Minggu, 12 April 2026

SEKAR Edisi Maret 2026 | Pamit karya Andini Restu

Pamit

Karya Andini Restu


Hai Lia, apa kabar hari ini? Senyum kamu masih sama, kan? Masih ingat janji kita setelah nonton Inside Out? Sadness, Disgust, Fear, dan Anger pasti akan selalu muncul. Tapi Joy harus selalu menang!

Lia sudah tersenyum sendiri setelah membaca paragraf pertama. Ahh, dasar Putra. 

Ini akan menjadi surat yang cukup panjang. Jadi, aku mau kamu membacanya sambil bersantai di tempat tidur! Pastikan dirimu dan matamu senyaman mungkin.

Siap? Oke, sekarang aku serius. Ingat, Lia, kamu harus terus tersenyum saat membacanya.

Pertama-tama, maafkan aku karena harus pergi. Maafkan aku karena tidak bisa lagi menggenggam tanganmu saat kita melewati kelompok preman di alun-alun kota. Karena gak lagi bisa memberimu cokelat tanpa kacang saat kamu sedih dan tidak bisa menjemputmu saat kamu bosan di rumah. 

Hei! Aku pergi, tapi aku tidak pergi ke mana-mana. Aku ada di hatimu kan? Bolehkah aku tinggal di hatimu? Setidaknya sampai ada pria baik yang bisa menjagamu. Tidak apa-apa, Lia, Putra tidak akan menyulitkanmu. Kamu hanya perlu sesekali mengenang saat-saat kita bersama dulu. 

Jaga dirimu baik-baik, Lia. Sesekali, bolehkah Putra meminta Lia untuk mengunjungiku? Mungkin saat Lia merindukan Putra, hehe. Karena Putra pasti akan sangat merindukan Lia. 

Narendra Putra. 

24 jam yang lalu.

Tak ada lagi harapan bagi Putra. Dokter mengatakan bahwa obat-obatan yang selama ini ia konsumsi hanya bertujuan untuk meredakan gejalanya dan mencegah kerusakan organ. Diagnosis lupus setahun yang lalu memang telah menghancurkan semangat hidupnya. 

Hari ini adalah hari yang berat bagi Putra. Tubuhnya tak lagi sanggup menahan rasa sakit yang ia rasakan. Putra telah terbaring lemah di rumah sakit selama seminggu ini.

Sejak kemarin, Putra mematikan ponselnya agar bisa beristirahat sepenuhnya. Namun, begitu dia menyalakannya kembali, telepon itu berdering. 

“Halo?” jawab Putra singkat. 

“Putraaa, kamu di mana? Lia bosan di rumah,” kata suara di ujung telepon. 

“Aku akan ke sana setengah jam lagi. Siap-siap ya Lia,” jawab Putra singkat. 

Setelah memohon kepada dokter, Putra segera memesan taksi untuk pulang terlebih dahulu, mengambil mobilnya, dan menuju rumah Lia. Rasanya tidak pantas menghabiskan saat-saat terakhirnya hanya terbaring di ranjang rumah sakit, seolah pasrah menunggu malaikat maut datang menjemputnya. 

Amalia Nanda Syafira. Sosok yang sangat ingin dilindungi oleh Putra. Meskipun mereka baru saling mengenal selama setahun. Tapi rasanya seperti mereka sudah berteman sejak lama. Pertemuan mereka berawal di hari pertama sekolah menengah. Saat itu, hanya ada satu kursi kosong di samping Lia. Sejak mereka duduk bersama, mereka semakin dekat. 

Putra tiba di rumah Lia sesuai janjinya. 

“Putraaa, Lia bosan. Kamu sudah membaik sekarang?” kata Lia sambil membuka gerbang rumahnya. 

“Tentu saja. Lihat, aku sudah siap mengantarmu menonton Inside Out. Mau kan nonton?” Kata Putra sambil tersenyum lebar.

“Aku mau banget. Ayo berangkat sekarang!” seru Lia dengan antusias.

Putra seharusnya belajar dari Lia. Lihat saja Lia sekarang, dia tetap gadis yang ceria meskipun ibunya telah tiada. Di hari terakhir ujian nasional SMP, Lia tetap mengerjakan soal-soal ujian meskipun pikirannya kacau dan dia harus menahan rasa sakit karena kehilangan ibunya. Begitu ujian selesai, Lia bergegas keluar ruangan, menangis dan memanggil-manggil ibunya. Lia sangat menyadari bahwa dia mungkin tidak lulus ujian. Namun, hasil yang dia terima benar-benar di luar dugaan. Nilainya adalah yang tertinggi di sekolahnya. Bukankah itu luar biasa? Lagipula, jika Putra pergi sekarang, dengan siapa Lia akan menonton film saat dia bosan?

“Filmnya seru banget, ya, Putra.” Lia terlihat puas.

“Iya, Lia. Jadi, di dalam dirimu pasti ada Fear, Disgust, Anger, dan Sadness. Tapi Joy harus tetap menang! Oke?” kata Putra, sambil memegang tangan Lia. 

“Oke Putra, ayo makan sekarang. Aku dah lapar.” Lia merengek. 

Putra hanya tersenyum dan mengangguk. 

Bersama Lia, Putra bisa melupakan keputusasaannya. Ya, aku menderita lupus. Lalu apa? Ya, aku akan mati. Lalu apa? Bukankah kita semua pada akhirnya akan mati juga?

“Lia.” Panggil Putra saat mereka menunggu makanan datang.

“Ya?” 

“Besok, saat kamu pergi ke alun-alun kota, kamu harus berani dan berjalan melewati para preman disana. Mereka gak akan gangguin kamu. Kamu kan orang baik. Tuhan itu adil. Orang baik akan selalu bertemu orang baik juga.” jelas Putra. 

“Putra ngomongnya kok sama kayak ayah Lia.” jawab Lia

“Pokoknya, Lia, apa pun yang terjadi, kamu harus tetap menjadi orang baik. Jangan biarkan diri kamu terpengaruh sama hal negatif dan kata-kata jahat orang lain. Ingat ya, kamu harus selalu menyebarkan kebaikan. Oke?” Putra menasihati. 

“Iya ih Putraaa. Lia akan tetap menjadi orang baik.” 

“Besok saat Lia pergi ke sekolah, Lia harus bergaul juga sama temen-temen yang lain. Lia harus mulai ajak ngobrol mereka. Main, belajar, dan makan bareng yang lain. Terus, lakukan hal-hal seru sama teman sekelas. Jadi Lia bisa punya banyak teman baru.” Putra menjelaskan. 

Lia, Putra akan pergi. Lia harus bersikap baik di sini. Putra pasti akan merindukan Lia. Jika bisa meminta kepada Tuhan, Putra tidak ingin pergi. Putra ingin menjadi pria yang akan berjabat tangan dengan ayah Lia, andai kita bisa sampai serius nantinya. Batin Putra penuh harap. 

“Tapi Lia sudah punya Putra. Itu sudah cukup buat Lia,” kata Lia singkat. 

“Itu tidak cukup, Lia!” seru Putra dengan nada sedikit meninggi. 

“Kenapa kamu jadi galak gini sih, Putra?” tanya Lia, yang sedikit terkejut. 

“Putra tidak bermaksud bersikap galak pada Lia. “Coba ingat lagi kemarin pas aku absen selama seminggu. Lia sendirian kan di kelas? Meskipun ada teman-teman lain di kelas juga. Kamu harus bisa bergaul dengan mereka juga. Aku tidak akan selalu ada untukmu,” jelas Putra dengan tenang. 

“Kenapa kamu bilang begitu? Makanya kamu gak boleh sering sakit biar bisa sama Lia” 

Putra hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Lia. Lia selalu membuatnya tak bisa berkata-kata. 

Setelah selesai makan, Putra langsung mengantar Lia pulang. Mereka tiba di depan rumah Lia tepat pukul sepuluh malam. 

“Lia, jaga dirimu baik-baik. Kalau bosan di rumah, baca aja komik lucu. Kalau sedang sedih, makan aja cokelat tanpa kacang dan ingat momen bahagia kita. Kalau kamu keluar, jangan lupa bawa jaket biar nggak kedinginan. Kalau mau ke alun-alun, ajak teman-temanmu juga makan crepes favoritmu. Aku yakin mereka juga akan menyukainya.” 

“Kenapa dari tadi ngomongnya aneh-aneh terus sih, Putra? Ada apa?” tanya Lia, bingung.

“Nggak ada apa-apa, aku baik-baik aja, Lia. Tapi kamu harus ingat dan ikuti nasihatku hari ini, ya? Janji?” tanya Putra, mengacungkan jari kelingking kanannya.

Lia hanya menurut dan mengaitkan jari kelingking kanannya dengan jari kelingking Putra. Seketika itu juga, Putra memeluk Lia. Putra menyelipkan sebuah surat ke saku jaket Lia. Kehangatan. Itulah yang dirasakan Putra dan itulah satu-satunya yang dibutuhkan Putra saat ini. Setelah melepaskan pelukannya, Putra hanya tersenyum dan membiarkan Lia masuk ke dalam rumah, dengan wajah penuh kebingungan. 

Putra pergi setelah memastikan Lia sudah masuk ke dalam rumah. Ia segera melaju dengan mobilnya, meninggalkan rumah Lia. Ya Tuhan, urusanku disini sudah selesai. Setahun yang lalu, diagnosis lupus itu amat menyakitkan bagiku. Tapi bertemu dengan gadis ceria dan manja bernama Lia memberiku kekuatan untuk terus berjuang agar tetap hidup. Sekarang aku siap jika ini benar-benar waktunya. Aku percaya Lia akan menepati janjinya. Ya Tuhan, jika aku benar-benar tidak bisa melindunginya lagi, kirimkanlah orang-orang baik yang bisa melindunginya lebih baik dariku. Aku mohon, kabulkanlah keinginan terakhirku ini. 

Untuk Lia, terima kasih atas kenangan indah yang penuh warna selama setahun ini. Terima kasih telah memberi kesempatan pada Putra untuk mengenali dirimu. Terima kasih telah menjadi alasan Putra merasa jatuh cinta. 

Lia…

Putra pamit sekarang yaa.

10 April 2025, tepat pukul 23.00, Putra pergi. Tepat setelah ia tiba di rumah sakit. Belum sempat dokter memasang infus padanya, Putra tiba-tiba merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Putra pergi. Ia benar-benar telah tiada. Setelah menyelesaikan tugasnya dan mengucapkan selamat tinggal. 

 

***

SINOPSIS

Tidak mudah bagi Putra menerima fakta pahit penyakit yang ia derita. Namun pertemuannya dengan Lia satu tahun terakhir ini, memberikan warna baru dalam hidup Putra. Bagi Putra menjaga Lia adalah tugas terakhir yang ingin ia selesaikan dengan sempurna. Mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, Putra memilih menghabiskan sisa energinya untuk bertemu dengan Lia. Pertemuan manis yang berakhir dengan perpisahan untuk selamanya. Melalui surat kecil rahasia yang berisi perasaannya untuk Lia, malam itu Putra pamit.

Hai Lia, apa kabar hari ini? Senyum kamu masih sama, kan? Masih ingat janji kita setelah nonton Inside Out

Lia sudah tersenyum sendiri setelah membaca paragraf pertama. Ahh, dasar Putra. 

Ini akan menjadi surat yang cukup panjang. Jadi, aku mau kamu membacanya sambil bersantai di tempat tidur! Pastikan dirimu senyaman mungkin.

Siap? Oke, sekarang aku serius. Ingat, Lia, kamu harus terus tersenyum saat membacanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...