Luka Tak Berdarah
Karya Faradina Nazhifa
Hari ini adalah hari pertamaku
duduk di bangku sekolah dasar. Aku sangat antusias untuk bertemu teman-teman
baru dan belajar di lingkungan baru. Sebelum berangkat sekolah, mama memotretku
dengan seragam merah putih lengkap yang kebesaran, aku hanya diam dengan
perasaan gugup. Aku berangkat pukul setengah tujuh, tentu tidak sendirian, aku
ditemani bersama kakak laki-lakiku yang saat ini menginjak di bangku kelas
enam. Kakak mengantarku sampai di depan kelasku, beberapa teman sekelasku ada
yang sudah kukenal, dan aku duduk bersama dengan anak laki-laki yang kebetulan
adalah tetanggaku sendiri.
“Nana
berani sendirian? Ada Dika tuh, Dika mau duduk sama Nana?” ucap kakakku, dan
Dika mengangguk setuju. Aku hanya menurut karena kita memang sering bermain
bersama. Kakak meninggalkanku bersama Dika, kita hanya diam memandang ke arah
lain. Banyak anak yang menangis tak ingin ditinggal oleh ibunya.
Tepat
pukul tujuh bel berbunyi. Ibu guru mengarahkan kita untuk berbaris menuju
lapangan untuk melaksanakan apel pagi. Apel pagi yang berisi penyambutan untuk
kami murid baru kelas satu. Meski hanya sebentar, tapi aku cukup lelah berdiri
ditengah terik matahari. Setelah apel pagi, bu guru kembali mengarahkan kita
kembali ke kelas. Aku melihat suasana kelas cukup ramai, banyak teman-teman
yang sudah saling mengenal. Aku hanya terdiam, tidak ada niatan untuk
berkenalan terlebih dahulu.
“Selamat
pagi anak-anak!” Ibu guru menyapa kita semua, kita pun serempak menjawabnya.
“Perkenalkan
nama Ibu Bu Arin, Bu Arin ini wali kelas kalian yang akan terus mendampingi
kalian selama belajar di kelas satu ini. Nah, Bu Arin kan sudah perkenalan
sekarang giliran kalian perkenalan satu per satu, dimulai dari pojok kiri dulu,
ya.” Teman-teman mulai memperkenalkan dirinya satu persatu, hingga tibalah saat
giliranku. Anehnya aku sudah tidak merasa gugup sama sekali, mungkin karena Bu
Arin yang membuat suasana kelas menjadi menyenangkan.
“Halo
teman-teman semuanya, perkenalkan nama aku Nana. Salam kenal, ya.” Aku
memperkenalkan diri sembari tersenyum dan melambaikan kedua tanganku. Bu Arin
dan teman-teman membalas salamku. Satu persatu teman-teman sudah memperkenalkan
diri, hingga tiba di meja paling belakang. Sebelum maju, anak itu menangis
terlebih dahulu. Ia tidak menggunakan seragam sekolah, aku merasa kasihan. Bu
Arin membujuk anak itu untuk maju ke depan, hingga akhirnya anak itu mau.
“H-halo,
namaku Made.” Ia memperkenalkan dirinya sambil menangis. Kita semua hanya
merespon perkenalan dari Made. Menurutku nama dia unik, mungkin dia ada
keturunan dari Bali. Sesi perkenalan pun selesai, meski aku tidak hafal
semuanya tapi nanti aku akan berusaha untuk dekat dengan semuanya.
Selesai
perkenalan, Bu Arin menjelaskan tentang kegiatan di sekolah. Mulai dari jam
masuk, jam istirahat, jadwal mata pelajaran dan seragam yang digunakan setiap
hari senin sampai sabtu, bahkan bagaimana tata tertib selama belajar di kelas.
Kami semua menyimak penjelasan dari Bu Arin. Setelah itu, Bu Arin membagikan
sampul buku yang berwarna. Setiap buku tulis mata pelajaran, punya sampul yang
berbeda warna. Merah untuk matematika, hijau untuk bahasa indonesia, kuning
untuk IPA, biru untuk IPS, hijau untuk olahraga, orange untuk PKN, dan merah
muda untuk seni budaya.
Waktu
menunjukkan pukul sepuluh, Bu Arin memberi aba-aba untuk berdoa dan pulang.
Hanya murid kelas satu yang pulang, karena itu aku pulang bersama Dika. Sampai
rumah aku menceritakan semua apa yang kualami kepada mama dan papa. Tentu mama
dan papa senang mendengar ceritaku, karena aku cerita dengan penuh semangat.
Aku juga semangat menyampul buku tulis, memberi nama satu persatu dan
menempelnya. Aku sungguh tidak sabar untuk menyambut hari esok.
***
Keesokan harinya, aku berangkat
sekolah dengan penuh semangat. Aku berangkat bukan hanya bersama kakakku, tapi
Dika juga ikut bersama kami. Sesampainya di kelas aku menyadari sesuatu, bahwa
anak yang bernama Made tidak masuk sekolah. Dia kenapa, ya? Kuharap tidak ada
terjadi apa-apa.
Hari
kedua, Bu Arin menentukan jadwal piket untuk kita semua. Kebetulan aku dapat
hari selasa dan Dika juga mendapat hari yang sama. Selain membahas piket, Bu
Arin juga menentukan siapa ketua kelas ini. Pemilihan ketua kelas dilakukan
dengan cara voting, ada empat orang kandidat. Dika mengajukan diri, ia
maju kedepan bersama tiga anak lainnya. Teman-teman maju bergantian untuk voting,
hingga giliranku tiba. Tentu saja aku memilih Dika, karena hanya dia yang
kukenal dari semua kandidat.
Ternyata
Dika tidak terpilih, yang terpilih anak perempuan berambut pendek benama Indah.
Aku ingin berkenalan dengannya karena selain Dika aku hanya mengenal Mahen. Ia
temanku dari taman kanak-kanak yang sama. Sebelumnya ada Lala yang juga temanku
sebelumnya, tetapi entah kenapa Lala pindah ke kelas A. Saat istirahat,
beberapa anak perempuan yang mengajakku ke kantin, tentu saja aku mau karena
sekalian aku ingin akrab dengan mereka. Salah satu dari mereka ada yang bernama
Adel, ia sangat baik. Tetapi tanpa kusadari, kesan pertama yang baik belum
tentu dia orang baik.
***
Sekolah
sudah berjalan selama seminggu, anak yang bernama Made baru masuk sekolah
setelah ia izin. Aku mendengar kabar dari temanku bahwa ayahnya meninggal, jadi
selama tidak sekolah ia berada di Bali. Aku hanya diam, karena aku belum paham
rasanya kehilangan.
Ternyata
Made anak yang cengeng, saat diminta Bu Arin untuk maju kedepan untuk menulis
jawaban di papan tulis ia sudah menangis. Teman-teman yang lain merasa jengkel,
begitu pula denganku. Saat jam istirahat tiba, aku tidak menyangka terjadi
sesuatu.
“Eh
Made, masa cuma gitu aja udah nangis, sih? Cengeng banget. Oh, iya, beliin aku
kentang goreng yang ada di kantin dong, nih uangnya.” Adel melempar uang dua
ribu rupiah ke muka Made. Aku sangat terkejut melihat kejadian itu, aku hanya
diam tidak berani membela Made. Aku juga baru mengetahui jika Adel punya sifat
buruk. Made menggeleng, menolak permintaan Adel sambil menangis.
“Eh
kok nggak mau, sih, kalau Adel nyuruh turuti dong.” Sekali lagi aku terkejut,
karena yang mengatakan itu adalah Indah. Bukannya dia ketua kelas? Kenapa
seperti Adel penguasa di kelas ini? Akhirnya Made mau melaksanakan perintah
Adel karena paksaan dari Indah. Sejak melihat kejadian tersebut, aku mulai
berhati-hati pada mereka.
***
Sudah
satu bulan aku bersekolah, dan tentu saja Adel dan teman-teman gengnya sering
melakukan perundungan. Aku pun terkadang kena, seperti tiba-tiba saja aku tidak
diajak main. Aku tidak peduli, aku hanya sibuk membaca buku. Kebetulan ini hari
selasa, jadwal aku piket di kelas. Aku memang tidak pernah menyapu di rumah,
jadi ini pertama kali aku menyapu.
“Eh,
Nana, kamu kalau nyapu yang bersih dong.” Baiklah, sekarang aku yang kena.
“Udah
bersih, kok.”
“Apanya
bersih, ini masih kotor. Terus juga kamu nyapunya lelet banget, sih! Nyapu itu
gini loh. Ketara benget nggak pernah nyapu!” ucap Adel sembari mengambil sapu
di tanganku dengan kasar, lalu memperagakan cara menyapu yang menurutnya benar.
Menurutku sama saja, hanya saja cara dia lebih cepat. Aku hanya diam saja tidak
berani melawan, malah aku ingin menangis karena aku dibentak.
Karena
kejadian itu, aku menjadi tidak suka dengan hari selasa. Setiap hari selasa aku
selalu merengek ke Mama, bahwa aku tidak mau piket. Bukan hanya itu, aku bahkan
dijauhi satu kelas karena aku tidak pernah memuji Adel. Setiap hari aku selalu
pulang dalam keadaan murung. Mungkin Mama menyadari bahwa aku di-bully.
***
Satu tahun berlalu, saat ini aku
duduk di bangku kelas dua. Aku juga tidak menyangka bahwa aku bisa bertahan.
Kukira setelah liburan kenaikan kelas Adel bisa berubah, ternyata tidak.
Sebelum bel masuk aku ke toilet, aku melihat Adel dan teman-temannya mengisi
air di botol minum dengan air yang ada di bak toilet, dan disitu ada dua ikan
kecil. Aku hanya melirik tidak ada niatan untuk ikut campur.
Saat
jam pelajaran mereka berbisik-bisik merencanakan sesuatu, aku berharap semoga
aku bukan korbannya. Jam istirahat tiba, aku pergi ke kantin sebentar untuk
membeli camilan dan aku makan di kelas. Saat aku sedang menikmati makananku,
Adel dan teman-temannya menghampiriku.
“Nana,
kamu enak-enak makan jajan pasti nggak ada minumnya.”
“Ada
kok, ini aku bawa dari rumah.” Aku menunjukkan botol minumku.
“Eh,
mana enak, minum ini aja.” Aku terkejut, mereka menawarkan air bekas ikan yang
mereka isi di toilet. Tentu saja aku langsung menggeleng, air keran saja aku
tidak berani meminumnya apalagi bekas ikan.
“Ihhh,
kok nggak mau, sih. Lihat tuh Dika sama Mahen mau.” Aku melihat mereka,
menurutku mereka sudah tidak waras. Kok bisa mereka mau menuruti kemauan Adel,
padahal mereka juga tau itu air bekas ikan. Mereka menawariku sekali lagi,
tetapi aku dengan tegas menggeleng, mencium aromanya saja aku tidak sudi.
“Oke,
kalo kamu nggak mau kamu harus bayar lima ribu ke Adel.” Aku juga menolak,
karena menurutku sangat tidak masuk akal. Aku bukan anggota geng mereka, kenapa
aku harus membayar jika aku tidak menuruti keinginan mereka?
“Dih,
jangan jadi orang sombong dong, nggak kasian sama Adel? Kalau gitu rautan
pensilmu deh buat Adel.” Dia mengambil rautan pensilku tanpa meminta izin
padaku. Aku langsung merebut rautanku kembali, kami jadi saling berebut hingga
Adel yang mengambilnya dan memasukkan rautanku ke tasnya. Aku sangat sedih
karena rautan itu pemberian mamaku karena aku naik ke kelas dua, aku juga takut
untuk melawannya karena aku tidak ada teman. Saat pulang sekolah tangisanku
pecah, aku mengadu semua apa yang kualami kepada mama. Mama juga tidak terima,
meski bukan pembullyan fisik tetapi itu sangat berpengaruh pada mentalku.
***
Keesokan
harinya, selama mata pelajaran pertama dan kedua aku hanya diam. Aku tidak
ingin berbicara dengan siapa pun termasuk Adel dan teman-temannya. Saat
istirahat pun aku pergi sendirian, aku menghabiskan waktu di kantin selama
istirahat tanpa balik ke kelas hingga istirahat selesai. Saat bel berbunyi aku
kembali ke kelas, aku terheran tiba-tiba saja Adel dan teman-temannya
menghampiriku dan bersikap baik padaku. Aku hanya menanggapi mereka seperti
biasa, aku masih sakit hati dengan kejadian kemarin.
Saat
pulang sekolah, aku menaruh tasku di meja belajar dan mengeluarkan semua buku
dan peralatan di tas. Aku terkejut, rautan pensilku ada di tasku. Aku langsung
menghampiri mama dan menceritakan semua keanehan yang aku alami.
“Dek,
Mama tadi ke sekolah adek buat ngasih tahu ke Adel kalau jangan ganggu adek
lagi. Adek aja yang nggak ketemu Mama.” Aku hanya menganga tak percaya,
ternyata mama sampai ikut turun tangan hanya demi aku tidak sedih lagi. Aku
lompat-lompat kegirangan, meski aku tidak punya teman yang membelaku, tetapi
mamaku yang membela.
Be a buddy, not a bully
SINOPSIS
Nana, seorang gadis kecil yang
semangat untuk memulai harinya di sekolah dasar. Awalnya semua baik-baik saja,
penuh keceriaan dan semangat. Namun, semangat Nana perlahan berubah menjadi
sebuah ketakutan ketika ia melihat secara langsung pembullyan yang dilakukan
oleh Adel dan teman-temannya. Made yang menjadi korban pertama pembullyan, tak
lama kemudian Nana juga ikut terlibat. Nana hanya diam saja dan tidak berani
melawan, karena ia tidak memiliki teman untuk membelanya. Nana mulai dijauhi
dan dibentak oleh Adel dan teman-temannya, sehingga membuatnya kehilangan rasa
nyaman di sekolah. Meskipun tidak terluka secara fisik, Nana menjadi sedih dan
tertekan akibat pembullyan yang terus dilakukan oleh Adel dan teman-temannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar