Kontradiksi
karya Aurora Esya Rahma
Di sore kala itu, hujan turun tipis membasahi bumi. Meninggalkan
hembusan angin dan membuat jalanan berkilau memantulkan langit sore yang
keemasan. Aroma tanah basah naik ke permukaan bumi, wangi sederhana yang
mengingatkan bahwa hujan baru saja singgah. Di sudut trotoar, daun-daun
berguguran, menempel pada aspal yang lembab. Lampu jalan mulai menyala satu
persatu, memantul di genangan air yang tersisa di trotoar.
Aku berjalan santai memasuki sebuah kafe yang berada di sudut
jalan, membuka pintu kaca yang berembun tipis dan di dalamnya cahaya lampu
hangat memancar keluar, mengundang siapa saja untuk singgah.
Mendorong pintu pelan, lonceng berbunyi kecil di atas pintu yang
berdenting lembut. Aroma kopi menyeruak bercampur dengan aroma roti panggang
yang baru keluar dari panggangan, menggantikan aroma tanah basah yang kucium
sedari tadi.
Berjalan masuk sembari mengusap lensa kacamataku yang sedikit
basah terkena percikan hujan. Aku datang bukan untuk sendiri, namun menanti
temanku yang berjanji akan menyusulku sebentar lagi. Memesan roti yang baru
dipanggang dengan segelas kopi, aku memilih meja yang tak jauh dari jendela,
tempat yang nyaman untuk menunggu sembari menikmati manusia yang berlalu lalang
di bawah langit sore.
Di luar, sisa-sisa tetes hujan masih menetes dari ujung atap kafe,
jatuh satu per satu menyatu dengan genangan di atas trotoar. Di dalam kafe,
musik mengalun lembut, menyatu dengan percakapan pengunjung kafe yang
menghangatkan sore setelah hujan mengguyur kota.
Aku melirik ponsel yang ada di hadapanku, belum ada pesan dari
temanku. Waktu menunggu serasa lebih panjang dari biasanya, membuatku mulai
mengamati sekitar untuk mengusir bosan. Lampu gantung di tengah ruangan
memantulkan cahaya kekuningan, jendela besar memperlihatkan langit senja yang
perlahan berubah warna. Meja-meja di kafe ini penuh, mungkin dikarenakan hujan
membuat orang meneduh di kafe ini.
Pandanganku jatuh pada satu titik. Di sana, di meja seberang dekat
jendela, seorang laki-laki dengan hoodie abunya duduk sembari bercanda
tawa dengan temannya. Sepasang mata asing yang seolah menarik seluruh atensiku.
Seseorang dengan senyum menawan dan suara tawa yang menggema lucu setiap
kali ia menengadahkan kepalanya sembari memejamkan mata dengan tawa lebar.
Membuatku yang awalnya tidak berniat untuk tersenyum, menjadi seseorang yang
terlihat bodoh karena tersenyum dan tertawa kecil sendirian.
Aku tidak berniat untuk memperhatikan terlalu lama. Entah
bagaimana, mataku sesekali berakhir ke arah meja itu. Bukan karena aku ingin
mencuri dengar, aku bahkan tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Hanya saja,
lelaki itu kini menjadi titik fokusku, membuatku penasaran dengan senyumnya
yang indah.
Aku meneguk sedikit kopiku, hangat terasa di mulutku. Aku kembali
melihat ponsel di genggamanku, berharap temanku segera muncul untuk
menghilangkan kecanggunganku yang duduk sendirian di kafe sembari memperhatikan
laki-laki asing yang menarik perhatianku.
Tanpa sadar, pandanganku kembali melayang. Berhenti ke arah meja
di dekat jendela, ke arah seseorang yang belum pernah kukenal, atau haruskah
aku mengenalnya?
Laki-laki itu masih di sana. Masih berbincang dengan
teman-temannya. Masih tertawa sesekali dengan cahaya lampu kekuningan yang
jatuh di wajahnya, membuat dirinya seakan tersorot indahnya cahaya kafe yang
mendadak seperti panggung dengan dia sebagai tokoh utama. Pandanganku memang
rabun, dunia memang terlihat buram di mataku, namun senyum yang kulihat itu
melekat pada ingatan.
Aku menarik nafas pelan
Sebenarnya sederhana saja, aku hanya perlu berdiri, berjalan
beberapa langkah dan menyampaikan kalimat sederhana. “Halo, boleh saya
berkenalan denganmu?”
Hanya itu,
Namun sepertinya tindakan sederhana itu terasa seperti jarak yang
sangat jauh. Separuh jiwa di diriku ingin mengenalnya lebih jauh, namun separuh
diriku entah mengapa tidak ingin beranjak dari duduk dan menghampirinya.
Tanganku bergerak resah di atas meja, jemariku menyentuh cangkir
kopi dan meminum kopi yang mulai kehilangan panasnya, mencoba menghilangkan resahku.
Bagaimana jika aku mengganggu?
Bagaimana jika aku terlihat aneh di matanya?
Apakah normal jika perempuan memulai sapa dengan lelaki yang baru
ditemui?
Atau, bagaimana jika laki-laki itu menatapku dengan wajah heran
dan menatapku dengan pandangan aneh? Lalu mengabaikan dan kembali ke dunianya
sendiri?
Pikiran-pikiran itu datang tanpa diminta, seperti angin yang
tiba-tiba berhembus membuka pintu keraguan yang semakin melebar.
Aku lalu menegakkan punggungku, memberanikan diri. Sekarang atau
tidak sama sekali.
Aku berdiri sedikit dari kursiku, lalu duduk kembali mengurungkan
niatku. Terasa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
Di meja seberang sana kembali terdengar tawa laki-laki itu, aku
memandangnya sekali lagi. Laki-laki itu tampak tertawa lebih keras karena
mendengar temannya mengatakan sesuatu yang lucu. Aku tersenyum, menunduk
sebentar dan menyembunyikan senyumku yang muncul karena melihat senyumnya itu.
Menikmati momen kecil yang sederhana itu, aku kembali memandang dia. Untuk
sesaat, dunia terasa melambat dengan dia yang menjadi titik fokusku.
“Pergi saja,” bisik sanubariku
“Beberapa langkah saja.”
Namun sisi lain diriku menahanku untuk bangkit. Ketakutan kecil
yang kerap kali datang tanpa alasan, semakin membuat ketakutanku membesar.
Aku menunduk, menggenggam ponselku erat untuk menenangkan debaran
jantungku.
Kembali memandang layar ponsel yang gelap, menanti sesuatu yang
tak pernah datang.
Aku menarik nafas pelan, keinginan yang tadi sempat tumbuh, kini
seperti kembali terkubur oleh ragu yang terlalu lama dibiarkan.
Mungkin memang tidak perlu.
Mungkin memang tidak seharusnya.
“Maaf, aku telat!”
Suara itu datang begitu saja, memecah riuh yang sejak tadi aku
bangun. Aku mengangkat kepala, memandang temanku yang sudah berdiri di samping
meja, Radine namanya. Ia terengah dengan rambut yang sedikit basah terkena
hujan.
Aku tersenyum kecil, “Iya, tidak apa-apa,” jawabku pelan.
Lalu ia duduk dan mulai bercerita tentang jalanan yang macet,
hujan yang turun tiba-tiba dan hal-hal kecil yang ia alami hari ini. Aku
menyimak ceritanya yang mengalir dengan semangat, aku selalu suka mendengarnya
bercerita tentang apapun. Namun, kali ini sepertinya fokusku terpecah antara
mendengar cerita Radine atau mencuri pandang pada insan di ujung sana.
Saat aku mengangkat kepala ke arah meja di seberang sana, ternyata
kursi itu kini hanya menyisakan cangkir yang telah kosong isinya. Tawa yang
sempat mengisi sudut ruangan itu kini hilang seperti tak pernah terjadi.
Laki-laki itu sudah pergi.
Begitu saja, tanpa menyisakan kesempatan untukku sapa.
Tak ada jejak yang bisa ia kejar
Tanpa nama untuk bisa aku telusuri
Aku menatap kursi itu lebih lama dari seharusnya, membuat temanku
mengalihkan pandangannya padaku. “Eh, kamu dengerin aku kan?”
“Denger kok,” jawabku cepat sambil tersenyum kecut. Melupakan
kebodohanku yang membuang kesempatan itu.
Aku yakin nantinya kami tidak akan bertemu lagi.
***
Malam ini langit terlihat begitu cerah tanpa mendung awan
menemani. Mungkinkah karena hujan telah menyapa bumi sore ini? Sehingga bintang
dan purnama terlihat jelas malam ini. Malam ini juga, entah mengapa sesak
melanda. Tidak biasanya rasa ini hadir setelah bertemu dengan sahabatku. Sesak
ini tidak biasanya hadir, siap menggerogoti perasaan.
Sorak-sorai sekitar bahkan menjadi senyap dalam benak, melayang
membawa pergi pikiran melanglang buana.
Ada teka-teki dalam benak
Menggebu-gebu memenuhi pikiran
Sekedar membayangkan senyum menawan itu, terasa sejuk di hati
Kata siapa perpisahan itu sementara?
Di awal pertemuan yang seharusnya menjadi perkenalan, aku harusnya
berusaha untuk mengenal. Semakin dipikirkan, semakin hampa pada setengah raga.
Bagaimana cara melaluinya?
Sekedar nama saja tidak berhasil aku dapat
Dalam singkatnya pertemuan, ada rasa yang tumbuh perlahan
Sederhana...
Lantas, bagaimana bisa melewati malam dan menjalani hari jikalau
pikiranku terbawa olehmu? Berapa purnama yang harus kunanti untuk menanti
kebetulan selanjutnya?
Adalah dusta jikalau aku tidak menginginkan pertemuan setiap hari
denganmu
Seandainya ada kebetulan kedua, akan kukatakan secara gamblang
pada dunia bahwasanya disini aku ingin mengenalmu lebih dalam
Adalah dusta jikalau aku akan melupakan rasa ini dalam
ketidaktahuan
Di antara banyaknya jalan yang dapat dipilih semesta, kita
dipertemukan
Di antara banyaknya jalan yang dapat kupilih, aku memilih diam
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana aku dapat melanjutkan esok
dengan rasa yang berantakan ini?
Bagaimana jika aku tidak memilih untuk diam?
Sinopsis
Aku datang ke kafe itu hanya untuk menunggu, tidak pernah benar-benar berniat menemukan apa pun. Namun Sore setelah hujan mempertemukanku dengan seseorang yang tak pernah ku bayangkan. Entah bagaimana dirinya mampu memenuhi pikiranku dalam waktu singkat. Aku datang hanya untuk menunggu, bukan untuk membuka lembaran baru. Dari kejauhan aku hanya mampu memperhatikan, menyimpan rasa sambil berulang kali melawan ragu untuk sekedar menyapa. Aku menunggu keberanian datang, namun waktu berjalan terlalu cepat dibanding munculnya keberanianku. Membuat tak satu kata pun keluar dari ucapan. Ia pergi begitu saja. Yang tersisa hanyalah aku dengan rasa yang tersisa. Dengan bayangan yang tak pernah ada dan pertanyaan yang terus tinggal "bagaimana jika saat itu aku tidak memilih untuk diam?".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar