Singgah
Karya Gilang Firmansyah
Malam di kampus selalu punya suasana yang berbeda. Tidak seramai siang hari, tapi juga tidak benar-benar sepi. Lampu-lampu gedung masih menyala, suara langkah kaki sesekali terdengar di lobi, dan angin malam membawa dingin yang cukup untuk membuat siapa pun ingin cepat pulang, kecuali mereka yang masih dikejar deadline.
Nira termasuk salah satunya.
Ia bukan
tipe mahasiswa yang suka begadang di kampus, tapi malam itu pengecualian. Tugas
desainnya belum selesai, sementara kamar kosnya terlalu bising untuk berpikir
jernih. Jadi ia memilih tempat yang paling masuk akal yaitu ruang kerja bersama
di samping gedung multimedia, mahasiswa kerap menyebutnya workspace
mulmed. Tempat yang biasanya jadi pelarian banyak mahasiswa saat butuh fokus
atau sekadar beristirahat melakukan aktivitas seperti membaca novel, scrolling
tiktok, dan tak ayal juga menjadi tempat para penggila gosip membicarakan
berita yang sedang hot di kampus.
Nira dikenal sebagai orang yang cukup rapi dalam mengerjakan sesuatu. Ia tidak suka hal yang setengah-setengah, termasuk desain. Tapi malam itu, bahkan garis dan font di layar laptopnya terasa tidak mau bekerja sama. Ia menghela napas pelan, menyandarkan punggung ke kursi, lalu menatap sekeliling. Beberapa orang masih sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan yang lain, dan itu cukup membuatnya nyaman. Sampai akhirnya, ia kembali menunduk ke layar laptopnya dan suara itu muncul untuk pertama kalinya.
“Kalau font itu dipakai, gambarnya bakal kelihatan aneh.” Nira berhenti mengetik, refleks ia menoleh.
“Kamu ngomong sama aku?” Cowok itu melihat ke arahnya dan mengangguk mantap.
“Iya. Maaf, kebiasaan.” Ia berdiri, mendekat, lalu menunjuk layar laptop Nira. “Coba kecilin ini sedikit, terus kasih jarak di sini.” Gerakannya cepat, seperti sudah pernah melakukan hal yang sama berkali-kali. Nira mengikuti sarannya, dan hasilnya langsung terlihat lebih rapi.
Ia menatap cowok itu, heran. “Kamu anak desain?” Cowok itu menggeleng. “Bukan. Aku cuma … pernah lihat ini sebelumnya.” Jawabannya aneh, tapi Nira tidak terlalu memikirkannya.
“Aku Dikta. Kamu pasti anak desain, kan?” ucap lelaki itu sambil menyodorkan tangannya ke Nira.
“Nira.” Singkatnya sambil membalas jabatan tangan cowok di depannya. Setelah sesi perkenalan singkat itu, Dikta kembali ke kursinya sendiri yang berada di samping kursi Nira. Tak ada obrolan lagi antara kedua manusia yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing itu. Baik Nira maupun Dikta tak ada yang ingin memulai obrolan terlebih dahulu. Sambil mengerjakan tugasnya, Nira kerap melirik ke cowok yang berada disampingnya itu. Aneh saja, Nira tak pernah tau cowok berkacamata itu, padahal ia sering sekali mengerjakan tugas disini. Namun entah mengapa, Nira merasa tidak asing dengan Dikta. Nira mendecak, “Ck. ngapain sih aku mikirin dia?” Nira kembali memfokuskan perhatian kepada laptop di depannya. Tugasnya tak akan selesai kalau fokusnya buyar gara-gara cowok itu.
Setelah jarum jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, Nira membereskan laptop dan segala perintilannya karena pekerjaannya telah selesai. Masih ada beberapa tugas lain, namun akan ia kerjakan besok saja. Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, ia berdiri dari kursinya dan melangkah keluar dari workspace itu. Sebelum ia menutup pintu untuk keluar, Nira memandang sejenak Dikta yang masih fokus dengan layar di depannya. Bahkan, Dikta tidak melihat Nira sedikit pun. Tidak mau ambil pusing, Nira segera melangkahkan kakinya menuju kostnya. Ia tak mau berlama-lama di kampus karena ia sudah sangat merindukan kasurnya yang empuk nan adem itu. Terlebih, perut Nira sudah meronta-ronta meminta untuk diisi makanan.
*****
Besoknya, tanpa rencana, Nira kembali ke tempat yang sama. Entah kenapa, ia berharap Dikta ada di sana lagi. Dan benar saja, cowok itu duduk di kursi yang sama, seolah tidak pernah pindah. Entah karena hari yang cerah atau suasana hati yang bagus, mood Nira hari ini sangat bagus. Ia berencana akan mengajak ngobrol Dikta, persetan dengan gengsi, lagi pula ia merasa Dikta cocok dijadikan teman. Tak ada hal-hal yang membuat seorang Dikta harus dihindari.
“Hai, kamu lagi? Boleh nggak aku duduk di sini?” tanya Nira setengah bercanda. Dikta tersenyum tipis. “Eh, hai, aku bisa bilang hal yang sama. Boleh sini duduk.” Dikta menawarkan tempat disampingnya sambil mengulum senyum.
Mereka mulai mengobrol hal-hal yang ringan, seperti fakultas dan tugas. Dikta dari teknik informatika, jauh dari dunia Nira. Tapi ada sesuatu yang janggal. Saat Nira mengeluh soal dosennya, Dikta tiba-tiba berkata, “Beliau pernah memarahimu habis-habisan karena lupa absen. Kamu pasti nggak suka beliau, kan?”
Nira mengerutkan kening. “Aku belum cerita.” Dikta mengangkat bahu. “Tebakan.” Singkatnya. Tapi nadanya terlalu yakin untuk sekadar tebakan. Mereka lanjut mengobrol hingga langit mulai berwarna jingga. Mereka juga sambil mengerjakan tugas masing-masing. Tak terasa, beberapa menit lagi matahari akan benar-benar tenggelam. Dikta izin berpamitan sejak lima menit yang lalu. Nira tetap disana karena masih ada beberapa tugas, ia berencana akan menuntaskan tugasnya yang lain karena deadline-nya tengah malam nanti.
*****
Hari-hari berikutnya, mereka semakin sering bertemu. Tanpa janjian, tanpa pesan. Seolah waktu mereka selalu mengarah ke tempat yang sama. Nira mulai terbiasa dengan kehadiran Dikta. Bahkan menunggunya. Dikta sering mengatakan hal-hal kecil yang aneh, seperti, “Besok kamu bakal telat. Alarmmu nggak bunyi.” Nira hanya tertawa saat itu. Mana mungkin dia mempercayai itu, Nira tergelak, hanya menganggap itu keasbunan Dikta saja. “Bisa aja kamu, udah kayak peramal.” Dikta tak menjawab, namun dia menanggapinya dengan setengah tertawa.
Tapi keesokan harinya, ia benar-benar bangun kesiangan karena alarmnya mati. Ia kembali ke workspace mulmed dengan perasaan campur aduk. “Kamu sengaja, ya?” tanya Nira.
Dikta hanya tersenyum kecil. “Aku cuma ingat.”
“Ingat apa?” Dikta tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap meja sejenak, lalu berkata pelan, “Hal-hal yang belum kamu alami.” Kalimat itu terdengar seperti bercanda, tapi ada sesuatu di cara Dikta mengucapkannya yang membuat Nira tertegun sejenak, tidak bisa menertawakannya begitu saja.
Mereka tetap dekat. Terlalu mudah, bahkan. Ngobrol tidak pernah canggung, diam pun terasa nyaman. Nira mulai jatuh cinta tanpa sadar. Tapi bersamaan dengan itu, hal-hal aneh mulai berubah arah. Jika dulu Dikta tahu banyak hal tentang Nira, kini ia mulai lupa hal-hal yang baru saja terjadi.
“Kita pernah makan bareng ya?” tanya Dikta suatu hari. Nira terdiam. “Kemarin.” Dikta tertawa kecil, tapi terlihat bingung. “Oh … aku lupa.” Awalnya Nira menganggap itu hal biasa. Semua orang bisa lupa. Tapi lama-lama, yang dilupakan Dikta bukan hal sepele. Ia lupa percakapan panjang mereka. Lupa cerita yang baru saja Nira bagikan. Lupa momen yang bagi Nira terasa penting.
Yang membuat Nira semakin tidak tenang adalah pola itu tidak seimbang. Dikta bisa tahu sesuatu sebelum terjadi, tapi tidak ingat sesuatu setelah itu berlalu. Suatu sore, Nira sengaja menguji. Ia mengajak Dikta ke sebuah kafe kecil di dekat kampus. “Kita belum pernah ke sini,” kata Nira. Dikta mengernyit saat masuk, lalu berhenti di dekat meja. “Kita pernah ke sini,” katanya pelan. “Kamu duduk di sana, terus pesen minuman manis. Habis itu kamu bilang terlalu eneg tapi tetap kamu habisin.” Nira menatap Dikta heran. “Kita belum pernah ke sini.” Dikta terlihat bingung, seperti baru menyadari sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Beberapa hari kemudian, Nira kembali ke kafe itu sendirian. Ia duduk di tempat yang sama, memesan minuman yang sama, sekadar untuk membuktikan ucapan Dikta kemarin. Dan saat ia menyeruputnya, rasa manis yang berlebihan membuatnya meringis. Terlalu eneg. Ia tetap menghabiskannya. Persis seperti yang dikatakan Dikta. Di situlah sesuatu dalam dirinya terasa runtuh pelan-pelan.
*****
Malam itu, Nira kembali ke workspace. Dikta sudah ada di sana. Seperti biasa. Seperti selalu. Nira duduk di depannya tanpa basa-basi. “Kamu sebenarnya … ingat masa depan, atau lupa masa lalu?” Dikta tidak langsung menjawab. Ia menatap Nira lama, seolah mencoba mengenali wajah yang mulai terasa asing. “Kalau aku bilang … semua yang kita lewati buat kamu, itu sudah pernah terjadi buat aku … kamu bakal percaya?” Suara Dikta pelan, hampir seperti bisikan.
Nira menahan napas. “Berarti …,” Ia berhenti sejenak, menyusun kata-katanya sendiri. “Kamu bukan berjalan ke depan.” Dikta tersenyum tipis, tapi matanya terlihat lelah. “Aku berjalan pulang.”
Sejak saat itu, semuanya terasa lebih jelas dan tentunya lebih menyakitkan. Nira memperhatikan perubahan-perubahan kecil yang dulu ia abaikan. Cara Dikta mulai tidak mengenali kebiasaan Nira. Cara ia berhenti menunggu Nira datang. Cara ia tidak lagi menatap Nira terlalu lama. Bagi Nira, perasaannya semakin dalam. Tapi bagi Dikta, semuanya justru memudar.
“Nama kamu siapa, ya?” tanya Dikta suatu sore, dengan nada ragu. Nira tersenyum, meski dadanya terasa sesak. “Nira.” Dikta mengangguk pelan, seperti mencoba mengingat sesuatu yang sudah terlepas. “Oh … Nira.” Tidak ada kehangatan yang dulu ada di matanya.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti hitungan mundur yang tidak bisa dihentikan. Nira tahu apa yang akan terjadi, tapi tetap datang. Tetap duduk di kursi yang sama. Tetap berbicara, meskipun setiap jawaban Dikta terasa seperti langkah menjauh. Ia sempat berpikir untuk pergi lebih dulu, sebelum semuanya benar-benar hilang. Tapi ia tidak bisa. Ia ingin ada sampai akhir, walau hanya sebagai seseorang yang diingat sendirian.
Dan akhirnya, hari itu datang. Dikta duduk di kursinya seperti biasa, membuka laptopnya, lalu melirik ke arah Nira yang baru datang. Tatapannya kosong, netral, seperti melihat orang asing. “Eh, boleh duduk di sini?” tanyanya sopan.
Nira berhenti sejenak, merasakan sesuatu di dalam dirinya benar-benar jatuh kali ini. Ia menarik nafas pelan, lalu duduk di seberang. “Iya, boleh.” Mereka diam sebentar. Lalu Dikta tersenyum ringan. “Kamu dari jurusan mana?” Nira menatap lekat sebelum menjawab. “Aku dari jurusan desain.” Dikta ber ‘oh’ kecil. “Wah, keren. Aku Dikta.” Dikta dengan semangat mengulurkan tangan ke hadapan Nira.
Nira diam memandangnya, mengingat semua versi Dikta yang pernah ia kenal, yang tahu segalanya tentang dirinya, yang perlahan lupa, yang akhirnya tidak mengenalnya sama sekali. Ia mengulurkan tangan dan tersenyum singkat “Aku Nira.”
Untuk
pertama kalinya, dan untuk terakhir kalinya. Di luar, hujan turun pelan,
mengetuk kaca seperti mengulang sesuatu yang tidak akan pernah sama. Workspace
itu tetap terasa dingin. Orang-orang tetap sibuk, dan waktu tetap berjalan
seperti biasa. Hanya saja, kali ini Nira tahu, mereka memang berada di waktu
yang sama tapi tidak pernah benar-benar berjalan ke arah yang sama.
SINOPSIS
Nira tidak pernah menyangka malam biasa di workspace kampus akan mempertemukannya dengan Dikta — seseorang yang terasa asing, tapi anehnya seperti sudah lama ia kenal. Pertemuan itu berubah jadi kebiasaan, lalu kedekatan, lalu sesuatu yang lebih dalam. Namun, di balik sikap tenang Dikta, ada kejanggalan: ia bisa mengetahui hal-hal yang belum terjadi, seolah hidupnya sudah pernah melewati semua yang sedang Nira jalani.
Semakin Nira mencoba memahami, semakin ia sadar bahwa waktu mereka tidak berjalan ke arah yang sama. Ketika perasaannya tumbuh, ingatan Dikta justru perlahan menghilang, termasuk tentang dirinya. Jika seseorang mengingat masa depan tapi melupakan masa lalu, lalu di titik mana sebuah hubungan benar-benar ada… dan kapan sebenarnya itu mulai hilang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar