Aku duduk di hamparan lukisan tuhan,
Saat itu,
Masih tak mengenal pahitnya kehidupan
Berlari-larian sembari tertawa riang
10 tahun lalu,
Ketika senyumku tak perlu dipaksa untuk ada
Aku ingin kembali,
Memutar waktu,
Merangkul masa yang telah berdebu
Kalian ingin pergi bersamaku?
Kami duduk di tebing berbatu,
Menyusun memori yang takkan kembali.
Nuansa kalbu tak pernah tampak sendu
Kecewa pun enggan lahir kala itu,
Hingga waktu menunjukkan ego,
Membuat kami tak bisa bernegosiasi.
Tempat indah menyayat hati
Malam itu ialah saksi bisu terakhir kami bernyanyi
Aku menulis puisi ini dengan kepala penuh nostalgia
Dengan senyum tulus, ikhlas, lalu rela,
Bahwa kita telah terseret waktu, menuju arah yang berbeda
Masa indah itu menjadi arsip abadi
Pelakon yang berakting semoga kembali satu
Menyusun kata walau hanya ingatan
Pasti menangis suatu hari nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar