Atap Renggang
karya Eka Ibanesa
Namaku Mai. Aku anak
perempuan pertama yang lahir dari keluarga sederhana. Kami tinggal bersama di
sebuah rumah dengan atap-atap renggang dan tembok-tembok mengelupas karena
rembesan air hujan. Tiap kali hujan turun dengan deras, aku dan adik
laki-lakiku yang berusia dua tahun di bawahku, berlomba-lomba mengambil ember
di rak piring untuk menadah air hujan yang jatuh di antara atap-atap renggang.
Kami berlari riang dan panik secara bersamaan karena takut air hujan semakin
membasahi lantai semen yang baru saja ditambal.
Ayahku bekerja sebagai
karyawan di salah satu pabrik kayu, sedangkan ibuku tidak bekerja. Ibuku
menghabiskan waktunya untuk mengurusku dan adik laki-lakiku dengan penuh cinta.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa hidup sederhana, di rumah kecil dengan
atap-atap renggang, tapi di situlah aku merasakan banyak kasih sayang yang
tidak kudapatkan dari tempat manapun. Aku kira, kehangatan keluarga yang
kudapatkan akan berlangsung selamanya. Namun, ternyata tidak. Pernah suatu
ketika keluarga kecilku berada di titik terendah. Semuanya nyaris berantakan
karena masalah ekonomi. Ibuku terlilit banyak utang hingga memicu pertengkaran
ayah dan ibuku setiap waktu.
Tiap pagi, siang, sore,
malam, ada saja penagih utang yang mencari ibuku di rumah. Aku tidak tahu seberapa
besar uang yang dipinjam ibuku dari para rentenir. Ibuku sering kali
bersembunyi dari para rentenir, bukan karena tidak mau membayar utang-utangnya,
tapi memang pada saat itu ibuku tidak ada uang yang harus dibayarkan. Aku tidak
tahu uang-uang yang dipinjam ibuku digunakan untuk apa. Apa mungkin untuk
memenuhi kebutuhan harian kami? Itu berarti uang bulanan dari ayah tidak pernah
cukup?
“Ibumu mana?” tanya
seorang pria berperawakan tinggi mengenakan setelan hitam.
“Aku nggak tahu,”
jawabku takut sambil menatap dua pria yang kutahu mereka adalah penagih
utang.
Satu pria di sebelahnya
berkata dengan keras, “Panggil ibumu! Jangan sembunyi terus. Bayar
utangnya!”
Beberapa tetanggaku yang
duduk di depan rumahku langsung menoleh ke arahku. Mereka terlihat
berbisik-bisik. Aku yang pada awalnya bermain di depan rumah cepat-cepat masuk
ke dalam rumah dan menutup pintu. Aku tahu ibuku ada di pekarangan belakang,
sengaja bersembunyi dari para penagih utang dan aku langsung menghampirinya.
Tatapan ibuku seperti akan memarahiku.
“Ibu dicariin orang di
depan,” kataku pelan.
“Ibu udah bilang, main di dalam rumah aja, pintunya ditutup!”
Aku menunduk mendengar ucapan ibuku karena aku juga ingin bermain di depan rumah. Aku tidak tahu apakah akan datang dua orang penagih utang pada hari itu. Setelah itu aku langsung berlari ke dalam kamar dan mengintip di sela-sela jendela. Dua pria penagih utang itu masih ada dan berdiri di depan pintu. Mereka mengetuk pintu beberapa kali dan semakin keras hingga membuatku takut. Aku menutup rapat-rapat kedua telinga berharap tidak mendengar suara ketukan pintu keras berkali-kali.
***
Seminggu belakangan ini,
banyak sekali penagih utang yang datang ke rumah dan puncaknya pagi ini, salah
satu penagih utang membawa dua orang datang ke rumah bukan untuk menagih uang
seperti biasanya. Mereka datang ke rumah membawa becak dan mengambil beberapa
barang yang ada di rumahku sebagai jaminan karena ibuku tidak bisa melunasi
utang-utangnya. Kulkas dan TV diambil penagih utang dan aku menangis sejadi-jadinya.
“Jangan diambil
kulkasnya!”
“Ibu! Ayah! Kulkasnya
mau dibawa ke mana?”
Aku meraung-raung sambil
menatap ibuku yang menangis. Aku masih menatap kulkasku yang kabel-kabelnya
mulai dicopoti. Stiker-stiker lucu yang aku tempel di pintu kulkas membuatku
tidak rela jika kulkas itu diambil penagih utang. Aku membeli stiker-stiker itu
dengan sebagian uang jajanku Rp2.000 pada saat itu. Kenapa mereka mengambil
barang-barang kesukaanku?
“Kulkasnya nggak dibawa
ke mana-mana. Mau dibenerin.” Kalimat penenang ibuku tidak membuatku berhenti
menangis.
Aku melihat raut wajah
ayahku yang terlihat tenang, bahkan ayahku membantu mencopot kabel-kabel dan
mengangkat kulkas ke becak untuk dibawa penagih utang tersebut. Tatapanku masih
tertuju ke stiker-stiker yang tertempel rata dari atas pintu sampai bawah pintu
kulkas. Masih dengan suara sesenggukan, aku berlari ke dalam kamar. Aku tidak
bisa mengubah apa-apa. Kulkas dan TV sudah diambil orang lain.
Setelah kepergian
penagih utang, ayah dan ibuku bertengkar. Tentu saja karena persoalan
utang-utang ibuku. Suara keras bersahutan dan tangisan ibu semakin terdengar.
Aku kembali menangis, kali ini dengan suara yang kuredam di selimut. Aku tidak
sepenuhnya paham dengan permasalahan kedua orang tuaku, tetapi akhir-akhir ini
sudah tidak ada kehangatan lagi di dalamya. Hampir tiap harinya berisi
pertengkaran, tangisan, dan aku tidak berani ikut campur. Aku hanya meringkuk
ketakutan tiap kali mereka bertengkar. Aku hanya menutup kedua telinga
rapat-rapat tiap kali terdengar suara keras bersahutan.
Beberapa menit setelah
pertengkaran itu, ibuku masuk ke dalam kamarku dan mengatakan sesuatu yang
membuat perasaanku semakin sedih. Tidak, bukan hanya sedih yang kurasakaan.
Sudah berbagai perasaan yang kurasakan hari ini dan aku tidak bisa cerita ke
siapa-siapa.
“Mai,” panggil ibu.
Aku menatap wajah ibu
yang sembab. “Iya, Bu?”
“Ibu mau ke Malaysia,
kerja di sana buat biayain kamu sama adik. Kamu nanti di rumah sama nenek, ya.
Tiap bulan nanti Ibu kirimin uang. Nanti Ibu pulang bawa uang banyak, kamu mau
beli apa pun bisa. Ayah udah nggak bisa bantu ngelunasin utang-utang Ibu lagi,
jadi Ibu harus kerja di luar negeri. Kalau kamu udah masuk SMP, Ibu
pulang.”
Perkataan ibuku seketika
membuat tangisanku pecah. Aku sudah tidak tahu berapa kali aku menangis hari
ini. Kenapa ibu tega mengatakan itu kepadaku? Aku tidak butuh uang banyak,
tidak mau beli apa-apa juga. Aku hanya butuh ibu tetap di sini bersamaku. Tiga sampai
lima tahun untuk ibu bekerja di luar negeri itu bukan waktu yang sebentar. Aku
tidak bisa satu hari tanpa ibu.
“Ibu kerja di sini aja
nggak bisa?” tanyaku dengan suara sesenggukan.
Ibuku menggeleng. “Nggak
bisa. Kalau Ibu kerja di sini, utang-utang Ibu nggak lunas-lunas. Semoga kamu
ngerti, ya.”
Mengerti? Apa di usiaku
yang belum genap 10 tahun ini memang sudah seharusnya mengerti dengan semua
keadaan yang terjadi? Aku berpikir dengan keras bagaimana agar ibu tidak jadi
bekerja di luar negeri. Apa yang bisa dilakukan anak kecil ini untuk mengubah
keadaan yang tidak baik-baik saja.
Aku menatap punggung ibu
yang keluar begitu saja dari kamar tanpa memastikan keadaanku baik-baik saja.
Ibu pergi tanpa memberikan pelukan atau sekadar usapan menenagkan dan
menyakinkan diriku bahwa semua ini akan baik-baik saja. Aku memegang
dadaku yang terasa sesak sekali.
Setelah pertengkaran
hebat orang tuaku, sore harinya, ayahku mengajakku berkeliling dengan motor
lamanya. Kami bernyanyi riang sambil menikmati keindahan sawah-sawah yang
membentang sepanjang jalan. Sejenak, aku melupakan kesedihan sejak pagi tadi.
Usiaku belum genap 10 tahun, tetapi aku harus memahami semua keadaan yang
akhir-akhir ini terjadi di keluargaku. Aku harus memendam banyak perasaan
takut, bingung, dan perasaan lain yang tidak bisa kuceritakan ke
siapa-siapa.
Sesaat ketika aku baru
saja menyelesaikan satu lagu anak-anak, tiba-tiba motor ayah melaju pelan dan
kudengar tarikan napas panjang-panjang dari ayah. Tiba-tiba ayah memberikanku
pertanyaan membuatku kembali sedih. Perasaan senang yang baru saja kurasakan
perlahan hilang tergantikan perasaan sedih berkali-kali.
“Kamu mau ikut Ayah atau
Ibu?”
Mendengar pertanyaan
itu, aku langsung terdiam dengan mata berkaca-kaca menahan tangisan. Aku menggerakkan
mata ke sana ke mari berharap air mata tidak sampai menetes. Usiaku memang
belum cukup dewasa, tapi aku paham arah pembicaraan ayahku ke mana. Kenapa aku
diharuskan memilih dua orang yang aku sayangi? Apakah ayah tidak tahu jika
pertanyaan ini menyakiti hati anak perempuannya?
“Ikut Ayah saja, ya,
biar Adik ikut Ibu. Nanti kalau kamu ikut Ayah, kamu bisa beli apa pun yang
kamu mau. Nanti Ayah masukin ke sekolah, les-les an yang kamu mau,” lanjut
ayahku dan aku masih diam memikirkan jawaban yang tidak tahu harus kujawab
apa.
Aku pernah bercerita
kepada ayah bahwa jika ada kesempatan, aku ingin les di dekat lampu merah yang
sudah terkenal itu dan aku tahu biayanya mahal. Namun, setelah ayahku
mengatakan itu, aku tidak lagi ingin les di tempat itu. Aku ingin menjawab
lantang bahwa aku tidak butuh semua itu. Kenapa ayah dan ibu sama-sama
menjanjikan uang banyak dan kehidupan yang lebih mewah untukku? Aku tidak butuh
semua itu. Aku sudah sangat senang hidup penuh kesederhanaan asalkan ada ibu
dan ayah. Aku hanya ingin kami bersama seterusnya. Banyak sekali pertanyaan dan
kemungkinan-kemungkinan yang kupikirkan selama di perjalanan.
Berarti, kami tidak akan
tinggal di rumah yang sama lagi?
Berarti, nanti tidak ada
lagi kebersamaan?
Kenapa?
Aku tidak berani
mengatakan secara langsung kepada ayahku. Aku hari ini sangat sedih, takut, dan
bingung dengan semua yang terjadi. Ibu ingin bekerja di luar negeri, ayah ingin
cerai dengan ibu, lalu aku harus bagaimana? Aku hanya ingin keluarga kecilku
utuh. Aku tidak menuntut apa-apa karena keinginanku hanya ingin ayah dan ibuku
tetap di sini, melihatku bertumbuh dan berproses. Semua itu lebih baik daripada
aku hidup dengan kemewahan, tapi aku tidak bisa bersama-sama dengan keduanya.
“Aku mau ikut Ibu aja,”
jawabku dengan perasaan yang berat untuk memilih.
***
Keesokan harinya aku
berangkat sekolah dengan mata sembab. Pagi ini harapanku hanya satu, semoga
hari ini lebih baik dari hari kemarin. Semoga hari ini tidak banyak tangisan
seperti kemarin. Semoga hari ini ada satu kebahagiaan yang aku dapatkan. Hari
ini aku tidak meminta uang saku kepada ibu karena aku ingin menjual penghapus
karakter yang sempat aku beli beberapa minggu lalu. Aku menjual penghapus
dengan harga Rp1.000 dengan berbagai karakter mulai dari hewan-hewan lucu
hingga karakter buah-buahan.
“Siapa yang mau beli
penghapus karakter? Lucu-lucu loh!” Aku sedikit mengeraskan suaraku di dalam
kelas agar teman-temanku melihat ke arahku.
“Wah, lucu-lucu banget
penghapusnya. Ini berapaan harganya, Mai?” tanya temanku sambil memegang
penghapus karakter panda.
“Semuanya Rp1.000-an,
ya. Yuk dibeli!”
Teman-temanku
bergerombol di mejaku dan melihat penghapus-penghapus karakter yang aku bawa.
Senang sekali melihat beberapa dari mereka membeli penghapusku. Hari ini aku
mendapat uang Rp10.000 dan lumayan sekali bisa kupakai sebagai uang saku tanpa
meminta ke ibu. Setidaknya dengan aku berjualan penghapus karakter dan tidak
meminta uang jajan ke ibu, akan sedikit mengurangi beban keuangan ibu.
Sisa beberapa penghapus
lagi dan satu per satu kumasukkan ke dalam tas untuk dijual keesokan harinya.
Sambil memasukkan penghapus, aku melamun memikirkan perkataan ayah dan ibu
kemarin. Apakah masih ada harapan agar ibu tidak jadi bekerja di luar negeri?
Apakah ada harapan ayah tidak bercerai dengan ibu?
Saat jam istirahat
berlangsung, aku menemui adikku yang berada di kelas II SD. Kelasnya berada di
depan halaman sekolah. Aku ingin menanyakan kepadanya perihal rencana ayah yang
ingin bercerai dengan ibu dan rencana ibu yang akan bekerja di luar negeri
selama kurang lebih tiga tahun. Adikku memang tahu tentang
pertengkaran-pertengkaran itu, tapi aku rasa dia tidak begitu memahami dengan
apa yang terjadi.
“Dek, sini!” panggilku
menyuruh adikku duduk di depan bangku kelasnya.
Aku mengeluarkan uang
Rp2.000 hasil penjualan penghapus karakter tadi di kelas, memberikan kepada
adikku. Aku tidak tahu tadi pagi dia diberi uang saku atau tidak oleh
ibu.
“Ini aku kasih, tadi
kamu dikasih uang sama sama Ibu?”
Adikku mengangguk. “Iya,
dikasih Rp2.000.”
“Yaudah, ini aku kasih
Rp2.000 lagi buat tambahan jajan.”
Aku menatap sejenak
wajah adikku yang terlihat tidak mengerti apa-apa. Apa memang ayah dan ibu
hanya bertanya seperti itu kepadaku? Apa karena bagi mereka adikku masih terlalu
kecil untuk mengerti semua ini? Aku mencoba mencari kata-kata selembut mungkin
untuk menanyakan semua ini.
“Kakak mau tanya, apa
kamu tahu ibu mau bekerja?”
Wajah adikku tampak
bingung. Benar, berarti dia tidak tahu tentang rencana ibu yang ingin bekerja
di luar negeri.
“Kamu mau ikut ayah atau
ibu?” Wajah adikku semakin terlihat bingung mendengar pertanyaanku yang tidak
tahu arahnya ke mana.
“Ikut ke mana,
Kak?”
Aku menghela napas.
Adikku tidak tahu apa-apa, apa pantas aku memberitahu hal menyakitkan ini di
waktu sekarang? Apa aku bisa mengatakan kepadanya bahwa rumah yang kami
agung-agungkan untuk pulang hampir roboh. Meski ini terlalu cepat, tapi adikku
harus mengetahui semua ini sebab dikatakan sekarang atau tidak rasanya akan
sama. Menyakitkan dan masing-masing dari kami harus menerima. Masing-masing
dari kami harus ikut salah satu di antara ayah dan ibu.
“Ibu dan ayah mau cerai.
Ibu juga mau bekerja di luar negeri.”
Adikku diam sejenak lalu mengeluarkan pertanyaan polosnya. “Terus kita sama siapa, Kak?”
***
Aku meneguk secangkir
coklat panas yang sudah mulai dingin karena menemaniku menulis sejak tiga jam
lalu. Tatapanku tertuju pada tulisan yang baru saja kutulis dengan banyak
perasaan emosional. Sejauh ini aku tumbuh sebagai anak perempuan yang tertutup,
tidak pernah bercerita masalah keluarga ke siapa-siapa dan tidak pernah
menceritakan ketakutanku ke orang-orang terdekat. Sampai pada halaman terakhir,
aku merasa lega. Bagian masa lalu yang terkesan menyedihkan, tidak sepenuhnya
harus dilupakan.
Apa kabar Mai kecil?
Tidakkah dunia terkesan menyakitkan untuk seorang anak perempuan pertama yang
dituntut selalu mengerti keadaan, meski tidak pernah baik-baik saja, batinku tersenyum kecil mengingat Mai kecil yang
dipenuhi banyak rasa ketakutan.
Rumah dengan atap
renggang yang kutempati sejak kecil bersama keluarga kecilku menjadi sebuah
cerita yang tidak pernah terlupakan. Tidak hanya menyimpan jatuhnya air hujan
yang kerap kali ditadah dengan ember, tapi juga menyimpan rapuh dari
masing-masing penghuninya. Salah satunya aku. Namun, di balik rumah atap
renggang itu, secara bersamaan kudapati banyak hangatnya kasih sayang dari ayah
dan ibu. Pelukan yang tidak hanya bermakna sentuhan fisik, tapi juga upaya dari
ayah dan ibu untuk memperbaiki renggang yang ada. Ayah dan ibu yang masih
merengkuh masing-masing dari kami, aku dan adikku agar tetap merasa
pulang.
Sekarang aku berada di
sini, keseharianku aku habiskan untuk menulis. Menulis sebagai bentuk
mengekspresikan perasaan-perasaan yang selama ini tidak pernah tersampaikan.
Sampai di titik sekarang, ada banyak ucapan terima kasih dan hal-hal yang perlu
disyukuri. Salah satunya perihal keluarga kecilku yang masih utuh.
Aku tidak butuh kemewahan. Aku hanya butuh tempat pulang yang utuh, ayah dan ibu.
SINOPSIS
Mai tumbuh sebagai anak
perempuan pertama yang dipaksa memahami keadaan sebelum benar-benar mengerti
arti kehilangan. Di rumah dengan atap yang renggang, ia akrab dengan ember
penadah hujan, bisikan tetangga ketika para penagih hutang datang, dan suara
pertengkaran ayah dan ibunya. Atap Renggang bukan hanya tentang rumah yang
bocor karena rembesan air hujan, tetapi tentang masing-masing penghuninya yang
nyaris kehilangan. Saat ibunya harus pergi dan ayahnya membicarakan perpisahan,
Mai belajar menyimpan tangis pada sudut kamar. Dari rumah inilah, ia menemukan
bahwa masing-masing penghuninya tidak benar-benar ingin kehilangan. Semuanya
berusaha mempertahankan, dan memperbaiki rumah sebagai tempat pulang yang aman
karena rumah bukan hanya bangunan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar