Minggu, 12 April 2026

SEKAR Edisi Maret 2026 | WANGI SASTRA karya Lorenza Ulfiana Dewi

 

WANGI SASTRA

Karya Lorenza Ulfiana Dewi

Gemercik air dari angkasa masih setia berlomba setetes demi setetes untuk mencapai permukaan bumi yang didapuk sebagai tanah istimewa. Sosoknya terlihat sigap untuk mengguyur tanah Yogyakarta kala itu. Pukul tiga sore, bising kesibukan di Kafe Sastra terdengar begitu jelas dari pemukiman penduduk di seberang sana. Denting jam dinding, gesekan lembaran buku, semilir angin yang asyik memainkan engsel pintu, dan suara ketikan keyboard yang saling beradu, mereka semua seolah turut meramaikan suasana, berkamuflase untuk ikut serta menjadi bagian dari kesibukan Kafe Sastra yang arsitekturnya masih murni oleh desain Belanda.

Kinanthi, perempuan berkepala dua yang setia dengan kacamata anti radiasinya, duduk seorang diri di pojok jendela Kafe Sastra. Aroma atmosfer tanah begitu menyeruak indra penciuman, bercampur dengan aroma kopi cokelat yang telah menjadi hak miliknya, serta bau lembaran buku yang sedikit menguning ujungnya. Buku non-fiksi berjudul The Psychology of Money diperhatikannya dengan saksama. Membaca buku sembari menikmati kopi cokelat yang sedikit menguras pundi-pundi rupiah, yang sepatutnya masuk ke dalam daftar tabungan, begitu menenangkan pikirannya, sesaat. Ahsekali-kali. Perempuan itu asyik membalik lembar buku dari halaman yang satu ke halaman yang lain. Sampai, atensinya sedikit terganggu setelah mendengar suara bising engsel pintu yang kali ini bukan ulah angin, melainkan manusia. Pintu itu terbuka sempurna, menampakkan seorang laki-laki dengan jaket parasut green army. Laki-laki itu kemudian mengibaskan rambut hitamnya yang sedikit basah akibat diguyur gerimis. Aktivitasnya cukup menyita perhatian seisi ruangan, sedikit hiperbola, namun nyata adanya.

Kinanthi mengalihkan pandangannya, ia lebih memilih untuk asik di dunianya sendiri. Toh, itu tidak begitu penting, bukan antrean tiket haji gratis yang mungkin bisa ia ikuti. Sampai, dunianya terasa sedikit terusik kembali, setelah datang seorang anomali yang berhasil menjadi selebriti beberapa menit sebelumnya, sembari menenteng Ipad, sosoknya siap mendarat dengan mulus dan meminta berbagi meja dengannya. Kinanthi lantas menoleh ke berbagai sudut, masih banyak tempat kosong, entah motif apa yang ada di pikiran laki-laki di depannya itu. Kinanthi pun hanya bisa mengangguk kala manusia di hadapannya meminta izin, ia sadar bahwa meja ini tidak seperti buku dan kopi yang telah ia beli, sungguh, ia malas untuk berbicara.

“Aku Avicenna, panggil aja Avi. Kamu?” tanyanya sembari melepas jaket parasut green army miliknya. Kinanthi yang sedari tadi sibuk bercengkrama dengan bukunya pun lantas mengangkat wajahnya, tentu dengan terpaksa. Namun, otak Kinanthi tiba-tiba terpikirkan suatu hal, Ibnu Sina?

“Kinanthi,” jawabnya singkat. Laki-laki tersebut pun mengangguk, kemudian melirik bacaan yang tengah dipegang oleh Kinanthi.

“Oh, The Psychology of Money, udah khatam aku,” ucapnya lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan tiga buku fiksi karya Tere Liye. Awalnya Kinanthi sangsi, sombong betul laki-laki di hadapannya ini. Namun, setelah melihat tumpukkan buku milik laki-laki itu, Kinanthi ikut melirik dan entah mengapa tertarik dengan aktivitas lawan bicaranya.

“Suka buku juga?” tanya Kinanthi dengan sedikit bersemangat, namun beberapa detik kemudian ia merutuki ucapannya karena merasa pertanyaannya menjurus mendekati retorika.

Avicenna tersenyum tipis, ia mengedikkan bahu. “Kamu tahu gak aku ke kafe ini atas motif apa? Ya, mengerjakan skripsi, kafe ini punya daya tarik yang berbeda, seperti magnet berbentuk tumpukkan buku untuk pengunjungnya,” jawab laki-laki tersebut. Kinanthi seketika berpikir bahwa yang menyeret laki-laki tersebut – maksudnya Avicenna, apakah karena buku The Psychology of Money? Pasalnya, sekali lagi, masih banyak kursi kosong di sana.

“Suka karya Tere Liye, ya?” tanya Kinanthi memilih mengubur pertanyaan yang berisik di kepalanya. Avicenna lantas tersenyum dan mengangguk. “Oh, skripsinya tentang novelnya Tere Liye? Kenapa bukan karyanya Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia? Tetralogi Pulau Buru, deh. Bagus loh itu,” lanjut Kinanthi bertanya dan dengan lantang memberi saran. Avicenna terlihat mengangguk kembali, tidak merasa terganggu dengan ucapan Kinanthi.

“Iya, aku pakai karya Tere Liye yang judulnya Yang Telah Lama Pergi. Bagus, perpaduan sejarah, sosial-politik, petualangan, di mana tokoh Mas’ud dari Baghdad ini benar-benar memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar untuk menjelajah, menarik menurutku. Bumi Manusia memang bagus, tetapi untuk mendapatkan itu, seperti mencari jarum di tumpukkan jerami,” jelasnya. Kinanthi mengangguk, ia setuju, paham betul mengenai langkanya karya tersebut.

Yang Telah Lama Pergi, Tanah Para Bandit, dan Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Top tiga itu favoritku,” balasnya. Kinanthi hanya bisa mengangguk, entah skill bicaranya kabur dibawa oleh siapa, iklan muncul dengan membawa kopi pesanan Avicenna, dibuntuti oleh seorang laki-laki dengan topi abunya yang entah datang dari dimensi mana.

“Vi, terima kasih udah mau bantu dan menyempatkan untuk datang bawain barangku. Aku duluan, ya, masih banyak pekerjaan, selamat mengerjakan skripsi. Aman, mudah itu, sastra doang, kacang, lah. Beda sama aku, teknik, cuy, sulit. Ya sudah ya aku duluan, semangat, Vi!" ucapnya lalu pergi meninggalkan kedua anak manusia yang duduk di pojok jendela yang tengah bergelut dengan pikirannya masing-masing.

Kinanthi menyandarkan tubuhnya di kursi, terdengar suara embusan napasnya yang berat. “Perspektifmu tentang orang yang doyan sama buku itu bagaimana? Banyak orang yang bilang itu gak berguna, buang-buang duit, terlebih lagi anak sastra mudah disepelekan, ya, kayak yang baru saja terjadi. Jangan salah paham dulu, aku juga anak sastra,” ucap Kinanthi dengan berhati-hati. Avicenna menyeruput kopinya. Pembawaannya begitu tenang, sedikit ... berwibawa. Netranya kemudian menatap ke arah luar jendela, terlihat gerimis masih asyik berdansa dengan semilir angin di luar sana.

“Orang yang bilang seperti itu orang iri. Mereka tidak mampu menanamkan minat baca pada diri mereka sendiri. Orang akan mencela karena mereka tidak paham akan apa yang terjadi. Kalau kata Armada, biarlah orang berkata apa, yang penting aku bahagia. Membaca buku itu kebiasaan positif yang gak semua orang beruntung bisa mendapatkannya. Mau itu fiksi atau non-fiksi mereka sama-sama investasi leher ke atas, lambat laun akan membuka cakrawala. Ini hanya soal kebiasaan, sama halnya dengan orang yang suka judi, itu juga kebiasaan. Tergantung kita mau ambil kebiasaan baik atau buruk. Perlu buku Atomic Habits? Aku ada,” ucapnya sembari mengeluarkan buku bersampul putih dan menyerahkannya kepada Kinanthi. Setelah menyimak opini lawan bicaranya, di pikiran Kinanthi hanya ada satu, Avicenna adalah sales buku. Apakah mungkin ia salah satu penulis blog di Gramedia? Marketingnya seiras.

Kinanthi menerima buku non-fiksi yang diberikan Avicenna kepadanya, jika boleh jujur, itu merupakan salah satu wishlist-nya, namun tabungannya belum cukup untuk menyisihkan sebagian rupiah miliknya agar bisa memeluk buku tersebut dan memamerkannya kepada seluruh penghuni kamarnya sebagai sosok anak baru yang harus dirayakan keberadaannya.

“Termasuk teman kamu tadi?” tanya Kinanthi dengan masih fokus menelaah isi buku.

“Ya. Termasuk teman aku tadi,” jawab Avicenna, dengan netra yang tak lepas dari layar Ipad miliknya.

“Tahu Sang Alkemis? Paulo Coelho?” lanjutnya bertanya dengan netra yang masih terfokus, seolah tersihir layar elektronik di hadapannya.

Kinanthi menoleh, lantas ia menggumam dan mengangguk mantap. “Siapa, sih, yang gak tahu buku legendaris itu? Seluruh dunia pun telah mengenal itu.”

“Beneran tahu?” ucapnya seolah tak percaya. Sepertinya, kacamata anti radiasi yang telah lama bertengger di atas hidung Kinanthi itu, masih belum cukup untuk meyakinkan stranger di hadapannya ini.

Kinanthi tersenyum, “Kalau kau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya akan bersatu padu saling bahu-membahu membantumu untuk mendapatkannya.”

Avicenna menaruh Ipadnya. “Ikuti kata hatimu. Kalau memang kamu suka sastra, ya masuk ke dalamnya, dan jangan biarkan gonggongan anjing di luar sana mengusik damaimu. Terlebih gonggongan yang berasal dari kepalamu sendiri,” ucap Avicenna. “Apa sih yang kamu cari di dunia ini? Ketenangan, kan?” lanjut Avicenna bertanya. Entah mengapa, rasanya, genre percakapan dua insan tersebut berubah seiring berjalannya waktu.

Kinanthi tertegun, ia mengangguk pelan. Avicenna melihat hal tersebut, lantas ia tersenyum dan beralih menyeruput kopinya yang sudah menjadi dingin itu.

Avicenna kemudian bercerita mengenai Vincent Van Gogh yang dahulu karya lukisannya dicap buruk oleh manusia di zamannya. Namun, berkat kegigihannya, sekarang karyanya mendunia. Kinanthi, untuk kesekian kalinya dengan saksama, seolah tersihir oleh penuturan laki-laki yang baru saja dikenalnya tidak sampai satu jam itu. Dari Vincent Van Gogh beralih ke Oprah Winfrey, selebriti kaya raya yang sempat dianggap tidak layak menjadi jurnalis televisi oleh produsernya. Kinanthi detik itu juga berpikir, buku benar-benar membuka cakrawala. Kamu bisa keliling dunia hanya dengan bercengkrama dengan buku. Lihat saja, salah satu bukti pemikirannya sedang duduk manis di hadapannya. Sore itu, aroma Kafe Sastra benar-benar mengharumkan jiwanya, hari itu ia disuguhkan pengalaman menarik bersama orang asing yang datang entah dari belahan dunia mana. Tanyanya hanya satu, tentang jati diri entitas yang sedang berinteraksi dengannya itu. Siapa dia

SELESAI

 

SINOPSIS

Kinanthi, gadis yang tumbuh di kota istimewa. Sejak kecil, raga dan jiwanya begitu akrab dengan berbagai lembar buku yang berhasil menjadi pelarian dari riuhnya dunia. Kala itu, gerimis sore mengantarkan Kinanthi ke Kafe Sastra — tempat di mana aroma buku dan kopi berpadu dalam keheningan yang menyenangkan. Rutinitas yang sudah seperti ritual wajib di hidupnya, untuk dijalankan.

Kinanthi tidak mengira, kunjungannya ke Kafe Sastra kali itu mengantarkannya bertemu seorang asing yang tanpa diduga berhasil menerobos batas dunianya, benteng yang ia bangun seolah pudar dan menguar ke angkasa. Percakapan yang dimulai dari satu buku itu kemudian berlanjut kepada makna hidup. Pertemuan itu menghadirkan perspektif unik, namun meninggalkan jejak kasatmata, seperti wangi yang tak terlihat, namun mampu mengendap lama dalam jiwa. Membekas.

Avicenna, siapa Anda?

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...