Minggu, 12 April 2026

SEKAR Edisi Maret 2026 | Kontradiksi karya Aurora Esya Rahma

Kontradiksi

karya Aurora Esya Rahma

Di sore kala itu, hujan turun tipis membasahi bumi. Meninggalkan hembusan angin dan membuat jalanan berkilau memantulkan langit sore yang keemasan. Aroma tanah basah naik ke permukaan bumi, wangi sederhana yang mengingatkan bahwa hujan baru saja singgah. Di sudut trotoar, daun-daun berguguran, menempel pada aspal yang lembab. Lampu jalan mulai menyala satu persatu, memantul di genangan air yang tersisa di trotoar.

Aku berjalan santai memasuki sebuah kafe yang berada di sudut jalan, membuka pintu kaca yang berembun tipis dan di dalamnya cahaya lampu hangat memancar keluar, mengundang siapa saja untuk singgah. 

Mendorong pintu pelan, lonceng berbunyi kecil di atas pintu yang berdenting lembut. Aroma kopi menyeruak bercampur dengan aroma roti panggang yang baru keluar dari panggangan, menggantikan aroma tanah basah yang kucium sedari tadi. 

Berjalan masuk sembari mengusap lensa kacamataku yang sedikit basah terkena percikan hujan. Aku datang bukan untuk sendiri, namun menanti temanku yang berjanji akan menyusulku sebentar lagi. Memesan roti yang baru dipanggang dengan segelas kopi, aku memilih meja yang tak jauh dari jendela, tempat yang nyaman untuk menunggu sembari menikmati manusia yang berlalu lalang di bawah langit sore.

Di luar, sisa-sisa tetes hujan masih menetes dari ujung atap kafe, jatuh satu per satu menyatu dengan genangan di atas trotoar. Di dalam kafe, musik mengalun lembut, menyatu dengan percakapan pengunjung kafe yang menghangatkan sore setelah hujan mengguyur kota. 

Aku melirik ponsel yang ada di hadapanku, belum ada pesan dari temanku. Waktu menunggu serasa lebih panjang dari biasanya, membuatku mulai mengamati sekitar untuk mengusir bosan. Lampu gantung di tengah ruangan memantulkan cahaya kekuningan, jendela besar memperlihatkan langit senja yang perlahan berubah warna. Meja-meja di kafe ini penuh, mungkin dikarenakan hujan membuat orang meneduh di kafe ini. 

Pandanganku jatuh pada satu titik. Di sana, di meja seberang dekat jendela, seorang laki-laki dengan hoodie abunya duduk sembari bercanda tawa dengan temannya. Sepasang mata asing yang seolah menarik seluruh atensiku. Seseorang dengan senyum menawan dan suara tawa  yang menggema lucu setiap kali ia menengadahkan kepalanya sembari memejamkan mata dengan tawa lebar. Membuatku yang awalnya tidak berniat untuk tersenyum, menjadi seseorang yang terlihat bodoh karena tersenyum dan tertawa kecil sendirian.

Aku tidak berniat untuk memperhatikan terlalu lama. Entah bagaimana, mataku sesekali berakhir ke arah meja itu. Bukan karena aku ingin mencuri dengar, aku bahkan tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Hanya saja, lelaki itu kini menjadi titik fokusku, membuatku penasaran dengan senyumnya yang indah. 

Aku meneguk sedikit kopiku, hangat terasa di mulutku. Aku kembali melihat ponsel di genggamanku, berharap temanku segera muncul untuk menghilangkan kecanggunganku yang duduk sendirian di kafe sembari memperhatikan laki-laki asing yang menarik perhatianku. 

Tanpa sadar, pandanganku kembali melayang. Berhenti ke arah meja di dekat jendela, ke arah seseorang yang belum pernah kukenal, atau haruskah aku mengenalnya?

Laki-laki itu masih di sana. Masih berbincang dengan teman-temannya. Masih tertawa sesekali dengan cahaya lampu kekuningan yang jatuh di wajahnya, membuat dirinya seakan tersorot indahnya cahaya kafe yang mendadak seperti panggung dengan dia sebagai tokoh utama. Pandanganku memang rabun, dunia memang terlihat buram di mataku, namun senyum yang kulihat itu melekat pada ingatan.

Aku menarik nafas pelan

Sebenarnya sederhana saja, aku hanya perlu berdiri, berjalan beberapa langkah dan menyampaikan kalimat sederhana. “Halo, boleh saya berkenalan denganmu?” 

Hanya itu,

Namun sepertinya tindakan sederhana itu terasa seperti jarak yang sangat jauh. Separuh jiwa di diriku ingin mengenalnya lebih jauh, namun separuh diriku entah mengapa tidak ingin beranjak dari duduk dan menghampirinya. 

Tanganku bergerak resah di atas meja, jemariku menyentuh cangkir kopi dan meminum kopi yang mulai kehilangan panasnya, mencoba menghilangkan resahku. 

Bagaimana jika aku mengganggu?

Bagaimana jika aku terlihat aneh di matanya?

Apakah normal jika perempuan memulai sapa dengan lelaki yang baru ditemui?

Atau, bagaimana jika laki-laki itu menatapku dengan wajah heran dan menatapku dengan pandangan aneh? Lalu mengabaikan dan kembali ke dunianya sendiri?

Pikiran-pikiran itu datang tanpa diminta, seperti angin yang tiba-tiba berhembus membuka pintu keraguan yang semakin melebar.

Aku lalu menegakkan punggungku, memberanikan diri. Sekarang atau tidak sama sekali.

Aku berdiri sedikit dari kursiku, lalu duduk kembali mengurungkan niatku. Terasa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. 

Di meja seberang sana kembali terdengar tawa laki-laki itu, aku memandangnya sekali lagi. Laki-laki itu tampak tertawa lebih keras karena mendengar temannya mengatakan sesuatu yang lucu. Aku tersenyum, menunduk sebentar dan menyembunyikan senyumku yang muncul karena melihat senyumnya itu. Menikmati momen kecil yang sederhana itu, aku kembali memandang dia. Untuk sesaat, dunia terasa melambat dengan dia yang menjadi titik fokusku. 

“Pergi saja,” bisik sanubariku

“Beberapa langkah saja.”

Namun sisi lain diriku menahanku untuk bangkit. Ketakutan kecil yang kerap kali datang tanpa alasan, semakin membuat ketakutanku membesar.

Aku menunduk, menggenggam ponselku erat untuk menenangkan debaran jantungku. 

Kembali memandang layar ponsel yang gelap, menanti sesuatu yang tak pernah datang.

Aku menarik nafas pelan, keinginan yang tadi sempat tumbuh, kini seperti kembali terkubur oleh ragu yang terlalu lama dibiarkan.

Mungkin memang tidak perlu.

Mungkin memang tidak seharusnya.

“Maaf, aku telat!” 

Suara itu datang begitu saja, memecah riuh yang sejak tadi aku bangun. Aku mengangkat kepala, memandang temanku yang sudah berdiri di samping meja, Radine namanya. Ia terengah dengan rambut yang sedikit basah terkena hujan. 

Aku tersenyum kecil, “Iya, tidak apa-apa,” jawabku pelan.

Lalu ia duduk dan mulai bercerita tentang jalanan yang macet, hujan yang turun tiba-tiba dan hal-hal kecil yang ia alami hari ini. Aku menyimak ceritanya yang mengalir dengan semangat, aku selalu suka mendengarnya bercerita tentang apapun. Namun, kali ini sepertinya fokusku terpecah antara mendengar cerita Radine atau mencuri pandang pada insan di ujung sana.

Saat aku mengangkat kepala ke arah meja di seberang sana, ternyata kursi itu kini hanya menyisakan cangkir yang telah kosong isinya. Tawa yang sempat mengisi sudut ruangan itu kini hilang seperti tak pernah terjadi. 

Laki-laki itu sudah pergi.

Begitu saja, tanpa menyisakan kesempatan untukku sapa.

Tak ada jejak yang bisa ia kejar

Tanpa nama untuk bisa aku telusuri

Aku menatap kursi itu lebih lama dari seharusnya, membuat temanku mengalihkan pandangannya padaku. “Eh, kamu dengerin aku kan?” 

“Denger kok,” jawabku cepat sambil tersenyum kecut. Melupakan kebodohanku yang membuang kesempatan itu. 

Aku yakin nantinya kami tidak akan bertemu lagi.

***

Malam ini langit terlihat begitu cerah tanpa mendung awan menemani. Mungkinkah karena hujan telah menyapa bumi sore ini? Sehingga bintang dan purnama terlihat jelas malam ini. Malam ini juga, entah mengapa sesak melanda. Tidak biasanya rasa ini hadir setelah bertemu dengan sahabatku. Sesak ini tidak biasanya hadir, siap menggerogoti perasaan. 

Sorak-sorai sekitar bahkan menjadi senyap dalam benak, melayang membawa pergi pikiran melanglang buana.

Ada teka-teki dalam benak

Menggebu-gebu memenuhi pikiran

Sekedar membayangkan senyum menawan itu, terasa sejuk di hati

Kata siapa perpisahan itu sementara? 

Di awal pertemuan yang seharusnya menjadi perkenalan, aku harusnya berusaha untuk mengenal. Semakin dipikirkan, semakin hampa pada setengah raga.

Bagaimana cara melaluinya? 

Sekedar nama saja tidak berhasil aku dapat

Dalam singkatnya pertemuan, ada rasa yang tumbuh perlahan

Sederhana... 

Lantas, bagaimana bisa melewati malam dan menjalani hari jikalau pikiranku terbawa olehmu? Berapa purnama yang harus kunanti untuk menanti kebetulan selanjutnya?

Adalah dusta jikalau aku tidak menginginkan pertemuan setiap hari denganmu

Seandainya ada kebetulan kedua, akan kukatakan secara gamblang pada dunia bahwasanya disini aku ingin mengenalmu lebih dalam 

Adalah dusta jikalau aku akan melupakan rasa ini dalam ketidaktahuan

Di antara banyaknya jalan yang dapat dipilih semesta, kita dipertemukan

Di antara banyaknya jalan yang dapat kupilih, aku memilih diam

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana aku dapat melanjutkan esok dengan rasa yang berantakan ini?

Bagaimana jika aku tidak memilih untuk diam?

Sinopsis

    ‎Aku datang ke kafe itu hanya untuk menunggu, tidak pernah benar-benar berniat menemukan apa pun. Namun Sore setelah hujan mempertemukanku dengan seseorang yang tak pernah ku bayangkan. Entah bagaimana dirinya mampu memenuhi pikiranku dalam waktu singkat. Aku datang hanya untuk menunggu, bukan untuk membuka lembaran baru. Dari kejauhan aku hanya mampu memperhatikan, menyimpan rasa sambil berulang kali melawan ragu untuk sekedar menyapa. Aku menunggu keberanian datang, namun waktu berjalan terlalu cepat dibanding munculnya keberanianku. Membuat tak satu kata pun keluar dari ucapan. Ia pergi begitu saja. Yang tersisa hanyalah aku dengan rasa yang tersisa. Dengan bayangan yang tak pernah ada dan pertanyaan yang terus tinggal "bagaimana jika saat itu aku tidak memilih untuk diam?".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...