Aman, Katanya?
Karya Ulum Atina Izza R
“Mik, sini ponselnya! Kelamaan
lu, keburu mi ayamnya sold out!”
Arum menyambar ponsel Mikha dari
genggaman empunya, jemarinya dengan lincah mengetukkan huruf-huruf di atas
layar. “Gue sebut ulang, nih, khusus pesanan yang aneh-aneh aja. Trias, mi ayam
nggak pakai sawi. Orin, es jeruk, esnya banyak. Aru dan kawan-kawan, mi ayam
biasa sama es teh manis, kan?”
Trias langsung menyunggingkan
senyum lebar, “Gue tuh simpel, kan, sebenarnya.”
“Simpel apa, sawi doang
dihindarin,” celetuk Orin sambil membenarkan posisi jepit warna-warni di
rambutnya, matanya masih fokus ke pantulan layar ponselnya. Di seberang Arum,
Aru hanya mendengus pelan tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Jemarinya
tetap sibuk menggulir layar ponsel. “Udah, udah, cepat pesan,” sahut Mikha
sembari bersandar santai, sebelah tangannya menjawil bahu Arum agar cepat
memesankan makanan, lalu tangan yang sama dengan menjawil Arum barusan ia
gunakan untuk menggulung jaket jeans belelnya hingga ke siku, ia ingin
cepat-cepat karena ponselnya masih di bawah kendali Arum. Dipa yang duduk di
ujung terkekeh pelan, “Sok banget, sih, lu, Yas.”
Arum tertawa kecil, lalu bangkit
dari kursinya, “Oke, gue pesan, ya.” Arum segera pergi ke kasir, melangkah
ringan bagai awan yang menyegarkan, dan memesankan semuanya, lantas kembali ke
tempat semula dan mengembalikan ponsel Mikha ke atas meja.
“Nanti habis ujian, kita
ke pantai, yuk! Gue yang buat itinerary-nya. Pada mau, nggak?” Arum
menopang dagunya di meja, memasang raut muka yang menggemaskan, seolah ingin
membuat siapa pun yang melihatnya merasa harus mengiyakan. Lantas kelima
temannya setuju dengan mudah. Tanpa Arum membujuk pun, mereka tidak akan menolak.
Tentu saja, siapa yang bisa menolak jalan-jalan asyik bersama teman?
Perempuan yang menggunakan
kardigan putih itu, namanya Arum. Arum itu seperti matahari. Pendar cahayanya
memberikan energi terhadap teman-temannya. Hangatnya mendekap dan melindungi,
memberi rasa aman bagi teman-temannya. Senyumnya yang juga secerah mentari tak
pernah gagal membuat teman-temannya ikut tersenyum.
Ah, tapi matahari pun bisa redup
jika terus-menerus diselimuti awan pengabaian.
Perlahan namun pasti. Matahari
yang mulanya bercahaya terang, dianggap terlalu menyilaukan dan merusak
pandangan. Pendapat Arum tak lagi didengar, malah seringkali disela di tengah
jalan dan ditolak mentah-mentah. Matahari yang hangat, sekarang dianggap pengganggu.
Tawa yang pernah menghiasi ekspresi Arum, kali ini dianggap sebagai kebisingan,
balasannya hanya lirik atau bahkan dehaman tak ramah.
Matahari itu tidak pergi,
presensinya masih ada, namun tak lagi bersinar terang. Matahari tersebut
perlahan berbayang, cahayanya memudar. Sinarnya tak lagi segamblang kemarin,
hawa keberadaannya kini hampir menghilang, hanya tersisa setipis kabut pagi.
...
“Sabtu
besok jadi ke pantai?” Trias berucap setelah selesai mengunyah pangsit di dalam
mulutnya.
Apa?
Arum yang sedang menyesap es tehnya sampai-sampai hampir tersedak. Jantungnya
berdegup lebih cepat. Akhirnya mereka mengingatku lagi, batinnya dalam hati.
“Jadi,
lah! Pakai mobil lu, kan, Mik?” Orin menimpali, menjawab dengan mantap dan
semangat, lantas menoleh ke arah Mikha yang tengah meneguk habis es teh manis
dari gelasnya dengan sedotan, hingga terdengar bunyi ‘srot, srot’ yang
sangat kentara.
Arum
semakin tak sabar mendengarkan kalimat selanjutnya. Meski terdapat sedikit
kejanggalan dalam hatinya.
Mikha
mengiyakan, “Iya. Cukup, kan, kita semua masuk mobil gue? Dip, Ru, lu ikut,
kan?”
Oh,
Arum merasa seperti jantungnya merosot ke mata kaki saat ini.
Kita semua? Tanpa menyebut nama
Arum? Bukannya ini agenda buatan Arum dua bulan lalu? Bukannya Arum yang
membuat rencana ini? Arum membelalakkan matanya tak percaya. Mereka
membicarakan agenda yang dibuat oleh Arum, di depan Arum, tanpa mengajak Arum?
“Ikut, dong! Gas!” Dipa
mengangguk setuju, ia bahkan berseru ria, ia sudah membayangkan dirinya mencari
cangkang kerang yang cantik untuk koleksinya.
“Gue-“ Arum baru saja ingin
membuka mulutnya, namun dengan cepat disela kembali oleh Mikha. “Ru? Lu ikut,
kan?”
Aru, yang sedari tadi lebih
banyak diam, menangkap perubahan ekspresi Arum lewat ekor matanya. Ia melihat
Arum yang mematung, melihat bagaimana sorot matanya lemas dan tak berdaya. Aru
berdeham, memutar bola matanya ragu-ragu untuk menjawab ajakan Mikha.
“Mungkin,” jawabnya pendek.
“Yah, Ru, jangan nggak ikut,
dong?”
Kalau Aru tidak salah ingat,
piknik ke pantai ini adalah keinginan Arum untuk melepas penat pasca ujian.
Tapi teman-temannya seperti tidak ada yang mengingat, atau apa Aru salah ingat?
Masa bodoh, Aru akhirnya bertanya langsung pada Arum daripada ia kepalang
bingung sendiri, “Rum? Memangnya lu nggak ikut?”
Pertanyaan itu seperti lemparan
batu pada kolam yang tenang. Meja mendadak sunyi dua detik. Mikha dan Orin
terkejut, seolah baru saja menyadari bahwa ada satu orang lagi di antara mereka
yang punya nama.
“Oh, anu-“ Arum mencoba membuka
suara. Suaranya tertahan di kerongkongan.
“Eh, iya, gue lupa ada Arum.
Rum, ikut ke pantai, nggak?” Kalimat Arum terpotong oleh Orin yang tiba-tiba
menyela suaranya. Nada bicaranya ringan, oh, terlampau ringan bahkan, seolah
mengajak Arum hanyalah sebuah opsi tambahan yang baru saja teringat, bukan
sebuah keajiban.
“Lah, iya. Arum ikut nggak?” Mikha
ikut menimpali Orin, mungkin baru teringat ada Arum juga yang sedang duduk
bersama mereka. Nada bicara Mikha datar, terdengar tidak ada binar semangat
seperti saat ia bertanya pada Dipa tadi.
Arum mengernyitkan alis. Mereka
seakan sekadar bertanya, bukan mengajak. Ia bisa merasakan perbedaannya. Ada
jurang pemisah antara cara mereka mengajak yang lain dengan cara mereka
bertanya padanya. Pertanyaan mereka tidak mengandung harapan agar dia ikut. Itu
terdengar seperti pertanyaan basa-basi. Arum menatap ke arah ujung sepatunya,
berpikir sejenak. Lantas ia mendongak dan tersenyum, “gue nggak pasti bisa
ikut,” ucapnya lirih dibersamai dengan gelengan lemah.
Orin membulatkan bibirnya, “yah,
Arum nggak bisa ikut,” sementara yang lain seperti enggan menanggapi percakapan
ini.
Detik berikutnya, eksistensi
Arum seakan kembali terhapus. Mereka dengan cepat membelokkan perbincangan pada
jam keberangkatan, barang-barang yang harus dibawa, hingga daftar lagu yang
diputar saat perjalanan. Arum hanya ikut mendengarkan dengan sesekali ikut
mengangguk serta menyetujui pendapat teman-temannya. Padahal jauh di dalam
sana, hatinya sedang sibuk meyakinkan bahwa dirinya tak apa.
...
Ah,
seharusnya Sabtu ini terasa segar. Minggu ujian telah berakhir, Arum bisa
berleha-leha di rumah tanpa memikirkan apapun. Namun peristiwa dua hari lalu
mengingatkannya pada sesuatu, pagi ini harusnya mereka pergi ke pantai. Kalau
tidak salah ingat. Kalau mereka jadi pergi. Tidak dapat dipungkiri, dada Arum
bergemuruh tidak tenang. Pasti masih tersimpan sepercik rasa sedih di hatinya.
Bagaimanapun, Arum yang merencanakannya, namun tiba-tiba mereka memutuskan
untuk pergi tanpa hampir memikirkannya.
Arum
memilih duduk di bangku taman yang terletak pada halaman belakang rumahnya,
menatap ke arah pot-pot bunga yang ditanam Bundanya. Ia mengambil ponselnya
yang tergeletak di meja, menghidupkan layarnya. Jam sembilan tepat. Seharusnya
beberapa kilometer lagi mereka sampai di pantai, bila mengikuti rancangan
piknik yang kubuat waktu itu, batinnya. Arum menghela napas panjang, apa yang
mereka lakukan kira-kira, ya? Cemilan apa yang akhirnya dipilih oleh Orin dan
Trias? Musik apa yang dipilih Dipa untuk menemani perjalanan mereka? Siapa yang
mengemudikan mobilnya? Mikha? Atau Aru?
Arum
menatap ke luar, menatap kardigan putihnya yang dijereng, baru saja ia cuci
tadi pagi. Menghirup dalam-dalam aroma bunga dari pelembut pakaian tidak
menenangkannya sama sekali. Ia tetap saja gelisah. Kenapa ia masih menunggu?
Berkali-kali ia menatap ponselnya yang diam tak menandakan kehidupan apapun.
Apa yang nanti-nanti? Pesan berisi, “Rum, kami jemput lu ke rumah, ya?”,
begini? Atau, “Rum, kami udah di depan! Kita berangkat sekarang!”,
begitu?
Ponselnya
berdering tiba-tiba. Dering panjang. Telepon.
Oh,
oh. Jantung Arum seperti dipompa. Ia sontak berdiri tegak sehingga nyaris
menjatuhkan bukunya saat menyambar ponsel dari meja. Ada nama Dipa di layar.
Senyum Arum merekah tipis, jemarinya takut-takut menggeser ikon hijau.
“Halo,
Dip?” suara Arum terdengar terlalu antusias, ia menepuk dahinya sendiri lantas
berdeham untuk menetralkannya.
“Halo, Rum! Maaf banget ganggu
hari Sabtu. Lu lagi nggak sibuk, kan?”
suara Dipa terdengar riuh di seberang sana. Arum bisa mendengar suara angin dan
sayup-sayup keramaian teman lainnya. Mereka sudah di jalan pastinya.
“Nggak, kok, Dip. Ada apa?” Arum
meremas ujung kausnya, menggigit bibirnya takut-takut.
“Aduh, syukur deh. Jadi gini,
Rum, lu pegang fail desain infografis bulan depan, kan? Gue baru inget kalau
revisinya harus dikumpul ke Kak Asisten sore ini, jam empat. Gue nggak bawa
laptop juga, dan gue inget lu selalu yang paling rapi kalau simpan fail-fail
gini. Bisa tolong kirim ke gue sekarang, nggak? Biar gue tinggal kirim ke Kak
Asisten lewat ponsel.”
Bahu Arum turun perlahan,
senyumnya ikut luntur. Ia terduduk kembali di bangku, darahnya bak tersedot
habis ke luar tubuh.
“Rum? Masih di sana?”
Arum menelan ludah. Rasanya
seperti ada duri ikan yang menancap di kerongkongannya. Perih. “I-iya, Dip.
Masih. Fail infografis, ya?” Arum berusaha mengatur suaranya sebisa mungkin,
seolah semua sempurna di tempatnya.
“Iya, Rum. Thanks, ya! Maaf jadi
ganggu.”
Arum terkekeh hambar, “Oke, Dip.
Aman, aja.”
Dan panggilan berakhir.
Ia menatap nanar pada rumput di
bawah sana. Tatapannya kosong. Lantas perlahan senyum getir yang menyedihkan
tersuguh di wajahnya. Apakah selama ini dia bukan orang yang dirindukan
eksistensinya saat bersenda gurau? Apakah selama ini dia bukan orang yang
kehadirannya ditunggu untuk makan siang bersama? Apakah selama ini dia hanya
"penyelamat" saat ada barang yang tertinggal? Apakah selama ini dia
hanya “penyedia” saat lainnya kekurangan suatu hal?
Arum masih mematung. Tidak
sesegera mungkin mencari fail yang dimaksud. Ponselnya kembali bergetar. Pesan
dari Dipa mengingatkannya untuk mengirimkan fail infografis yang dimintanya
tadi. Arum membaca pesan itu. Ia melihat tanda centang biru dua pertanda ia
sudah membacanya. Tapi ia tidak membalas. Ia mematikan layar ponsel dan
meletakkan kembali benda itu secara telungkup di atas meja. Mungkin satu jam
lagi ia akan mengirimnya. Mungkin dua jam lagi.
Ia menatap angin yang berembus,
meniup anak rambutnya hingga tersipu perlahan, menerbangkan dedaunan tipis yang
mau-maunya terhuyung ke sana kemari. Dedaunan itu, apakah hawa keberadaannya
bahkan lebih tipis daripada dedaunan itu?
...
“Pesan
apa, Kak?”
“Pangsit
kuah dan es jeruk.”
Arum
mencari tempat yang sepi. Tidak di pojok, sih, asal bisa bersandar di tembok
saja ia sudah merasa cukup. Ia memilih duduk membelakangi jalanan. Memandang ke
arah langit-langit, menatap pendar lampu redup itu lamat-lamat, hingga matanya
berkunang-kunang sendiri. Lantas memutuskan untuk merenung saja, bersandar pada
tembok di samping bahu kanannya. Arum menghela napas panjang.
Ponsel Arum berdering
lagi. Panggilan masuk. Aru.
Arum
mengerutkan kening. Kenapa Aru menelepon? Apa dia juga butuh sesuatu? Arum
mengatur napasnya, lalu menggeser ikon hijau. “Halo, Ru? Ada yang ketinggalan
lagi?” tanya Arum, mencoba terdengar seringan mungkin.
“Rum,
dengerin gue. Jangan dipotong,” suara Aru di seberang terdengar tegas. Di
belakang, Arum bisa mendengar deru angin jalan raya dan suara samar
perbincangan teman-temannya. “Gue baru turun dari mobil Mikha. Kami di rest
area, gue yang minta berhenti,” lanjut Aru.
Arum
tertegun. “Hah? Kenapa, Ru? Ada masalah sama mobilnya?”
“Nggak
ada masalah di mobil, Rum. Masalahnya ada di kita semua, di meja kedai mi ayam
dua hari lalu. Dan di telepon Dipa tadi,” Aru menjeda sejenak. “Lu ngerasa
ditinggalin, kan? Lu ngerasa kita nggak peduli? Iya?” tanya Aru. Suaranya tidak
lembut, justru terdengar seperti tusukan. “Kita mungkin payah karena nggak
peka. Tapi lu tahu nggak kenapa kita jadi nampak nggak peduli sama lu?”
“Karena
lu terlalu sering bilang nggak apa-apa. Lu selalu membatasi diri dengan dalih
‘nggak mau ngerepotin’, terus lu sedih di balik tembok karena nggak ada yang
manjat, nggak ada yang mau menjangkau diri lu di sana. Tiap kami tanya,
jawabannya ‘Aman’. Tiap kami mau bantu, jawabannya ‘Gue bisa sendiri’. Lu
selalu pengen kelihatan sempurna dan nggak punya masalah.”
Suara Aru terus mengalir, tajam
dan dingin. Sedang Arum di lain sisi membisu. Napasnya tercekat. Dadanya
tertohok kenyataan yang baru ia sadari.
“Lama-lama
kami jadi berpikir lu emang lebih nyaman tanpa kita. Lu yang mundur
pelan-pelan, Rum. Lu yang bikin kami sendiri terbiasa kumpul tanpa presensi lu
karena lu selalu bilang lu baik-baik aja tanpa bantuan kami. Dan kami ngerasa
nggak dibutuhin karena lu selalu punya solusi buat diri lu sendiri. Dipa
mancing lu tadi pagi, dia nunggu lu protes, nunggu lu marah karena nggak
dijemput. Tapi jawaban lu gimana? ‘Aman, Dip’. Ya udah, dia ngerasa lu emang
mau sendiri. Padahal Dipa setengah hati berangkat tadi karena personelnya nggak
lengkap.”
“Jadi
manusia yang butuh orang lain itu nggak apa-apa, Rum. Kirim failnya ke Dipa
sekarang, terus jujur kalau lu sebenarnya mau dijemput. Berhenti nunggu kita
buat jadi peramal yang bisa baca isi hati lu. Jangan sampai pas lu akhirnya mau
manggil kita, kita udah terlanjur biasa hidup tanpa presensi lu.”
Sambungan
terputus.
Arum
bergeming menatap layar ponselnya yang mati. Kata-kata Aru terus berputar di
kepalanya, bak lonceng yang dipukul keras-keras di samping telinganya.
Arum
selalu bangga dengan kemandiriannya yang ia pikir adalah bentuk kasih sayang
agar teman-temannya tidak terbebani. Ternyata itu semua adalah kawat berduri
yang ia pasang sendiri. Dada Arum sesak. Tidak, bukan karena ia marah pada
teman-temannya, tapi karena malu pada dirinya sendiri. Arum menarik napas
dalam. Ia membuang jauh-jauh ego "merepotkan dan membebani orang
lain" dari kepalanya. Ia mengirim fail dan men-dial nomor Dipa dengan
cepat sebelum keberaniannya kembali menguap.
Di
lain sisi, Orin, Dipa, Trias, dan Mikha masih bungkam dengan pikirannya
masing-masing di dalam mobil. Seolah oksigen di sana perlahan habis, suasana
dalam kabin mendadak berat karena mereka samar-samar mendengar kalimat yang
dilontarkan Aru kepada seseorang di balik ponselnya. Aru sendiri memutuskan
keluar dari dalam kendaraan saat menelpon Arum, membelakangi teman-temannya
yang masih di dalam mobil.
Nada
dering dari ponsel Dipa terdengar. Tertera nama Arum di layar.
“Halo,
Rum?”
“Dip...”
Arum memberikan jeda pada kalimatnya. Suaranya serak, mungkin karena ia baru
saja meruntuhkan tembok yang ia bangun sendiri selama ini. “Failnya udah gue
kirim. Tapi,” Dipa menunggu kalimat selanjutnya dari Arum. “Kenapa, Rum?”
“Nggak asik ternyata sendirian
di sini,” ucap Arum, suaranya kini terdengar lebih mantap meskipun ada nada
malu-malu di sana. “Boleh nggak kalau kalian ke sini juga? Gue sebenarnya mau
makan bareng kalian. Gue juga mau ke pantai bareng kalian. Gue mau ikut. Mulai
sekarang gue bakal bilang kalau gue mau diajak.”
Keheningan di dalam mobil pecah
seketika. Dipa terlonjak, ia menatap teman-temannya dengan binar yang kembali
menyala. Ia tidak perlu lagi menebak-nebak apakah Arum marah atau tidak. “NAH!
GITU, DONG, PROTES!” seru Dipa nyaring, membuat Mikha dan Trias hampir melompat
kaget. “Gue dari tadi mau ngomong ke yang lain, tapi bingung sendiri, Rum!”
Trias langsung mencondongkan badannya ke depan, merebut ponsel Dipa. “Tuh, kan!
Gue bilang juga apa! Lu cuma gengsi aja, kan! Ru, cepat masuk sini! Mik, putar
balik sekarang!”
...
SINOPSIS
Arum adalah "matahari"
bagi teman-temannya. Hangat, ceria, dan selalu ada. Namun, apa jadinya jika
Sang Matahari mulai merasa terabaikan? Saat rencana liburan ke pantai yang ia
susun justru dibicarakan tanpa melibatkan dirinya, Arum justru memilih mundur
teratur. Ia bersembunyi di balik kata favoritnya: "Aman."
Baginya, menjadi mandiri adalah
cara terbaik agar tidak merepotkan orang lain. Namun, benarkah ia baik-baik
saja saat ponselnya hanya berdering untuk urusan tugas di kala yang lain sedang
bersenang-senang? Di tengah rasa sesak dan gelisah dari tembok yang ia bangun
sendiri, sebuah teguran keras dari Aru datang menghantam: Apakah Arum yang akan
ditinggalkan, atau ia sendiri yang perlahan menyembunyikan pendar cahayanya
hingga tak lagi terjangkau?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar