Pamit
Karya Andini Restu
Hai Lia, apa kabar hari ini? Senyum kamu masih
sama, kan? Masih ingat janji kita setelah nonton Inside Out? Sadness, Disgust,
Fear, dan Anger pasti akan selalu muncul. Tapi Joy harus selalu menang!
Lia sudah tersenyum sendiri setelah membaca
paragraf pertama. Ahh, dasar Putra.
Ini akan menjadi surat yang cukup panjang. Jadi,
aku mau kamu membacanya sambil bersantai di tempat tidur! Pastikan dirimu dan
matamu senyaman mungkin.
Siap? Oke, sekarang aku serius. Ingat, Lia, kamu
harus terus tersenyum saat membacanya.
Pertama-tama, maafkan aku karena harus pergi.
Maafkan aku karena tidak bisa lagi menggenggam tanganmu saat kita melewati
kelompok preman di alun-alun kota. Karena gak lagi bisa memberimu cokelat tanpa
kacang saat kamu sedih dan tidak bisa menjemputmu saat kamu bosan di
rumah.
Hei! Aku pergi, tapi aku tidak pergi ke
mana-mana. Aku ada di hatimu kan? Bolehkah aku tinggal di hatimu? Setidaknya
sampai ada pria baik yang bisa menjagamu. Tidak apa-apa, Lia, Putra tidak akan
menyulitkanmu. Kamu hanya perlu sesekali mengenang saat-saat kita bersama
dulu.
Jaga dirimu baik-baik, Lia. Sesekali, bolehkah
Putra meminta Lia untuk mengunjungiku? Mungkin saat Lia merindukan Putra, hehe.
Karena Putra pasti akan sangat merindukan Lia.
Narendra Putra.
24 jam yang lalu.
Tak ada lagi harapan bagi Putra. Dokter
mengatakan bahwa obat-obatan yang selama ini ia konsumsi hanya bertujuan untuk
meredakan gejalanya dan mencegah kerusakan organ. Diagnosis lupus setahun yang
lalu memang telah menghancurkan semangat hidupnya.
Hari ini adalah hari yang berat bagi Putra.
Tubuhnya tak lagi sanggup menahan rasa sakit yang ia rasakan. Putra telah
terbaring lemah di rumah sakit selama seminggu ini.
Sejak kemarin, Putra mematikan ponselnya agar
bisa beristirahat sepenuhnya. Namun, begitu dia menyalakannya kembali, telepon
itu berdering.
“Halo?” jawab Putra singkat.
“Putraaa, kamu di mana? Lia bosan di rumah,”
kata suara di ujung telepon.
“Aku akan ke sana setengah jam lagi. Siap-siap
ya Lia,” jawab Putra singkat.
Setelah memohon kepada dokter, Putra segera
memesan taksi untuk pulang terlebih dahulu, mengambil mobilnya, dan menuju
rumah Lia. Rasanya tidak pantas menghabiskan saat-saat terakhirnya hanya
terbaring di ranjang rumah sakit, seolah pasrah menunggu malaikat maut datang
menjemputnya.
Amalia Nanda Syafira. Sosok yang sangat ingin
dilindungi oleh Putra. Meskipun mereka baru saling mengenal selama setahun.
Tapi rasanya seperti mereka sudah berteman sejak lama. Pertemuan mereka berawal
di hari pertama sekolah menengah. Saat itu, hanya ada satu kursi kosong di
samping Lia. Sejak mereka duduk bersama, mereka semakin dekat.
Putra tiba di rumah Lia sesuai janjinya.
“Putraaa, Lia bosan. Kamu sudah membaik
sekarang?” kata Lia sambil membuka gerbang rumahnya.
“Tentu saja. Lihat, aku sudah siap mengantarmu
menonton Inside Out. Mau kan nonton?” Kata Putra sambil tersenyum lebar.
“Aku mau banget. Ayo berangkat sekarang!” seru
Lia dengan antusias.
Putra seharusnya belajar dari Lia. Lihat saja
Lia sekarang, dia tetap gadis yang ceria meskipun ibunya telah tiada. Di hari
terakhir ujian nasional SMP, Lia tetap mengerjakan soal-soal ujian meskipun
pikirannya kacau dan dia harus menahan rasa sakit karena kehilangan ibunya.
Begitu ujian selesai, Lia bergegas keluar ruangan, menangis dan
memanggil-manggil ibunya. Lia sangat menyadari bahwa dia mungkin tidak lulus
ujian. Namun, hasil yang dia terima benar-benar di luar dugaan. Nilainya adalah
yang tertinggi di sekolahnya. Bukankah itu luar biasa? Lagipula, jika Putra
pergi sekarang, dengan siapa Lia akan menonton film saat dia bosan?
“Filmnya seru banget, ya, Putra.” Lia terlihat
puas.
“Iya, Lia. Jadi, di dalam dirimu pasti ada Fear,
Disgust, Anger, dan Sadness. Tapi Joy harus tetap
menang! Oke?” kata Putra, sambil memegang tangan Lia.
“Oke Putra, ayo makan sekarang. Aku dah lapar.”
Lia merengek.
Putra hanya tersenyum dan mengangguk.
Bersama Lia, Putra bisa melupakan
keputusasaannya. Ya, aku menderita lupus. Lalu apa? Ya, aku akan mati. Lalu
apa? Bukankah kita semua pada akhirnya akan mati juga?
“Lia.” Panggil Putra saat mereka menunggu
makanan datang.
“Ya?”
“Besok, saat kamu pergi ke alun-alun kota, kamu
harus berani dan berjalan melewati para preman disana. Mereka gak akan gangguin
kamu. Kamu kan orang baik. Tuhan itu adil. Orang baik akan selalu bertemu orang
baik juga.” jelas Putra.
“Putra ngomongnya kok sama kayak ayah Lia.” jawab
Lia
“Pokoknya, Lia, apa pun
yang terjadi, kamu harus tetap menjadi orang baik. Jangan biarkan diri kamu
terpengaruh sama hal negatif dan kata-kata jahat orang lain. Ingat ya, kamu
harus selalu menyebarkan kebaikan. Oke?” Putra menasihati.
“Iya ih Putraaa. Lia
akan tetap menjadi orang baik.”
“Besok saat Lia pergi ke
sekolah, Lia harus bergaul juga sama temen-temen yang lain. Lia harus mulai
ajak ngobrol mereka. Main, belajar, dan makan bareng yang lain. Terus, lakukan
hal-hal seru sama teman sekelas. Jadi Lia bisa punya banyak teman baru.” Putra
menjelaskan.
Lia, Putra akan pergi.
Lia harus bersikap baik di sini. Putra pasti akan merindukan Lia. Jika bisa
meminta kepada Tuhan, Putra tidak ingin pergi. Putra ingin menjadi pria yang
akan berjabat tangan dengan ayah Lia, andai kita bisa sampai serius nantinya.
Batin Putra penuh harap.
“Tapi Lia sudah punya
Putra. Itu sudah cukup buat Lia,” kata Lia singkat.
“Itu tidak cukup, Lia!”
seru Putra dengan nada sedikit meninggi.
“Kenapa kamu jadi galak
gini sih, Putra?” tanya Lia, yang sedikit terkejut.
“Putra tidak bermaksud
bersikap galak pada Lia. “Coba ingat lagi kemarin pas aku absen selama
seminggu. Lia sendirian kan di kelas? Meskipun ada teman-teman lain di kelas
juga. Kamu harus bisa bergaul dengan mereka juga. Aku tidak akan selalu ada
untukmu,” jelas Putra dengan tenang.
“Kenapa kamu bilang
begitu? Makanya kamu gak boleh sering sakit biar bisa sama Lia”
Putra hanya bisa
tersenyum mendengar jawaban Lia. Lia selalu membuatnya tak bisa
berkata-kata.
Setelah selesai makan,
Putra langsung mengantar Lia pulang. Mereka tiba di depan rumah Lia tepat pukul
sepuluh malam.
“Lia, jaga dirimu
baik-baik. Kalau bosan di rumah, baca aja komik lucu. Kalau sedang sedih, makan
aja cokelat tanpa kacang dan ingat momen bahagia kita. Kalau kamu keluar,
jangan lupa bawa jaket biar nggak kedinginan. Kalau mau ke alun-alun, ajak
teman-temanmu juga makan crepes favoritmu. Aku yakin mereka juga akan
menyukainya.”
“Kenapa dari tadi
ngomongnya aneh-aneh terus sih, Putra? Ada apa?” tanya Lia, bingung.
“Nggak ada apa-apa, aku
baik-baik aja, Lia. Tapi kamu harus ingat dan ikuti nasihatku hari ini, ya?
Janji?” tanya Putra, mengacungkan jari kelingking kanannya.
Lia hanya menurut dan
mengaitkan jari kelingking kanannya dengan jari kelingking Putra. Seketika itu
juga, Putra memeluk Lia. Putra menyelipkan sebuah surat ke saku jaket Lia.
Kehangatan. Itulah yang dirasakan Putra dan itulah satu-satunya yang dibutuhkan
Putra saat ini. Setelah melepaskan pelukannya, Putra hanya tersenyum dan
membiarkan Lia masuk ke dalam rumah, dengan wajah penuh kebingungan.
Putra pergi setelah
memastikan Lia sudah masuk ke dalam rumah. Ia segera melaju dengan mobilnya,
meninggalkan rumah Lia. Ya Tuhan, urusanku disini sudah selesai. Setahun yang
lalu, diagnosis lupus itu amat menyakitkan bagiku. Tapi bertemu dengan gadis
ceria dan manja bernama Lia memberiku kekuatan untuk terus berjuang agar tetap
hidup. Sekarang aku siap jika ini benar-benar waktunya. Aku percaya Lia akan
menepati janjinya. Ya Tuhan, jika aku benar-benar tidak bisa melindunginya
lagi, kirimkanlah orang-orang baik yang bisa melindunginya lebih baik dariku.
Aku mohon, kabulkanlah keinginan terakhirku ini.
Untuk Lia, terima kasih
atas kenangan indah yang penuh warna selama setahun ini. Terima kasih telah
memberi kesempatan pada Putra untuk mengenali dirimu. Terima kasih telah
menjadi alasan Putra merasa jatuh cinta.
Lia…
Putra pamit sekarang
yaa.
10 April 2025, tepat
pukul 23.00, Putra pergi. Tepat setelah ia tiba di rumah sakit. Belum sempat
dokter memasang infus padanya, Putra tiba-tiba merasakan sesak yang luar biasa
di dadanya. Putra pergi. Ia benar-benar telah tiada. Setelah menyelesaikan tugasnya
dan mengucapkan selamat tinggal.
***
SINOPSIS
Tidak mudah bagi Putra
menerima fakta pahit penyakit yang ia derita. Namun pertemuannya dengan Lia
satu tahun terakhir ini, memberikan warna baru dalam hidup Putra. Bagi Putra
menjaga Lia adalah tugas terakhir yang ingin ia selesaikan dengan sempurna.
Mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, Putra memilih menghabiskan sisa energinya
untuk bertemu dengan Lia. Pertemuan manis yang berakhir dengan perpisahan untuk
selamanya. Melalui surat kecil rahasia yang berisi perasaannya untuk Lia, malam
itu Putra pamit.
Hai Lia, apa kabar hari
ini? Senyum kamu masih sama, kan? Masih ingat janji kita setelah nonton Inside
Out?
Lia sudah tersenyum
sendiri setelah membaca paragraf pertama. Ahh, dasar Putra.
Ini akan menjadi surat
yang cukup panjang. Jadi, aku mau kamu membacanya sambil bersantai di tempat
tidur! Pastikan dirimu senyaman mungkin.
Siap? Oke, sekarang aku
serius. Ingat, Lia, kamu harus terus tersenyum saat membacanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar