Minggu, 12 April 2026

SEKAR Edisi Maret 2026 | Atap Renggang karya Eka Ibanesa

Atap Renggang

karya Eka Ibanesa

Namaku Mai. Aku anak perempuan pertama yang lahir dari keluarga sederhana. Kami tinggal bersama di sebuah rumah dengan atap-atap renggang dan tembok-tembok mengelupas karena rembesan air hujan. Tiap kali hujan turun dengan deras, aku dan adik laki-lakiku yang berusia dua tahun di bawahku, berlomba-lomba mengambil ember di rak piring untuk menadah air hujan yang jatuh di antara atap-atap renggang. Kami berlari riang dan panik secara bersamaan karena takut air hujan semakin membasahi lantai semen yang baru saja ditambal. 

Ayahku bekerja sebagai karyawan di salah satu pabrik kayu, sedangkan ibuku tidak bekerja. Ibuku menghabiskan waktunya untuk mengurusku dan adik laki-lakiku dengan penuh cinta. Sejak kecil, aku sudah terbiasa hidup sederhana, di rumah kecil dengan atap-atap renggang, tapi di situlah aku merasakan banyak kasih sayang yang tidak kudapatkan dari tempat manapun. Aku kira, kehangatan keluarga yang kudapatkan akan berlangsung selamanya. Namun, ternyata tidak. Pernah suatu ketika keluarga kecilku berada di titik terendah. Semuanya nyaris berantakan karena masalah ekonomi. Ibuku terlilit banyak utang hingga memicu pertengkaran ayah dan ibuku setiap waktu. 

Tiap pagi, siang, sore, malam, ada saja penagih utang yang mencari ibuku di rumah. Aku tidak tahu seberapa besar uang yang dipinjam ibuku dari para rentenir. Ibuku sering kali bersembunyi dari para rentenir, bukan karena tidak mau membayar utang-utangnya, tapi memang pada saat itu ibuku tidak ada uang yang harus dibayarkan. Aku tidak tahu uang-uang yang dipinjam ibuku digunakan untuk apa. Apa mungkin untuk memenuhi kebutuhan harian kami? Itu berarti uang bulanan dari ayah tidak pernah cukup? 

“Ibumu mana?” tanya seorang pria berperawakan tinggi mengenakan setelan hitam. 

“Aku nggak tahu,” jawabku takut sambil menatap dua pria yang kutahu mereka adalah penagih utang. 

Satu pria di sebelahnya berkata dengan keras, “Panggil ibumu! Jangan sembunyi terus. Bayar utangnya!” 

Beberapa tetanggaku yang duduk di depan rumahku langsung menoleh ke arahku. Mereka terlihat berbisik-bisik. Aku yang pada awalnya bermain di depan rumah cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Aku tahu ibuku ada di pekarangan belakang, sengaja bersembunyi dari para penagih utang dan aku langsung menghampirinya. Tatapan ibuku seperti akan memarahiku. 

“Ibu dicariin orang di depan,” kataku pelan. 

“Ibu udah bilang, main di dalam rumah aja, pintunya ditutup!” 

Aku menunduk mendengar ucapan ibuku karena aku juga ingin bermain di depan rumah. Aku tidak tahu apakah akan datang dua orang penagih utang pada hari itu. Setelah itu aku langsung berlari ke dalam kamar dan mengintip di sela-sela jendela. Dua pria penagih utang itu masih ada dan berdiri di depan pintu. Mereka mengetuk pintu beberapa kali dan semakin keras hingga membuatku takut. Aku menutup rapat-rapat kedua telinga berharap tidak mendengar suara ketukan pintu keras berkali-kali. 

***

Seminggu belakangan ini, banyak sekali penagih utang yang datang ke rumah dan puncaknya pagi ini, salah satu penagih utang membawa dua orang datang ke rumah bukan untuk menagih uang seperti biasanya. Mereka datang ke rumah membawa becak dan mengambil beberapa barang yang ada di rumahku sebagai jaminan karena ibuku tidak bisa melunasi utang-utangnya. Kulkas dan TV diambil penagih utang dan aku menangis sejadi-jadinya. 

“Jangan diambil kulkasnya!”

“Ibu! Ayah! Kulkasnya mau dibawa ke mana?” 

Aku meraung-raung sambil menatap ibuku yang menangis. Aku masih menatap kulkasku yang kabel-kabelnya mulai dicopoti. Stiker-stiker lucu yang aku tempel di pintu kulkas membuatku tidak rela jika kulkas itu diambil penagih utang. Aku membeli stiker-stiker itu dengan sebagian uang jajanku Rp2.000 pada saat itu. Kenapa mereka mengambil barang-barang kesukaanku? 

“Kulkasnya nggak dibawa ke mana-mana. Mau dibenerin.” Kalimat penenang ibuku tidak membuatku berhenti menangis.

Aku melihat raut wajah ayahku yang terlihat tenang, bahkan ayahku membantu mencopot kabel-kabel dan mengangkat kulkas ke becak untuk dibawa penagih utang tersebut. Tatapanku masih tertuju ke stiker-stiker yang tertempel rata dari atas pintu sampai bawah pintu kulkas. Masih dengan suara sesenggukan, aku berlari ke dalam kamar. Aku tidak bisa mengubah apa-apa. Kulkas dan TV sudah diambil orang lain. 

Setelah kepergian penagih utang, ayah dan ibuku bertengkar. Tentu saja karena persoalan utang-utang ibuku. Suara keras bersahutan dan tangisan ibu semakin terdengar. Aku kembali menangis, kali ini dengan suara yang kuredam di selimut. Aku tidak sepenuhnya paham dengan permasalahan kedua orang tuaku, tetapi akhir-akhir ini sudah tidak ada kehangatan lagi di dalamya. Hampir tiap harinya berisi pertengkaran, tangisan, dan aku tidak berani ikut campur. Aku hanya meringkuk ketakutan tiap kali mereka bertengkar. Aku hanya menutup kedua telinga rapat-rapat tiap kali terdengar suara keras bersahutan. 

Beberapa menit setelah pertengkaran itu, ibuku masuk ke dalam kamarku dan mengatakan sesuatu yang membuat perasaanku semakin sedih. Tidak, bukan hanya sedih yang kurasakaan. Sudah berbagai perasaan yang kurasakan hari ini dan aku tidak bisa cerita ke siapa-siapa. 

“Mai,” panggil ibu.

Aku menatap wajah ibu yang sembab. “Iya, Bu?”

“Ibu mau ke Malaysia, kerja di sana buat biayain kamu sama adik. Kamu nanti di rumah sama nenek, ya. Tiap bulan nanti Ibu kirimin uang. Nanti Ibu pulang bawa uang banyak, kamu mau beli apa pun bisa. Ayah udah nggak bisa bantu ngelunasin utang-utang Ibu lagi, jadi Ibu harus kerja di luar negeri. Kalau kamu udah masuk SMP, Ibu pulang.” 

Perkataan ibuku seketika membuat tangisanku pecah. Aku sudah tidak tahu berapa kali aku menangis hari ini. Kenapa ibu tega mengatakan itu kepadaku? Aku tidak butuh uang banyak, tidak mau beli apa-apa juga. Aku hanya butuh ibu tetap di sini bersamaku. Tiga sampai lima tahun untuk ibu bekerja di luar negeri itu bukan waktu yang sebentar. Aku tidak bisa satu hari tanpa ibu. 

“Ibu kerja di sini aja nggak bisa?” tanyaku dengan suara sesenggukan. 

Ibuku menggeleng. “Nggak bisa. Kalau Ibu kerja di sini, utang-utang Ibu nggak lunas-lunas. Semoga kamu ngerti, ya.”

Mengerti? Apa di usiaku yang belum genap 10 tahun ini memang sudah seharusnya mengerti dengan semua keadaan yang terjadi? Aku berpikir dengan keras bagaimana agar ibu tidak jadi bekerja di luar negeri. Apa yang bisa dilakukan anak kecil ini untuk mengubah keadaan yang tidak baik-baik saja. 

Aku menatap punggung ibu yang keluar begitu saja dari kamar tanpa memastikan keadaanku baik-baik saja. Ibu pergi tanpa memberikan pelukan atau sekadar usapan menenagkan dan menyakinkan diriku bahwa semua ini akan baik-baik saja. Aku memegang dadaku  yang terasa sesak sekali. 

Setelah pertengkaran hebat orang tuaku, sore harinya, ayahku mengajakku berkeliling dengan motor lamanya. Kami bernyanyi riang sambil menikmati keindahan sawah-sawah yang membentang sepanjang jalan. Sejenak, aku melupakan kesedihan sejak pagi tadi. Usiaku belum genap 10 tahun, tetapi aku harus memahami semua keadaan yang akhir-akhir ini terjadi di keluargaku. Aku harus memendam banyak perasaan takut, bingung, dan perasaan lain yang tidak bisa kuceritakan ke siapa-siapa. 

Sesaat ketika aku baru saja menyelesaikan satu lagu anak-anak, tiba-tiba motor ayah melaju pelan dan kudengar tarikan napas panjang-panjang dari ayah. Tiba-tiba ayah memberikanku pertanyaan membuatku kembali sedih. Perasaan senang yang baru saja kurasakan perlahan hilang tergantikan perasaan sedih berkali-kali. 

“Kamu mau ikut Ayah atau Ibu?”

Mendengar pertanyaan itu, aku langsung terdiam dengan mata berkaca-kaca menahan tangisan. Aku menggerakkan mata ke sana ke mari berharap air mata tidak sampai menetes. Usiaku memang belum cukup dewasa, tapi aku paham arah pembicaraan ayahku ke mana. Kenapa aku diharuskan memilih dua orang yang aku sayangi? Apakah ayah tidak tahu jika pertanyaan ini menyakiti hati anak perempuannya?

“Ikut Ayah saja, ya, biar Adik ikut Ibu. Nanti kalau kamu ikut Ayah, kamu bisa beli apa pun yang kamu mau. Nanti Ayah masukin ke sekolah, les-les an yang kamu mau,” lanjut ayahku dan aku masih diam memikirkan jawaban yang tidak tahu harus kujawab apa. 

Aku pernah bercerita kepada ayah bahwa jika ada kesempatan, aku ingin les di dekat lampu merah yang sudah terkenal itu dan aku tahu biayanya mahal. Namun, setelah ayahku mengatakan itu, aku tidak lagi ingin les di tempat itu. Aku ingin menjawab lantang bahwa aku tidak butuh semua itu. Kenapa ayah dan ibu sama-sama menjanjikan uang banyak dan kehidupan yang lebih mewah untukku? Aku tidak butuh semua itu. Aku sudah sangat senang hidup penuh kesederhanaan asalkan ada ibu dan ayah. Aku hanya ingin kami bersama seterusnya. Banyak sekali pertanyaan dan kemungkinan-kemungkinan yang kupikirkan selama di perjalanan. 

Berarti, kami tidak akan tinggal di rumah yang sama lagi?

Berarti, nanti tidak ada lagi kebersamaan?

Kenapa?

Aku tidak berani mengatakan secara langsung kepada ayahku. Aku hari ini sangat sedih, takut, dan bingung dengan semua yang terjadi. Ibu ingin bekerja di luar negeri, ayah ingin cerai dengan ibu, lalu aku harus bagaimana? Aku hanya ingin keluarga kecilku utuh. Aku tidak menuntut apa-apa karena keinginanku hanya ingin ayah dan ibuku tetap di sini, melihatku bertumbuh dan berproses. Semua itu lebih baik daripada aku hidup dengan kemewahan, tapi aku tidak bisa bersama-sama dengan keduanya.

“Aku mau ikut Ibu aja,” jawabku dengan perasaan yang berat untuk memilih. 

***

Keesokan harinya aku berangkat sekolah dengan mata sembab. Pagi ini harapanku hanya satu, semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin. Semoga hari ini tidak banyak tangisan seperti kemarin. Semoga hari ini ada satu kebahagiaan yang aku dapatkan. Hari ini aku tidak meminta uang saku kepada ibu karena aku ingin menjual penghapus karakter yang sempat aku beli beberapa minggu lalu. Aku menjual penghapus dengan harga Rp1.000 dengan berbagai karakter mulai dari hewan-hewan lucu hingga karakter buah-buahan.

“Siapa yang mau beli penghapus karakter? Lucu-lucu loh!” Aku sedikit mengeraskan suaraku di dalam kelas agar teman-temanku melihat ke arahku. 

“Wah, lucu-lucu banget penghapusnya. Ini berapaan harganya, Mai?” tanya temanku sambil memegang penghapus karakter panda. 

“Semuanya Rp1.000-an, ya. Yuk dibeli!” 

Teman-temanku bergerombol di mejaku dan melihat penghapus-penghapus karakter yang aku bawa. Senang sekali melihat beberapa dari mereka membeli penghapusku. Hari ini aku mendapat uang Rp10.000 dan lumayan sekali bisa kupakai sebagai uang saku tanpa meminta ke ibu. Setidaknya dengan aku berjualan penghapus karakter dan tidak meminta uang jajan ke ibu, akan sedikit mengurangi beban keuangan ibu. 

Sisa beberapa penghapus lagi dan satu per satu kumasukkan ke dalam tas untuk dijual keesokan harinya. Sambil memasukkan penghapus, aku melamun memikirkan perkataan ayah dan ibu kemarin. Apakah masih ada harapan agar ibu tidak jadi bekerja di luar negeri? Apakah ada harapan ayah tidak bercerai dengan ibu? 

Saat jam istirahat berlangsung, aku menemui adikku yang berada di kelas II SD. Kelasnya berada di depan halaman sekolah. Aku ingin menanyakan kepadanya perihal rencana ayah yang ingin bercerai dengan ibu dan rencana ibu yang akan bekerja di luar negeri selama kurang lebih tiga tahun. Adikku memang tahu tentang pertengkaran-pertengkaran itu, tapi aku rasa dia tidak begitu memahami dengan apa yang terjadi. 

“Dek, sini!” panggilku menyuruh adikku duduk di depan bangku kelasnya. 

Aku mengeluarkan uang Rp2.000 hasil penjualan penghapus karakter tadi di kelas, memberikan kepada adikku. Aku tidak tahu tadi pagi dia diberi uang saku atau tidak oleh ibu. 

“Ini aku kasih, tadi kamu dikasih uang sama sama Ibu?”

Adikku mengangguk. “Iya, dikasih Rp2.000.” 

“Yaudah, ini aku kasih Rp2.000 lagi buat tambahan jajan.” 

Aku menatap sejenak wajah adikku yang terlihat tidak mengerti apa-apa. Apa memang ayah dan ibu hanya bertanya seperti itu kepadaku? Apa karena bagi mereka adikku masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini? Aku mencoba mencari kata-kata selembut mungkin untuk menanyakan semua ini. 

“Kakak mau tanya, apa kamu tahu ibu mau bekerja?” 

Wajah adikku tampak bingung. Benar, berarti dia tidak tahu tentang rencana ibu yang ingin bekerja di luar negeri. 

“Kamu mau ikut ayah atau ibu?” Wajah adikku semakin terlihat bingung mendengar pertanyaanku yang tidak tahu arahnya ke mana. 

“Ikut ke mana, Kak?” 

Aku menghela napas. Adikku tidak tahu apa-apa, apa pantas aku memberitahu hal menyakitkan ini di waktu sekarang? Apa aku bisa mengatakan kepadanya bahwa rumah yang kami agung-agungkan untuk pulang hampir roboh. Meski ini terlalu cepat, tapi adikku harus mengetahui semua ini sebab dikatakan sekarang atau tidak rasanya akan sama. Menyakitkan dan masing-masing dari kami harus menerima. Masing-masing dari kami harus ikut salah satu di antara ayah dan ibu. 

“Ibu dan ayah mau cerai. Ibu juga mau bekerja di luar negeri.” 

Adikku diam sejenak lalu mengeluarkan pertanyaan polosnya. “Terus kita sama siapa, Kak?” 

***

Aku meneguk secangkir coklat panas yang sudah mulai dingin karena menemaniku menulis sejak tiga jam lalu. Tatapanku tertuju pada tulisan yang baru saja kutulis dengan banyak perasaan emosional. Sejauh ini aku tumbuh sebagai anak perempuan yang tertutup, tidak pernah bercerita masalah keluarga ke siapa-siapa dan tidak pernah menceritakan ketakutanku ke orang-orang terdekat. Sampai pada halaman terakhir, aku merasa lega. Bagian masa lalu yang terkesan menyedihkan, tidak sepenuhnya harus dilupakan. 

Apa kabar Mai kecil? Tidakkah dunia terkesan menyakitkan untuk seorang anak perempuan pertama yang dituntut selalu mengerti keadaan, meski tidak pernah baik-baik saja, batinku tersenyum kecil mengingat Mai kecil yang dipenuhi banyak rasa ketakutan. 

Rumah dengan atap renggang yang kutempati sejak kecil bersama keluarga kecilku menjadi sebuah cerita yang tidak pernah terlupakan. Tidak hanya menyimpan jatuhnya air hujan yang kerap kali ditadah dengan ember, tapi juga menyimpan rapuh dari masing-masing penghuninya. Salah satunya aku. Namun, di balik rumah atap renggang itu, secara bersamaan kudapati banyak hangatnya kasih sayang dari ayah dan ibu. Pelukan yang tidak hanya bermakna sentuhan fisik, tapi juga upaya dari ayah dan ibu untuk memperbaiki renggang yang ada. Ayah dan ibu yang masih merengkuh masing-masing dari kami, aku dan adikku agar tetap merasa pulang. 

Sekarang aku berada di sini, keseharianku aku habiskan untuk menulis. Menulis sebagai bentuk mengekspresikan perasaan-perasaan yang selama ini tidak pernah tersampaikan. Sampai di titik sekarang, ada banyak ucapan terima kasih dan hal-hal yang perlu disyukuri. Salah satunya perihal keluarga kecilku yang masih utuh. 

Aku tidak butuh kemewahan. Aku hanya butuh tempat pulang yang utuh, ayah dan ibu. 

SINOPSIS

Mai tumbuh sebagai anak perempuan pertama yang dipaksa memahami keadaan sebelum benar-benar mengerti arti kehilangan. Di rumah dengan atap yang renggang, ia akrab dengan ember penadah hujan, bisikan tetangga ketika para penagih hutang datang, dan suara pertengkaran ayah dan ibunya. Atap Renggang bukan hanya tentang rumah yang bocor karena rembesan air hujan, tetapi tentang masing-masing penghuninya yang nyaris kehilangan. Saat ibunya harus pergi dan ayahnya membicarakan perpisahan, Mai belajar menyimpan tangis pada sudut kamar. Dari rumah inilah, ia menemukan bahwa masing-masing penghuninya tidak benar-benar ingin kehilangan. Semuanya berusaha mempertahankan, dan memperbaiki rumah sebagai tempat pulang yang aman karena rumah bukan hanya bangunan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...