SEKAR Edisi April 2026 | Tukiyem dan Impiannya Karya Nasya Falasarika

Tukiyem dan Impiannya 

Karya Nasya Falasarika

Di sebuah rumah gubuk sederhana, hiduplah sepasang suami istri renta dan anak gadis mereka yang telah beranjak remaja bernama Tukiyem. Suatu hari, keluarga itu terlibat perbincangan serius perihal keberlanjutan hidup Tukiyem. Tukiyem baru saja lulus SMA di desanya, ia mendapat nilai bagus di beberapa mata pelajaran sehingga guru-guru menyarankannya untuk melanjutkan kuliah dan mengejar impiannya. Tukiyem adalah anak yang rajin dan pandai, ia juga berbakti kepada kedua orang tuanya. Bapak dan ibu Tukiyem bernama Sabi dan Marwa, mereka berdua telah berumur 62 dan 59 tahun.

Suatu hari, Tukiyem memberanikan diri untuk mengajak orang tuanya berbincang perihal langkah hidup yang harus ia ambil selanjutnya. Jadi, ia panggil kedua orang tuanya yang berada di depan gubuk untuk masuk ke ruang tamu mereka yang sederhana.

“Pak, Bu, Tukiyem mau membicarakan sesuatu dengan Bapak dan Ibu. Boleh kita masuk dulu?” kata Tukiyem. Bapak dan Ibu Tukiyem hanya memandang anaknya sebentar lalu menuruti keinginannya untuk masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu yang sederhana itu, ketiganya duduk berhadapan, Bapak dan Ibu Tukiyem kemudian membuka percakapan, “Apa yang ingin kamu bicarakan, Nduk?” tanya Ibunya. 

Tukiyem sedikit gugup untuk membuka mulutnya, ia terdiam sebentar kemudian dengan keberanian yang ia paksakan, ia mulai berbicara. “Pak, Bu, Iyem kan sudah lulus SMA. Dan Iyem pun berhasil memperoleh nilai paling bagus di desa ini. Iyem mau meminta sesuatu, apakah Bapak dan Ibu mengizinkan jika Iyem melanjutkan kuliah di jurusan Pendidikan?” 

Bapak dan Ibu Tukiyem sedikit tersentak mendengar ucapan Tukiyem, mereka saling berpandangan sejenak sebelum Ibu Tukiyem kembali bersuara, “Kuliah di jurusan itu nantinya bakal bikin kamu kerja apa?”

“Jadi guru, Bu” jawab Tukiyem cepat.

Bapak dan Ibu Tukiyem kembali saling berpandangan. "Nduk, menjadi seorang guru itu pekerjaan yang sulit untuk mendapatkan uang. Kamu lihat sendiri si Bari anak Pak Lurah yang saat ini masih menjadi guru honorer. Gajinya sebulan hanya 250 ribu”, kemudian Bapak Tukiyem juga menambahkan, “Benar, Nduk. Bapak tidak yakin pekerjaan guru dapat menjadikanmu orang kaya. Dan bukannya kamu bahagia bekerja sebagai guru, malah kamu akan stres karena tugas-tugasnya yang tidak sesuai dengan besaran gajinya.”

Tukiyem memandang kedua orang tuanya dengan nanar. Menjadi seorang guru merupakan cita-citanya sejak kecil. Ia melihat sosok guru sebagai orang yang paling mulia, sehingga selain mendapat gaji ia juga yakin seorang guru akan mendapat balasan pahala dari Yang Maha Kuasa atas jasanya mencerdaskan generasi penerus bangsa.

“Pak, Bu, Tukiyem tidak mempermasalahkan tentang gaji, seiring berjalannya waktu gaji akan semakin naik. Dan—”

“Tidak! Jika kamu memang ingin melanjutkan sekolahmu, maka Bapak dan Ibu yang akan memilihkan jurusan yang akan kamu masuki. Bapak dan Ibu sudah lama mengecap pahit manisnya hidup, dengan gaji yang akan diterima sebagai guru kamu tidak akan pernah menjadi kaya. Dan untuk menutupi biaya yang dihabiskan untuk kuliahmu saja mungkin kamu tidak akan mampu. Kamu jangan mencoba naif dan mengabaikan uang yang sangat dibutuhkan di zaman ini, uang sedikit tidak akan membuatmu hidup lama. Percuma Ibu dan Bapak sekolahkan kamu hingga lulus SMA tapi pemikiranmu masih saja tidak realistis,” wajah Ibu Tukiyem terlihat memerah karena menahan marah.

Ia tidak habis pikir, anaknya tidak mampu berpikir realistis tentang uang di zaman sekarang. Bapak Tukiyem mencoba mencairkan ketegangan yang terjadi di ruang tamu itu, ia bertanya kepada anak gadisnya, “Sebenarnya, mengapa kamu ingin menjadi seorang guru, Nduk?”

Tukiyem yang merasa mendapat sedikit kesempatan untuk bersuara segera saja menyambarnya, “Tukiyem mau menjadi orang yang mulia, Pak. Seorang guru, selain mendapatkan gaji juga akan mendapatkan kemuliaan.”

“Kemuliaan? Apakah kamu berpikir bahwa kemuliaan akan memberimu makan? Menghidupimu? Memberikan pakaian dan susu untuk anak-anakmu kelak? Benar kata Ibumu, pekerjaan guru tidak menjanjikan gaji yang sepadan.” Bapak Tukiyem menghela napas berat setelah mengatakan hal itu.

Tukiyem yang mendapatkan penolakan dari kedua orang tuanya, mencoba tetap meyakinkan mereka. “Tapi, Pak, Bu, Tukiyem inginnya menjadi guru.”

Bapak dan Ibu Tukiyem menatap Tukiyem dengan mata yang sedikit membelalak, kemudian Bapak Tukiyem berkata, “Sampai kapan pun Bapak dan Ibu tidak mengizinkanmu menjadi guru. Jikalau kamu tetap bersikeras dengan keinginanmu itu, carilah biaya sendiri untuk sekolahmu karena menjadi guru atau menjadi orang biasa pun akan mendapatkan uang yang sama, atau bahkan menjadi orang biasa akan mendapat uang yang lebih besar daripada menjadi guru.”

Tukiyem tersentak kaget dengan ucapan bapaknya ia menoleh kepada ibunya dan berharap ibunya akan melembutkan hatinya dan mau mendukung impiannya. Namun, pupus sudah harapannya kala Tukiyem mendengar vonis terakhir dari mulut Ibunya. “Bapakmu benar. Ibu tidak dapat membayangkan masa depan cerah di pekerjaan seorang guru. Yang ada, nanti kamu malah terlilit hutang untuk membiayai hidup anakmu kelak, seperti si Bari. Harusnya kamu dapat melihat Bari sebelum berkeinginan untuk menjadi seperti dia. Menjadi seorang guru adalah cita-cita yang sia-sia dan sangat naif. Bohong kalau kamu tidak membutuhkan uang untuk hidup, dan bohong jika kamu akan menikmati pekerjaanmu demi label kemuliaan.”

Selepas mengatakan hal itu, kedua orang tua Tukiyem pergi meninggalkan Tukiyem sendiri di ruang tamu. Setelah mereka berdua tak lagi terlihat di pintu, Tukiyem menumpahkan tangisnya, ia merasa kedua orangnya tidak mengerti kebenaran dari apa yang mereka bicarakan. Sulit untuknya memahami bagaimana mungkin orang tuanya melihat pekerjaan guru hanya dari gajinya, padahal dirinya telah berjaya karena perjuangan seorang guru.

Tangis Tukiyem masih belum reda kala ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya berbincang dengan kedua orang tuanya di halaman depan. Tukiyem hendak bangkit untuk menyapa orang itu, tapi lebih dulu sosok tersebut beranjak ke arahnya diikuti bapak dan ibunya.

“Tukiyem, kamu apa kabar?” sapa sosok itu setelah ia berada tepat di depan Tukiyem.

Tukiyem tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya melihat sosok tersebut ada di dalam rumahnya, ia buru-buru menghambur ke pelukan sosok itu.

“Kenapa, Nduk?” tanya sosok itu sambil mengelus punggung Tukiyem yang terisak.

“Ibu kenapa lama sekali perginya,” isakan Tukiyem tak kunjung surut, tak ayal sosok itu mendorong pelan tubuh Tukiyem dan menghapus air matanya.

“Kamu kenapa menangis? Ibu ke sini untuk menjemput kamu, Nduk.”

Kedua orang tua Tukiyem nampak terkejut, hentakan tubuh mereka disadari oleh sosok tersebut.

“Pak, Bu, saya Naira. Guru SMA Tukiyem di kelas 10 dulu. Saya sudah berjanji untuk mengantarkan Tukiyem menuju masa depan yang lebih cerah. Dan hari ini saya ingin menunaikannya, saya ingin mengajak Tukiyem pergi dari desa ini untuk belajar di luar sana. Mempelajari hal-hal yang tidak akan bisa ia miliki di sini.”

Bu Naira, sosok yang terlihat berwibawa itu membuat kedua orang tua Tukiyem tertegun. Butuh beberapa detik hingga mereka mampu merespon informasi yang dilontarkan oleh Bu Naira.

“Apakah Ibu yang menghasut anak kami untuk menjadi guru?”

            Bu Naira yang ganti tersentak mendengar perkataan orang tua Tukiyem. “Maksudnya bagaimana, ya, Bu?

            Dengan wajah yang kembali menampilkan kegeraman, kedua orang tua Tukiyem berdebat dengan Bu Naira perihal pilihan hidup Tukiyem yang ingin menjadi guru. Lama perdebatan itu terjadi, hingga kemudian terlontar dua kata yang tak seharusnya keluar dari mulut Ibu Tukiyem.

            “Pergi saja!”

            Tukiyem memandang wajah ibunya dalam kebingungan. Ia yang sejak tadi memilih untuk diam tak bisa tidak bereaksi mendengar perkataan yang keluar dari mulut ibunya.

            “Maksud Ibu?”

            “Keluar saja kamu dari rumah ini, kejar apa pun yang kamu impikan. Tapi jangan kembali ke sini!”

            Bu Naira maupun Tukiyem saling memandang tak percaya, bapak yang hanya mematung di samping tubuh ibu juga tak bereaksi. Sepertinya kedua orang tuanya sepakat untuk tak memperpanjang masalah ini dan memilih jalan pintas yang menurut mereka baik untuk keduanya.

            Tukiyem terdiam cukup lama, Bu Naira telah mencoba menenangkan kemarahan orang tua Tukiyem, tapi agaknya hal tersebut sia-sia. Kedua orang tua Tukiyem tetap teguh mengusir Tukiyem apabila anak itu memilih menjadi guru.

            Tak lama setelah Tukiyem terdiam seraya mendengar ucapan-ucapan dari Bu Naira, akhirnya ia membuat keputusan.

            “Pak, Bu, hari ini Iyem ingin egois. Iyem mau menata hidup Iyem sendiri. Kalau Ibu dan Bapak tak dapat memahami apa yang Iyem pahami, sepertinya memang sudah saatnya Iyem pergi. Sulit jika kita tetap hidup bersama, tapi pemikiran kita sudah berbeda. Iyem sayang sama Ibu dan Bapak, tapi Iyem tahu apa yang Iyem yakini benar. Semoga suatu hari nanti, ketakutan-ketakutan Ibu dan Bapak bisa musnah kalau ngeliat Iyem sukses. Itu pun kalau Ibu dan Bapak mengizinkan Iyem untuk kembali ke sini.”

            Bu Naira tak bisa menutupi wajah terkejutnya, ia tak menyangka akhirnya akan begini. Seharusnya ia membawa Tukiyem secara baik-baik dari keluarganya, bukannya malah memisahkan mereka.

            Tukiyem sadar apa yang sedang dipikirkan Bu Naira, ia hanya membalasnya dengan gelengan kepala. Tak ada yang salah dari Bu Naira, hanya orang tuanya yang belum memahami apa yang mereka pahami.

            Tanpa banyak bicara lagi, Iyem meminta Bu Naira menunggu di kendaraannya dan Iyem bergegas mengemasi barang-barangnya. Sementara itu, kedua orang tuanya termangu di ruang tamu dengan wajah memerah.

            Setelah dua tas terisi penuh dengan barang-barangnya, Tukiyem beranjak mendekati kaki kedua orang tuanya, menciumnya, dan mengucapkan selamat tinggal. Orang tua Tukiyem masih bergeming, enggan menatap atau membalas ucapan pamit Tukiyem.

            Untuk terakhir kalinya, Tukiyem memandangi rumah gubuk yang telah menemaninya selama tujuh belas tahun. Air matanya mengalir semakin deras tatkala melihat orang tuanya tetap berdiam diri di ruang tamu. Tukiyem sadar, orang tuanya bukan tipe orang tua yang sadar dengan ucapan tanpa bukti. Maka, biarlah nanti ia sendiri yang akan menjadi bukti kekeliruan mereka.

            Dengan linangan air mata, Tukiyem dan Bu Naira beranjak dari halaman gubuk itu. Semakin jauh hingga rumah gubuknya tak terlihat lagi di pandangan, begitu pun jejak orang tuanya.

Tamat

Sinopsis

Tukiyem, seorang gadis desa yang cerdas, harus menghadapi penolakan keras dari kedua orang tuanya yang memandang profesi guru sebagai pekerjaan yang tidak sejahtera dan tidak realistis secara ekonomi. Meski diancam akan diusir dan kehilangan restu, Tukiyem akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan rumah bersama mantan gurunya demi mengejar impian menjadi seorang pendidik. Ia melangkah pergi dengan tekad kuat untuk membuktikan bahwa pilihannya bukanlah sebuah kesia-siaan, melainkan jalan kemuliaan yang layak diperjuangkan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEKAR Edisi Juni 2025 | Kamu Cukup, Selalu karya Aura Alfisyahrani

PROFIL

SEKAR Edisi Juni 2025 | Angin Malam karya Saffanah Salsabila Syaikhoni