SEKAR Edisi April 2026 | Strategi Paling Nekat Karya Navira Monica Sari
Strategi Paling Nekat
Karya Navira Monica Sari
Ternyata... keluar dari kantor nggak otomatis ngebuat
bayangan Dinda ter-uninstall otomatis dari kepala mungilku. Folder ”Dinda” di otakku malah seolah masuk ke tahap maintenance permanen—nggak bisa dihapus, tapi... terus memakan memori.
Sudah waktunya aku balik ke realita, berkutat dengan skripsi yang revisinya bahkan lebih banyak daripada total jumlah kata di dalamnya—Berlebihan memang hobiku, jadi jangan heran. Setiap kali aku merasa buntu menghadapi dosen pembimbing yang ribetnya ngalahin mamaku, aku teringat ucapannya ”Jangan terlalu aman.”
Di suatu sore yang mendung—tipe cuaca yang biasanya ngebuat orang-orang jadi melankolis parah dan kehilangan akal sehatnya—aku melakukan suatu hal yang super duper nekatbahkan aku yang dulu nggak bakal mengira bakal ngelakuinnya. Sesuatu yang Dinda bilang harus dilakukan sesekali.
Aku memotret segelas es kopi susu yang sangat manis, penuh dengan gula dan whipped cream bukan whipped cream pink ya—lalu mengirimnya ke WhatsApp Dinda.
Arga : Lagi minum ujian hidup nih kak, versi manisnya tapi. Biar nggak pahit-pahit banget kayak kopi kakak.
Setelah mengirimkan pesan itu, aku meletakkan kembali ponsel dengan layar menghadap ke bawah. Jantungku berdegup kencang daripada waktu kepala aku nabrak pintu kaca dulu—Kejadian yang paling memalukan dan traumatis buat aku—Lima menit. Sepuluh menit. Aku udah hampir menyerah sampai rasanya ingin menarik pesan itu sebelum centang birunya muncul. Lalu tak lama ponselku bergetar. Drrt
Dinda : Kebanyakan gula bikin ngantuk. Skripsinya kapan selesai kalau molor terus? Tebak reaksiku setelah baca pesan dari Dinda, yap nyengir. Masih datar, ciri khas Dinda banget.
Arga : Ini lagi usaha, kak. Kalau selesai cepat, boleh minta hadiah nggak, kak?
Dinda : Hadiah apa?
Arga : Simple aja, Kopi. Tapi aku yang pilih tempatnya. Biar kakak tahu kalau kopi enak itu nggak harus rasa obat. Dia nggak membalas pesanku lagi—Hanya dibaca—Aku menghela napas, berpikir mungkin aku udah kelewat tengil. Namun, waktu aku baru aja hendak kembali fokus ke barisan skripsiku, sebuah pesan masuk lagi ke ponselku.
Dinda : Selesain dulu revisinya. Baru bahas kopinya. Aku hampir aja berteriak di kafe saat itu juga. Rasanya sepertinya baru saja memenangkan tender besar tanpa perlu presentasi. Skip Dua minggu kemudian, aku dan dinda benar-benar bertemu. Bukan di kantor, bukan di lobby, tapi di sebuah kafe kecil di dekat kampusku. Dinda datang tanpa kemeja kerja, Dia hanya memakai kaos putih dan celana flare jeans, tapi entah kenapa, level ”bahaya” di mataku malah naik berkali-kali lipat.
”Mana revisinya?” tanyanya langsung tanpa ragu-ragu saat duduk. Bahkan belum sempat memesan minum.
”Dibahas nanti, kak. Sekarang bahas hal yang lebih penting dulu,” jawabku sambil menyodorkan menu. Dia angkat alis kanannya. ”apa yang lebih penting dari pada skripsimu?”
”Pilihan kopi kakak hari ini.”
Dinda tertawa. Itu adalah tawa pertama yang aku dengar secara langsung tanpa adanya gangguan suara mesin fotokopi atau.. obrolan orang kantor di latar belakang. Manis. MANIS BANGET!!!. Jauh lebih manis bahkan dari es kopi susu yang aku minum kemarin.
Kami mengobrol ngalor-ngidul berjam-jam—Ternyata Dinda nggak sedingin itu—Dia hanya terlalu terbiasa profesional yang membuat dia terkesan kaku. Dia bercerita tentang klien-kliennya yang ajaib, dan aku bercerita tentang bagaimana aku hampir menabrak pintu kaca untuk kedua kalinya di kampus karena melamun... ya, sesuatu deh.
”Kamu masih sering melamun ya, ga,” katanya sambil menopang dagu menatapku dengan mata yang indah itu.
”Iya,” jawabku jujur.
”Tapi sekarang objek lamunannya udah punya nama, kak.”
Dinda diam sebentar, lalu menyesap kopinya—yang tentu saja masih pahit.
”Jangan aneh-aneh.”
”Aku nggak aneh-aneh, kak. Aku hanya mencoba biar nggak ’aman’ lagi,” kataku pelan, meniru kalimatnya waktu itu.
Hening sejenak. Lampu kafe mulai temaram, dan di luar hujan mulai turun lagi. Persis saat dia mengantarku pulang waktu itu.
”Arga, ” panggilnya
”Iya, kak? ”
”Jangan panggil ‘kak’ kalau lagi di luar kantor.”
Aku tertegun. Butuh waktu tiga detik bagi otak mungilku untuk memproses perintah itu. Hal itu
adalah strategi paling tidak terduga yang aku terima.
”Terus harus manggil apa? Sayang?” tanyaku, jiwa tengilku kembali tanpa diundang.
Dinda mendecak, tapi dia nggak marah. ”Terserah, asal bukan ’kak’. Berasa lagi di kantor.”
Aku tersenyum lebar sampai ke telinga. ”Oke, Dinda.” ucapku sambil menekankan kata Dinda.
Nama itu terasa asing tapi menyenangkan di lidahku. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, menyembunyikan senyum di balik cangkir kopi pahitnya.
Malam itu, saat aku berjalan menuju parkiran motor, aku sadar satu hal. Aku yang dulu mengira
perasaan ini hanya akan jadi kenangan magang yang lewat begitu saja, ternyata salah besar.
Dulu aku berharap perasaan ini pudar setelah lulus. Tapi sekarang, aku malah berharap sebaliknya. Aku ingin perasaan ini tumbuh, sedikit demi sedikit, senekat mungkin, sampaitidak ada lagi kata 'kalau' di antara kami.
Sial. Aku benar-benar menyukainya. Suka sekali. Dan kalau ini berubah jadi cinta... ya sudah, biarkan saja riwayatku tamat dengan bahagia.
---
Beberapa bulan kemudian, hari yang aku tunggu—dan aku tangisi setiap malam di depan laptop akhirnya tiba. Sidang skripsiku selesai. Aku keluar dari ruangan dengan kaki lemas, tapi bibir nggak bisa berhenti nyengir lebar. Orang pertama yang aku kabari bukan orang tuaku, bukan juga grup WhatsApp angkatan yang isinya cuma keluhan, melainkan nomor yang namanya sudah aku ganti menjadi "Dinda" tanpa embel-embel jabatan apa pun.
Arga : Lapor, target sudah dilumpuhkan. Skripsi sudah sah. Hadiah kopi ditunggu. Balasannya datang secepat kilat, bahkan aku belum keluar dari room chat WhatsApp Dinda.
Dinda : Selamat, Ga. Jam 7 malam ini. Jangan telat.
Malam itu, aku sengaja menjemputnya. Kali ini bukan dia yang menyetir, tapi aku yang memboncengnya dengan motor kesayanganku. Saat dia naik ke jok belakang, aku bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda. nggak ada lagi jarak formalitas "anak magang dan senior". Hanya ada aku dan dia di bawah lampu jalanan kota yang temaram.
"Jadi, ke mana kita?" tanyanya tepat di samping telingaku.
"Ke tempat yang kopinya nggak rasa ujian hidup, Dinda," jawabku mantap.
Di kafe itu, suasana jauh lebih santai. Kami nggak lagi bicara soal revisi atau klien yang menyebalkan. Kami bicara tentang mimpi, tentang ketakutan-ketakutan kecil, dan tentang bagaimana sebuah pertemuan singkat di kantor bisa merubah banyak hal. Dinda banyak bercerita bahwa awalnya dia memang menganggapku anak magang paling aneh yang pernah dia temui. Tapi keanehan itulah yang ternyata membuatnya merasa kantor nggak lagi membosankan.
"Kamu tahu, Ga?" Dinda menatapku sambil memutar-mutar sendok kopinya. "Prinsip hidup itu penting, tapi kadang kita harus membiarkan seseorang datang dan merusak prinsip itu sedikit demi sedikit."
"Termasuk prinsip 'jangan dekat sama anak magang'?" godaku.
Dia tertawa, lalu mengangguk kecil. "Termasuk itu."
Aku menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberanian dari jiwa tengilku ini. "Dinda, kalau dulu aku bilang realita itu pelit, sekarang aku mau tarik ucapan itu. Ternyata realita bisa sangat baik, asal kita berani nekat sedikit."
Aku menatapnya lekat-lekat. nggak ada lagi pintu kaca yang menghalangi, nggak ada lagi bayangan masa lalu yang membebani. Hanya ada kejelasan yang selama ini aku cari.
"Aku serius, Din. Bukan cuma soal kopi, tapi soal kita."
Dinda nggak langsung menjawab. Dia menyesap kopinya—yang kali ini aku pesankan dengan sedikit gula—lalu tersenyum. Sebuah senyuman yang membuatku sadar bahwa riwayatku memang sudah tamat, tapi ini adalah jenis penutup yang paling aku inginkan.
"Ya sudah," katanya pelan. "Ayo kita lihat seberapa nekat kamu selanjutnya."
Malam itu, aku pulang dengan perasaan yang meluap. Ternyata benar, nggak semua hal harus pudar setelah waktu berakhir. Kadang, akhir dari sebuah bab hanyalah awal untuk menulis cerita yang jauh lebih panjang, lebih rumit, dan jauh lebih indah. Dan aku sudah siap untuk menulis setiap lembarnya bersama Dinda.
SINOPSIS
Arga, seorang mahasiswa magang yang ceroboh dan hobi mempermalukan diri sendiri, terjebak dalam pesona Dinda, senior brand strategist yang tenang dan profesional. Arga memegang prinsip bahwa sikap seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu, persis seperti pengamatan Dania pada Eren. Arga mengira perasaannya akan berakhir seiring selesainya masa magang. Namun, sebuah nasihat untuk "tidak bermain aman" membawa Arga pada serangkaian tindakan nekat—mulai dari pesan singkat yang berani hingga pertemuan di luar jam kantor. Di antara pahitnya kopi dan manisnya percakapan, Arga harus memutuskan: tetap berada di zona aman sebagai mantan anak magang, atau melancarkan strategi paling nekat untuk memenangkan hati sang senior.
Komentar
Posting Komentar