WANGI
SASTRA
Karya Lorenza Ulfiana Dewi
Gemercik air dari angkasa masih
setia berlomba setetes demi setetes untuk mencapai permukaan bumi yang didapuk
sebagai tanah istimewa. Sosoknya terlihat sigap untuk mengguyur tanah
Yogyakarta kala itu. Pukul tiga sore, bising kesibukan di Kafe Sastra terdengar
begitu jelas dari pemukiman penduduk di seberang sana. Denting jam dinding,
gesekan lembaran buku, semilir angin yang asyik memainkan engsel pintu, dan
suara ketikan keyboard yang saling beradu, mereka semua seolah
turut meramaikan suasana, berkamuflase untuk ikut serta menjadi bagian dari
kesibukan Kafe Sastra yang arsitekturnya masih murni oleh desain Belanda.
Kinanthi, perempuan berkepala
dua yang setia dengan kacamata anti radiasinya, duduk seorang diri di pojok
jendela Kafe Sastra. Aroma atmosfer tanah begitu menyeruak indra penciuman,
bercampur dengan aroma kopi cokelat yang telah menjadi hak miliknya, serta bau
lembaran buku yang sedikit menguning ujungnya. Buku non-fiksi berjudul The
Psychology of Money diperhatikannya dengan saksama. Membaca buku
sembari menikmati kopi cokelat yang sedikit menguras pundi-pundi rupiah, yang
sepatutnya masuk ke dalam daftar tabungan, begitu menenangkan pikirannya,
sesaat. Ah, sekali-kali. Perempuan itu asyik membalik
lembar buku dari halaman yang satu ke halaman yang lain. Sampai, atensinya
sedikit terganggu setelah mendengar suara bising engsel pintu yang kali ini
bukan ulah angin, melainkan manusia. Pintu itu terbuka sempurna, menampakkan
seorang laki-laki dengan jaket parasut green army. Laki-laki
itu kemudian mengibaskan rambut hitamnya yang sedikit basah akibat diguyur
gerimis. Aktivitasnya cukup menyita perhatian seisi ruangan, sedikit hiperbola,
namun nyata adanya.
Kinanthi mengalihkan
pandangannya, ia lebih memilih untuk asik di dunianya sendiri. Toh, itu tidak
begitu penting, bukan antrean tiket haji gratis yang mungkin bisa ia ikuti.
Sampai, dunianya terasa sedikit terusik kembali, setelah datang seorang anomali
yang berhasil menjadi selebriti beberapa menit sebelumnya, sembari menenteng
Ipad, sosoknya siap mendarat dengan mulus dan meminta berbagi meja dengannya.
Kinanthi lantas menoleh ke berbagai sudut, masih banyak tempat kosong, entah
motif apa yang ada di pikiran laki-laki di depannya itu. Kinanthi pun hanya
bisa mengangguk kala manusia di hadapannya meminta izin, ia sadar bahwa meja
ini tidak seperti buku dan kopi yang telah ia beli, sungguh, ia malas untuk
berbicara.
“Aku Avicenna, panggil aja Avi.
Kamu?” tanyanya sembari melepas jaket parasut green army miliknya.
Kinanthi yang sedari tadi sibuk bercengkrama dengan bukunya pun lantas
mengangkat wajahnya, tentu dengan terpaksa. Namun, otak Kinanthi tiba-tiba
terpikirkan suatu hal, Ibnu Sina?
“Kinanthi,” jawabnya singkat.
Laki-laki tersebut pun mengangguk, kemudian melirik bacaan yang tengah dipegang
oleh Kinanthi.
“Oh, The Psychology of
Money, udah khatam aku,” ucapnya lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan tiga
buku fiksi karya Tere Liye. Awalnya Kinanthi sangsi, sombong betul laki-laki di
hadapannya ini. Namun, setelah melihat tumpukkan buku milik laki-laki itu,
Kinanthi ikut melirik dan entah mengapa tertarik dengan aktivitas lawan
bicaranya.
“Suka buku juga?” tanya Kinanthi
dengan sedikit bersemangat, namun beberapa detik kemudian ia merutuki ucapannya
karena merasa pertanyaannya menjurus mendekati retorika.
Avicenna tersenyum tipis, ia
mengedikkan bahu. “Kamu tahu gak aku ke kafe ini atas motif apa? Ya,
mengerjakan skripsi, kafe ini punya daya tarik yang berbeda, seperti magnet
berbentuk tumpukkan buku untuk pengunjungnya,” jawab laki-laki tersebut.
Kinanthi seketika berpikir bahwa yang menyeret laki-laki tersebut – maksudnya
Avicenna, apakah karena buku The Psychology of Money?
Pasalnya, sekali lagi, masih banyak kursi kosong di sana.
“Suka karya Tere Liye, ya?”
tanya Kinanthi memilih mengubur pertanyaan yang berisik di kepalanya. Avicenna
lantas tersenyum dan mengangguk. “Oh, skripsinya tentang novelnya Tere Liye?
Kenapa bukan karyanya Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia? Tetralogi Pulau
Buru, deh. Bagus loh itu,” lanjut Kinanthi bertanya dan dengan lantang memberi
saran. Avicenna terlihat mengangguk kembali, tidak merasa terganggu dengan
ucapan Kinanthi.
“Iya, aku pakai karya Tere Liye
yang judulnya Yang Telah Lama Pergi. Bagus, perpaduan sejarah,
sosial-politik, petualangan, di mana tokoh Mas’ud dari Baghdad ini benar-benar
memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar untuk menjelajah, menarik menurutku.
Bumi Manusia memang bagus, tetapi untuk mendapatkan itu, seperti mencari jarum
di tumpukkan jerami,” jelasnya. Kinanthi mengangguk, ia setuju, paham betul
mengenai langkanya karya tersebut.
“Yang Telah Lama Pergi, Tanah
Para Bandit, dan Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Top tiga itu favoritku,”
balasnya. Kinanthi hanya bisa mengangguk, entah skill bicaranya
kabur dibawa oleh siapa, iklan muncul dengan membawa kopi pesanan Avicenna,
dibuntuti oleh seorang laki-laki dengan topi abunya yang entah datang dari
dimensi mana.
“Vi, terima kasih udah mau bantu
dan menyempatkan untuk datang bawain barangku. Aku duluan, ya, masih banyak
pekerjaan, selamat mengerjakan skripsi. Aman, mudah itu, sastra doang, kacang,
lah. Beda sama aku, teknik, cuy, sulit. Ya sudah ya aku duluan, semangat,
Vi!" ucapnya lalu pergi meninggalkan kedua anak manusia yang duduk di
pojok jendela yang tengah bergelut dengan pikirannya masing-masing.
Kinanthi menyandarkan tubuhnya
di kursi, terdengar suara embusan napasnya yang berat. “Perspektifmu tentang
orang yang doyan sama buku itu bagaimana? Banyak orang yang bilang itu gak
berguna, buang-buang duit, terlebih lagi anak sastra mudah disepelekan, ya,
kayak yang baru saja terjadi. Jangan salah paham dulu, aku juga anak sastra,”
ucap Kinanthi dengan berhati-hati. Avicenna menyeruput kopinya. Pembawaannya
begitu tenang, sedikit ... berwibawa. Netranya kemudian menatap ke arah luar
jendela, terlihat gerimis masih asyik berdansa dengan semilir angin di luar
sana.
“Orang yang bilang seperti itu
orang iri. Mereka tidak mampu menanamkan minat baca pada diri mereka sendiri.
Orang akan mencela karena mereka tidak paham akan apa yang terjadi. Kalau kata
Armada, biarlah orang berkata apa, yang penting aku bahagia.
Membaca buku itu kebiasaan positif yang gak semua orang beruntung bisa
mendapatkannya. Mau itu fiksi atau non-fiksi mereka sama-sama investasi leher
ke atas, lambat laun akan membuka cakrawala. Ini hanya soal kebiasaan, sama
halnya dengan orang yang suka judi, itu juga kebiasaan. Tergantung kita mau
ambil kebiasaan baik atau buruk. Perlu buku Atomic Habits? Aku
ada,” ucapnya sembari mengeluarkan buku bersampul putih dan menyerahkannya
kepada Kinanthi. Setelah menyimak opini lawan bicaranya, di pikiran Kinanthi
hanya ada satu, Avicenna adalah sales buku. Apakah mungkin ia
salah satu penulis blog di Gramedia? Marketingnya seiras.
Kinanthi menerima buku non-fiksi
yang diberikan Avicenna kepadanya, jika boleh jujur, itu merupakan salah
satu wishlist-nya, namun tabungannya belum cukup untuk menyisihkan
sebagian rupiah miliknya agar bisa memeluk buku tersebut dan memamerkannya
kepada seluruh penghuni kamarnya sebagai sosok anak baru yang harus dirayakan
keberadaannya.
“Termasuk teman kamu tadi?”
tanya Kinanthi dengan masih fokus menelaah isi buku.
“Ya. Termasuk teman aku tadi,”
jawab Avicenna, dengan netra yang tak lepas dari layar Ipad miliknya.
“Tahu Sang Alkemis? Paulo
Coelho?” lanjutnya bertanya dengan netra yang masih terfokus, seolah tersihir
layar elektronik di hadapannya.
Kinanthi menoleh, lantas ia
menggumam dan mengangguk mantap. “Siapa, sih, yang gak tahu buku legendaris
itu? Seluruh dunia pun telah mengenal itu.”
“Beneran tahu?” ucapnya seolah
tak percaya. Sepertinya, kacamata anti radiasi yang telah lama bertengger di
atas hidung Kinanthi itu, masih belum cukup untuk meyakinkan stranger di
hadapannya ini.
Kinanthi tersenyum, “Kalau kau
menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya akan bersatu padu saling bahu-membahu
membantumu untuk mendapatkannya.”
Avicenna menaruh Ipadnya. “Ikuti
kata hatimu. Kalau memang kamu suka sastra, ya masuk ke dalamnya, dan jangan
biarkan gonggongan anjing di luar sana mengusik damaimu. Terlebih gonggongan
yang berasal dari kepalamu sendiri,” ucap Avicenna. “Apa sih yang kamu
cari di dunia ini? Ketenangan, kan?” lanjut Avicenna bertanya. Entah mengapa,
rasanya, genre percakapan dua insan tersebut berubah seiring berjalannya waktu.
Kinanthi tertegun, ia mengangguk
pelan. Avicenna melihat hal tersebut, lantas ia tersenyum dan beralih
menyeruput kopinya yang sudah menjadi dingin itu.
Avicenna kemudian bercerita
mengenai Vincent Van Gogh yang dahulu karya lukisannya dicap buruk oleh manusia
di zamannya. Namun, berkat kegigihannya, sekarang karyanya mendunia. Kinanthi,
untuk kesekian kalinya dengan saksama, seolah tersihir oleh penuturan laki-laki
yang baru saja dikenalnya tidak sampai satu jam itu. Dari Vincent Van Gogh
beralih ke Oprah Winfrey, selebriti kaya raya yang sempat dianggap tidak layak
menjadi jurnalis televisi oleh produsernya. Kinanthi detik itu juga berpikir,
buku benar-benar membuka cakrawala. Kamu bisa keliling dunia hanya dengan
bercengkrama dengan buku. Lihat saja, salah satu bukti pemikirannya sedang
duduk manis di hadapannya. Sore itu, aroma Kafe Sastra benar-benar mengharumkan
jiwanya, hari itu ia disuguhkan pengalaman menarik bersama orang asing yang
datang entah dari belahan dunia mana. Tanyanya hanya satu, tentang jati diri
entitas yang sedang berinteraksi dengannya itu. Siapa dia?
SELESAI
SINOPSIS
Kinanthi, gadis yang tumbuh di
kota istimewa. Sejak kecil, raga dan jiwanya begitu akrab dengan berbagai
lembar buku yang berhasil menjadi pelarian dari riuhnya dunia. Kala itu,
gerimis sore mengantarkan Kinanthi ke Kafe Sastra — tempat di mana aroma buku
dan kopi berpadu dalam keheningan yang menyenangkan. Rutinitas yang sudah
seperti ritual wajib di hidupnya, untuk dijalankan.
Kinanthi tidak mengira,
kunjungannya ke Kafe Sastra kali itu mengantarkannya bertemu seorang asing yang
tanpa diduga berhasil menerobos batas dunianya, benteng yang ia bangun seolah
pudar dan menguar ke angkasa. Percakapan yang dimulai dari satu buku itu
kemudian berlanjut kepada makna hidup. Pertemuan itu menghadirkan perspektif
unik, namun meninggalkan jejak kasatmata, seperti wangi yang tak terlihat,
namun mampu mengendap lama dalam jiwa. Membekas.
Avicenna, siapa Anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar