Minggu, 12 April 2026

SEKAR Edisi Maret 2026| Luka Tak Berdarah Karya Faradina Nazhifa


Luka Tak Berdarah

Karya Faradina Nazhifa

Hari ini adalah hari pertamaku duduk di bangku sekolah dasar. Aku sangat antusias untuk bertemu teman-teman baru dan belajar di lingkungan baru. Sebelum berangkat sekolah, mama memotretku dengan seragam merah putih lengkap yang kebesaran, aku hanya diam dengan perasaan gugup. Aku berangkat pukul setengah tujuh, tentu tidak sendirian, aku ditemani bersama kakak laki-lakiku yang saat ini menginjak di bangku kelas enam. Kakak mengantarku sampai di depan kelasku, beberapa teman sekelasku ada yang sudah kukenal, dan aku duduk bersama dengan anak laki-laki yang kebetulan adalah tetanggaku sendiri.

            “Nana berani sendirian? Ada Dika tuh, Dika mau duduk sama Nana?” ucap kakakku, dan Dika mengangguk setuju. Aku hanya menurut karena kita memang sering bermain bersama. Kakak meninggalkanku bersama Dika, kita hanya diam memandang ke arah lain. Banyak anak yang menangis tak ingin ditinggal oleh ibunya.

            Tepat pukul tujuh bel berbunyi. Ibu guru mengarahkan kita untuk berbaris menuju lapangan untuk melaksanakan apel pagi. Apel pagi yang berisi penyambutan untuk kami murid baru kelas satu. Meski hanya sebentar, tapi aku cukup lelah berdiri ditengah terik matahari. Setelah apel pagi, bu guru kembali mengarahkan kita kembali ke kelas. Aku melihat suasana kelas cukup ramai, banyak teman-teman yang sudah saling mengenal. Aku hanya terdiam, tidak ada niatan untuk berkenalan terlebih dahulu.

            “Selamat pagi anak-anak!” Ibu guru menyapa kita semua, kita pun serempak menjawabnya.

            “Perkenalkan nama Ibu Bu Arin, Bu Arin ini wali kelas kalian yang akan terus mendampingi kalian selama belajar di kelas satu ini. Nah, Bu Arin kan sudah perkenalan sekarang giliran kalian perkenalan satu per satu, dimulai dari pojok kiri dulu, ya.” Teman-teman mulai memperkenalkan dirinya satu persatu, hingga tibalah saat giliranku. Anehnya aku sudah tidak merasa gugup sama sekali, mungkin karena Bu Arin yang membuat suasana kelas menjadi menyenangkan.

            “Halo teman-teman semuanya, perkenalkan nama aku Nana. Salam kenal, ya.” Aku memperkenalkan diri sembari tersenyum dan melambaikan kedua tanganku. Bu Arin dan teman-teman membalas salamku. Satu persatu teman-teman sudah memperkenalkan diri, hingga tiba di meja paling belakang. Sebelum maju, anak itu menangis terlebih dahulu. Ia tidak menggunakan seragam sekolah, aku merasa kasihan. Bu Arin membujuk anak itu untuk maju ke depan, hingga akhirnya anak itu mau. 

            “H-halo, namaku Made.” Ia memperkenalkan dirinya sambil menangis. Kita semua hanya merespon perkenalan dari Made. Menurutku nama dia unik, mungkin dia ada keturunan dari Bali. Sesi perkenalan pun selesai, meski aku tidak hafal semuanya tapi nanti aku akan berusaha untuk dekat dengan semuanya. 

            Selesai perkenalan, Bu Arin menjelaskan tentang kegiatan di sekolah. Mulai dari jam masuk, jam istirahat, jadwal mata pelajaran dan seragam yang digunakan setiap hari senin sampai sabtu, bahkan bagaimana tata tertib selama belajar di kelas. Kami semua menyimak penjelasan dari Bu Arin. Setelah itu, Bu Arin membagikan sampul buku yang berwarna. Setiap buku tulis mata pelajaran, punya sampul yang berbeda warna. Merah untuk matematika, hijau untuk bahasa indonesia, kuning untuk IPA, biru untuk IPS, hijau untuk olahraga, orange untuk PKN, dan merah muda untuk seni budaya.

            Waktu menunjukkan pukul sepuluh, Bu Arin memberi aba-aba untuk berdoa dan pulang. Hanya murid kelas satu yang pulang, karena itu aku pulang bersama Dika. Sampai rumah aku menceritakan semua apa yang kualami kepada mama dan papa. Tentu mama dan papa senang mendengar ceritaku, karena aku cerita dengan penuh semangat. Aku juga semangat menyampul buku tulis, memberi nama satu persatu dan menempelnya. Aku sungguh tidak sabar untuk menyambut hari esok.

***

            Keesokan harinya, aku berangkat sekolah dengan penuh semangat. Aku berangkat bukan hanya bersama kakakku, tapi Dika juga ikut bersama kami. Sesampainya di kelas aku menyadari sesuatu, bahwa anak yang bernama Made tidak masuk sekolah. Dia kenapa, ya? Kuharap tidak ada terjadi apa-apa.

            Hari kedua, Bu Arin menentukan jadwal piket untuk kita semua. Kebetulan aku dapat hari selasa dan Dika juga mendapat hari yang sama. Selain membahas piket, Bu Arin juga menentukan siapa ketua kelas ini. Pemilihan ketua kelas dilakukan dengan cara voting, ada empat orang kandidat. Dika mengajukan diri, ia maju kedepan bersama tiga anak lainnya. Teman-teman maju bergantian untuk voting, hingga giliranku tiba. Tentu saja aku memilih Dika, karena hanya dia yang kukenal dari semua kandidat. 

            Ternyata Dika tidak terpilih, yang terpilih anak perempuan berambut pendek benama Indah. Aku ingin berkenalan dengannya karena selain Dika aku hanya mengenal Mahen. Ia temanku dari taman kanak-kanak yang sama. Sebelumnya ada Lala yang juga temanku sebelumnya, tetapi entah kenapa Lala pindah ke kelas A. Saat istirahat, beberapa anak perempuan yang mengajakku ke kantin, tentu saja aku mau karena sekalian aku ingin akrab dengan mereka. Salah satu dari mereka ada yang bernama Adel, ia sangat baik. Tetapi tanpa kusadari, kesan pertama yang baik belum tentu dia orang baik.

***

            Sekolah sudah berjalan selama seminggu, anak yang bernama Made baru masuk sekolah setelah ia izin. Aku mendengar kabar dari temanku bahwa ayahnya meninggal, jadi selama tidak sekolah ia berada di Bali. Aku hanya diam, karena aku belum paham rasanya kehilangan.

            Ternyata Made anak yang cengeng, saat diminta Bu Arin untuk maju kedepan untuk menulis jawaban di papan tulis ia sudah menangis. Teman-teman yang lain merasa jengkel, begitu pula denganku. Saat jam istirahat tiba, aku tidak menyangka terjadi sesuatu.

            “Eh Made, masa cuma gitu aja udah nangis, sih? Cengeng banget. Oh, iya, beliin aku kentang goreng yang ada di kantin dong, nih uangnya.” Adel melempar uang dua ribu rupiah ke muka Made. Aku sangat terkejut melihat kejadian itu, aku hanya diam tidak berani membela Made. Aku juga baru mengetahui jika Adel punya sifat buruk. Made menggeleng, menolak permintaan Adel sambil menangis.

            “Eh kok nggak mau, sih, kalau Adel nyuruh turuti dong.” Sekali lagi aku terkejut, karena yang mengatakan itu adalah Indah. Bukannya dia ketua kelas? Kenapa seperti Adel penguasa di kelas ini? Akhirnya Made mau melaksanakan perintah Adel karena paksaan dari Indah. Sejak melihat kejadian tersebut, aku mulai berhati-hati pada mereka. 

***

            Sudah satu bulan aku bersekolah, dan tentu saja Adel dan teman-teman gengnya sering melakukan perundungan. Aku pun terkadang kena, seperti tiba-tiba saja aku tidak diajak main. Aku tidak peduli, aku hanya sibuk membaca buku. Kebetulan ini hari selasa, jadwal aku piket di kelas. Aku memang tidak pernah menyapu di rumah, jadi ini pertama kali aku menyapu. 

            “Eh, Nana, kamu kalau nyapu yang bersih dong.” Baiklah, sekarang aku yang kena.

            “Udah bersih, kok.”

            “Apanya bersih, ini masih kotor. Terus juga kamu nyapunya lelet banget, sih! Nyapu itu gini loh. Ketara benget nggak pernah nyapu!” ucap Adel sembari mengambil sapu di tanganku dengan kasar, lalu memperagakan cara menyapu yang menurutnya benar. Menurutku sama saja, hanya saja cara dia lebih cepat. Aku hanya diam saja tidak berani melawan, malah aku ingin menangis karena aku dibentak. 

            Karena kejadian itu, aku menjadi tidak suka dengan hari selasa. Setiap hari selasa aku selalu merengek ke Mama, bahwa aku tidak mau piket. Bukan hanya itu, aku bahkan dijauhi satu kelas karena aku tidak pernah memuji Adel. Setiap hari aku selalu pulang dalam keadaan murung. Mungkin Mama menyadari bahwa aku di-bully.

***

            Satu tahun berlalu, saat ini aku duduk di bangku kelas dua. Aku juga tidak menyangka bahwa aku bisa bertahan. Kukira setelah liburan kenaikan kelas Adel bisa berubah, ternyata tidak. Sebelum bel masuk aku ke toilet, aku melihat Adel dan teman-temannya mengisi air di botol minum dengan air yang ada di bak toilet, dan disitu ada dua ikan kecil. Aku hanya melirik tidak ada niatan untuk ikut campur.

            Saat jam pelajaran mereka berbisik-bisik merencanakan sesuatu, aku berharap semoga aku bukan korbannya. Jam istirahat tiba, aku pergi ke kantin sebentar untuk membeli camilan dan aku makan di kelas. Saat aku sedang menikmati makananku, Adel dan teman-temannya menghampiriku. 

            “Nana, kamu enak-enak makan jajan pasti nggak ada  minumnya.”

            “Ada kok, ini aku bawa dari rumah.” Aku menunjukkan botol minumku.

            “Eh, mana enak, minum ini aja.” Aku terkejut, mereka menawarkan air bekas ikan yang mereka isi di toilet. Tentu saja aku langsung menggeleng, air keran saja aku tidak berani meminumnya apalagi bekas ikan.

            “Ihhh, kok nggak mau, sih. Lihat tuh Dika sama Mahen mau.” Aku melihat mereka, menurutku mereka sudah tidak waras. Kok bisa mereka mau menuruti kemauan Adel, padahal mereka juga tau itu air bekas ikan. Mereka menawariku sekali lagi, tetapi aku dengan tegas menggeleng, mencium aromanya saja aku tidak sudi.

            “Oke, kalo kamu nggak mau kamu harus bayar lima ribu ke Adel.” Aku juga menolak, karena menurutku sangat tidak masuk akal. Aku bukan anggota geng mereka, kenapa aku harus membayar jika aku tidak menuruti keinginan mereka?

            “Dih, jangan jadi orang sombong dong, nggak kasian sama Adel? Kalau gitu rautan pensilmu deh buat Adel.” Dia mengambil rautan pensilku tanpa meminta izin padaku. Aku langsung merebut rautanku kembali, kami jadi saling berebut hingga Adel yang mengambilnya dan memasukkan rautanku ke tasnya. Aku sangat sedih karena rautan itu pemberian mamaku karena aku naik ke kelas dua, aku juga takut untuk melawannya karena aku tidak ada teman. Saat pulang sekolah tangisanku pecah, aku mengadu semua apa yang kualami kepada mama. Mama juga tidak terima, meski bukan pembullyan fisik tetapi itu sangat berpengaruh pada mentalku.

***

            Keesokan harinya, selama mata pelajaran pertama dan kedua aku hanya diam. Aku tidak ingin berbicara dengan siapa pun termasuk Adel dan teman-temannya. Saat istirahat pun aku pergi sendirian, aku menghabiskan waktu di kantin selama istirahat tanpa balik ke kelas hingga istirahat selesai. Saat bel berbunyi aku kembali ke kelas, aku terheran tiba-tiba saja Adel dan teman-temannya menghampiriku dan bersikap baik padaku. Aku hanya menanggapi mereka seperti biasa, aku masih sakit hati dengan kejadian kemarin.

            Saat pulang sekolah, aku menaruh tasku di meja belajar dan mengeluarkan semua buku dan peralatan di tas. Aku terkejut, rautan pensilku ada di tasku. Aku langsung menghampiri mama dan menceritakan semua keanehan yang aku alami.

            “Dek, Mama tadi ke sekolah adek buat ngasih tahu ke Adel kalau jangan ganggu adek lagi. Adek aja yang nggak ketemu Mama.” Aku hanya menganga tak percaya, ternyata mama sampai ikut turun tangan hanya demi aku tidak sedih lagi. Aku lompat-lompat kegirangan, meski aku tidak punya teman yang membelaku, tetapi mamaku yang membela. 

Be a buddy, not a bully

  

SINOPSIS

Nana, seorang gadis kecil yang semangat untuk memulai harinya di sekolah dasar. Awalnya semua baik-baik saja, penuh keceriaan dan semangat. Namun, semangat Nana perlahan berubah menjadi sebuah ketakutan ketika ia melihat secara langsung pembullyan yang dilakukan oleh Adel dan teman-temannya. Made yang menjadi korban pertama pembullyan, tak lama kemudian Nana juga ikut terlibat. Nana hanya diam saja dan tidak berani melawan, karena ia tidak memiliki teman untuk membelanya. Nana mulai dijauhi dan dibentak oleh Adel dan teman-temannya, sehingga membuatnya kehilangan rasa nyaman di sekolah. Meskipun tidak terluka secara fisik, Nana menjadi sedih dan tertekan akibat pembullyan yang terus dilakukan oleh Adel dan teman-temannya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...