SEKAR Edisi April 2026 | Really Love You Karya Dea Pramudita A.
Really Love You
Karya Dea Pramudita A.
Namaku Dania, dan sekarang aku sedang menyukai teman sekelasku.
Namanya Eren. Dia tampan di mataku, baik hati, tidak terlalu
pintar matematika tapi sangat ahli dalam hal debat. Jika sudah waktunya beradu
argumen, Eren juaranya.
Kami bertemu di kelas 10. Saat itu temanku—yang dulunya juga
sekelas denganku di SMP—memberitahuku, “ada cowok ganteng di kelas kita.”
Bukan hanya dia yang bilang begitu, hampir semua anak perempuan di
kelas kami—yang jumlahnya lebih sedikit dari anak laki-laki—juga berkata
demikian.
Aku sebagai salah satu dari mereka tentu saja ikut penasaran.
Bagaimanapun, memiliki seseorang dengan tampang rupawan di kelas adalah salah
satu berkah yang tidak boleh dilewatkan. Kami akan berada di sekolah lima hari
dalam seminggu, dan sembilan jam atau lebih dalam satu hari. Dekat dengan
sesuatu yang enak dilihat mata tentu saja sangat diperlukan.
Di hari pertama masuk sekolah, umumnya kami diminta memperkenalkan
diri di depan kelas. Saat itu aku memperhatikan satu per satu dari anak
laki-laki kelas kami, menebak satu orang yang menggemparkan kelas padahal tahu
nama saja belum.
Satu anak maju, menyebutkan namanya yang diawali huruf A. Abdi,
begitu kami bisa memanggilnya. Kemudian anak kedua, ketiga, keempat, seterusnya
sampai giliranku, lalu lewat, dan tidak lama sudah anak terakhir. Tapi di mana
dia? Mana anak laki-laki tampan yang katanya berasal dari kelasku? Apa aku
terlewat satu orang karena mengantuk?
Ah, tidak. Aku sudah memastikan kemarin tidur cukup agar tidak
melewatkan hari pertama sekolah ini—karena biasanya aku gampang sekali tertidur
di kelas.
“Kubilang juga apa, dia sangat tampan!” Temanku berseru tertahan,
namun senyumnya sudah menjelaskan semua. “Aku ingin mendekatinya.”
“Ya udah, sana.”
Aku menoleh, menatap satu per satu wajah anak laki-laki,
memastikan sekali lagi. Tidak ada yang istimewa, semuanya sama. Aku tidak tahu
mereka tampan atau tidak, pasalnya terlalu dini menilai orang-orang ini. Mari
lihat satu minggu ke depan.
Dan satu minggu berlalu, akhirnya aku tahu siapa si wajah rupawan
yang diidam-idamkan oleh temanku dan juga sebagian besar anak perempuan di
kelas kami. Bahkan, anak perempuan kelas lain juga ikut mengidamkannya.
“Dia nyebelin banget,” kata temanku setelah duduk dengan membawa
wajah kesal sejak dari luar kelas.
“Siapa?” tanyaku basa-basi walau basi, aku tahu siapa maksudnya.
“EREN LAH! Siapa lagi emang?”
Baru seminggu lalu dia masih bilang ingin mendekatinya, tapi
sekarang dekat-dekat saja sudah tak sudi. Manusia berubah secepat itu.
Oh, tidak. Kurasa dia yang terpesona terlalu cepat.
Alasan kubilang kenapa harus menunggu satu minggu lagi, minimal,
agar tahu sedikit sifatnya.
Aku percaya dengan kata-kata 'jangan menilai orang dari tampilan
luarnya', jadi memegang prinsip itu erat-erat.
Di mataku, dalam penilaianku, orang bisa berubah seiring
berjalannya waktu. Dulu aku dan temanku ini juga terlihat tidak cocok, kami
saling lirik seolah ingin saling terkam. Tapi lihat, sekarang bahkan lanjut ke
sekolah yang sama, sekelas lagi pula.
Sayangnya, kebiasaanku yang satu ini juga berlaku pada Eren. Dia
yang juga terlihat menyebalkan di mataku, perlahan menjadi tidak terlalu
menyebalkan, lalu tidak sama sekali. Semua yang Eren lakukan menjadi wajar,
bahkan ketika dia menyeringai setelah berhasil membuatku terdiam di sesi debat.
Oh lupa, aku juga suka mata pelajaran debat. Kami selalu
diletakkan di kubu berbeda oleh guru, katanya seru kalau aku atau dia sudah
mulai bicara. Awal mula kucatat dia sebagai bocah menyebalkan juga karena debat
ini, tapi ternyata catatanku berubah karena alasan yang sama.
Sialnya, aku suka. Suka padanya yang terus mendebatku, suka
matanya yang selalu membara ingin mengalahkanku, suka senyum miringnya ketika
melihatku kebingungan untuk menjawab. Sial sekali, aku suka semua tentangnya.
E-eh, sepertinya aku salah memilih kata. Aku bukannya suka dia
merendahkanku. Karena apa yang kulakukan juga sebanding. Dia hanya akan
bersemangat saat debat jika lawannya dirasa sepadan, jika musuhnya bebal, dan
jika jawabannya cukup membuat dia menunduk dan tertawa pelan. Dia suka
ditantang, dan aku suka menantangnya.
Astaga, aku suka lagi padanya.
“Orang gila itu lagi.” Temanku berdecak keras melihat Eren yang
suatu hari sedang berdiri di dekat UKS, bersebelahan dengan temannya yang juga
primadona kelas lain. Entah bagaimana dua manusia tampan itu bisa menjadi
sahabat, apa memang begitu?
“Sudah tidak suka lagi?” Aku meliriknya, mengejek. Dan reaksinya
selalu sama, seolah ingin memuntahkan seisi perut jika aku mengingatkan tentang
betapa tergila-gila temanku padanya di minggu pertama kami masuk sekolah.
“Kamu saja. Buatmu sana. Kalian cocok sekali.”
“Oh, ya?” Aku menyeringai, berusaha menahan senyum senang. Jangan
sampai pipiku memerah.
“Cocok. Kubilang cocok. Sana dekati dia. Bawa dia menjauh dariku.”
Aku tertawa. Maunya begitu. Tapi lihat, sekarang dia melirikku
seolah akan melemparkan granat ke tempatku duduk. Mengenyahkanku agar dia bisa
maju menjadi satu-satunya perwakilan lomba debat sekolah kami.
Enak saja. Sebelum dia melempar granat, aku sudah lebih dulu
menarik pelatuk senapan dan mengenai jantungnya.
Mati kau, bocah menyebalkan yang kusukai!
Ada satu hari lagi yang kuingat. Saat itu sedang jam istirahat,
aku duduk di depan kelas bersama dengan tiga temanku. Sementara Eren duduk di
samping lapangan voli—kebetulan sekali lapangannya di depan kelas kami.
Dia anak futsal, tapi juga bisa voli. Saat itu dia duduk di sana karena
temannya sedang main voli, teman yang kubilang juga tampan itu.
Aku duduk selagi menunggu bel masuk, tadi sudah ke kantin untuk
membeli roti isi dan es blewah. Sementara teman di samping kananku sibuk
bertukar pesan dengan pacarnya yang berbeda sekolah, lalu teman sebelah kiriku
bersorak setiap kali temannya Eren memukul bola, nah yang di sampingnya lagi
sedang membidik kamera untuk mendapatkan gambar terbaik dari temannya Eren.
“Susah banget, gerak mulu,” keluhnya, padahal aku sudah mendengar
suara cekrek-cekrek sebanyak belasan kali, tapi tidak ada yang bagus.
Aku—yang sedikit terganggu dengan suara cekrek-cekrek itu—lantas
menawarkan diri, “mau aku bantu?”
Mereka menoleh, dan tanpa ragu mengangguk. Begitu ponsel berpindah
ke tanganku, ternyata pertandingan voli sudah berakhir. Temannya Eren
menghampirinya, berdiri di depan Eren yang langsung melempar sebotol air.
Hampir saja kuarahkan kamera itu ke Eren karena dia tertawa,
untung suara teman di sampingku mengembalikanku ke jalan yang seharusnya.
Kuarahkan kamera ke temannya Eren yang sibuk menyeka keringat,
titik air jatuh dari ujung rambut hitamnya. Dia tampan, kulitnya putih, dan
otot lengannya atletis. Ya, gambaran seorang atlet voli. Sepertinya dia sedikit
lebih tinggi dari Eren, namun senyumnya sedikit kaku. Tidak seperti Eren yang
manis sekali ketika tersenyum.
“Sudah dapat?” Temanku bertanya.
Oh, lupa lagi. Gara-gara membicarakan Eren.
Sekarang aku lebih fokus, mengambil beberapa foto. Namun ketika
angel terbagus kutemukan, saat temannya Eren menyugar surai hitamnya sambil
tersenyum, tiba-tiba Eren menoleh.
Dan tau apa yang dia lakukan? EREN MENYERINGAI PADAKU!
Dia berdiri, lalu menghalangi kameraku dari temannya. Dia masih
menatapku, satu alisnya terangkat. Aku yakin di kepalanya ada berjuta ejekan
yang tentu saja tidak bisa dibawakan sebagai topik debat. Kurasa dia akan
mengejekku secara langsung di luar forum.
Aku melotot padanya. Tapi dalam hati malu sekali. Bisa-bisanya aku
ketahuan memotret orang lain oleh orang yang kusuka. Gila. Aku bisa gila.
Padahal niatku hanya membantu teman.
Sampai beberapa hari kemudian, Eren tidak membahasnya, seolah hal
itu tidak terjadi. Lalu sampailah kami ke hari seleksi perwakilan debat.
Kegiatan itu diadakan sore hari setelah sekolah selesai. Tapi
karena beberapa kendala, semua agenda jadi molor hingga malam.
Aku duduk di tengah ruang kelas, ada beberapa kandidat termasuk
Eren. Di tengah ruangan yang hening karena ketegangan sebelum seleksi, aku
tiba-tiba bersin. Tidak hanya sekali, mungkin tiga atau empat lagi. Hidungku
sangat gatal dan merah, lalu kepalaku pusing.
Angin berembus kencang di luar, air hujan menyerbu kaca jendela
bagian belakang ruangan ini. Aku—yang dua hari lalu tidak masuk karena
sakit—merasa jadi target utama penyerangan.
Di tengah ruangan yang hening, aku merasa heboh sendiri. Tidak ada
yang mendekat, bertanya, atau malah menawarkanku untuk pergi ke UKS saja.
Tidak, sampai sebuah kursi berderit dan aku tahu itu kursi siapa.
“Masih sakit kenapa datang?” tanyanya, menarik kursi di depanku
dan duduk di sana.
“Kalau aku nggak datang, kamu kegirangan.”
“Betul.” Dia mengangguk, tersenyum menyebalkan. Oh, tidak, jangan
tersenyum lagi. Wajahku mau meledak rasanya. “Tapi nggak seru, ah.”
“Apanya?”
“Debat itu, d-nya Dania. Jadi kalau nggak ada Dania, nggak seru.”
“Edan,” jawabku asal. Walau kurasa kini bukan hanya wajahku yang
akan meledak, tapi perutku juga.
Dia tertawa singkat, lalu berdiri. “Ayo.”
“Ke mana?”
“Debat.”
“Apa, sih?” Dia tidak jelas sekali, bukan? Kalau begini pupus
harapanku untuk meminta kejelasan.
“Oh, jangan debat dulu deh. Kamu ngomong aja nggak jelas.”
“Kamu!”
Dia tertawa lagi.
Sumpah, aku tidak ada tenaga meladeninya.
“Ayo.”
“Apa lagi?”
“Ke UKS, periksa. Siapa tau kamu flu burung.”
“EREEN!”
“Jangan teriak, nanti burungnya terbang. Takut soalnya.”
“Orang gila,” makiku, sangat pelan. Sedikit sesak napas setelah
berteriak.
“Ayo,” ajaknya sekali lagi, tapi kali ini tidak ada senyum dan
tatapan menyebalkan. Tangannya terulur padaku.
“Apa?”
“Ke UKS. Serius. Kapan lagi aku seriusin?”
KAPAN? KAPAN MEMANGNYA? Rasanya ingin berteriak seperti itu tepat
di depan wajahnya, tapi aku masih sesak napas, tidak ada energi untuk bertanya.
Lalu aku pergi ke UKS diantar olehnya, dan ternyata seleksinya
diundur besok. Entah harus bersyukur atau menggerutu kesal, tapi berkat
itu, aku jadi pulang diantar Eren.
Iya, dibonceng dengan motor hitamnya yang selama ini tidak pernah
digunakan untuk membonceng siapa pun selain tas punggung warna hitam yang
isinya hanya sebiji dua biji buku dan bolpoin—dia tidak memakai tipe-x karena
prinsip hidupnya tidak boleh menghapus kesalahan dan menimpanya dengan
kemungkinan salah lagi, mending dicoret dan tulis di tempat baru.
Bocah gila itu. Sial sekali. Aku selalu suka padanya. Suka terus.
Suka lagi. Semakin suka setiap harinya.
Selama tiga tahun di kelas yang sama, aku semakin suka dan suka
padanya. Suka sekali.
Kuharap hanya suka. Lalu pudar ketika kami lulus, tidak bertemu,
dan hilang begitu saja. Hanya itu.
Jika berubah menjadi cinta, tamatlah riwayatku.
SINOPSIS
Dania memegang kuat-kuat prinsip untuk tidak langsung
menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya. Bagi Dania, sikap seseorang bisa
berubah seiring waktu. Di minggu pertama masuk sekolah, seorang siswa berhasil
menyita perhatian sebagian besar anak perempuan di kelasnya. Kata mereka, ada
siswa tampan di kelas kita! Dania tidak ingin cepat terpesona, namun—sampai
kapan Dania bisa bertahan, ketika orang yang sama perlahan justru mengubah
semua penilaiannya dengan cara yang tidak biasa?
Komentar
Posting Komentar