SEKAR Edisi April 2026 | Titik Koma yang Terlewat Karya Siti Aprilia Mudmainah

Titik Koma yang Terlewat 
Karya Siti Aprilia Mudmainah

Namanya Alin, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Jember yang semester empatnya terasa seperti lomba lari tanpa garis akhir. Sejak mengambil mata kuliah Ilmu dan Perancangan Perundang-undangan, hidupnya dipenuhi istilah, asas, dan draft pasal yang tak kunjung selesai. Laptopnya jarang benar-benar mati, hanya berpindah dari meja belajar ke kasur kosan yang sempit. Setiap pagi ia bangun dengan pikiran tentang deadline—bukan tentang sarapan, bukan tentang cuaca Jember yang kadang terik berlebihan—melainkan tentang revisi naskah akademik dan tugas menyusun rancangan peraturan fiktif yang terasa terlalu nyata bebannya.

Alin dikenal dengan mahasiswa yang cukup rajin dengan IPK-nya yang lumayan dan juga aktif beberapa organisasi hingga kegiatan kampus. Dari luar, hidupnya terlihat tertata. Namun belakangan, ia sering menatap kertas-kertas folio dan laptopnya terlalu lama tanpa benar-benar membaca. Grup kelas membahas struktur konsiderans, dosen mengoreksi redaksi pasal dengan detail yang nyaris kejam, dan ia merasa setiap kata yang ditulisnya selalu kurang tepat. Salah titik koma bisa jadi bahan evaluasi panjang. Salah memilih diksi bisa dipertanyakan logikanya. Ia mulai takut dengan hari Selasa karena biasanya hari itu berarti tambahan tugas dan revisi yang cukup melelahkan.

Di sela kesibukan itu ada gibran, pacarnya yang satu kampus dan fakultasnya. Awalnya hubungan mereka sederhana dan menyenangkan. Ngopi sepulang kelas, jalan sebentar keliling kampus, atau sekadar video call sebelum tidur. gibran sering bercanda soal istilah hukum yang menurutnya terdengar seperti mantra. Alin biasanya tertawa. Namun semakin dekat tenggat tugas Perancangan Perundang-undangan, semakin sering ia menjawab pesan gibran dengan singkat. 

“Lagi ngerjain.” “Nanti, ya.” “Capek.” Kata-kata yang lama-lama terdengar seperti dinding.

Gibran mulai merasa dijauhkan. Ia pernah bertanya pelan, “Lin, kamu masih ada buat aku, nggak sih?” 

Alin ingin menjawab iya dengan yakin, tapi kepalanya terlalu penuh. Ia merasa bersalah membagi waktu. Setiap dua jam yang ia habiskan untuk bertemu pacarnya itu terasa seperti dua jam yang bisa dipakai menyempurnakan rumusan pasal. Ia mulai menganggap istirahat sebagai kemewahan, dan hubungan sebagai distraksi. Tanpa sadar, ia menjadikan cinta sebagai beban tambahan, bukan tempat pulang.

Puncaknya terjadi saat draft rancangan peraturannya dikembalikan penuh coretan merah. Dosen menulis catatan panjang tentang inkonsistensi norma dan sistematika yang tidak runtut. Alin keluar kelas dengan langkah cepat, menahan air mata yang tidak ingin jatuh di depan teman-temannya. Ia merasa bodoh, merasa tidak pantas berada di Fakultas Hukum. Saat gibran wajah lelah dan hati yang sudah tipis.

Percakapan mereka berlangsung singkat. Gibran bilang ia rindu Alin yang dulu bisa tertawa tanpa melihat jam.

“Aku kangen kamu yang bisa duduk lama tanpa gelisah lihat deadline,” katanya pelan.

Alin yang emosinya sudah rapuh justru merasa disalahkan. “Aku melakukan semua ini demi masa depan, Ghibran. Aku nggak bisa santai terus.”

“Aku tahu kamu berjuang,” jawabnya hati-hati. “Aku cuma merasa… aku makin jauh dari kamu.”

Alin menatapnya. “Jadi sekarang aku yang berubah dan itu salahku?”

Gibran menggeleng cepat. “Bukan salah. Cuma… rasanya kamu sendirian di dalam semua ini. Kamu nggak pernah kasih aku masuk.”

Alin terdiam. Ia ingin membantah, tapi lelah.

Ghibran lalu mengangguk pelan. “Tapi kalau kamu kehilangan diri kamu sendiri, itu masa depan buat siapa?” tanyanya.

Kalimat itu menggantung di udara. Alin tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk, menahan sesuatu yang terasa penuh di dada.

Beberapa menit kemudian, tanpa drama besar, mereka sepakat untuk berhenti dulu.

“Mungkin kita butuh jeda,” ucap Alin lirih.

“Iya. Biar sama-sama fokus,” jawab Ghibran.

Katanya supaya tidak saling menyakiti. Meski tetap saja terasa sakit.

Malam itu Alin kembali ke kos dan membuka undang-undang di laptop lagi dan mulai merevisi rancangan nya pada kertas folio bergaris dengan penanya. Anehnya, di tengah kesedihan, ia merasa sedikit lega. Tidak ada pesan yang harus segera dibalas. Tidak ada rasa bersalah karena menolak ajakan bertemu. Hanya ia dan draft pasal-pasalnya. Namun di antara baris-baris norma itu, ia mulai menyadari sesuatu. Selama ini ia bukan hanya mengejar nilai. Ia sedang berusaha membuktikan bahwa dirinya mampu, bahwa ia pantas, bahwa ia tidak boleh gagal. Ia menekan dirinya lebih keras daripada dosen mana pun.

Plot twist dalam hidup Alin datang bukan dari nilai A atau keberhasilan menyelesaikan rancangan peraturan. Ia tetap mendapatkan revisi. Ia tetap begadang. Namun suatu sore, ketika membaca ulang draft-nya untuk kesekian kali dan merasa kembali buntu pada satu konsep yang tak kunjung ia pahami, ia berhenti. Ia mengizinkan dirinya tidur tanpa rasa bersalah. 

Keesokan harinya, Alin mengetuk pintu ruang dosen dengan ragu.

“Masuk,” terdengar jawaban dari dalam.

“Selamat siang, Pak. Saya mau bertanya soal draft saya,” ucap Alin pelan.

“Silakan duduk. Bagian mana yang membingungkan?”

Alin menarik napas. “Tentang delegasi kewenangan di pasal tiga, Pak. Saya takut salah membedakan antara delegasi dan mandat.”

Dosen itu melihat draft-nya. “Menurut kamu sendiri, apa bedanya?”

“Atribusi dari undang-undang langsung. Delegasi pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab ikut beralih. Kalau mandat… tanggung jawab tetap di pemberi kewenangan,” jawab Alin, masih ragu.

“Nah, di kasus yang kamu tulis, tanggung jawabnya pindah atau tetap?”

Alin berpikir sejenak. “Tetap, Pak.”

“Berarti itu mandat, bukan delegasi. Kamu tidak salah konsep, hanya kurang tepat istilah.”

Alin terdiam, lalu bertanya pelan, “Jadi saya tidak sepenuhnya keliru, Pak?”

Dosen itu tersenyum. “Tidak. Kamu sedang belajar. Kalau bingung, bertanya itu wajar.”

Bahu Alin terasa lebih ringan. “Terima kasih, Pak.” 

“Revisi saja bagian itu. Selebihnya sudah baik.”

Alin mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu menjadi sempurna untuk tetap dianggap mampu.

Beberapa minggu kemudian, tugas besarnya akhirnya selesai. Ia mempresentasikannya dengan suara yang lebih stabil dari biasanya. Tidak sempurna—sempat ada satu slide yang ia jelaskan terlalu cepat—tetapi cukup baik. Ketika dosen mengangguk dan hanya memberi sedikit catatan perbaikan, Alin tidak lagi menerjemahkannya sebagai kegagalan. Ia mencatat, mengucapkan terima kasih, lalu duduk dengan perasaan lega yang tenang.

Siang itu, saat berjalan di koridor kampus, ia berpapasan dengan Gibran. Mereka sempat terdiam sepersekian detik sebelum sama-sama tersenyum canggung namun tulus. Tidak ada lagi dorongan untuk menjelaskan panjang lebar atau menyalahkan keadaan. 

“Semoga presentasimu lancar,” kata Gibran singkat. 

“Sudah tadi pagi,” jawab Alin, juga singkat. Percakapan itu sederhana, tetapi tidak menyisakan sesak seperti dulu.

Dalam perjalanan pulang, Alin menyadari sesuatu yang kini terasa jelas. Yang hampir menenggelamkannya bukan semata-mata mata kuliah Ilmu dan Perancangan Perundang-undangan, juga bukan Ghibran atau jarak yang sempat tercipta diantara mereka. Yang paling melelahkan adalah versinya sendiri, versi yang menuntut kesempurnaan tanpa henti, seolah-olah satu kesalahan kecil bisa meruntuhkan segalanya. Kini ia tahu, belajar tidak harus selalu dibayar dengan mengorbankan dirinya sendiri.

Kini Alin masih mahasiswi Fakultas Hukum yang sibuk dengan deadline dan pasal-pasal panjang. Bedanya, ia tidak lagi memusuhi dirinya sendiri. Ia belajar bahwa hukum memang mengatur banyak hal, tetapi hidupnya tidak harus seketat rumusan norma. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa menjadi manusia, bukan sekadar mesin penyusun peraturan.

SINOPSIS

Semester empat seharusnya biasa saja. Tapi bagi Alin, mahasiswi Fakultas Hukum yang dikenal rajin dan ambisius, semester ini berubah menjadi medan perang. Draft pasal, revisi tanpa henti, dan coretan merah dosen membuatnya mulai mempertanyakan kemampuannya sendiri. Di kampus, ia terlihat kuat. Di dalam kamar kosnya, ia nyaris runtuh.

Di tengah tekanan itu, ada Ghibran—pacar yang dulu selalu jadi tempat pulang. Namun ketika ambisi berubah menjadi obsesi, cinta terasa seperti gangguan. Hingga suatu hari, sebuah kalimat sederhana dari Ghibran membuat Alin terdiam: “Kalau kamu kehilangan diri kamu sendiri, itu masa depan buat siapa?”

Tanpa drama besar, mereka memilih jeda. Tapi apakah benar hanya itu yang retak?

Saat Alin mulai menyadari bahwa musuh terbesarnya bukanlah mata kuliah Ilmu dan Perancangan Perundang-undangan, melainkan tuntutan sempurna dari dirinya sendiri—ia dihadapkan pada pilihan: terus mengejar standar yang melelahkan, atau belajar menerima bahwa satu titik koma yang terlewat bukan akhir segalanya.

Lalu, di antara ambisi dan cinta, mana yang akan Alin pilih—dan apakah ia masih bisa menemukan dirinya yang dulu sebelum semuanya benar-benar terlambat?.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEKAR Edisi Juni 2025 | Kamu Cukup, Selalu karya Aura Alfisyahrani

PROFIL

SEKAR Edisi Juni 2025 | Angin Malam karya Saffanah Salsabila Syaikhoni