langkah yang menorehkan perasaan yang telah mati. Terdapat kamu yang menorehkan duka dalam sela – sela air mata yang bermula dari hati – hati. Titik pertemuan yang tidak pernah aku nanti. Setelahnya perasaan ini dimulai dengan hubungan yang telah kita sepakati. Perasaan yang sama menghantarkan kita pada hal – hal yang tidak pernah kita ratapi. Menjelma dalam sepi. Berbuah temu yang saling kita nanti. Dan, ada kamu disini.

 

Perjalanan hubungan ini adalah tentang kita dan cinta. Pada sejauh mana kita pernah bersama, aku pernah menjadi deru nafas yang saling memantapkan mata. Lalu menorehkan perasaan yang sama. Sebelum akhirnya memberikan luka. Kamu yang kujaga sekuat tenaga, ternyata memberikan lara paling duka. Masing – masing dari kita saling membunuh air mata. Tanpa kita sadari, kamu meruntuhkan logika.

 

Aku yang mengangkatmu ketika berhadapan dengan masa lalu mu yang pelik. Merindukanmu dengan baik. menjauhkan hal – hal buruk. Kepedihan telah menghantarkan kita pada reruntuhan bangunan yang aku ratapi. Kenanganmu tidak benar – benar menjadi baik bagi diriku. Lara yang menimpa, aku tetap dengan tetes air mata yang sempat menjadi teman perjalanan selama kamu pergi dan menginggali.

 

Kenangan kita indah. Begitu menawan melihatmu melalui instanstory. Ada hati yang sempat aku ingin tetap kuberi racun dalam meruntuhkan logika tentang wanita dan cinta. Karena, seutuhnya tidak ada yang benar – benar yang mencintaimu selain dirimu sendiri. melihatmu sekarang adalah mimpi tentang jarak yang menanti. Ujung cerita yang berupa perasaan yang kubiarkan untuk selamanya mati.

 

Di ujung penantian paling luka, ada kamu yang membuatku mati rasa akan sosok cinta. Tapi, aku tidak ingin meyerah. Karena sejatinya, wanita diciptakan untuk saling melengkapi kehidupan di dunia.


 

Kamis, 11 Agustus 2022

SEBERAPA PENTINGNYA MANAJEMEN SDM DALAM ORGANISASI? YUK SIMAK PENJELASANNYA! I DIVISI HRD

 

SEBERAPA PENTINGNYA MANAJEMEN SDM DALAM ORGANISASI? YUK SIMAK PENJELASANNYA!

 

Sumber Daya Manusia mempunyai arti keahlian terpadu yang bersumber dari daya pikir serta daya fisik yang dimiliki oleh setiap orang (Hasibuan, 2003:244). Lebih jelasnya, SDM merupakan suatu kemampuan pada setiap manusia yang ditentukan oleh daya pikir serta daya fisiknya. Sedangkan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) diartikan sebagai proses dan upaya untuk merekrut, memotivasi, mengembangkan, juga mengevaluasi sumber daya manusia secara keseluruhan yang diperlukan oleh perusahaan untuk pencapaian tujuannya (Sule dalam Husaini, 2017). Tujuan utama MSDM adalah untuk meningkatkan kontribusi sumber daya mansia terhadap organisasi. Organisasi tersebut mempunyai tujuan dalam memastikan pemanfaatan dan penggunaan keahlian serta kemampuan manusia secara efektif juga efisien untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh organisasi atau perusahaan.

Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) mengawasi komponen terpenting dari bisnis dan organisasi yang berjalan baik, yaitu tenaga kerja yang produktif dan berkembang. Seperti aset lainnya, tenaga kerja berbakat dapat digunakan secara strategis untuk menambah nilai bagi organisasi. MSDM bertanggung jawab tentang bagaimana mengelola Sumber Daya Manusia (SDM) secara strategis. MSDM juga bertanggung jawab terhadap hal berhubungan dengan staf dan aktivitas organisasi yang beragam berdasarkan pelaksanaan fungsinya. MSDM dalam organisasi adalah mengatur seluruh anggota agar secara efektif dalam melakukan pekerjaannya. Untuk dapat mencapai keefektifan tersebut, anggota harus dianggap sebagai aset, bukan biaya untuk organisasi.

          Manajemen sumber daya manusia sangat dibutuhkan untuk suatu organisasi, instansi maupun perusahaan dalam pengelolaan tenaga kerja atau karyawan. Jadi, hampir semua organisasi atau perusahaan menerapkannya, karena manajemen sumber daya mempunyai peranan yang sangat vital, yaitu:

1.       Menentukann jumlah, kualitas dan penempatan anggota yang sesuai dengan kebutuhan organisasi berdasarkan job description, job specification, dan job requitment.

2.       Menentukan penarikan, seleksi dan penempatan anggota berdasarkan atas asas the right man in the right place and the right man in the right job.

3.       Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan, promosi dan pemberhentian.

4.       Meramalkan penawaran dan permintaan sumber daya manusia pada masa yang akan datang.

5.       Memperkirakan keadaan perekonomian pada umumnya dan perkembangan organisasi kita pada khususnya.

6.       Memonitor dengan cermat Undang-Undang perburuhan dan kebijaksanaan pemberian balas jasa organisasi-organisasi sejenis.

7.       Memonitor kemajuan teknik dan perkembangan serikat buruh.

8.       Melaksanakan pendidikan, latihan, dan penilaian prestasi kerja pegawai.

9.       Mengatur mutasi pegawai baik vertikal maupun horizontal.

10.     Mengatur pensiunan, pemberhentian dan pesangonnya.

 

          Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa peranan sumber daya manusia sangat esensial dalam menjalankan suatu organisasi karena manusia merupakan kunci dari semua persoalan. Walaupun peranan manajemen sumber daya manusia yang dijelaskan sebelumnya hanya mencakup lingkup perusahaan atau organisasi pada umumnya, tetapi hal ini juga berlaku dalam lembaga pendidikan. Tenaga pendidik dan kependidikan sebagai sumber daya manusia pendidikan memegang peranan strategi terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diharapkan (Akilah, 2018: 532-533).

 

Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia

Tujuan-tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia ada empat, yaitu:

 

1.       Tujuan Organisasional

Ditujukan untuk dapat mengenali keberadaan manajemen sumber daya manusia (MSDM) dalam memberikan kontribusi pada pencapaian efektivitas organisasi. Walaupun secara formal suatu departemen sumber daya manusia diciptakan untuk dapat membantu para manajer, namun demikian para manajer tetap bertanggung jawab terhadap kinerja anggota. Departemen sumber daya manusia membantu para manajer dalam menangani hal-hal yang berhubungan dengan sumber daya manusia organisasional.

 

2.       Tujuan Fungsional

Ditujukan untuk mempertahankan kontribusi departemen pada tingkat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Sumber daya manusia menjadi tidak berharga jika manajemen sumber daya manusia memiliki kriteria yang lebih rendah dari tingkat kebutuhan organisasi.

 

3.       Tujuan Sosial

Ditujukan untuk secara etis dan sosial merespon terhadap kebutuhan-kebutuhan dan tantangan-tantangan masyarakat melalui tindakan meminimasi dampak negatif terhadap organisasi.

 

4.       Tujuan Personal

Ditujukan untuk membantu anggota dalam pencapaian tujuannya, minimal tujuan-tujuan yang dapat mempertinggi kontribusi individual terhadap organisasi. Tujuan personal anggota harus dipertimbangkan jika para anggota harus dipertahankan, dipensiunkan, atau dimotivasi. Jika tujuan personal tidak dipertimbangkan, kinerja dan kepuasan anggota dapat menurun dan anggota dapat meninggalkan organisasi.

 

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia

Adapun fungsi manajemen sumber daya manusia seperti halnya fungsi manajemen umum, yaitu:

 

a. Fungsi Manajerial

-       Perencanaan (Planning): Perencanaan adalah merencanakan tenaga kerja secara efektif serta efisien agar sesuai dengan kebutuhan organisasi dalam membantu terwujudnya tujuan. Perencanaan dilakukan dengan menetapkan program kerja.

-       Pengorganisasian (Organizing): Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasi semua anggota dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang, integrasi dan koordinasi dalam bagan organisasi.

-       Pengarahan (Directing): Pengarahan adalah kegiatan mengarahkan semua anggota, agar mau bekerja sama dan bekerja efektif serta efisien dalam membantu tercapainya tujuan organisasi.

-       Pengendalian (Controlling): Pengendalian adalah kegiatan mengendalikan semua anggota agar menaati peraturan-peraturan organisasi dan bekerja sesuai dengan rencana. Apabila terdapat penyimpangan atau kesalahan, maka akan diadakan tindakan perbaikan dan penyempurnaan rencana.

b. Fungsi Operasional

-       Pengadaan Sumber Daya Manusia (recruitment): Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan orientasi, dan induksi untuk mendapatkan anggota yang sesuai dengan kriteria kebutuhan organisasi.

-       Pengembangan (development): Pengembangan adalah proses penigkatan keterampilan teknis, teoritis, konseptual, dan moral anggota melalui pendidikan dan pelatihan.

-       Kompensasi (compensation): Kompensasi adalah pemberian balas jasa langsung dan tidak langsung, uang atau barang atau sertifikat kepada anggota sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada organisasi. Prinsip kompensasi adalah adil dan layak.

-       Pengintegrasian (integration): Pengintegrasian adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan organisasi dan kebutuhan anggota agar tercipta kerja sama yang serasi dan saling menguntungkan.

-       Pemeliharaan (maintenance): Pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik, mental dan loyalitas anggota, agar mereka tetap mau bekerja sama sampai masa periode yang berlaku.

-       Pemutusan Hubungan Tenaga Kerja (separation): Pemberhentian atau Pemutusan Hubungan Tenaga Kerja adalah putusnya hubungan kerja seseorang dari suatu organisasi. Pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan anggota, keinginan organisasi, periode kerja berakhir dan sebab-sebab lainnya

 

          Semua fungsi dalam manajemen tersebut akan dilaksanakan tergantung dengan kebutuhan, apakah akan dilakukan secara sederhana atau dengan tingkat kesulitan yang tinggi, dan dapat menggunakan hanya beberapa fungsi saja. Proses manajemen adalah interaksi dan saling keterkaitan antara beberapa fungsi manajemen yang digunakan. Dalam melakukan tugas manajerial, seseorang tidak terlepas dari kerjasama dengan orang lain dan dilakukan dengan proses step by step of doing something.

          Peranan manajemen sumber daya manusia dalam organisasi merupakan salah satu kunci keberhasilan kegiatan berorganisasi untuk mencapai tujuan dan fungsi yang diinginkan agar sumber daya manusia yang ada dapat turut serta berkonstribusi secara menyeluruh. Selain itu adanya manajemen sumber daya manusia dapat membantu mengatur kegiatan yang sesuai dengan kualifikasi masing-masing sumber daya manusia dalam pelaksanaan organisasi. Fungsi dari manajemen sumber daya manusia terdiri dari fungsi manajerial dan fungsi operasional yang saling membutuhkan kerjasama dengan berbagai pihak sehingga dapat mencapai tujuan yang terdiri dari tujuan organisasional, tujuan fungsional, tujuan sosial dan tujuan personal.

Merindukan Senyummu I Yeni Nurma Diana

 

IDENTITAS PENULIS

Nama : Yeni Nurma Diana

Divisi : Humas

Jenis   : Puisi

 

MERINDUKAN SENYUMMU

 

Merekah bagaikan bunga rembulan

Entah dari sudut mana pun kau melihatnya

Rasa yang tak akan pernah hilang

Inikah yang dinamakan kerinduan?

Naluri berkata bahwa engkau sebabnya

Dalam diam ku coba mengingatnya

 

Untuk masa – masa indah itu

Kan ku ukir senyummu dalam pikiranku

Aku rindu padamu

Namun aku sadar, kerinduan ini tak berguna

 

Senyummu itu…

Entah tak bosan ku melihatnya

Nyaman, hangat, dan bersinar

Yakinkah aku bisa melupakannya?

Oh, itu mustahil

 

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...