Kamis, 30 Mei 2024
RESENSI BUKU BULAN APRIL 2024BUMI – TERE LIYE
RESENSI BUKU BULAN MEI 2024 KEAJAIBAN TOKO KELONTONG NAMIYA – KEIGO HIGASHINO
SEKAR Edisi Mei 2024 | Bayangan Di Taman Kenangan Karya Wanda Aziza
Bayangan Di Taman Kenangan
Oleh: Wanda Aziza
Ia duduk di bangku taman, menatap hamparan bunga yang bermekaran. Angin sepoi-sepoi menggerakkan daun-daun, seolah berbisik pelan di telinganya. Namun, ia tidak mendengar suara angin itu. Yang terdengar hanya gema dari masa lalu yang terus menerus memanggilnya.
Ia mengingat senyuman itu, senyuman yang pernah membuat dunianya terasa lengkap. Senyuman yang kini hanya menjadi bayangan samar di benaknya. Setiap kali ia mencoba melupakannya, kenangan itu selalu muncul kembali, menghantui setiap langkahnya.
Hari itu, hujan turun dengan deras. Ia berdiri di depan rumah yang pernah mereka tinggali bersama. Dinding-dinding rumah itu penuh dengan kenangan. Di sudut ruang tamu, masih ada bekas tawa mereka. Di dapur, masih ada sisa-sisa aroma masakan yang dulu sering mereka nikmati bersama.
Namun, kini semuanya terasa hampa, hanya menyisakan luka yang tak kunjung sembuh.
Ia teringat saat-saat indah ketika mereka berdua berlari di bawah hujan, tertawa tanpa beban. Kini, ia hanya bisa berdiri sendiri, merasakan dinginnya tetesan air yang turun di pipinya, tak bisa membedakan mana air hujan dan mana air matanya sendiri.
Setiap malam, ia memandangi langit yang gelap, mencari bintang yang dulu selalu mereka lihat bersama. Namun, bintang itu tak lagi bersinar secerah dulu. Hanya ada kegelapan yang menyelimutinya, membuatnya merasa semakin terpuruk dalam kesedihan.
Ia tahu, hidup harus terus berjalan. Namun, ia merasa sulit untuk melangkah ke depan. Masa lalu itu seperti rantai yang membelenggunya, membuatnya tetap terikat pada kenangan yang menyakitkan. Setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan, untuk mencoba menghapus bayangan itu dari pikirannya. Tapi semakin ia berusaha, semakin kuat bayangan itu menguasainya.
Ia sadar bahwa ia harus belajar untuk melepaskan. Namun, bagaimana bisa ia melupakan seseorang yang pernah menjadi segalanya? Bagaimana bisa ia menghapus kenangan yang pernah begitu berharga?
Hari demi hari berlalu, ia tetap berada di taman itu, menunggu keajaiban yang mungkin tak akan pernah datang. Ia hanya berharap, suatu saat, ia bisa menemukan kedamaian di hatinya. Mungkin tidak hari ini, atau besok. Tapi ia yakin, suatu saat nanti, luka itu akan sembuh, dan ia bisa merelakan masa lalu untuk pergi.
Namun, sampai saat itu tiba, ia akan terus berjuang, dengan hati yang penuh luka namun tetap berharap. Ia percaya, bahwa di balik setiap kesedihan, selalu ada harapan yang menunggu untuk ditemukan.
SEKAR Edisi Mei 2024 | Gantung Karya Puti Athirah
Gantung
oleh Puti Athirah
Nak, bagaimana mimpimu yang kau gantung kemarin?
Sudah keringkah dia?
Sudah kerontangkah dia diludahi sang mentari dan dicemooh sang rembulan?
Nak, bagaimana mimpimu yang kau gantung kemarin?
Sudah matikah dia?
Jika sudah, segera dikubur
Jika sudah, jangan ditangisi terus
Bisa habis air matamu
SEKAR Edisi Mei 2024 | Meneguk Segelas Kopi Melahirkan Ragam Imajinasi Karya Moh. Nasiruddin
Meneguk Segelas Kopi Melahirkan Ragam Imajinasi
Oleh: Moh. Nasiruddin*
kali ini, ini kali
hari ini, ini hari
saat ini, ini saat
ku mantapkan hati
untuk belajar dan berguru kepada kopi
di antara pahit dan manisnya
di antara pekat dan hambarnya
di antara bening dan hitamnya
yang mengundang akal
untuk merangkai segala keadaan
dari hidup yang serba keberpihakan
hidup adalah pilihan
tidak memilih untuk hidup juga termasuk pilihan
merasakan adalah keharusan
keadaan adalah pencapaian
sehingga mati menjadi keniscayaan.
menangis, bersedih, berduka dan bahkan putus asa
menjadi pilihan dari hidup yang merasa
bahwa dirinya tak punya kuasa
untuk menganggap dirinya lebih bermakna
Tersenyum, tertawa, gembira, seraya bersukaria
pun menjadi pilihan dari hidup yang istimewa
karena dirinya menjadi bisa
dalam menghadapi segala mara bahaya
di dalam rintangan dan tantangan yang menimpa hidupnya
Semua itu terramu dalam racikan segelas kopi
Alih-alih memaknai tegukan aroma sensasinya
sebagai sandaran memaknai hidup
dari perihal baik dan buruk.
25-Juni-2022
*seorang pemulung diksi-diksi kolosal
SEKAR Edisi Mei 2024 | Mahasiswa Rantau Karya Ainun Mardiyah
Mahasiswa Rantau
oleh: Ainun Mardiyah
Dalam kisah yang panjang dan berliku
Kita berjalan, berjuang, dan berkorban
Dari kota ke kota, dari negeri ke negeri
Kita mencari ilmu, mencari masa depan
Dengan jiwa yang keras dan hati yang tulus
Kita menghadapi tantangan dan rintangan
Dengan semangat yang tinggi dan keyakinan yang kuat
Kita menempuh perjalanan yang panjang dan berliku
Dalam setiap langkah, kita menemukan diri
Dalam setiap perjuangan, kita menemukan masa depan
Dengan ilmu yang diperoleh dan pengalaman yang didapat
Kita menjadi lebih kuat dan lebih berani
Dengan perjuangan yang panjang dan berliku
Kita menemukan masa depan yang lebih baik
Dengan ilmu yang diperoleh dan pengalaman yang didapat
Kita menjadi lebih kuat dan lebih berani
Rabu, 29 Mei 2024
SEKAR Edisi Mei 2024 | Pergi Tanpa Pamit Karya Octafia Rahmadani
PERGI TANPA PAMIT
Karya: Octafia Rahmadani
Malam berganti pagi, dan sinar mentari mulai menyapa permukaan bumi. Aku masih duduk di tepi jendela, menatap langit yang kini berwarna biru cerah. Hampa di dalam dada terasa mengalir seperti air. Berdiri tanpa memegang tiang dan terus berjalan tanpa arah merupakan hal pertama yang kurasakan saat menjadi dewasa.
Abur namaku. Hilang terkubur dan kabur adalah tabiatku. Semakin bertambahnya umur, aku bisa melihat perubahan dalam diriku maupun lingkup pertemananku. Semuanya seakan hilang, bahkan pergi tak tentu dibalik pungguk batu.
"Aku takut, sungguh takut," ucapku pada diriku sendiri, namun kali ini dengan suara yang lebih mantap.
Dengan langkah perlahan, aku bangkit dari tempat dudukku dan menghadapi cermin di dinding kamarku. Aku memandang diriku sendiri.
“AKHHH SAKITTT, APA YANG SELAMA INI AKU LAKUKAN DI DUNIA
TUHANN… MENGAPA HATIKU RASANYA REMUKK SAAT INI.” Aku menangis sejadi-jadinya
sampai terkulai lemas tak berdaya.
Aku bangkit dalam kegelapan. Sekilas terlintas dipikiranku
untuk menyayat sebuah daging agar hilang sakitku. Kuambil pisau daging ibuku di
dapur. Kusayat perlahan daging itu. Warna merah segar terlihat menggugah selera
para nyamuk. Ide gila sekali lagi muncul. Aku berdiri dan berlari
tergopoh-gopoh mengambil lemon di kulkas.
“HIHIHIHIII INI PERIH TAPI ASYIKK.” Aku berteriak
kegirangan.
Tiba-tiba mataku berkunang-kunang.
“Ohhh Tuhan inikah?” gumamku.
Inilah akhir dari ajal tak berpamit.
PROFIL
TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...
-
TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...
-
Kamu Cukup, Selalu Karya Aura Alfisyahrani Sinopsis Ketika Bulan terbangun dalam tubuh Luna, ia menyadari satu kebenaran mengerikan. Kemat...
-
RESENSI BUKU BULAN JULI 2024 AYAHKU [BUKAN] PEMBOHONG – Tere Liye COVER Identitas buku Judul: Ayahku [Bukan] Pembohong Penulis: Tere Liye...