Senin, 26 Desember 2022

Seri I Dhita Nurul Fitri

 IDENTITAS PENULIS

Nama : Dhita Nurul Fitri

Divisi : Literasi

Jenis   : Cerita Pendek

 

SERI 

 

            “Aku tidak punya mimpi.”

            Mendengar kalimat itu aku terkejut. Aku tidak menyangka mendengar kalimat seperti itu dari seorang Tian. Tian adalah seorang teman yang sangat berbanding terbalik denganku. Dia terkenal, pintar, produktif, dia bersinar, dia disukai semua orang. Jika aku harus mendeskripsikan diriku, maka semua yang ada pada diriku adalah kebalikan dari Tian. Kubalas kalimat Tian dengan sarkas.

            “Kenapa bisa seseorang sepertimu tidak punya mimpi. Kau punya segalanya, bahkan mimpi bukanlah hal besar untukmu.”

            Tian memandangku bingung, sepertinya dia terkejut aku membalas perkatannya seperti itu. “Kalau begitu aku tanya, apa tujuan hidupmu Jamal?” Tian bertanya.

            Aku berpikir sejenak, “Tujuan hidupku adalah, hidup dengan baik, memiliki pekerjaan yang bagus, gaji yang cukup, bisa berkeluarga yang damai, menghabiskan masa tuaku dengan tenang, dan mati dengan damai,” aku memang menjawab seperti tapi sebenarnya itu bukanlah jawaban yang kupikirkan.

            Tian hanya menganggukan kepalanya seolah mengerti kemudian dia menjawab, “Tujuan hidup yang sederhana,” dia hanya menjawab satu kalimat itu kemudian terdiam. Sepertinya dia memikirkan sesuatu. Karena dia terdiam, aku juga mengajukan pertanyaan yang sama.

            “Lalu kau sendiri, apa tujuan hidupmu?” Tian tampak berpikir dalam, alisnya berkerut. Kemudian dia menjawab, “Aku hanya ingin hidup.” 

            Aku tertawa terbahak mendengar jawabannya. Jawaban yang benar-benar mengejutkan, aku merasa kita berdua memang cocok berteman. Tian di sampingku melihatku dengan terkejut. “Kenapa kau tertawa?” dia bertanya dengan polosnya. 

            Masih dengan sedikit sisa tawa aku menjawab, “Enggak-enggak, lucu aja. Seorang Tian, tujuan hidupnya adalah hanya ingin hidup. Bukannya itu terlalu simpel ya?”

            “Emang selama ini kamu liat aku sebagai orang yang kayak gimana, aku gak boleh punya tujuan hidup yang simpel gitu?”

            “Selama ini aku selalu liat kamu sebagai orang yang hidupnya keren, dan bakal punya impian atau tujuan hidup yang sama kerennya,” jawabku blak-blakan. 

            “Padahal aku juga sama kayak orang biasa,” Tian menjawab. Kami berdua sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang bersuara, menyadari hal itu aku berusaha untuk melanjutkan obrolan kita.

            “Kenapa tiba-tiba bahas mimpi sama tujuan hidup?”

            “Tadi aku gak sengaja denger, temen-temen cewek lagi bahas impian mereka, baru sadar kalau aku ternyata gak punya impian,” jawabnya. Kemudian Tian melanjutkan, “Makanya, aku kira kalau ngobrol sama kamu aku bisa tahu dan sadar tentang impianku. Tapi kayaknya percakapan kita gak menghasilkan jawaban yang aku cari,” dia sedikit mengeluh tentang hal itu.

            “Ya maaf deh,” aku hanya bisa minta maaf sederhana.

            “Tapi percakapan kita gak sepenuhnya gak ada artinya kok. Aku jadi tahu satu hal tentang kamu,” Tian mengucapkan itu dengan wajah yang sulit aku mengerti, tapi aku merasa telah membongkar rahasia ku padanya secara tidak sengaja.

            “Apa yang kau tahu?” aku tidak bisa tidak bertanya. Jantungku berdetak kencang menunggu jawaban Tian. 

            “Jamal, kau dan aku sama. Mungkin karena itulah kita bisa berteman,” setelah tersungging sebentar, dia meninggalkan ku dalam kebingungan. Sama? Apa persamaan dari kami berdua? 

***

            Haah. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menghentikan ini. Sepertinya aku benar-benar sudah terbakar habis. Setumpuk abu tidak mungkin kembali jadi kayu bukan? Maka sepertinya aku juga sudah tidak bisa kembali menjadi manusia. Oh bukan! Aku hanya setengah manusia, karena fisikku masih sama seperti manusia. Srek. Sial! Kaget aku! Wah, bergerak. Masih punya semangat hidup rupanya. Pemandangan ini yang aku suka! Srat!

***

            Apa maksud dia sebenarnya? Sama? Apa persamaan diantara kita? Sial! Tian, kau benar-benar menyebalkan. Tidak cukup kau adalah seseorang yang mendapatkan semua perhatian dan bukannya aku. Sekarang kau juga mengusikku. Wajah menyebalkannya yang terkakhir kali kulihat, itu bukan ekspresi biasa. Aku yakin dia pasti tahu sesuatu…sesuatu…tidak mungkin kan. Haha, bagaimana bisa dia tahu hal itu. Tidak-tidak, dia tidak akan tahu! Lalu apa! Apa maksud senyum menyebalkannya itu! Dasar! Tian!

***

Pagi ini, ditemukan kembali seorang mayat wanita tanpa identitas. Mayat tersebut ditemukan mengapung di sungai oleh warga sekitar. Polisi yang datang ke TKP tidak dapat menemukan petunjuk lainnya selain tubuh korban yang diperkirakan sudah mengapung di sungai selama berhari-hari. Saat ini polisi masih terus mencari bukti-bukti yang diperlukan, dan polisi juga memperluas kemungkinan apakah mayat kali ini berhubungan dengan 3 mayat wanita yang ditemukan sebelumnya. 

***

            Aku harus menemui Tian hari ini, entah kenapa aku benar-benar tidak bisa tenang beberapa hari ini. Sepertinya rahasia terbesarku telah tidak sengaja kubuka. Tian sialan yang terlalu pintar itu menyadarinya. Aku yakin itu. Sial! Dimana dia? 30 menit sudah aku menunggu disini. Apakah dia tidak membaca pesan yang kukirimkan? Tidak biasanya dia terlambat.

            “Jamal!”

            Akhirnya dia datang. Aku berpaling kearah suaranya berasal. Wajah menyebalkannya tersenyum jahil. Dia tahu alasan aku memanggilnya tanpa harus kuberitahu. Bajingan! 

            “Apa yang mau kau bicarakan?” dia bertanya.

            “Kamu tahu kan?” tanyaku. 

            “Tahu apa?”

            “Kamu tahu tentangku kan! Enggak-enggak, kamu pasti menyadarinya kan! Cepat katakana padaku!” aku cengkram bagian atas kaosnya. Aku tidak sabar, aku berdebar, aku takut! Dia pasti tahu!

            “Wooh, santai dong. Gak usah emosi. Lepas dulu,” dia melepaskan tanganku dari kaosnya. “Kalau yang kau maksud tentang ‘itu’ ya tentu saja aku tahu. Mudah untuk membaca orang sepertimu Jamal.”

            Nafasku berat. Seluruh tubuhku bergetar. Aku…apa yang harus aku lakukan? A-aku, aku takut.

***

            Apa ini?! Ini menyenangkan! Tidak kusangka dia bergetar. Padahal selama ini aku menganggap dia lawan yang tangguh. Ternyata tidak lebih dari hanya seorang pengecut yang sedang coba-coba. Bagaimana jika aku memprovokasinya sedikit lagi?

***

            “Kenapa kau gemetar Jamal?”

            Aku tersadar dari ketakutanku. Tenang Jamal, aku tidak boleh membongkar yang lainnya juga. Aku harus ingat orang di depanmu ini adalah Tian. Bajingan menyebalkan. Kami saling bertatapan untuk waktu yang lama. Aku memikirkan segala cara untuk bisa balik melawannya. Apa? Apa? Kenapa aku tidak terpikirkan satu ide pun? Berpikirlah Jamal!

            “Kalau begitu, bukannya kau juga sama denganku dalam hal ini Tian?” aku menemukannya! Sesuatu yang bisa membuatnya goyah.

            “Hahaha!” apa?! Kenapa dia tertawa? Apakah ini tidak berhasil menggoyahkannya?

            “Aku sudah katakan padamu bukan, kita sama. Kau dan aku Jamal, kita sama. Tidak perlu kau coba-coba untuk menggoyahkanku dengan kalimat seperti itu. Dari awal aku memang mengakui kau dan aku sama, yang menolak justru kau kan?”

            Sial! Apa ini?! Dia tidak goyah. Lalu, apa ini artinya aku kalah?

            “Tenang Jamal, tenang. Kau tidak harus mengalah. Aku tahu kita ‘bersaing’ tapi kita tetap bisa bersaing secara sehat kan. Lagipula poin kita seri. Tidak harus ada pemenang diantara kita. Aku lebih suka kita seri, bukankah dengan itu tujuan hidup kita bisa tercapai?” 

            Bajingan tengik! Sialnya, semua perkatannya benar. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat tanda pada masing-masing ‘hasil’ kita? Mungkin sebuah kata atau kalimat yang diukir akan bagus,” aku menawarkan. Dia tersenyum puas. 

            “Bagus! Aku suka! Oleh sebab itulah kita berteman Jamal, hahaha! Baiklah, aku akan memilih hanya ingin hidup. Bagaimana denganmu?”

            “Aku akan memilih aku takut mati. Itu adalah ketakutanmu kan, Tian?” Tian terkejut. Bagus, walau sedikit aku harus bisa mengguncangnya. Dia tertawa lagi, mungkin dia senang dan terkejut aku bisa mengetahuinya. 

            Dengan ini, ‘persaingan’ kita berdua yang dilakukan secara sehat dimulai. Hanya Ingin Hidup, Aku Takut Mati akan terukir disetiap ‘hasil’ kami. 

***

Dalam dua bulan ini, kepolisian dan juga masyarakat dibuat gempar. Hanya dalam waktu dua bulan, wanita yang dibunuh dan dibuang identitasnya berjumlah 8 orang. Polisi dan aparat yang berwenang sedang berusaha keras untuk menyelesaikan masalah ini dan menangkap si pelaku. Polisi memperkirakan ini perbuatan dari dua orang, hanya saja polisi tidak mengumumkan bukti spesifik dari hipotesa tersebut karena bersifat rahasia. Tetapi berhasil menemukan sebuah petunjuk, bahwa bukti ekslusif itu berupa tulisan tentang hidup dan mati. Bagi para wanita di luar sana diharapkan berhati-hati terhadap lingkungan sekitar, dan jangan berkeliaran sendirian pada malam hari. 

***

            Aku hanya ingin hidup, aku takut untuk mati. Untuk itulah aku harus tetap bertahan hidup. Sesuai dengan prinsip hidup, membunuh atau dibunuh. Aku hanya bertahan hidup, yang kulakukan tidak salah. Apalagi ternyata, teman tersayangku juga memiliki tujuan yang sama denganku. Mungkin pada saatnya nanti hanya akan tersisa aku dan temanku. Mungkin pada saat itulah prinsip membunuh atau dibunuh bisa benar-benar aku terapkan dengan baik. Haha. 

 

 

 

Garis Takdir I Devi Ristawati

 IDENTITAS PENULIS

Nama : Devi Ristawati

Divisi : Humas

Jenis   : Cerita Pendek

 

GARIS TAKDIR

Seorang gadis dengan rambut sebahu sedang menikmati angin sore di balkon rumahnya. Rambut tipisnya yang terurai bergetar akibat angin semilir yang bertiup sedikit kencang. Jari-jarinya menyentuh pembatas balkon. Ia menghela nafas panjang, cairan kental berwarna merah menetes ke permukaan baju yang sedang ia kenakan. Hidungnya mengeluarkan darah segar diikuti dengan rasa sakit luar biasa yang menghantam kepalanya. Ia mengusap hidungnya kasar menggunakan telapak tangannya. Tak lama, penglihatannya mulai mengabur dan semakin menghitam. 

“Aws! s-sakit, hiks..” lirihnya pelan.

“Arggghh” erang nya sembari memegangi kepalanya kuat-kuat.

Brugh!!

Gadis itu ambruk. Seketika ia tak sadarkan diri.

Namanya Elfa Sifabella. Seorang gadis yang mederita penyakit leukimia. Tahun ini ia genap berusia 16 tahun.  Kegiatan rutinnya setiap bulan adalah kemoterapi. Rumah sakit telah menjadi rumah keduanya saat ini. Tak jarang ia bolak-balik rumah sakit untuk sekedar check up mengenai perkemabangan penyakit yang bersarang di tubuhnya. Ia adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakanya, Feno adalah mahasiswa semester 6 yang kini sedang merantau di kota lain. Papanya merupakan seorang pengusaha tekstil yang sering bekerja ke luar kota. Sementara Elfa, kerap kali merasa kesepian di rumah karena hanya tinggal berdua dengan sang Mama.

***

Sinar matahari masuk menerobos celah-celah ruang instalasi rawat inap seorang gadis yang kini terbalut selimut di tubuhnya. Elfa membuka matanya perlahan. Ia kaget melihat dirinya terbangun di ruangan bernuansa serba putih ini. 

“Ma....” lirih Elfa dibalik alat bantu pernapasan yang menutupi hidung serta mulutnya.

“Adek udah sadar?” tanya sang Mama pada Elfa. Elfa yang masih dalam kondisi setengah sadar hanya tersenyum kecil.

“Adek kemarin pingsan, jadi Mama langsung bawa ke rumah sakit. Kata dokter, adek harus rawat inap dulu di sini, sayang.” Ucap sang Mama menjelaskan. Elfa mengangguk dan tersenyum membuat hati orang yang melihatnya tersentuh. 

 “K-kakak?” ucap Elfa nyaris tak teredengar. Elfa sontak kaget kala pintu ruangannya terbuka menampakkan Feno yang berdiri tegap membawa sebuah kue lengkap dengan lilin di atasnya.

“Selamat ulang tahun adek.” Ucap sang kakak sembari berjalan mendekat menuju ranjang tempat Elfa berbaring. 

“K-kakak datang?” tanya Elfa.

“Iya dong, kan sekarang hari ulang tahun adek. Karena adek belum bisa tiup lilin, kakak wakilkan aja ya. Adek jangan lupa berdoa.” Ucap sang kakak. Elfa mengiyakan ucapan dari sang kakak. Ia menutup matanya sebentar melangitkan doa, kemudian dilanjut Feno meniup lilin-lilin tersebut. 

“Selamat ulang tahun putri kesayangan Mama. Adek yang kuat ya sayang, jangan nyerah. Mama percaya Adek bisa sembuh kok. Mama juga selalu dukung Adek, yang penting Adek janji bakal sembuh.” Sang Mama tersenyum lalu mengecup kening anaknya.

“Makasih ya ma, udah merawat Elfa selama ini. Makasih juga kak” ucap Elfa. 

Tok tok...

Seorang pria berjas putih lengkap dengan stetoskop di lehernya tiba-tiba masuk ke ruangan itu.

 “Orang tua dari pasien atas nama Elfa?” tanya dokter. Mama Elfa mengangguk cepat.

“Ikut ke ruangan saya, ada beberapa hal penting yang harus saya katakan mengenai Elfa.” Tambahnya lagi.

“Baik.” Jawab Mama Elfa sembari mengikuti dokter keluar dari ruangan tempat Elfa dirawat.

***

“Jadi gimana, dok?” Mama Elfa bertanya khawatir tentang keadaan putrinya.

Sang dokter menghela nafas beberapa kali kemudian menjulurkan kertas laboratorium yang ia pegang di tangan kanannya. 

“Kanker di tubuh Elfa sudah stadium dua. Penyebaran sel kanker di tubuh Elfa semakin cepar berkembang. Menurut perkiraan saya, Elfa bisa bertahan hidup 4 sampai 5 tahun lagi. Saya sarankan Elfa segera melakukan transplantasi sumsum tulang belakang sebelum terlambat.” Jawab dokter. 

DEG.. Mama Elfa sangat terpukul dengan kenyataan ini. Ia putus asa kala mendengar kata demi kata yang dokter tadi katakan. Sungguh ia tak menyangka Elfa terserang penyakit yang tergolong mematikan itu. 

“Tapi itu kembali kepada yang maha kuasa, yang pasti Elfa harus terus berusaha dan  berdoa” lanjut sang dokter sembari melengkungkan bibirnya dengan hangat. 

“Elfa pasti sembuh kan dok?” tanya Mama Elfa menatap sang dokter.

“Saya tidak bisa menjamin, tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan Elfa” ucap sang dokter.

“Tapi yang saya khawatirkan untuk mencari pendonor sumsum tulang belakang ini cukup susah, biasanya sesama anggota keluarga memiliki kecocokan yang lebih besar. Saya harap ibu bisa berembuk dengan anggota keluarga yang lain” tambahnya lagi.

***

“Gimana kata dokter ma?”

“Separah itu ya, Ma?” tanya Elfa menatap sang Mama. Mama Elfa menghela nafas berat lalu mengangguk.

“Elfa jangan sedih ya, tadi dokter bilang Elfa harus segera melakukan transplantasi sumsusm tulang belakang.” Jawaban sang mama benar-benar membuat Elfa down.

Kini Elfa tak mempunyai semangat lagi untuk hidup. Butiran bening tanpa aba-aba berjatuhan membasahi pipinya. Segera ia mengusap air matanya perlahan. Batinnya meronta, ingin menyerah pada penyakitnya. Apakah hari ini adalah hari ulang tahunnya yang terakhir? Apakah ia tak punya harapan untuk sembuh? Apakah hidupnya akan berakhir seperti ini? akhhh.. hidup ini tak adil.

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Elfa. Ketakutan akan kematian menyeruak di dadanya.  Namun, itu semua adalah takdir. Hidup dan mati seseorang adalah takdir mutlak yang sudah dicetuskan Tuhan pada setiap makhluk-Nya. 

***

Elfa mengambil gawainya yang berada di meja dekat ranjang tempat ia tidur. Segera ia menelfon lelaki yang dicintainya, Papa.

“Hallo....Assalamualaikum, Pa”

“Papa kapan ke rumah sakit?”

“Waalaikumsalam. Iya sayang,  ini Papa lagi di jalan menuju rumah sakit.”

“Elfa pengen Papa cepet sampai. Elfa kangen Papa.”

“Sebentar lagi ini udah mau sampai kok.”

“Pokoknya cepetttt. Elfa pengen ketemu Papa. Udah seminggu Papa belum pulang, Elfa kangen Papa.”

“Iya sayang, iyaa. Sabar dong sayang. Anak papa ini ga sabaran banget ya hahaha.”

“Papa sampai lupa, selamat ulang tahun ya putri Papa yang cantik. Semoga lekas sembuh, dan bisa pulang. Tetap jadi anak kesayangan Papa yang manis ya.”

“Oh iya, Elfa pengen kado apa nih dari Papa”

“Makasih Papa. Elfa ga pengen apa-apa kok dari Papa. Dengan adanya Papa di samping Elfa, itu udah cukup buat Elfa.”

“Hahahah bisa aja putri Papa. Ya udah sampaikan sama Mama kalo Papa udah mau sam—“

TIIIINN TINNN!!! BRAAKKKK!!! DUARRRR!!

“Pa?”

“Papa”

“Halo, Pa?”

“Papa ga papa kan?”

“Pa?”

“Jawab Elfa, Pa!!”

“P-Papaa”

Tiba-tiba mata Elfa berkaca-kaca, dadanya sesak dengan keringat yang mulai mengguyur sebagian tubuhnya. Ia segera memanggil Mama dan kakaknya yang sekarang berada di luar kamar.

“Ma..Mamaaa... Maaa...”

“Kakkk”

Teriakan Elfa membuat sang Mama dan Feno panik.

“P-Pa-Papa, ma!!”

“Papa kenapa?” 

Suara Elfa tercekat. Elfa menjerit-jerit dalam tangisannya. Melihat kesedihan di mata Elfa, membuat Feno menjadi panik dan mendekati sang adik.

“Papa kenapa, dek??”

“Ta-tadi Elfa telfon Pa-Papa, hiks...”

“Te-teruss ada suara ta-tabrak-kannn”

“Bicara yang jelas, Elfa!!”

Feno mengguncang bahu Elfa. Tak lama setelah itu, Elfa kembali drop dan tidak sadarkan diri. Sementara sang Mama terduduk lemas dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.

“ARGHHH!! Enggak!! Enggakk!! Ini gak mungkin!! ” Feno berusaha menyangkal ucapan sang adik. Ia kemudian berlari kencang keluar kamar untuk memanggil dokter.

Dokter segera memeriksa kondisi Elfa. Tangisan sang Mama semakin menjadi ketika dokter menyatakan bahwa Elfa harus melakukan transplantasi sumsum tulang belakang sesegera mungkin. Hancur hati wanita dua anak itu kala mendengar putri satu-satunya harus dioperasi dalam waktu dekat. Ditambah lagi berita sang suami yang kini mengalami kecelakaan. Sementara itu, Feno langsung mengambil ponsel Elfa yang kebetulan telfon dengan sang Papa masih terhubung.

“Halo?”

“Papa??” Feno semakin panik.

“Hallo... Maaf saya bukan orang yang punya ponsel. Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan tunggal di Bundaran Waru.” Ucap penerima telfon tersebut yang tidak diketahui siapa orangnya.

“Saya cuma mau kasih tau kalau pemilik ponsel ini di bawa ke rumah sakit Bhayangkara Surabaya.” Tambahnya lagi.

Sang Papa dibawa ke rumah sakit tempat Elfa dirawat. Karena kebetulan tempat kejadian tak jauh dari rumah sakit itu. 

***

Dengan sempoyongan, kini Mama Elfa duduk di ruang tunggu. Ia menunggu sebuah operasi  yang beberapa waktu lalu menggemparkan hatinya. Tak disangka, lelaki yang ia cintai kini terbaring lemah di sebuah ruang penentu antara hidup dan mati. Sementara Feno berada di depan ruangan tempat Elfa dirawat, yang kebetulan berada tepat di sebrang koridor ruang operasi.

Takdir berkata lain, wajah dokter yang keluar sudah menjadi jawaban. Kabar duka dari dokter membuat wanita paruh baya itu syok dan benar-benar tidak menyangka. Jeritan tangis sang Mama membuat Feno segera berlari menuju ruang operasi meninggalkan Elfa yang masih tidak sadarkan diri. Wanita paruh baya itu menangis histeris kehilangan separuh jiwanya secara tak terduga. Feno berusaha untuk menahan tangisnya, padahal hatinya amat terluka. Air mata yang sangat berat dan susah ditahan itu membuat suasana menjadi mencengkam.

***

            Elfa menatap kosong ke langit-langit ruangannya. Wajahnya yang tampak begitu pucat dengan bibir yang begitu kering membbuatnya terlihat seperti mayat. Feno yang sedang duduk di kursi sampingnya terkejut melihat Elfa membuka kedua matanya. Ia langsung bergegas meninggalkan ruangan untuk memanggil dokter. Tak lama, Feno kembali dengan seorang dokter yang langsung memeriksa keadaan Elfa.

“Elfa bisa dengar saya?” tanya dokter 

Elfa tak menjawab pertanyaan dokter dan hanya menatap kosong langit-langit kamar.

“Elfa, jika dengar saya tolong anggukkan kepala.” Ucap dokter yang kini dibalas dengan anggukan pelan.

“Syukurlah Elfa sudah sadar setelah seminggu koma.” Tambah dokter itu.

“Alhamdulillah, kamu sudah bangun juga sayang dari koma. Mama kira, Mama bakal kehilangan adek juga.” Sang Mama berucap hingga meneteskan air mata.

“Juga?” tanya Elfa bingung.  

“Papa dimana? gimana keadaan Papa?” tanya Elfa dengan suara lemah.

Hening. Tidak ada yang berani bicara. Mata Elfa beralih menatap wajah Feno yang sudah pucat pasi.

Mama Elfa langsung memeluk Elfa erat tanpa memberikan jawaban atas pertanyaanya.

“Papa udah ga ada, dek”. Ucap Feno

“Kemana? Papa kemana? Papa udah janji mau ketemu Elfa.”

“Papa.... Meninggal.” Feno menjawab ragu-ragu karena takut Elfa drop lagi.

“Engga, ga mungkin. Kakak bercanda kan? bercandanya ga lucu, ih. Mama, ini ga bener kan, Ma?”

“Mama....” 

***

Hembusan angin menerpa wajah pucat Elfa. Kini ia sedang berada di luar kamar tempat ia rawat inap. Tentunya dengan selang dan infus yang selalu mengikuti kemanapun Elfa pergi. Ia menghela nafas panjang seraya menyandarkan bahunya pada sandaran kursi roda. Ekor matanya melirik ke arah televisi yang terpasang di ujung koridor tempat Elfa duduk.

Elfa tidak menyangka di hari ulang tahunnya ia harus kehilangan sosok Papa di hidupnya. Baru saja ia bangun dari koma malah dikejutkan dengan kematian Papanya. Sungguh kado ulang tahun yang benar-benar tak terduga. Elfa terus saja menyalahkan diri sendiri. Semua ini salahnya. Kepergian Papa adalah salahnya. Andai saja Elfa tak menelpon, andai saja tak menyuruh Papa cepat ke rumah sakit, andai saja Elfa tak sakit, andai.... andai saja Elfa tak butuh donor sumsum tulang belakang.

“Eh tunggu? Siapa orang yang menjadi pendonor sumsum tulang belakang untukku?” Elfa bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

“Kak Feno.. atau Papa?”

“Papa?”

Jumat, 04 November 2022

Hubungan Masyarakat di Dunia Maya I Tiara Pratjna Paramitha

 

Hubungan Masyarakat di Dunia Maya

            Teknologi menjadi salah satu bagian dalam perkembangan peradaban dan kebudayaan yang tidak dapat dihindari dan terus berkembang bersamaan dengan kebutuhan manusia. Dengan berkembangnya teknologi yang semakin massif membuat masyarakat harus berubah. Di era pasca industri hampir tidak ada aspek kehidupan manusia yang lepas dari kehadiran teknologi dan informasi yang dengan cepat mengubah tatanan kehidupan dan gaya hidup masyarakat. Perkembangan teknologi yang ditandai dengan munculnya internet serta diikuti majunya bidang komunikasi mempermudah masyarakat dalam menjangkau dan memenuhi kebutuhan hidupnya.

            Sebelum membahas mengenai hubungan masyarakat di dunia maya, apakah kalian sudah memahami konsep dari kehidupan sosial? Karena kehidupan sosial ini terlibat dalam hubungan masyarakat. Nah untuk penjelasannya yaitu kehidupan sosial merupakan proses interaksi yang membangun, memelihara dan mengubah kebiasaan tertentu, termasuk dalam bahasa dan simbol. Pengamatannya tidak hanya fokus pada struktur saja, tetapi juga bagaimana bahasa digunakan untuk membentuk struktur sosial, dan bagaimana bahasa dan simbol-simbol lainnya direproduksi, dipelihara, dan diubah dalam penggunaannya.

            Komunikasi juga merupakan kegiatan primer tidak akan lepas dari seluruh manusia. Komunikasi dapat ditafsirkan suatu proses penyampaian maksud atau pesan dari satu atau dua arah dari sang komunikator kepada komunikan,dengan atau tanpa media (alat bantu) dengan tujuan untuk mencapai saling pengertian dan mengubah pikiran serta perilaku. Ada dua jenis komunikasi dalam bentuk penyampaiannya : verbal dan non verbal. Verbal meliputi lisan dan tulisan, sedangkan non verbal meliputi ekspresi wajah dan bahasa tubuh.

            Pada saat ini internet telah menjadi fenomena budaya baru (new culture), pada awalnya internet sebagai sebuah budaya (culture) menjadi model komunikasi yang sederhana bila dibandingkan dengan model komunikasi secara langsung (face to face). Interaksi secara langsung tidak hanya melibatkan teks sebagai simbol atau tanda dalam berinteraksi semata. Ekspresi wajah, tekanan suara, cara memandang, posisi tubuh, agama, usia, ras dan sebagainya merupakan tanda-tanda yang juga berperan dalam interaksi antar-individu. Dalam komunikasi termediasi komputer (computer mediated communication) interaksi terjadi berdasarkan teks semata, justru emosi pun ditunjukkan menggunakan teks, yakni dengan simbol-simbol dalam emoticon. Sebagai sebuah kultur, internet merupakan konteks institusional maupun domestik di mana teknologi ini juga menggunakan simbol-simbol yang memiliki makna tersendiri, dan sebagai bentuk metaporical yang melibatkan konsep-konsep baru terhadap teknologi dan hubungannya dengan kehidupan sosial.

            Teknologi sangat berpengaruh terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat. Dalam konteks abad 21, teknologi telah mendorong berkembangnya masyarakat digital (digital society). Masyarakat kini dapat terhubung dengan internet sepanjang waktu dan perangkat digital pun terkoneksi dengan internet hampir di semua lokasi. Smartphone dan tablet computers dapat dengan mudah dibawa sepanjang waktu. Perkembangan teknologi informasi yang pesat mampu menciptakan dan mampu mengembangkan ruang gerak kehidupan yang baru bagi masyarakat dunia, sehingga memungkinkan manusia hidup dalam dua kehidupan, yaitu kehidupan masyarakat nyata dan kehidupan masyarakat maya (cybercommunity). Masyarakat nyata merupakan sebuah kehidupan yang dapat dilihat dengan indera sebagai kehidupan nyata, sedangkan masyarakat maya merupakan kehidupan yang tidak dapat secara langsung dilihat dengan indera, namun dapat dirasakan bahwa kehidupan itu sebuah realitas. Masyarakat maya menggunakan model dari kehidupan masyarakat nyata dalam membangun kehidupannya seperti membangun komunikasi. Masyarakat maya sebagai sebuah produk sosial dari perkembangan teknologi komunikasi menggunakan simbol-simbol dalam berkomunikasi.

            Masyarakat maya dalam membangun interaksi sosial sama seperti masyarakat nyata yakni memerlukan adanya komunikasi, karena tak satu pun manusia yang tidak berkomunikasi, meskipun kadangkala proses komunikasi yang dilakukan tidak disadari. Meskipun sama-sama memerlukan komunikasi ketika berinteraksi, akan tetapi bentuk interaksi yang berlangsung pada masyarakat maya berbeda dengan bentuk interaksi yang berlangsung pada masyarakat nyata. Masyarakat maya berinteraksi secara online dan bersifat virtual, tetapi komunikasi yang berlangsung tetap berjalan dengan baik selama media yang digunakan untuk berkomunikasi selalu terhubung. Kontak sosial yang terjadi antara anggota masyarakat maya memiliki makna yang luas pada komunikasi mereka satu dengan lainnya, sehingga dari sana mereka membangun makna tentang dunia yang hidup di dunia intersubjektif.

 

 

Humas dalam Perkembangan Era Saat Ini I Divisi Humas

HUMAS DALAM PERKEMBANGAN ERA SAAT INI

 

            Humas, merupakan bagian penting dalam suatu organisasi. Sebelum itu, kita kenal humas sebagai sosok yang mengurus persuratan, izin, mengurus lokasi, hingga menghubungi pihak-pihak yang penting. Padahal humas disini memiliki konteks yang sangat luas, bahkan humas tidak hanya berhenti di organisasi saja dan meluas di dunia kerja. Humas atau bisa kita sebut public relation mememerlukan skill yang sangat beragam. Skill yang beragam itu bisa seperti komunikasi, negosiasi, empati, dan memiliki skill personalisasi yang tinggi. Kemajuan teknologi yang terjadi juga mempengaruhi bagaimana proses kerja para humas. Hal tersebut memudahkan dan juga mempersulit proses kerja para Public Relation atau humas.

            Konsep humas ini sudah dikenal sejak lama. Sejarah mengatakan bahwasannya humas modern pertama dikenalkan oleh Ivy Lee dalam menyelesaikan konflik antara dua pihak, yaitu buruh batubara dan pengusaha batu bara tersebut. Humas sendiri memiliki 3 peran inti dalam menjalankan roda organisasi. Peran pertama humas adalah sebagai penasihat ahli. Memiliki jobdesk yang hampir sama seperti sekretaris, humas bertugas dalam memberikan nasehat, usulan, dan solusi yang bermutu untuk diberikan kepada organisasi, perusahaan, atau individu tertentu. Peran kedua humas tidak lain dan tidak bukan adalah moderator/fasilitator dalam komunikasi. Humas menjadi penjembatan untuk pihak-pihak eksternal dalam berkomunikasi dengan organisasi atau perusahaan. Tujuannya untuk menciptakan ruang bicara yang efisien dan tertata sehingga tercapainya tujuan dihubungkannya kedua pihak tersebut. Humas juga berperan dalam menjadi teknisi komunikasi, seperti rumor yang sudah banyak beredar bahwasannya, “anak humas itu jago ngomong”. Padahal tidak demikian, tetapi memang kami para humas memiliki kapasitas dalam berkomunikasi yang cukup baik dari beberapa anggota lain di divisi lain.

          Humas di organisasi dan di perusahaan merupakan 2 hal yang berbeda menurut penulis. Dimana kesan humas di organisasi masih terlalu simpel, apalagi akibat dari perkembangan zaman saat ini humas memiliki makna yang sangat luas. Humas dikenal juga sebagai public relations. Dalam ilmu marketing 360, mereka bertugas dalam menjalankan sebuah event baik secara online maupun offline guna mengaktifkan brand yang dimiliki oleh perusahaan atau bisa dikenal sebagai brand activation. Harapan dari perusahaan nantinya humas dapat meningkatkan insight dan masyarakat tertarik untuk menggunakan produk / jasa dari perusahaan yang dimaksud.

Kemudian humas dalam perusahaan disini bisa dibilang agak multitalent ya. Humas bertugas dalam mengkomunikasikan event yang perlu diadakan untuk csr perusahaan ataupun meningkatkan kinerja karyawan seperti pelatihan. Humas juga menjadi bagian dalam berkomunikasi dengan stakeholder luar dan menjalin relasi sehingga kredibilitas perusahaan meningkat dan terus terjaga. Terakhir yang agak mencengangkan adalah humas bertugas dalam membuat konten dan merancang konten untuk sosial media serta membuat proposal yang nanitnya digunakan untuk melakukan kolaborasi, menjangkau lebih banyak stakeholder, hingga menawarkan sponsorship untuk suatu event. Gimana? Banyak dan luas banget kan tugas humas?

Kemudian berbicara tentang humas, humas  di Sahabat Perpustakaan tidak kalah seru kok. Tim humas sendiri memiliki beberapa proker seperti sambang internal, sambang eksternal, webinar, hingga sumbang buku. Ke-4 proker ini dilaksanakan tidak hanya untuk memperkenalkan SP itu apa tetapi juga untuk tujuan kemanusiaan dan contohnya adalah sumbang buku. Pemantapan kinerja rekan humas juga terukur melalui rapat yang diadakan setiap bulan guna memberikan evaluasi terhadap proker yang akan dilaksanakan dan event sahabat perpustakaan yang akn diselenggarakan


PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...