Minggu, 12 April 2026

SEKAR Edisi Maret 2026 | Aman, Katanya? Karya Ulum Atina Izza R

 

Aman, Katanya?

Karya Ulum Atina Izza R


“Mik, sini ponselnya! Kelamaan lu, keburu mi ayamnya sold out!”

Arum menyambar ponsel Mikha dari genggaman empunya, jemarinya dengan lincah mengetukkan huruf-huruf di atas layar. “Gue sebut ulang, nih, khusus pesanan yang aneh-aneh aja. Trias, mi ayam nggak pakai sawi. Orin, es jeruk, esnya banyak. Aru dan kawan-kawan, mi ayam biasa sama es teh manis, kan?”

Trias langsung menyunggingkan senyum lebar, “Gue tuh simpel, kan, sebenarnya.”

“Simpel apa, sawi doang dihindarin,” celetuk Orin sambil membenarkan posisi jepit warna-warni di rambutnya, matanya masih fokus ke pantulan layar ponselnya. Di seberang Arum, Aru hanya mendengus pelan tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Jemarinya tetap sibuk menggulir layar ponsel. “Udah, udah, cepat pesan,” sahut Mikha sembari bersandar santai, sebelah tangannya menjawil bahu Arum agar cepat memesankan makanan, lalu tangan yang sama dengan menjawil Arum barusan ia gunakan untuk menggulung jaket jeans belelnya hingga ke siku, ia ingin cepat-cepat karena ponselnya masih di bawah kendali Arum. Dipa yang duduk di ujung terkekeh pelan, “Sok banget, sih, lu, Yas.”

Arum tertawa kecil, lalu bangkit dari kursinya, “Oke, gue pesan, ya.” Arum segera pergi ke kasir, melangkah ringan bagai awan yang menyegarkan, dan memesankan semuanya, lantas kembali ke tempat semula dan mengembalikan ponsel Mikha ke atas meja.

 “Nanti habis ujian, kita ke pantai, yuk! Gue yang buat itinerary-nya. Pada mau, nggak?” Arum menopang dagunya di meja, memasang raut muka yang menggemaskan, seolah ingin membuat siapa pun yang melihatnya merasa harus mengiyakan. Lantas kelima temannya setuju dengan mudah. Tanpa Arum membujuk pun, mereka tidak akan menolak. Tentu saja, siapa yang bisa menolak jalan-jalan asyik bersama teman?

Perempuan yang menggunakan kardigan putih itu, namanya Arum. Arum itu seperti matahari. Pendar cahayanya memberikan energi terhadap teman-temannya. Hangatnya mendekap dan melindungi, memberi rasa aman bagi teman-temannya. Senyumnya yang juga secerah mentari tak pernah gagal membuat teman-temannya ikut tersenyum.

Ah, tapi matahari pun bisa redup jika terus-menerus diselimuti awan pengabaian.

Perlahan namun pasti. Matahari yang mulanya bercahaya terang, dianggap terlalu menyilaukan dan merusak pandangan. Pendapat Arum tak lagi didengar, malah seringkali disela di tengah jalan dan ditolak mentah-mentah. Matahari yang hangat, sekarang dianggap pengganggu. Tawa yang pernah menghiasi ekspresi Arum, kali ini dianggap sebagai kebisingan, balasannya hanya lirik atau bahkan dehaman tak ramah. 

Matahari itu tidak pergi, presensinya masih ada, namun tak lagi bersinar terang. Matahari tersebut perlahan berbayang, cahayanya memudar. Sinarnya tak lagi segamblang kemarin, hawa keberadaannya kini hampir menghilang, hanya tersisa setipis kabut pagi.

...

            “Sabtu besok jadi ke pantai?” Trias berucap setelah selesai mengunyah pangsit di dalam mulutnya.

            Apa? Arum yang sedang menyesap es tehnya sampai-sampai hampir tersedak. Jantungnya berdegup lebih cepat. Akhirnya mereka mengingatku lagi, batinnya dalam hati.

            “Jadi, lah! Pakai mobil lu, kan, Mik?” Orin menimpali, menjawab dengan mantap dan semangat, lantas menoleh ke arah Mikha yang tengah meneguk habis es teh manis dari gelasnya dengan sedotan, hingga terdengar bunyi ‘srot, srot’ yang sangat kentara.

            Arum semakin tak sabar mendengarkan kalimat selanjutnya. Meski terdapat sedikit kejanggalan dalam hatinya.

            Mikha mengiyakan, “Iya. Cukup, kan, kita semua masuk mobil gue? Dip, Ru, lu ikut, kan?”

            Oh, Arum merasa seperti jantungnya merosot ke mata kaki saat ini.

Kita semua? Tanpa menyebut nama Arum? Bukannya ini agenda buatan Arum dua bulan lalu? Bukannya Arum yang membuat rencana ini? Arum membelalakkan matanya tak percaya. Mereka membicarakan agenda yang dibuat oleh Arum, di depan Arum, tanpa mengajak Arum?

“Ikut, dong! Gas!” Dipa mengangguk setuju, ia bahkan berseru ria, ia sudah membayangkan dirinya mencari cangkang kerang yang cantik untuk koleksinya.

“Gue-“ Arum baru saja ingin membuka mulutnya, namun dengan cepat disela kembali oleh Mikha. “Ru? Lu ikut, kan?”

Aru, yang sedari tadi lebih banyak diam, menangkap perubahan ekspresi Arum lewat ekor matanya. Ia melihat Arum yang mematung, melihat bagaimana sorot matanya lemas dan tak berdaya. Aru berdeham, memutar bola matanya ragu-ragu untuk menjawab ajakan Mikha. “Mungkin,” jawabnya pendek. 

“Yah, Ru, jangan nggak ikut, dong?”

Kalau Aru tidak salah ingat, piknik ke pantai ini adalah keinginan Arum untuk melepas penat pasca ujian. Tapi teman-temannya seperti tidak ada yang mengingat, atau apa Aru salah ingat? Masa bodoh, Aru akhirnya bertanya langsung pada Arum daripada ia kepalang bingung sendiri, “Rum? Memangnya lu nggak ikut?”

Pertanyaan itu seperti lemparan batu pada kolam yang tenang. Meja mendadak sunyi dua detik. Mikha dan Orin terkejut, seolah baru saja menyadari bahwa ada satu orang lagi di antara mereka yang punya nama.

“Oh, anu-“ Arum mencoba membuka suara. Suaranya tertahan di kerongkongan. 

“Eh, iya, gue lupa ada Arum. Rum, ikut ke pantai, nggak?” Kalimat Arum terpotong oleh Orin yang tiba-tiba menyela suaranya. Nada bicaranya ringan, oh, terlampau ringan bahkan, seolah mengajak Arum hanyalah sebuah opsi tambahan yang baru saja teringat, bukan sebuah keajiban.

“Lah, iya. Arum ikut nggak?” Mikha ikut menimpali Orin, mungkin baru teringat ada Arum juga yang sedang duduk bersama mereka. Nada bicara Mikha datar, terdengar tidak ada binar semangat seperti saat ia bertanya pada Dipa tadi.

Arum mengernyitkan alis. Mereka seakan sekadar bertanya, bukan mengajak. Ia bisa merasakan perbedaannya. Ada jurang pemisah antara cara mereka mengajak yang lain dengan cara mereka bertanya padanya. Pertanyaan mereka tidak mengandung harapan agar dia ikut. Itu terdengar seperti pertanyaan basa-basi. Arum menatap ke arah ujung sepatunya, berpikir sejenak. Lantas ia mendongak dan tersenyum, “gue nggak pasti bisa ikut,” ucapnya lirih dibersamai dengan gelengan lemah.

Orin membulatkan bibirnya, “yah, Arum nggak bisa ikut,” sementara yang lain seperti enggan menanggapi percakapan ini. 

Detik berikutnya, eksistensi Arum seakan kembali terhapus. Mereka dengan cepat membelokkan perbincangan pada jam keberangkatan, barang-barang yang harus dibawa, hingga daftar lagu yang diputar saat perjalanan. Arum hanya ikut mendengarkan dengan sesekali ikut mengangguk serta menyetujui pendapat teman-temannya. Padahal jauh di dalam sana, hatinya sedang sibuk meyakinkan bahwa dirinya tak apa.

...

            Ah, seharusnya Sabtu ini terasa segar. Minggu ujian telah berakhir, Arum bisa berleha-leha di rumah tanpa memikirkan apapun. Namun peristiwa dua hari lalu mengingatkannya pada sesuatu, pagi ini harusnya mereka pergi ke pantai. Kalau tidak salah ingat. Kalau mereka jadi pergi. Tidak dapat dipungkiri, dada Arum bergemuruh tidak tenang. Pasti masih tersimpan sepercik rasa sedih di hatinya. Bagaimanapun, Arum yang merencanakannya, namun tiba-tiba mereka memutuskan untuk pergi tanpa hampir memikirkannya.

            Arum memilih duduk di bangku taman yang terletak pada halaman belakang rumahnya, menatap ke arah pot-pot bunga yang ditanam Bundanya. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja, menghidupkan layarnya. Jam sembilan tepat. Seharusnya beberapa kilometer lagi mereka sampai di pantai, bila mengikuti rancangan piknik yang kubuat waktu itu, batinnya. Arum menghela napas panjang, apa yang mereka lakukan kira-kira, ya? Cemilan apa yang akhirnya dipilih oleh Orin dan Trias? Musik apa yang dipilih Dipa untuk menemani perjalanan mereka? Siapa yang mengemudikan mobilnya? Mikha? Atau Aru?

            Arum menatap ke luar, menatap kardigan putihnya yang dijereng, baru saja ia cuci tadi pagi. Menghirup dalam-dalam aroma bunga dari pelembut pakaian tidak menenangkannya sama sekali. Ia tetap saja gelisah. Kenapa ia masih menunggu? Berkali-kali ia menatap ponselnya yang diam tak menandakan kehidupan apapun. Apa yang nanti-nanti? Pesan berisi, “Rum, kami jemput lu ke rumah, ya?”, begini? Atau, “Rum, kami udah di depan! Kita berangkat sekarang!”, begitu?

            Ponselnya berdering tiba-tiba. Dering panjang. Telepon.

            Oh, oh. Jantung Arum seperti dipompa. Ia sontak berdiri tegak sehingga nyaris menjatuhkan bukunya saat menyambar ponsel dari meja. Ada nama Dipa di layar. Senyum Arum merekah tipis, jemarinya takut-takut menggeser ikon hijau.

            “Halo, Dip?” suara Arum terdengar terlalu antusias, ia menepuk dahinya sendiri lantas berdeham untuk menetralkannya.

“Halo, Rum! Maaf banget ganggu hari Sabtu. Lu lagi nggak sibuk, kan?” suara Dipa terdengar riuh di seberang sana. Arum bisa mendengar suara angin dan sayup-sayup keramaian teman lainnya. Mereka sudah di jalan pastinya.

“Nggak, kok, Dip. Ada apa?” Arum meremas ujung kausnya, menggigit bibirnya takut-takut. 

“Aduh, syukur deh. Jadi gini, Rum, lu pegang fail desain infografis bulan depan, kan? Gue baru inget kalau revisinya harus dikumpul ke Kak Asisten sore ini, jam empat. Gue nggak bawa laptop juga, dan gue inget lu selalu yang paling rapi kalau simpan fail-fail gini. Bisa tolong kirim ke gue sekarang, nggak? Biar gue tinggal kirim ke Kak Asisten lewat ponsel.”

Bahu Arum turun perlahan, senyumnya ikut luntur. Ia terduduk kembali di bangku, darahnya bak tersedot habis ke luar tubuh. 

“Rum? Masih di sana?”

Arum menelan ludah. Rasanya seperti ada duri ikan yang menancap di kerongkongannya. Perih. “I-iya, Dip. Masih. Fail infografis, ya?” Arum berusaha mengatur suaranya sebisa mungkin, seolah semua sempurna di tempatnya.

“Iya, Rum. Thanks, ya! Maaf jadi ganggu.”

Arum terkekeh hambar, “Oke, Dip. Aman, aja.”

Dan panggilan berakhir.

Ia menatap nanar pada rumput di bawah sana. Tatapannya kosong. Lantas perlahan senyum getir yang menyedihkan tersuguh di wajahnya. Apakah selama ini dia bukan orang yang dirindukan eksistensinya saat bersenda gurau? Apakah selama ini dia bukan orang yang kehadirannya ditunggu untuk makan siang bersama? Apakah selama ini dia hanya "penyelamat" saat ada barang yang tertinggal? Apakah selama ini dia hanya “penyedia” saat lainnya kekurangan suatu hal?

Arum masih mematung. Tidak sesegera mungkin mencari fail yang dimaksud. Ponselnya kembali bergetar. Pesan dari Dipa mengingatkannya untuk mengirimkan fail infografis yang dimintanya tadi. Arum membaca pesan itu. Ia melihat tanda centang biru dua pertanda ia sudah membacanya. Tapi ia tidak membalas. Ia mematikan layar ponsel dan meletakkan kembali benda itu secara telungkup di atas meja. Mungkin satu jam lagi ia akan mengirimnya. Mungkin dua jam lagi.

Ia menatap angin yang berembus, meniup anak rambutnya hingga tersipu perlahan, menerbangkan dedaunan tipis yang mau-maunya terhuyung ke sana kemari. Dedaunan itu, apakah hawa keberadaannya bahkan lebih tipis daripada dedaunan itu?

...

            “Pesan apa, Kak?”

            “Pangsit kuah dan es jeruk.”

            Arum mencari tempat yang sepi. Tidak di pojok, sih, asal bisa bersandar di tembok saja ia sudah merasa cukup. Ia memilih duduk membelakangi jalanan. Memandang ke arah langit-langit, menatap pendar lampu redup itu lamat-lamat, hingga matanya berkunang-kunang sendiri. Lantas memutuskan untuk merenung saja, bersandar pada tembok di samping bahu kanannya. Arum menghela napas panjang.

 Ponsel Arum berdering lagi. Panggilan masuk. Aru.

            Arum mengerutkan kening. Kenapa Aru menelepon? Apa dia juga butuh sesuatu? Arum mengatur napasnya, lalu menggeser ikon hijau. “Halo, Ru? Ada yang ketinggalan lagi?” tanya Arum, mencoba terdengar seringan mungkin.

            “Rum, dengerin gue. Jangan dipotong,” suara Aru di seberang terdengar tegas. Di belakang, Arum bisa mendengar deru angin jalan raya dan suara samar perbincangan teman-temannya. “Gue baru turun dari mobil Mikha. Kami di rest area, gue yang minta berhenti,” lanjut Aru.

            Arum tertegun. “Hah? Kenapa, Ru? Ada masalah sama mobilnya?”

            “Nggak ada masalah di mobil, Rum. Masalahnya ada di kita semua, di meja kedai mi ayam dua hari lalu. Dan di telepon Dipa tadi,” Aru menjeda sejenak. “Lu ngerasa ditinggalin, kan? Lu ngerasa kita nggak peduli? Iya?” tanya Aru. Suaranya tidak lembut, justru terdengar seperti tusukan. “Kita mungkin payah karena nggak peka. Tapi lu tahu nggak kenapa kita jadi nampak nggak peduli sama lu?”

            “Karena lu terlalu sering bilang nggak apa-apa. Lu selalu membatasi diri dengan dalih ‘nggak mau ngerepotin’, terus lu sedih di balik tembok karena nggak ada yang manjat, nggak ada yang mau menjangkau diri lu di sana. Tiap kami tanya, jawabannya ‘Aman’. Tiap kami mau bantu, jawabannya ‘Gue bisa sendiri’. Lu selalu pengen kelihatan sempurna dan nggak punya masalah.”

Suara Aru terus mengalir, tajam dan dingin. Sedang Arum di lain sisi membisu. Napasnya tercekat. Dadanya tertohok kenyataan yang baru ia sadari.

            “Lama-lama kami jadi berpikir lu emang lebih nyaman tanpa kita. Lu yang mundur pelan-pelan, Rum. Lu yang bikin kami sendiri terbiasa kumpul tanpa presensi lu karena lu selalu bilang lu baik-baik aja tanpa bantuan kami. Dan kami ngerasa nggak dibutuhin karena lu selalu punya solusi buat diri lu sendiri. Dipa mancing lu tadi pagi, dia nunggu lu protes, nunggu lu marah karena nggak dijemput. Tapi jawaban lu gimana? ‘Aman, Dip’. Ya udah, dia ngerasa lu emang mau sendiri. Padahal Dipa setengah hati berangkat tadi karena personelnya nggak lengkap.”

            “Jadi manusia yang butuh orang lain itu nggak apa-apa, Rum. Kirim failnya ke Dipa sekarang, terus jujur kalau lu sebenarnya mau dijemput. Berhenti nunggu kita buat jadi peramal yang bisa baca isi hati lu. Jangan sampai pas lu akhirnya mau manggil kita, kita udah terlanjur biasa hidup tanpa presensi lu.”

            Sambungan terputus.

            Arum bergeming menatap layar ponselnya yang mati. Kata-kata Aru terus berputar di kepalanya, bak lonceng yang dipukul keras-keras di samping telinganya. 

            Arum selalu bangga dengan kemandiriannya yang ia pikir adalah bentuk kasih sayang agar teman-temannya tidak terbebani. Ternyata itu semua adalah kawat berduri yang ia pasang sendiri. Dada Arum sesak. Tidak, bukan karena ia marah pada teman-temannya, tapi karena malu pada dirinya sendiri. Arum menarik napas dalam. Ia membuang jauh-jauh ego "merepotkan dan membebani orang lain" dari kepalanya. Ia mengirim fail dan men-dial nomor Dipa dengan cepat sebelum keberaniannya kembali menguap.

            Di lain sisi, Orin, Dipa, Trias, dan Mikha masih bungkam dengan pikirannya masing-masing di dalam mobil. Seolah oksigen di sana perlahan habis, suasana dalam kabin mendadak berat karena mereka samar-samar mendengar kalimat yang dilontarkan Aru kepada seseorang di balik ponselnya. Aru sendiri memutuskan keluar dari dalam kendaraan saat menelpon Arum, membelakangi teman-temannya yang masih di dalam mobil. 

            Nada dering dari ponsel Dipa terdengar. Tertera nama Arum di layar.

            “Halo, Rum?”

            “Dip...” Arum memberikan jeda pada kalimatnya. Suaranya serak, mungkin karena ia baru saja meruntuhkan tembok yang ia bangun sendiri selama ini. “Failnya udah gue kirim. Tapi,” Dipa menunggu kalimat selanjutnya dari Arum. “Kenapa, Rum?”

“Nggak asik ternyata sendirian di sini,” ucap Arum, suaranya kini terdengar lebih mantap meskipun ada nada malu-malu di sana. “Boleh nggak kalau kalian ke sini juga? Gue sebenarnya mau makan bareng kalian. Gue juga mau ke pantai bareng kalian. Gue mau ikut. Mulai sekarang gue bakal bilang kalau gue mau diajak.”

Keheningan di dalam mobil pecah seketika. Dipa terlonjak, ia menatap teman-temannya dengan binar yang kembali menyala. Ia tidak perlu lagi menebak-nebak apakah Arum marah atau tidak. “NAH! GITU, DONG, PROTES!” seru Dipa nyaring, membuat Mikha dan Trias hampir melompat kaget. “Gue dari tadi mau ngomong ke yang lain, tapi bingung sendiri, Rum!” Trias langsung mencondongkan badannya ke depan, merebut ponsel Dipa. “Tuh, kan! Gue bilang juga apa! Lu cuma gengsi aja, kan! Ru, cepat masuk sini! Mik, putar balik sekarang!”

...

SINOPSIS

Arum adalah "matahari" bagi teman-temannya. Hangat, ceria, dan selalu ada. Namun, apa jadinya jika Sang Matahari mulai merasa terabaikan? Saat rencana liburan ke pantai yang ia susun justru dibicarakan tanpa melibatkan dirinya, Arum justru memilih mundur teratur. Ia bersembunyi di balik kata favoritnya: "Aman."

​Baginya, menjadi mandiri adalah cara terbaik agar tidak merepotkan orang lain. Namun, benarkah ia baik-baik saja saat ponselnya hanya berdering untuk urusan tugas di kala yang lain sedang bersenang-senang? Di tengah rasa sesak dan gelisah dari tembok yang ia bangun sendiri, sebuah teguran keras dari Aru datang menghantam: Apakah Arum yang akan ditinggalkan, atau ia sendiri yang perlahan menyembunyikan pendar cahayanya hingga tak lagi terjangkau?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...